Siapa The Winner, K-78 atau KN?

Oleh
ARIYANTO

Djohar Arifin Husin terpilih sebagai ketua umum PSSI periode 2011-2015. Ini setelah staf ahli Menpora Andi Malarangeng itu berhasil menyisihkan calon lainnya, Agusman Effendi, melalui proses pemilihan ketum putaran kedua di Hotel Sunan, Solo, kemarin (9/7/2011). Djohar yang didukung Kelompok 78 (K-78) ini meraih 61 suara, sedangkan Agusman mendapat 38 suara. Proses pemilihan tahap kedua dilakukan karena tidak ada yang mencapai syarat dua per tiga kuorum alias 67 suara. Dengan suksesnya Kongres Luar Biasa (KLB) ini, berarti sepakbola Indonesia terbebas dari sanksi FIFA. Lalu, pertanyaannya, ini kemenangan siapa? Kubu K-78 atau Komite Normalisasi (KN)?

Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada K-78, jawabannya pasti itu kemenangan kelompok pendukung George Toisutta dan Arifin Panigoro (GT-AP). Sebab, kelompok yang mengklaim pemegang hak suara mayoritas itu telah melarikan suaranya ke Djohar Arifin Husin. Mereka mengalihkan suaranya karena nama GT-AP ’’dicekal’’ FIFA. Kedua nama itu dinilai berada di luar sistem dengan membuat Liga Primer Indonesia (LPI).

Tapi, kalau pertanyaan itu ditujukan kepada KN, jawabannya pasti kemenangan itu milik KN. Sebab, KN sukses menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) dengan terpilihnya ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota komite eksekutif (exco). Sesuai yang diamanatkan FIFA, KN yang diketuai Agum Gumelar itu punya tiga misi. Pertama, mengadakan pemilihan ketua umum, wakil ketua, dan anggota exco. Kedua, memikirkan apakah LPI (Liga Primer Indonesia, tandingan PSSI) itu di bawah pengawasan PSSI atau dibubarkan. Poin ini sudah dilaksanakan dengan menempatkan LPI di bawah pengawasan PSSI. Ketiga, melaksanakan tugas harian kepengurusan PSSI. Poin ini juga telah berjalan dengan membekukan kepengurusan PSSI lama sebagaimana diinginkan suara mayoritas. Jadi, tiga misi yang diamanatkan ke KN itu sudah lunas.

Namun, bagi masyarakat Indonesia, sebenarnya tak terlalu penting siapa ketua dan wakil ketua PSSI. Yang diinginkan masyarakat hanya satu: selamatkan sepakbola Indonesia dari sanksi FIFA! Sebab, kalau kongres yang ketiga ini kembali deadlock seperti di Pakanbaru dan Jakarta, bangsa kita rugi besar. Persipura yang main di Piala AFC rugi, di SEA Games kita rugi. Masyarakat Indonesia yang mayoritas pecinta sepakbola juga rugi. Indonesia akan dikucilkan dari sepakbola dunia.

Secara jujur harus diakui, terbebasnya sepakbola Indonesia dari sanksi FIFA tidak terlepas dari peran KN, khususnya Agum Gumelar yang begitu gigih memperjuangkan sepak bola Indonesia. Meski dirinya saat memimpin kongres PSSI di Hotel Sultan, Jakarta, 20 Mei lalu, dihujani caci maki dan sumpah serapah secara keji, mantan ketua umum PSSI itu tidak surut untuk memperjuangkan agar sepakbola Indonesia tidak disanksi FIFA. Mantan Danjen Kopassus itu kembali ’’membujuk’’ Presiden FIFA Sepp Blatter. Padahal, saya lihat ekspresi Pak Agum usai menutup kongres di Hotel Sultan malam itu tampak sangat terpukul dan seperti sangat pesimistis karena 90 persen Indonesia bakal disanksi FIFA. Begitu terpukulnya, dia pun langsung meluncur pulang menemui sang istri tercinta, Linda Amalia Sari. Sebelumnya, dia juga ’’melobi’’ Blatter agar empat nama dalam pencalonan ketua umum PSSI tidak dicoret, yaitu Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, George Toisutta, dan Arifin Panigoro.

Setelah Blatter mengabulkan permintaan Agum, mantan ketua umum KONI itu terus ’’menyadarkan’’ agar sebagian pemilik suara itu tidak memaksakan kehendaknya alias legawa. Mengajak agar lebih mengutamakan kepentingan lebih besar daripada kepentingan kelompok, apalagi kepentingan pribadi. Hal itu disampaikan secara terus menerus dalam berbagai kesempatan. Para pecinta dan insan bola Indonesia pun meminta agar K-78 tidak memaksakan kehendak dan mengecam tindakan K-78 saat kongres di Hotel Sultan.

Strategi lainnya adalah secara tidak langsung Agum meminta agar para calon ketum ’’mendekati’’ K-78 untuk menjaring simpati dari mereka. Berbagai terobosan dan persiapan teknis juga dilakukan KN agar kongres berlangsung sukses. Tentu saja berkat kerjasama yang bagus dengan pemkot Solo dan masyarakatnya yang sangat antusias demi kesuksesan kongres.
Menjelang pemilihan, Agum meminta agar pemilik suara itu menggunakan hati nuraninya. Tidak terpengaruh money politics. Hasilnya, kongres pun sukses. K-78 memberikan hak suaranya kepada orang yang dianggap memenuhi kriteria sebagai ketum PSSI.

Jadi, kalau saya ditanya, siapa The Winner atau pemenangnya? Jawaban saya adalah hati nurani! Ya, hati nurani semua pihak yang ingin sepakbola Indonesia maju, seperti sering digaungkan Agum Gumelar. Barangkali, itu sebabnya, selama KLB yang dimulai pukul 10.00 WIB itu, Agum terus mengumbar senyum. Terutama setelah Djohar Arifin meraih suara terbanyak pada proses pemilihan putaran pertama. Wajahnya juga berseri-seri dan melempar senyum manis ketika puluhan wartawan menghujani pertanyaan di depan Sumaryo Grand Ballroom Hotel Sunan tadi malam.

Kini, tugas berat menanti pengurus baru PSSI. Setelah terbebas dari sanksi FIFA, misi utama berikutnya adalah membangun semangat rekonsiliasi untuk memajukan dunia sepak bola Indonesia. Memikirkan pembinaan atlet dan menorehkan prestasi. Selamat berjuang. (*)

INDOPOS, 10 Juli 2011

~ by ariyanto on 26 July 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: