Belajar Ilmu Sabar dan Menikmati Hidup ala Masyarakat Hanoi, Vietnam

Kalau Kecelakaan, Saling Pandang, Senyum, lalu Ngacir

 

 

 

Tuntutlah ilmu sampai Kota Hanoi! Ungkapan ini tidak berlebihan. Sebab, di ibu kota Vietnam itu, kita bisa belajar ilmu sabar dan menikmati hidup. Mengapa?
Siang itu, (10/6/2012), Kota Hanoi terik sekali. Dari informasi yang saya dapat, suhu di kota berpenduduk 3,5 juta jiwa itu menembus 40 derajat Celcius. Sudah begitu pengap lagi. Terasa seperti tidak ada angin. Jalanan di kota berjuluk ’’seribu motor’’ ini ramai lalu lalang motor. Sedikit sekali kendaraan roda empat. Sesama pengendara saling mendahului.
Saling menyerobot. Seolah dikejar-kejar waktu. Klakson tak henti-hentinya berbunyi. Sangat bising! Mirip sekali Jakarta, ibu kota Indonesia. Bedanya hanya satu: tidak ada sumpah serapah. Tidak ada caci maki. Tidak ada marah-marah sampai nama-nama seisi Taman Safari Bogor keluar semua. Apalagi saling pukul. Meski saling serobot dan seringkali senggolan dan bahkan tabrakan, saya tidak melihat mereka saling adu mulut.
Itulah yang saya amati sepanjang hari dari Minggu (10/6) hingga Kamis (14/6) di jalan-jalan protokol di kota yang terletak di tepi kanan Sungai Merah ini. Di Jalan Ngo Quyen, tidak jauh dari KBRI, misalnya, saya menyaksikan dua motor bertabrakan. Tidak tahu siapa benar dan salah. Saya melihat sudah dalam kondisi keduanya terjatuh. Saya pikir ini pasti panjang urusannya.
Setidaknya saling tunjuk hidung, saling menyalahkan seperti banyak saya saksikan di Jakarta. Ternyata, anggapan saya itu keliru. Di luar dugaan saya, keduanya hanya beradu pandang sambil tertawa-tawa kecil, lalu ngacir. Ini bukan pertamakalinya saya melihat kecelakaan di sana. Di depan hotel tempat saya menginap, Ho Goam Hotel, Jalan Hai Ba Trung, terjadi kecelakaan beruntun kendaraan roda dua.
Kecelakaan itu terjadi pukul 02.00 dinihari. Sepasang muda-mudi berboncengan melakukan arak-arakan motor. Di antara mereka terjadi senggolan hingga salah satunya terseret cukup jauh. Saya pikir yang terjatuh itu karena merasa tidak bersalah lantas marah-marah. Ternyata juga tidak! Mereka senyum-senyum lalu ngacir. Begitu pula yang saya amati di Jalan Ha Nggai, tempat paling ramai karena kanan kiri jalan tempat berjualan suvenir, baju, dan semacamnya.
Di perempatan jalan itu tidak terdapat traffic light, sehingga terjadi saling serobot dan bahkan tak sedikit saling senggol dan tabrak. Sore itu saya sengaja mengamati perempatan jalan itu. Sekitar tiga jam saya berdiri di sana, sambil ambil gambar. Sepanjang itu pula sudah terjadi senggolan antar pengendara hingga puluhan kali. Saya tidak bisa memastikan berapa tepatnya terjadi kecelakaan, karena dalam satu waktu bisa terjadi beberapa kali persinggungan.
Ada yang beradu kepala, tabrak dari belakang, senggolan spion, dan sebagainya. Tapi tak satu pun saya mendengar saling maki, sekalipun itu dari pihak yang merasa ’’dizalimi’’. Saya pikir, sabar betul orang-orang Hanoi ini, selain juga pengendaranya seksi-seksi. Banyak pengendara motor berkulit putih mulus pakai tank top dan rok mini. ’’Begitulah orang Hanoi.
Paling kalau kecelakaan cuma ketawa-ketawa abis itu pergi,’’ kata Parmono, Bendahara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Hanoi, kepada saya saat saya temui di KBRI. ’’Di Hanoi tidak ada yang berani memukul duluan, karena hukumannya berat,’’ lanjut dia. Wow! Saya berpikir, coba kalau di Jakarta menerapkan seperti di Hanoi, tentu asyik! Selain belajar sabar, Indonesia barangkali juga perlu belajar tentang bagaimana menekan angka kriminalitas.
Di Hanoi, khususnya, dan di Vietnam umumnya, tingkat kejahatan sangat rendah. Minim sekali. Tindak kejahatan seperti pembunuhan hampir tidak ada. ’’Ini kan negara komunis. Negaranya kuat dalam mengontrol masyarakatnya. Hukuman bagi pelaku kriminal sangat berat, jadinya orang takut. Tapi kalau nyopet mungkin masih ada. Jadi hati-hati aja,’’ kata Sriotide Marbun, Economic Affairs KBRI di Hanoi yang sudah lima belas tahun tinggal di Hanoi ini kepada saya.
Karena itu, saya pun merasa aman dan nyaman ketika menghabiskan malam hingga pagi di tepi danau Hoan Kiem, karena saya sudah diberi tahu kalau Hanoi aman. Meski sendiri saya tidak merasa terancam keamanan. Sepasang kekasih yang dimabuk asmara juga menghabiskan sepanjang malam tanpa ada rasa takut. Selain ilmu sabar, ada satu lagi kita bisa belajar dari Hanoi.
Masyarakatnya sangat ’’menikmati hidup’’. Mereka terkesan rileks, tidak terlalu ngoyo, dan tampak bahagia. Barangkali sesuai motto Vietnam: ’’Kemerdekaan, Kebebasan, dan Kebahagiaan.’’ Mereka suka sekali nongkrong, ngobrol, sembari menikmati minuman dan melihat lalu lalang kendaraan. Duduk di kursi kecil yang ditata berderet di pinggir jalan, tepatnya di pedestrian atau tempat pejalan kaki. Kursi ini sangat unik. Di Indonesia kursi ini biasa dipakai anak-anak. Begitu kecilnya hingga duduk mereka seperti jongkok.
Orang gemuk bisa dipastikan kesulitan duduk di kursi ini. Untungnya orang Hanoi ramping-ramping dan seksi. Tidak ada problem dengan berat badan. Jadi tidak ada persoalan. Hampir sepanjang pedestrian yang saya jumpai di sana, selalu ada deretan kursi kecil untuk tempat nongkrong dan sekaligus berjualan minuman dan makanan. Kecuali di depan Istana Presiden.
Di tempat ini tentunya steril. Bahkan memotret pun tidak boleh. ’’Nyantai memang orang Hanoi itu. Mungkin karena pengaruh negara komunis kali ya,’’ kata Ana, staf KBRI. ’’Di negara komunis kan semua dikontrol negara. Aset-aset penting dikuasai negara. Kekayaan seseorang juga dibatasi, jadi mereka bisa lebih menikmati hidup,’’ kata Ha Ai, warga Hanoi kepada saya.
Saya pikir mereka nongkrong hanya di saat weekend. Ternyata, pada hari kerja seperti Senin hingga Kamis mereka juga ’’nyantai’’. Bukan usai kerja, tapi saat siang atau sore. Saya amati di sepanjang kiri kanan West Lake juga demikian. Mereka menikmati danau terbesar di kota itu pada sore hari sembari menikmati segarnya kepala muda. Jujur, kita perlu belajar banyak kepada Hanoi.
Bagaimana menata kota dengan puluhan danaunya menghiasi berbagai penjuru. Ada Hoam Kiem Lake, West Lake, True Bach Lake, Halais Lake, Bay Mau Lake, dan lain-lain. Belum lagi taman-tamannya yang indah. Tak salah memang jika kita harus menuntut ilmu hingga Kota Hanoi. Cuma, jujur juga, ada tidak enaknya. Tidak ada makanan enak di sana yang cocok untuk lidah ’’ndeso’’ seperti saya.
Satu-satunya yang cocok di lidah saya hanya di Nisa Restaurant yang terletak di Jalan Hang Tre, restoran asal Malaysia. Menu-menunya sangat cocok untuk lidah Indonesia, selain juga karena faktor halal. Kedua, saya kesulitan mengakses Facebook. Vietnam memang telah melarang warganya memiliki akun Facebook. Situs Facebook diblok pemerintah Vietnam. Namun, secanggih-canggihnya sensor internet, hal itu bisa dibobol juga. Terlepas dari itu semua, Hanoi layak jadi tempat belajar dalam banyak hal. (ariyanto)

Terbit di INDOPOS, 19 Juni 2012

~ by ariyanto on 25 October 2012.

2 Responses to “Belajar Ilmu Sabar dan Menikmati Hidup ala Masyarakat Hanoi, Vietnam”

  1. Aslm…
    Mas artikelnya bagus-bagus… suka diterbitin sama indopos ya? ataw suka baca indopos n tertarik menaruhnya d blog? saya suka nulis juga jadi pengen tahu. terimakasih.

    • Waalaikum salam.
      Makasih. Masih belajar dan terus belajar menulis. Ada yg diterbitin di Indopos, ada jg yg hanya terbit di blog. Kalo Indopos mmg bacaan wajib saya, selain koran2 lainnya, hehehe…
      Sent from my BlackBerry®
      powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: