Grup Seni ’’Citra’’ Kobarkan Nasionalisme dengan Menampilkan ’’Seribu Wajah’’ Indonesia (1)

Tari Rapai yang Harmonis hingga Bubuka yang Sarat ’’Mistis’’

Paguyuban ’’Citra’’ (Cinta Nusantara) kembali pentas di Vietnam. Jika pada 11 Juni tahun lalu sukses menghipnotis warga Kota Hanoi, pada 13 Juni tahun ini giliran mengguncang Kota Ho Chi Minh. Paguyuban ini mengobarkan semangat nasionalisme dengan menampilkan ’’seribu wajah’’ Indonesia.

HARUMKAN INDONESIA: Tarian Bubuka yang menghipnotis.

HARUMKAN INDONESIA: Tarian Bubuka yang menghipnotis.

’’Assalamu’alaikuuuuuuuuummm,’’ seorang laki-laki mengucapkan salam dari atas panggung, memecah kesunyian ballroom Hotel Sheraton Saigon, Vietnam, Kamis (13/6/2013) malam.
’Sholatullah salamullah ’ala thoha Rasulillah. Sholatullah salamullah ’ala yasin habibillah. Tawassalna bibismillah wafil hadi rasulillah wakulli mujahidilillah biahlil badri ya Allah,’’ laki-laki itu kemudian bersalawat.
Sembilan perempuan cantik dalam posisi duduk di antara dua sujud berpakaian adat Aceh menampilkan opening dance ’’Rapai Geleng’’. Mereka adalah Monika, Yovika, Citra, Vira, Orin, Raras, Dheno, Uni, dan Tiwi. Sambil memainkan rebana, tangan mereka bergerak lincah ke kiri ke kanan, ke atas dan ke bawah, secara berlawanan. Gerakannya saling beroposisi, namun terlihat sangat harmoni.
Ketika tarian itu berakhir dengan membentuk formasi, 250 undangan memberikan tepuk tangan meriah.
Sang pembawa acara, Dali Tahir, yang mengenakan pakaian adat Bali naik ke panggung dan memberikan ucapan selamat datang. Setelah itu memberikan penjelasan singkat tentang kekayaan budaya Indonesia, termasuk mengenai pakaian yang dikenakannya.
Selanjutnya, Dubes RI untuk Vietnam Mayerfas memberikan sambutan. Dia mengatakan pertunjukan Paguyuban Citra yang didirikan Jenderal (TNI) Purn Agum Gumelar pada 12 Mei 2005 ini sudah dua kali diadakan di Vietnam. Tahun lalu di Hanoi dan tahun ini di Ho Chi Ming City.
”Animo masyarakat sangat besar terhadap kesenian Indonesia. Pagelaran ini bertepatan dengan Indonesia-Vietnam trade, tourism and investment forum yang diadakan tiap tahun. Sebanyak 250 undangan yang sebagian besar pengusaha Vietnam menghadiri acara ini,” jelas Dubes.
Usai acara sambutan, penyanyi Tuti Maryati naik panggung. Mengenakan busana adat Bali, perempuan ayu itu menyanyikan lagu ’’Denpasar Moon’’. Para tamu berdecak kagum dengan ’’suara emas’’-nya, sambil menikmati makanan khas Indonesia: Soto Ayam!
Nah, paling seru ketika Tuti melantunkan lagu berjudul ’’Hanoi’’. Hadirin tak henti-hentinya memberikan applaus.
Ha noi ai tuai, yanh
Mau ao hoc tro
Nnung con duan than quen londo
Tieng rao vang dau day…
Acara berikutnya adalah ’’Batik Fashion Show’’. Sembilan gadis cantik berlenggak-lenggok di atas panggung. Diiringi lagu ’’Mojang Priangan’’ dan ’’Selendang Sutera’’ yang dinyanyikan Tuti, mereka membentangkan batik koleksi Iwan Tirta dan Darwina Sutowo ini. Ada batik antik pesisir Jawa, songket Bali, batik Palembang, dan mega mendung Cirebonan.
Mereka juga membentangkan empat lembar kain batik dengan panjang 6-8 meter dan lebar 2 meter. Membentuk formasi sangat indah.
Setelah itu dilanjutkan dengan Tari Topeng, tarian tradisional asal Jawa Barat. Sementara itu, menu-menu khas Indonesia terus berdatangan silih berganti. Kali ini Telur dan Terong Balado dan Kalio Daging.
Penampilan berikutnya adalah Amigos Band. Lima laki-laki mengenakan baju hitam dengan menyelempangkan kain Ulos, pakaian khas Batak. Mereka adalah Vico Pangaribuan sebagai vokal dan memainkan gitar akustik; Jens Butar-Butar, vocal dan saxophone; Reinhard Nainggolan, vokal dan gitar; Bambang, vokal dan Kabasa; dan Davi Ahmad Rizal, pemain Keyboard.
Mereka menyanyikan lagu-lagu Batak. Di antaranya berjudul ’’A Sing Sing So’’. Lagu ini bercerita tentang pemuda yang naik perahu seolah memanggil kekasihnya melalui angin di Danau Toba. Aih, aih, romantisnya.
Berikutnya adalah persembahan Bubuka, tarian asal Jawa Barat. Kostumnya sangat menarik dan tariannya sangat indah dan eksotik. Mata benar-benar dimanjakan dengan gerakannya yang seksi. Bahkan, serasa ada kesan ’’mistis’’. Mistis di sini bukan dalam arti klenik atau metafisik. Tapi lebih kepada daya tarik luar biasa.
Kita seperti ’’dipaksa’’ menoleh, mengikuti gerakan hingga selesai, tanpa berkedip dan berkata-kata. Kita laksana berada di ’’medan magnet’’, tersedot tak berdaya hingga tarian itu benar-benar selesai. Tepuk tangan pun bergemuruh usai menyaksikan goyangan sarat ’’mistis’’ yang menghipnotis.
Setiap penampilan Citra malam itu benar-benar memukau. Para tamu menikmati keindahan budaya Indonesia itu hingga selesai. Indonesian Cultural Night ini berlangsung dua hari, yaitu pada 13 dan 14 Juni. Audiensnya berbeda. Yang akan dipersembahkan juga ada yang berbeda. Di hari kedua, para undangan kebanyakan bule yang merupakan pejabat dari kedutaan.

CINTA SENI: Pendiri dan pembina Paguyuban Citra Agum Gumelar menari Poco-Poco bersama para undangan.

CINTA SENI: Pendiri dan pembina Paguyuban Citra Agum Gumelar menari Poco-Poco bersama para undangan.

Pendiri dan dan Pembina Paguyuban Citra, Agum Gumelar, mengatakan bahwa pertunjukan Citra kali ini memang makin seru. Berbeda dengan di Hanoi tahun lalu, karena ada tambahan dari penampilan Amigos Band dan sejumlah tarian seperti tari Topeng dan Bubuka. Apa misi pertunjukan ini?
’’Misi kita ya memperkenalkan budaya Indonesia yang kaya raya ini. Etnis kita aja ada sekitar 360. Setiap daerah karakter dan bahasanya berbeda. Tugas kita untuk memperkenalkan kepada dunia,’’ terang suami Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari ini. Lalu, apa obsesi ke depan?
Agum mengungkapkan, budaya Indonesia yang kaya raya ini jangan sampai punah. Harus dipelihara dan ditumbuhkembangkan. Salah satu yang dilakukan adalah membawa budaya ini ke tingkat dunia. Karena itu, generasi muda harus diberi kesempatan untuk mengembangkan budaya Indonesia.
’’Ini juga upaya kita agar generasi muda tetap bangga dengan kebudayaannya dan semangat nasionalismenya tidak terkikis oleh modernisasi dan westernisasi,’’ tandas dia.
Seperti diketahui, Paguyuban ’’Citra’’ yang merupakan kepanjangan ’’Cinta Nusantara’’ ini telah mengobarkan semangat nasionalisme dan mempromosikan Indonesia melalui tari serta seni dan musik tradisional. Selain pentas di dalam negeri, Citra juga banyak pentas di dunia internasional. Di antaranya di Yunani, Swiss, Inggris, Amerika Serikat, dan China. (ariyanto)

INDOPOS, 16 Juni 2013

~ by ariyanto on 22 June 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: