SINGGASANA PERUTKU DIGUSUR!!!

Aku celingak-celinguk ketika tiba di “watu-watu” (lokasi jualan di atas batu-batu) tak jauh dari kawasan wisata pantai lama Kenjeran Surabaya. Mencari-cari ke mana ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang biasa mangkal di sepanjang bibir pantai itu. Wah rupanya sudah digusur. Lapaknya tak tersisa. Di bekas tenda-tenda lesehan PKL itu kini ditanami pepohonan. Tingginya sekitar 1,5 meter yang dibungkus anyaman bambu. Di sepanjang “watu-watu” itu juga dipagar besi, mungkin biar tak dipakai jualan lagi.
Yaaaahhh….Aku lemas. Niatku menyantap aneka makanan khas dan “orisinal” Kota Pahlawan itu kandas. Aku hanya bisa menelan ludah. Kecewa berat. Padahal “naga-naga” lapar di perutku sudah meronta-ronta hahaha…..
Aku sebut makanan orisinal karena citarasanya 2.000 persen Suroboyo. Otentik.
Ada Lontong Balap, Lontong Kupang, Tahu Campur, Tahu Tek, Rujak Cingur, dan Gado-Gado.
Di tempat ini aku dan keluargaku memanjakan lidah dengan menu-menu menggugah selera. Tiap Lebaran, aku, istriku, dua anakku, kedua orangtuaku, kelima adikku dan para keponakanku, hampir tak pernah absen makan lesehan di tempat ini. Makan sekaligus menikmati belaian angin laut. Anginnya tak terlalu kencang. Juga tak terlalu pelan. Sepoi-sepoi. Bikin “sakaw”. Jembatan Suramadu yang megah itu juga tampak indah dari sini. Di malam hari, terlihat lebih cantik lagi dengan lampu warna-warni memanjakan mata.

LOST IN SURABAYA_ Makan lontong balap di kenjeran, gak isok balik nang jkt. Bandara tutup, tiket KA ludes sampe minggu.

Abu vulkanis Gunung Kelud menari-nari riang Sabtu (15 Februari 2014) siang itu. Bebas berekspresi di panggung langit Surabaya. Tapi perutku makin sulit diajak kompromi. Juga lidahku mulai kelu karena rindu Lontong Balap dan ‘genk’-nya. Duh, di manakah para penjual itu?
Aku masih belum puas jika belum dapat jawaban. Aku menuju sebuah bangunan berlantai dua tak jauh dari situ untuk mencari informasi.
“Sing dodolan nang watu-watu nang ndi kabeh Mas? (Yang jualan di batu-batu ke mana semua Mas?),” tanyaku ke seorang satpam.
“Loh wes pindah nang kene Mas. Ket taon baruan wingi wes direlokasi runu kabeh (loh sudah pindah ke sini semua Mas. Sejak Tahun Baru 2014 sudah direlokasi di sini semua),” kata seorang sekuriti itu.
“Ohhh sudah pindah,” kataku dalam hati.
Aku baca tulisan di bangunan dua lantai itu. Di situ tertulis: SENTRA IKAN BULAK Pusat Hasil Olahan Ikan. Huruf S, I, dan B di awal kata berhuruf kapital semua itu berwarna merah.
Setelah memarkirkan motor di bawah pohon rindang di tepi sungai, aku tak sabar ingin segera makan siang.
Bau dan asap dari ikan asap yang menusuk hidung makin membuat perutku meraung-raung. Siang itu ibu-ibu tampak sibuk memilih ikan segar dan ikan asap. Ada pula yang membeli kerupuk dan ikan kering.
Tapi aku langsung menuju lantai dua yang menjual aneka makanan dan minuman khas Surabaya. Aku pesan Lontong Balap dan Es Degan Ijo. Temanku, Riffmi, juga pesan menu sama.
“Lontong Balap. Aneh namanya. Coba ah,” kata Riffmi yang asli Jakarta itu.
“Di sini tempatnya enak Bro. Kalau disuruh pilih makan lesehan di atas batu-batu gue lebih pilih di sini,” kata dia lalu tertawa.
Ya, di lantai dua ini lebih nyaman. Kita bisa memilih lesehan atau duduk di kursi kayu yang berderet di sepanjang railing. View-nya juga bagus. Sayang, Jembatan Suramadu tidak terlihat dari sini. Terhalang pemukiman nelayan. Padahal, view ini bisa jadi “nilai jual” tersendiri. Coba saja bangunan dua lantai ini bergeser ke kanan sekitar 100 meter, jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura itu bisa terlihat. Mungkin ke depan perlu dibikin 3, 4, atau 5 lantai supaya dapat melihat jembatan terpanjang di Indonesia itu.
Abu vulkanis gunung Kelud belum berhenti bertasbih. Pulau Madura pun hanya terlihat samar, yang biasanya tampak hijau kebiruan dari sini.
“Monggo Lontong Balape,” kata pramusaji sembari meletakkan menu pesananku dan temanku tadi di meja kayu cokelat muda. Temanku masih memandanginya, sedangkan aku tanpa ba bi bu langsung menyantapnya. Sudah menyantap tiga iris lontong baru ingat belum baca Bismillah. Walah khilaf awak. Ya sudah bismillahirrahmanirrahiiim-lah. Aku pun melahapnya penuh gairah nafsu.
Aku lihat temanku masih nyicip-nyicip kuahnya dua tiga sendok.
“Hmmm enaaak Bro!” temenku menyeruput kuahnya susul menyusul seperti gelombang laut Kenjeran.
Hanya hitungan beberapa menit, Lontong Balapku kandas. Aku kemudian menghajar Es Degan bulet di depanku.
“Sluruuppppp. Suwweggerrrr polll!,” alhamdulillaahhh…

Menikmati menu di sini, aku yakin seyakin-yakinnya kalau penjual di sini adalah pindahan dari ’’watu-watu’’.

’’Pancen pindahan teko watu-watu mas (memang pindahan dari watu-watu Mas),’’ kata Yanti, si penjual, ketika aku tanya soal relokasi itu dengan bahasa Suroboyan logat Madura.

Yanti menceritakan, dirinya dengan 11 PKL lainnya direlokasi ke tempat ini sejak Sentra Ikan Bulak diresmikan Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada 17 Desember 2012. Sehari-harinya, Yanti tidur di tempat ini. Suami dan anak-anaknya tinggal di rumah sekitar sini.

’’Di sini sewanya berapa Bu?’’ tanyaku datar.

’’Oh, ini masih digratiskan Mas. Ndak tau kalo tahun-tahun ke depan,’’ papar Yanti sembari membereskan piring.

’’Tapi kok sepi pembeli  ya?,’’ tanyaku heran.

’’Iya Mas. Beda dengan saat jualan di watu-watu sana. Meski di sini digratiskan, saya kan juga butuh hariannya (pemasukan) Mas,’’ ujar Yanti sedih.

’’Orang-orang mungkin lebih senang jika makan di watu-watu sana,’’ lanjut Yanti.

Plus minus juga para PKL itu direlokasi. Plusnya, bibir pantai lebih hijau karena ditanami pepohonan, lebih bersih karena tidak ada orang buang sampah sembarang, lebih teratur karena tidak parkir di pinggir jalan, dan lalu lintas lebih lancar karena penjual tidak menjajakan dagangannya di kanan kiri jalan. Minusnya pembeli sepi dan penjual merugi.

Ini pekerjaan rumah Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Bagaimana mengubah budaya konsumen yang biasa lesehan di tepi pantai pindah ke lesehan di Sentra Ikan Bulak. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah menggencarkan promosi. Sesekali Risma perlu membawa tamu-tamunya makan di sini. Bila perlu mengajak artis ibu kota wisata kuliner di sini dan memberi hiburan di sini. Aku yakin tempat ini akan lebih dikenal dan naik pamor.

Azan Zuhur belum lama berlalu ketika kami menyudahi makan siang. Aku dan kawanku harus bersiap-siap menuju Stasiun Surabaya Gubeng untuk balik lagi ke Jakarta. Kami akan naik kereta api karena hingga Sabtu, 15 Februari, Bandara Internasional Juanda Surabaya masih ditutup karena tertutup abu vulkanis Gunung Kelud. Kami ’’menukar’’ tiket Garuda ke kereta bisnis Mutiara Selatan  menuju Bandung. Kami terpaksa via Bandung karena tiket kereta api eksekutif dari Stasiun Pasar Turi Surabaya–Gambir Jakarta ludes terjual.

Sebelum ke Stasiun Gubeng, kami mengitari sekitar bangunan Sentra Ikan Bulak ini. Kami menemukan hal menarik. Di kanan bangunan ini terdapat taman bermain. Ada prosotan, jungkat-jungkit, bandulan, kolam, dan aneka tumbuhan. Asri sekali. Taman ini rupanya masih tahap pengerjaan. Kira-kira tinggal sekitar 20 persen lagi.

’’Wah makin komplet saja. Hebat. Tempat parkirnya representatif. Usai makan anak-anak bisa bermain di sini. Cocok sekali buat keluarga,’’ kataku dalam hati.

Aku pun meninggalkan Sentra Ikan Bulak dengan hati gembira. Bukan karena perut sudah kenyang, tapi ’’singgasana perut’’-ku direlokasi ke tempat lebih baik. (*)

Gambar

~ by ariyanto on 26 February 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: