Gaya Agum Gumelar, Ketua Komite Normalisasi PSII yang Memimpin di Tengah Badai

Bela Suara Mayoritas, Yakinkan Presiden FIFA di Swiss

Oleh ARIYANTO

Tak mudah menyelesaikan prahara di tubuh PSSI yang dikoyak kepentingan pribadi dan kelompok. Ketika Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar mengakomodasi suara mayoritas pemilik suara, Ketua Normalisasi PSSI itu dianggap melanggar statuta. Bagaimana sikapnya?
Ekosistem alam mulai goyah. Malam baru saja menggantikan siang. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 18.25 WIB, sebuah mobil Harrier hitam berpelat nomor B 55 KY memasuki halaman rumah asri di Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Agum Gumelar yang mengenakan batik hijau dan setelan celana hitam keluar dari pintu kiri mobil.
’’Sorry, sorry. Acara di Senayan (kantor PSSI) tadi padat sekali. Sorry, menunggu lama,’’ kata Agum Gumelar sambil menyalami erat INDOPOS yang sudah menanti di ruang tamu, (15/4/2011).
Agum menambah volume AC yang saat itu sebenarnya sudah cukup dingin. Agum kemudian duduk di ujung sofa dengan posisi agak rebahan, tanpa sempat ganti baju setelah seharian beraktivitas. Kedua tangannya diluruskan di sandaran kayu sofa. Beberapa saat mantan Menteri Perhubungan ini merilekskan diri sambil menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan.
Tak lama kemudian seorang perempuan membawa dua cangkir teh dan dua iris roti. ’’Ayo diminum dulu, kuenya juga (dicicipi),’’ ajak Agum kepada INDOPOS sambil mengambil secangkir teh manis hangat di depannya.
’’Sepuluh hari ini (sejak Agum ditunjuk menjadi Ketua Komite Normalisasi PSSI) jadwalnya sangat padat ya Pak,’’ tutur INDOPOS mengawali pembicaraan.
’’Begitulah. Setelah kongres pemilihan anggota Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan ( KBP) Kamis kemarin (14/4), tadi siang (15/4) saya bertemu ketua umum KONI/KOI Bu Rita Subowo. Setelah itu rapat internal Komite Normalisasi,’’ ungkap suami Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari ini.
Diakui Agum, masalah di tubuh PSSI ini memang pelik. Ketika Agum mengakomodasi kepentingan mayoritas suara, sebagian menilai kongres pemilihan KP itu bertentangan dengan surat FIFA 4 April lalu yang menegaskan jika KN juga berposisi sebagai KP.
Supaya dalam melangkah ini dipayungi hukum, pertemuan Kamis kemarin dianggap sebagai kongres pendahuluan.
’’KN kan bertindak sebagai Komite Pemilihan, tapi bisa juga tidak. Memang sesuai FIFA standard electoral code KP, KBP, dan Peraturan Organisasi harus dipilih dan disahkan kongres,’’ jelas mantan Ketua Umum KONI periode 1999-2003 ini. ’’Kalau ada yang menilai itu melanggar keputusan FIFA, ya saya akan bawa hal ini ke Presiden FIFA Sepp Blatter,’’ lanjut mantan Ketua Umum PSSI periode 1999–2003 ini.
Agum menegaskan, ketika keputusan itu tidak bisa menyenangkan semua pihak, maka dia harus mengambil suara mayoritas. ’’Sembilan puluh persen menginginkan, masak saya menolak. Jadi selain demokratis, saya juga menggunakan hati nurani,’’ terang mantan Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan di era pemerintahan Gus Dur.
Rencananya, Agum menemui Sepp Blatter di Zurich Swiss pada 19 April nanti. Bapak dari Khaseli dan Ami Gumelar ini akan berangkat Senin lusa. ’’Nginep semalam aja. Capek di jalan,’’ ungkap Agum sambil tertawa.
Ketua Umum Pepabri ini mengungkapkan, tujuan utama bertemu Presiden FIFA tidak dalam rangka melobi atau memperjuangkan ini itu. Tujuan utamanya hanya melaporkan semua perkembangan yang sudah dan yang akan dilakukan. ’’Tugas saya adalah memberikan gambaran utuh tentang perkembangan perspekbolaan Indoenesia. Saya akan meminta petunjuk dari FIFA. Apapun keputusannya akan kita patuhi,’’ beber Agum.
Pria yang menyempatkan olahraga golf di tengah kesibukannya ini menegaskan, semua yang dilakukan dilandasi spirit rekonsiliasi. Itu yang dipegang teguh. Rekonsiliasi itu saling memaafkan. Melihat ke depan. Tidak saling mencaci lagi, saling menjelekkan, dan meninggalkan sikap arogan. Arogan itu memaksakan kehendak dan tidak mau menerima perbedaan. ’’Itu harus dipedomani semua pihak. Siapapun yang jadi Ketum PSSI yang baru nanti harus membuka lembaran baru sepak bola Indonesia yang lebih normal,’’ paparnya.
Agum menjelaskan, misi KN ada tiga. Pertama, mengadakan pemilihan pada 21 Mei nanti. Kedua, memikirkan apakah LPI (Liga Primer Indonesia, tandingan PSSI) itu di bawah pengawasan PSSI atau dibubarkan. Ketiga, melaksanakan tugas harian kepengurusan PSSI. Poin kedua sudah dilaksanakan dengan menempatkan LPI di bawah pengawasan PSSI. Poin ketiga juga telah berjalan dengan membekukan kepengurusan PSSI lama sebagaimana diinginkan suara mayoritas. ’’Sekarang tinggal poin satu saja. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak bersatu,’’ papar Agum.
Ketika ditanyakan mengapa menerima amanah berat sebagai Ketua Normalisasi PSSI, Agum tersenyum. Dia mengatakan, tugas negara ini memang berat tapi mulia. ’’Jam 10 malam saya ditelepon Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA, Thierry Regenass. Dia mengatakan kepengurusan PSSI tidak kredibel, maka dibentuklah KN. Apakah saudara bersedia menjadi Ketua KN. Saya langsung mengiyakan. Sebagai tentara pantang menolak amanah. Lagi pula kami keluarga pecinta sepak bola. Saya suka sepak bola, saya ketemu calon istri, Ibu Linda, juga saat melihat pertandingan sepak bola,’’ cerita dia sambil terkekeh.
Saat nama Linda disebut, Linda Amalia Sari yang pulang ke rumah hampir bersamaan menghampiri sang suami. Rupanya, pasangan romantis ini mau menegok cucunya, Ata dan Nayo, yang rumahnya tidak jauh dari kediamannya. ’’Berangkat sama Ibu. Menenangkan pikiran dengan ketemu cucu,’’ ujar Agum.
’’Hampir tiap hari kita memang menyempatkan menengok cucu. Rasanya senang bisa bertemu mereka. Terkadang dari kantor (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) langsung nengok cucu. Kebetulan dekat sih,’’ tukas Linda Amalia Sari.
Namun, diakui Agum, sejak jadi ketua KN, dirinya agak jarang ketemu cucu. ’’Seminggu jadi tiga kali. Ya ini konsekuensi, tapi saya senang menerima amanah ini demi kemajuan sepakbola Indonesia,’’ pungkas dia. (*)

INDOPOS, 16 April 2011

~ by ariyanto on 13 May 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: