Cerita Unik Anak-Anak Berprestasi Indonesia saat Studi Tur ke Shanghai, Tiongkok

Oleh
ARIYANTO

SERI 1
Si Anak Papua Sesatkan Deputi dan Staf Ahli hingga Dapur
Namanya juga anak-anak. Keluguan dan kepolosannya seringkali membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Inilahyang terjadi ketika sepuluh anak berprestasi Indonesia studi tur ke Shanghai, Tiongkok, pada 14-18 September lalu. Bagaimana kisahnya?
USAI makan siang di restoran Tang Dinasty, Shanghai, Teus Tabuni, anak berprestasi asal Papua, berjalan di belakang pelayan restoran. Dengan percaya diri, Duta Anak Indonesia Komisi Perlindungan Khusus ini mengikuti setiap langkah. Pelayan belok kiri, ikut ke kiri. Ke kanan, turut ke kanan. Tidak ada sepatah kata pun terucap. Anehnya, teman-temannya ikut saja di belakang Teus. Tak terkecuali Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Wahyu Hartomo, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Internasional Herman Siregar, dan Yuni, Tour Guide dari Huawei.
Bahkan, ketika pelayan masuk dapur, Teus ikut ke dapur. ’’Teus, kita lewat mana nih,’’ tanya Rakha Agung, si jago karate asal SMPN 115 Jakarta, yang meraih Bolang Award. ’’Tidak tahu ini, kok dibawa ke dapur,’’ jawab Teus heran. ’’Gimana sih Teus,’’ tukas Magistra Yoga, dalang cilik asal SMPN 3 Surakarta agak kesal.
Mendengar kegaduhan itu, si pelayan menoleh ke belakang dan menanyakan sesuatu. Entah apa yang ditanyakan, karena memakai bahasa Mandarin. Melihat bahasa tubuh Teus dan teman-temannya yang tersesat jalan, si pelayan itu pun menunjukkan arah pintu ke luar dengan bahasa tubuh. ’’Kita rupanya salah jalan,’’ ujar siswa SMAN 1 Kabupaten Keerom, Papua, ini.
’’Wah, wah Teus, Teus. Orang ke dapur kok diikuti,’’ kata Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Wahyu Hartomo tertawa. ’’Emang tadi nggak nanya dulu,’’ celetuk Yuni, tour guide dari Huawei.
Mendapat protes kiri kanan, Teus hanya tertawa-tawa. ’’Saya kira pelayan itu mau mengantarkan kita orang seperti saat makan malam di restoran Tiongkok tadi malam,’’ jawab Pemimpin Muda World Vision ini enteng.
Teus juga bikin clometan yang bikin Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari dan suaminya, Agum Gumelar, tertawa. Saat foto bersama, Teus mengatakan bahwa dirinya rupanya lebih tinggi. ’’Saya teryata bisa lebih tinggi dari Bapak dan Ibu. Saya bangga sekali,’’ kata Teus spontanitas sembari tangannya mengukur tingginya. Mendengar ucapan itu, keduanya pun terbahak-bahak.
Sebelumnya, Teus juga sempat ’’bermasalah’’ di imigrasi Bandara Internasional Shanghai Pudong. Petugas imigrasi mencurigainya karena dianggap usia dan wajahnya tidak sesuai alias lebih tua dari usianya. Dipelototinya wajah Teus ini dalam-dalam dan dicocokkan wajahnya dengan foto di paspor. ’’Saya dicurigai, dikiranya saya menipu. Orang dewasa tapi bilangnya masih anak-anak katanya (petugas imigrasi). Padahal wajah saya asli,’’ cerita dia kepada INDOPOS di sela-sela makan malam di Restoran Shunfung, Shanghai, Selasa malam (14/9). ’’Iya, usia belia, wajah tua,’’ gurau Pinky Saptandari, Staf Khusus Menteri Bidang Sosial Budaya sembari tertawa.
Magistra Yoga Utama, dalang cilik ini juga bermasalah di imigrasi. Bedanya, jika Teus wajahnya lebih tua dari aslinya, Yoga dianggap lebih muda dari usia sebenarnya. ’’Saya dipelototi terus. Katanya wajahnya kok masih kanak-kanak gitu. Saya bilang wajah saya tidak boros Pak,’’ cerita anak kelahiran 24 Maret 1998 ini.
Ada lagi cerita lainnya. Desinta Pratiwi, Forum Anak Surakarta, membawa gayung dari kampung halaman. Lah, buat apa nginep di hotel bintang lima bawa-bawa gayung? ’’Buat mandi Mas. Di hotel kan tidak ada gayungnya,’’ jawab siswi SMAN Surakarta kelahiran 20 Desember 1992 ini polos.
Desinta dan Regina Esther juga membuat kekonyolan. Gara-garanya, keduanya meminta teman-temannya dan juga rombongan KPP-PA mendekat ke wisatawan asal Indonesia. Mereka sedang menikmati sejuknya Yu Garden, taman klasik yang berlokasi di Amen Jie, Shanghai. ’’Bu Yuni (Tour Guide), kita diajak foto bareng sama wisatawan asal Indonesia,’’ teriak Desinta dan Regina.
Namun, begitu didatangi, rupanya mereka tidak mengajak foto bareng. Tapi, meminta difotokan. ’’Aduuuuh, kita malah disuruh motretin dia, gimana sih?’’ ujar Yuni sembari ngedumel bercampur ingin tertawa.
Saat di Yu Garden, Rakha Agung, peraih Bolang Award, juga tiba-tiba ’’kesurupan’’ saat berada di Taman yang selesai dibangun pada 1577 masa Dinasti Ming ini. Dia mendadak menirukan gaya Jet Lee, sijago Kung Fu. ’’Ciaaaaat…..! Hupya, hup ya,’’ kata dia sembari melakukan tendangan dan pukulan. Rupanya, dia sedang berakting seperti di film-film silat Tiongkok.
Sepuluh anak berprestasi lainnya datang ke Shanghai untuk studi tur. Rekreasi sekaligus belajar. Ini merupakan bentuk apresiasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) bekerja sama dengan Huawei atas prestasi mereka. Ini merupakan pertamakalinya kementerian yang dipimpin Linda Amalia Sari ini memberangkatkan anak-anak berbakat studi tur ke luar negeri.
’’Di sini (Shanghai, Red) anak-anak dapat belajar banyak dari kemajuan Shanghai yang kemajuannya begitu dahsyat. Apresiasi terhadap anak-anak berprestasi ini tidak berhenti di sini. Sepulangnya ke Tanah Air, mereka akan kita monitor dan fasilitasi untuk mewujudkan cita-citanya,’’ kata Linda kepada INDOPOS yang turut menemani anak-anak. Seperti apa kekonyolan lainnya? (bersambung)
SERI 2

Yoga Mendalang, Easther Minta Dicarikan Rumahnya

Ada yang menarik ketika 10 anak berprestasi Indonesia berkunjung ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Huawei, (15/9). Ada yang ingin mendalang. Tapi, ada juga yang mendesak agar perusahaan pemasok perangkat telekomunikasi dan jaringan komunikasi terbesar kedua di dunia itu menunjukkan lokasi rumah mereka melalui alat canggih yang dimiliki.
’’Mister mister. Can you find my house in Macan Tutul Street, Jayapura (Pak, Pak. Dapatkah Bapak menemukan rumah saya di Jalan Macan Tutul)?’’ tes Regina kepada petugas Huawei yang sedang menjelaskan kecanggihan alat snap tell. Alat ini mirip google earth, hanya saja lebih detail.
Petugas itu mulai searching. Pertama-tama mencari peta Indonesia, bergeser ke Provinsi Papua, lalu menemukan kota Jayapura. Mulailah melacak Jalan Macan Tutul. Saat layar menunjukkan Stadion Mandala, Regina langsung berseri-seri. ’’My house near from stadion Mister (Rumah saya dekat stadion Pak),’’ ujar siswi SMAN 5 Jayapura ini.
Stadion Mandala lalu diperbesar. Dan, terlihatlah jalan Macan Tutul Street. ’’Yes. This is my address Mister. Thank you Mister (Ya. Ini alamat saya. Terima kasih),’’ ujar perempuan kelahiran 12 September 1993 ini puas. Regina kemudian ingin difoto di samping layar bergambar Stadion Mandala dan Jalan Macan Tutul tersebut.
Seolah tak mau kalah, Magistra Yoga Utama, si dalang cilik, dan Desinta Pratiwi, Forum Anak Surakarta, juga ingin dicarikan alamat rumahnya. Namun, kali ini tidak seberuntung Regina. Rumahnya tidak berhasil ditemukan. Sebab, daerahnya saja tidak terdapat di dalam google earth tersebut. Maklum, salah satu kabupaten di Porvinsi Jawa Tengah itu tidak begitu terkenal. ’’I’m sorry. I can’t find (Maaf, saya tidak bisa menemukan),’’ kata petugas tersebut.
Selain menjajal google earth ala Huawei, Regina juga mencoba kecanggihan LTE Based 3 D High Definition Game. Regina mencoba balapan Formula 1. Permainan 3 dimensi ini dibikin sesuai aslinya. Dilengkapi setir, sehingga sensasinya hampir sama persis dengan balapan F1 di sirkuit. Regina memakai kacamata 3 dimensi berwarna hitam. Lalu, ’’greng… greng….’’, dia pun tancap gas. ’’Woooow, kereeeennn, gilaaaaa,’’ ucapnya sembari mengendalikan kemudi. Teman-teman Regina yang penasaran pun ingin mencoba.
Puas menikmati keunggulan produk Huawei, giliran anak-anak berprestasi unjuk gigi. Yoga mendalang di depan direksi Huawei. Temanya tentang persaudaraan. Wayang Ontoseno di tangan kanan dan Ontorejo di tangan kiri. ’’Hayo, kowe wani karo aku yo. Hayo gelot (ayo, kamu berani sama saya ya. Ayo kita berkelahi),’’ tantang Ontorejo, kakak Ontoseno. ’’Mboten wanton Mas. Mengke bapak ngamuk (tidak berani Mas, nanti bapak marah),’’ kata Ontoseno. Namun, kakaknya ngotot mengajak berkelahi. Pertempuran pun tidak terelakkan.
’’Pesan dari cerita ini adalah di manapun kita berada, kita harus menjaga tali persaudaraan. Baik antar individu, individu dengan masyarakat, individu dengan negara, maupun negara dengan negara,’’ kata Desinta Pratiwi, Forum Anak Surakarta, yang menjadi penerjemah pertunjukan wayang tersebut.
Meski tanpa diiringi gamelan dan bahasanya tidak dapat dimengerti, direksi Huawei tampak terkesima. Mereka antusias mengikuti jalannya pertempuran yang dimainkan oleh dalang cilik ini. Termasuk ketika Yoga menyanyikan lagu jawa berjudul Ilir-Ilir. Di akhir show-nya, Yoga menyerahkan wayang tersebut kepada direktur Huawei Junfeng Guo.
Pada kesempatan itu, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP-PA) Linda Amalia Sari mengatakan, dirinya datang ke Tiongkok karena diundang All China Women untuk menyampaikan pidato dalam forum internasional tentang perempuan dalam pembangunan perkotaan. ’’Di sela-sela itu, saya ingin mengajak anak-anak berprestasi berkunjung ke Huawei supaya dapat belajar banyak dari perusahaan ini,’’ kata Linda.
Apresiasi positif seperti ini, lanjut Linda, diharapkan dapat merangsang anak-anak Indonesia lainnya untuk maju. ’’Ke depan, proses seleksi anak berprestasi ini akan lebih ketat lagi. Selain pandai, juga harus punya disiplin dan jiwa nasionalis yang tinggi, kesehatannya bagus, melek IT, dan mampu berbahasa Inggris,’’ terang Linda.
Lebih lanjut Linda mengatakan, dirinya salut dengan perusahaan Huawei yang sangat ramah lingkungan. ’’Di Indonesia, kita sedang menggerakkan kaum perempuan untuk menanam pohon. Yaitu 10 juta pohon per tahun. Gerakan ini di bawah arahan Ibu Ani Yudhoyono. Ke depan, perhatian Huawei terhadap masalah sosial seperti anak cacat dan kaum marginal sekiranya dapat dilakukan kerjasama,’’ ajak Linda.
Sementara itu, Junfeng Guo mengatakan, pemerintah Indonesia telah punya kepedulian tinggi terhadap generasi muda. ’’Semoga generasi muda calon pemimpin masa depan yang berkunjung ke Huawei ini dapat membawa dampak lebih baik bagi negaranya,’’ harap dia.
Guo menjelaskan, Huawei berdiri sejak 1988. Pada waktu itu tidak ada teknologi komunikasi. Semua impor dari luar. Hampir 99 persen orang yang keluar dari China tidak punya telepon. Mulai 1992 telah memproduksi sendiri. Sampai 1995 sudah melebihi 1.500 juta dan punya 5 ribu peneliti. Pertumbuhannya melebihi 19 persen dan cabangnya tersebar di lebih 100 negara. ’’Huawei sudah menginternasional. Keunggulannya di fixed line dan wireless. Di bidang fixed line no 1, wireless no 2 di bawah Ericsson, dan di bidang IT no 3. Keseluruhannya sudah menjadi no 2 di dunia,’’ pungkas dia. (bersambung)

SERI 3
Hindari Lantai Kaca karena Takut Pecah

Berada di sky walk Observatory Gedung Shanghai World Financial Center (SWFC) setinggi 474 m sungguh mendebarkan. Apalagi di lantai ke 100 itu ubinnya dari kaca transparan. Di bawahnya terlihat kendaraan yang lalu lalang seperti semut. Apa reaksi anak-anak ketika di sana?
’’Siapa takut ketinggian? Yang takut angkat tangan! Kita akan menuju lantai 100. Tingginya 474 meter,’’ seru Yuni, pemandu wisata dari Huawei sebelum masuk ke gedung tertinggi di dunia setelah Menara Dubai, Emirat Arab, (818 meter) dan Gedung Taipei 101, Taiwan, (508 meter) itu pada 16 September lalu.
Karena tidak ada yang angkat tangan, rombongan berangkat menuju pintu masuk gedung di wilayah Pudong itu. Meski waktu baru menunjukkan pukul 09.30, antrean sudah mengular. Layaknya di bandara, tas, handphone, laptop, maupun benda elektronik lainnya harus dikeluarkan dan melalui screening door. Setelah itu, diarahkan ke loket-loket karcis. Di sana tersedia loket No 1 sampai 5. Boleh pilih ke lantai 94 saja, lantai 94 dan 97, atau lantai 94, 97, dan 100 dengan biaya RMB 100, RMB 110 dan RMB 150 (Rp 140–220 ribuan).
Setelah itu, antre menuju lift. Di depan lift, terdapat timer yang berada di atas kepala. Saat itu start dari angka 210. Pada hitungan nol, lift terbuka. Rombongan masuk. Di dekat pintu lift itu tertera kapasitas 24 orang dengan berat 1.800 kg. ’’Kita menuju lantai 97 dulu. Liftnya ini agak cepat. Telinga kita akan sakit sedikit karena perubahan ketinggian dengan cepat,’’ kata Yuni. ’’Waduh, wedhi aku (takut aku),’’ kata Magistra Yoga Utama, si dalang cilik. ’’Hihihihi, jadi deg degan aku….’’ tukas Ni Putu Maitri, dari Pemimpin Muda Indonesia.
Lift pun naik. Di situ tidak tertera lantai berapa, melainkan di ketinggian berapa. Cahaya di dalam lift mendadak temaram. Telinga makin lama makin terasa sakit, seperti berada di dalam pesawat yang hendak take off atau landing. Adrenalin pun terpacu. Sekitar tiga menit, lift sudah sampai di lantai 97. Di sini, bisa melihat seluruh bagian Shanghai sampai jauh sekali. Sungai Huangfu yang membelah kota. Di tepi sungai itu, berdiri gedung-gedung pencakar langit dan rumah aneka warna. Ada hijau, merah, biru, dan sebagainya. ’’Rumah warna-warni itu dibangun pada 1978-1980. Supaya lebih indah saja. Dulu rumah itu flat. Lalu dibangun tinggi, supaya lebih kokoh,’’ jelas Sarah, pemandu wisata dari Huawei.
Meski pemandangan terlihat jelas, tetap saja penasaran seperti apa Shanghai jika dilihat dari lantai 100? Rombongan pun menuju lantai 100 dan kembali antre. Sesampainya di lantai 100, anak-anak berlarian gembira. Mengambil angle foto paling menarik. Di antara mereka bergantian mengambil gambar. Tapi begitu melihat sebagian lantai terbuat dari kaca, mereka pun berteriak. ’’Awas, itu kaca,’’ teriak Ni Putu mengingatkan kawannya. Kawan-kawannya pun refleks berusaha tidak menginjak bagian kacanya. ’’Ih sereem ya, aduuuh takutttt,’’ lanjut Ni Putu sembari menghindari lantai kaca itu.
’’Kalau pecah bagaimana. Udah gitu tinggi sekali lagi,’’ celetuk Regina Esther.
Anak-anak pun berjalan menjauh dari lantai kaca yang terdapat di bagian tengah sky walk itu. Tapi ketika berjalan agak ke pinggir, ternyata sebagian lantai itu juga terbuat dari kaca. Secara spontanitas, mereka pun melompat.
Desinta Pratiwi dari Forum Anak Surakarta hanya diam. Matanya sembab. Rupanya dia menderita penyakit takut ketinggian (hypsiphobia). ’’Kamu kenapa?’’ tanya Yuni, pemandu wisata dari Huawei. ’’Kepala saya pusing sekali mbak. Saya takut,’’ kata Desinta. ’’Oke, nanti saya belikan obat ya,’’ kata Yuni.
Mendengar ketakutan sebagian anak-anak, Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Wahyu Hartomo berusaha menenangkan. ’’Kaca ini sangat kuat. Tidak akan pecah. Tenang saja,’’ hibur dia.
Namun, Wahyu sendiri rupanya tidak berani berjalan di atas kaca itu. Dia lebih memilih jalan lain. Begitu pula Kepala Biro Perencanaan Pribudiarta Nur. ’’Gimana ya? Karena dari kecil kita ditanamkan bahwa kaca kalau diinjak pecah, saya jadi tidak berani lewat,’’ kata Pribudiarta yang diiyakan Wahyu.
Dari pantauan INDOPOS, ada pula wisatawan asing yang menangis histeris saat dirinya baru saja menginjak lantai kaca itu. Dia pun langsung meloncat dan memeluk pasangannya. (bersambung)

SERI 4

Pesan Lagu Keong Racun, Ikut Nyanyi dan Bergoyang

Restoran-restoran Tiongkok paling top ditawarkan ke anak-anak berprestasi Indonesia. Namun, itu semua ditolak. Mereka lebih memilih makan di Banana Leaf (Daun Pisang), restoran Thailand yang berada di depan tempat mereka menginap. Ada apa di sana?
Restoran Tiongkok tampaknya kurang diminati anak-anak. Dua kali diajak makan di dua tempat berbeda tak cukup menggugah selera makan mereka. Padahal, yang dipilih restoran-restoran berkelas.
Yuni maupun Sarah, pemandu wisata dari Huawei, kebingungan. Akhirnya, pilihan itu diserahkan kepada anak-anak. Namun, mereka tidak tahu tempat mana yang dapat memanjakan lidah. ’’Ya udah, kita makan malam di restoran Thailand di depan hotel kita aja ya (Purple Mountain Hotel),’’ kata Yuni menawarkan. Anak-anak yang kecapekan karena seharian city tour itu langsung mengiyakan.
Sesuai namanya, Banana Leaf, di pintu masuk restoran ini terdapat daun pisang. Secara desain interior dan tata letak, secara spesifik tak ada yang membedakan dengan restoran pada umumnya. Dilengkapi meja bundar bertaplak cokelat dengan lima kursi mengelilingi.
Namun, ada satu yang membuat restoran itu hidup dan inilah yang membuat anak-anak senang. Di sana ada penyanyi sekaligus dancer yang menghibur. Terdiri atas dua laki-laki dan dua perempuan. Yang laki-laki ganteng-ganteng. Yang perempuan sangat feminin, cantik dan juga manis. Ada pula satu gitaris dan satu pemain drum. Mereka tidak menari dan menyanyi di atas panggung. Tapi, menghibur di samping meja pengunjung restoran dengan diiringi irama musik. Mirip pengamen keliling.
Penampilan mereka sangat menghibur. Mereka mengenakan kostum koki atau juru masak. Jogetnya tidak standar. Unik, lucu, dan menarik. Pantatnya berputar-putar mirip goyang ngebor penyanyi dangdut Inul Daratista. Kadang mirip goyang patah-patah Annisa Bahar atau goyang gergaji Dewi Perssik. Kita juga bisa order lagu.
’’Where are you come from (Kamu dari mana)?’’ tanya salah satu penyanyi yang mengaku dari Pulau Mindanao, Filipina Selatan kepada Mulyadi. ’’I’m from Indonesia,’’ jawab laki-laki yang terpilih sebagai Pemimpin Muda Indonesia 2010 dari Payakumbuh, Sumatera Barat, ini.
Mendengar nama Indonesia, penyanyi tersebut langsung berbinar-binar dan mengajak Mulyadi menyanyi dan menari. Anak-anak berprestasi lainnya juga tak mau kalah. Mereka beranjak dari tempat duduk serta menyanyi dan menari bersama-sama dengan grup musik asal Filipina itu.
Pengunjung restoran lainnya yang malam itu sangat penuh bertepuk tangan. Mereka berhenti sejenak menyantap hidangan dan meneguk minuman di depannya. Mereka menyaksikan anak-anak asal Indonesia unjuk kebolehan. Menyanyikan lagu-lagu barat dan bergoyang. Suasana semakin seru ketika salah satu pria yang bergaya gemulai berdiri di atas kursi. Dia memeragakan tarian khas yang mengocok perut. Lalu, dia meminta agar anak-anak menirukan gayanya. Ibarat kata, lu jual gua beli. Anak-anak pun menirukan gaya pria tersebut. Tepuk tangan dan tertawa geli penonton pun membahana di restoran itu. Bak suasana di tempat konser musik.
’’I want you sing Keong Racun (saya ingin kamu menyanyi lagu Keong Racun),’’ ujar Charles Octariano Seran, Pemimpin Muda Indonesia 2010 asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, NTT. ’’Ya ya, I know this song. This is very popular in Indonesia. But I can’t (saya tahu lagu ini yang sangat popular di Indonesia. Tapi saya tidak dapat menyanyikannya),’’ jawab grup band tersebut.
Setelah makan malam di Banana Leaf, hari-hari berikutnya anak-anak minta terus makan malam di sana. ’’Saya tahu kenapa anak-anak senang makan di sini. Selain cocok di lidah, mereka juga ingin menyanyi dan menari,’’ kata Yuni, pemandu wisata dari Huawei kepada INDOPOS. (bersambung)

SERI 5
Dibekali Nasionalisme, Pulang Ingin Jadikan Papua Semaju Shanghai

Kunjungan anak-anak berprestasi Indonesia ke Shanghai bukan tur biasa. Di sana, mereka banyak belajar dari kemajuan Negeri Tirai Bambu sekaligus diajarkan nilai-nilai. Seperti apa?
Banyak tempat telah dikunjungi selama 14-18 September berada di Shanghai. Datang ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Huawei, naik ke lantai ke 100 Observatory, ke Yu Garden dan shopping ke old town, ke museum, Nanjing Road, ke Shanghai Expo, dan tempat-tempat bersejarah lainnya.
Banyak yang bisa dipelajari. Di Huawei, bisa menimba ilmu bagaimana perusahaan teknologi dan komunikasi itu sekarang bisa menjadi nomor dua di dunia. Anak-anak juga bisa mencoba langsung kecanggihan teknologi yang dimiliki. Di museum, anak-anak bisa mempelajari bagaimana Negeri Tirai Bambu ini begitu menghargai sejarah dan telah menyiapkan master plan secara matang.
Di Shanghai Expo, anak-anak dapat melihat miniatur negara-negara di dunia. Ada paviliun China yang spektakuler, paviliun Indonesia yang sangat etnik, paviliun Switzerland yang sangat hijau dan sebagainya.
Anak-anak juga dapat belajar bagaimana negara terpadat di dunia ini mengatur lalu lintas, menyediakan transportasi publik yang cepat, aman, dan nyaman, menata pemukiman, dan sebagainya. ’’Dengan cara ini, wawasan anak-anak dapat bertambah. Diharapkan, impian yang indah-indah tentang Shanghai dapat mereka wujudkan pada masa datang,’’ kata Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Wahyu Hartomo kepada INDOPOS yang turut serta mendampingi anak-anak.
Di Shanghai ini, anak-anak juga diajarkan nilai-nilai tentang kedisiplinan dan nasionalisme sejak. Karena itu, sebagai latihan, saat belanja di old town, anak-anak diberikan timer. Misalnya, waktu shopping hanya satu jam. Dipersilakan menyebar sendiri-sendiri dan ketemu di tempat yang telah ditentukan.
Ketika di antara mereka telat, maka akan disemprot. Ini dialami beberapa anak perempuan yang datang terlambat 20 menit. Tak ayal, Pinky Saptandari, Staf Khusus Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bidang Sosial Budaya, ’’marah’’ besar. ’’Kenapa datang terlambat. Lihat bagaimana teman-temanmu lainnya sudah lama menunggu. Pasti mereka kecewa terhadap kalian. Kalau mau sukses, harus disiplin ya,’’ nasihat Pinky kepada mereka yang datang telat.
Dalam berbelanja, ana-anak juga diajarkan agar tidak menjadi konsumtif. Belanja sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan. Menerapkan gaya hidup sederhana dan berhemat.
Sehari sebelum anak-anak bertolak ke daerah masing-masing, mereka mendapat nasihat dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari. ’’Bawa pengalaman dan ilmu yang kalian dapatkan selama di Shanghai dan tularkan ke teman-teman lainnya agar mereka juga punya prestasi sama dengan kalian,’’ pesan Linda.
Suami Linda Amalia Sari, Agum Gumelar, juga berpesan agar anak-anak punya jiwa nasionalis dan berdisiplin tinggi. ’’Bangsa China bisa semaju ini karena mereka punya semangat nasionalisme dan punya disiplin tinggi,’’ tegas Ketua Ikatan Alumni Lemhanas dan mantan Menteri Perhubungan ini. ’’Karena itu, kalian harus bangga menjadi anak-anak Indonesia. Jiwa merah putih harus ada di hati kalian,’’ lanjut dia.
’’Terima kasih Bu Menteri telah memberikan apresiasi positif kepada anak-anak berprestasi. Saya berjanji, saya akan menjadikan Papua semaju Shanghai. Tidak seperti sekarang, Papua saja sangat tertinggal dengan daerah-daerah lain di Indonesia,’’ kata Regina Easther, Siswi SMAN 5 Jayapura, Papua. (habis)

INDOPOS, 20–24 September 2010

~ by ariyanto on 2 October 2010.

One Response to “Cerita Unik Anak-Anak Berprestasi Indonesia saat Studi Tur ke Shanghai, Tiongkok”

  1. .desinta bukan takut sama ketinggian lho !!! tapi waktu itu darah rendah desnta kambuh dan membuat kepala desinta pusing !!!!
    .Desinta sangat senang dengan pengalaman yang sudah desinta dapatkan bersama kawan” di Shanghai. Rasanya semua itu ingin di ulang kembali……….Desinta kangen dengan semuanya …
    .MISS YOU ALL….>>>>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: