Pemuja Setan? So What Gitu Loh!

 

Sebagian masyarakat heboh! Rencana konser penyanyi Lady Gaga di Jakarta pada 3 Juni 2012 diprotes keras. Bahkan, mereka mengancam akan membubarkan paksa jika penyanyi berjuluk Mother Monster itu nekat tampil. Alasannya, penampilan Gaga tidak sesuai budaya Indonesia yang agamis. Kerap berpenampilan seksi yang tidak sesuai budaya Timur. Dia juga dianggap pemuja setan! Entah karena desakan dari kelompok tertentu atau pertimbangan lain, pihak kepolisian masih pikir-pikir untuk mengizinkan konser tersebut. Benarkah penampilan Gaga tidak sesuai budaya Indonesia? Kedua, kalau Gaga dianggap si pemuja setan, so what gitu loh!

Masyarakat Multikultural

 

            Kalau penampilan Gaga dianggap tidak sesuai budaya Indonesia, kita jadi bertanya-tanya. Budaya yang mana? Di pedalaman Papua dan Papua Barat sana, sebagian masyarakat masih memakai koteka. Apakah ini dianggap tidak berbudaya? Dinilai tidak sopan? Kalau di sebagian masyarakat Bali, di daerah Trunyan, misalnya, masih dijumpai kaum perempuan bertelanjang dada, apakah itu tidak berbudaya? Kita tidak bisa melihat budaya orang lain menggunakan kacamata budaya kita. Hasilnya akan berbeda. Kita menganggap mempertontonkan buah dada  itu porno, tetapi mereka melihat sama sekali bukan. Hal ini karena mereka menganggap payudara itu sumber kehidupan, bukan objek seks. Inilah yang dinamakan relativisme budaya.

            Kalau pun penampilan Gaga dianggap vulgar, bagaimana dengan penyanyi dangdut koplo kita? Mereka jauh lebih seksi, lebih terbuka, dan bahkan gaya tariannya sangat erotis, mirip gerakan hubungan suami istri. Lalu, bagaimana dengan kehadiran penyanyi-penyanyi seksi sebelumnya ke Indonesia seperti Katy Perry? Ini jadi terkesan inkonsistensi.

            Di dalam budaya Indonesia juga ada penari Ronggeng atau Tayub. Penampilan mereka justru lebih menggoda. Goyangan mengundang syahwat, kerlingan matanya menggoda, dan pakaiannya juga kerap memperlihat bagian tertentu. Ketika ada yang nyawer, penari tersebut makin bersemangat dan goyangannya makin hot. Si penyawer tak jarang memegang bagian tubuh perempuan paling intim tersebut sambil menyelipkan uang. Usai menari, si penyawer dan penari juga bisa meneruskan ke jenjang lebih jauh sesuai kesepakatan. Ini bukan rahasia. Hal ini banyak dijumpai di masyarakat, khususnya di desa-desa di Pulau Jawa ini. Ironisnya, adegan ini dikonsumsi publik, termasuk anak-anak.

            Inilah potret sebagian budaya kita, tanpa harus menutup mata bagian budaya lain Indonesia yang banyak dipengaruhi agama, khususnya Islam. Tampil mengenakan jilbab dengan pakaian tertutup menutup aurat. Inilah multikulturalisme Indonesia.

Pemuja Setan

            Lady Gaga memang sosok kontroversial. Tak hanya penampilan. Penyanyi yang memiliki nama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta ini juga dianggap pemuja setan. Wajar, Gaga sendiri menyebut dirinya Mother Monster alias Ibunya Monster! Pendukung setianya disebut Little Monster.

            Lirik-lirik lagunya juga dianggap sering menyakitkan kelompok agama. Di dalam lagunya berjudul Judas, misalnya, Gaga mencampur-adukkan keyakinan agama dan seolah ingin mengontrol pikiran kita. Di lagu itu, Gaga yang memerankan Maria Magdalena jatuh cinta terhadap si Judas. Di dalam Kristen, Judas dianggap pengkhianat karena menyebabkan Jesus Kristus disalib. Sedangkan di Islam, Judas dianggap pahlawan karena telah menyelamatkan Yesus atau Isa Al Masih itu dari tiang salib. Allah menyerupakan wajah Yudas Iskariot itu dengan wajah Yesus.

            Dalam konteks ini, sungguh bisa dimaklumi keberatan sebagian ormas yang menentang konser Gaga di Jakarta. Mereka khawatir pemikiran generasi muda Indonesia dicemari pemikiran-pemikiran si pemuja setan itu. Sah-sah saja mereka menolak, karena itu bagian dari dakwah yang merupakan refleksi keagamaan. Yang tidak sah adalah ketika mereka memaksakan kehendak. Berbuat anarkis dengan membubarkan paksa konser tersebut.

             Sebenarnya, kalau pun Gaga itu pemuja setan, so what gitu loh! Bukankah itu privasi? Urusan dia dengan Tuhannya? Apa hak kita melarang orang menjalani sesuatu yang menjadi kepercayaan dan keyakinan? Tuhan saja memberikan kebebasan kepada hamba-Nya untuk menjadi kafir atau beriman. Kita juga diajarkan agar toleran terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita, seperti disebutkan di dalam QS Al Kafirun. La kum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Inilah toleransi. Yang penting kita tidak menyembah apa yang mereka sembah. Bentengi saja anak-anak kita dengan akidah yang kuat, diberikan imunisasi iman (mana’ah imaniyah) supaya tidak terpengaruh dengan hal-hal buruk. Kalau iman kuat, seperti kata Said Agil Siraj, Ketua PBNU, sejuta Lady Gaga tidak akan menggoyahkan keimanan kaum Nahdliyin. Bagi saya sendiri, syair-syair Gaga tidak ada pengaruh apa-apa.

Aturan Jelas

 Konser Lady Gaga tidak perlu ditolak. Kita tunjukkan bahwa masyarakat Indonesia itu sangat toleran, bukan ekstremis, dan tidak anarkis. Hal ini akan menguntungkan bagi Indonesia, baik untuk dunia pariwisata maupun bisnis.

Para seniman Indonesia juga bisa belajar banyak dari kesuksesan Lady Gaga. Vokalnya oke, kostumnya atraktif, koreografinya menawan, estetika panggungnya juga bagus. Termasuk bagaimana cara dia memarketingkan diri dan lagu-lagunya sehingga banyak disukai orang.

Namun demikian, perlu ada etika atau aturan jelas kepada siapa saja yang akan konser di Tanah Air. Supaya polisi punya standar baku. Jangan sampai satu artis boleh tampil, sementara artis lainnya dicekal, padahal sama-sama berpenampilan seksi. Aturan jelas itu misalnya tidak diperkenankan memperlihatkan puting, berbuat cabul selama di panggung, dan ditonton 18 tahun ke atas. Kalau mereka tidak mau mengikuti aturan itu dipersilakan saja konser di tempat lain. Polisi bekerja berdasarkan aturan jelas ini, bukan bertindak berdasarkan tekanan kelompok tertentu. Kalau ada ormas yang memaksakan kehendak, polisi bisa menjalankan kekuasaannya seperti amanat UU. Tugas pokok polisi adalah menjaga keamanan dan ketertiban, bukan masuk ke wilayah multitafsir sopan tidak sopan atau porno tidak porno. (*)

~ by ariyanto on 7 May 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: