Membentuk Karakter Bangsa Melalui Karakter Anak

Oleh ARIYANTO

Keluarga, Filter Pengaruh Asing

Di era globalisasi saat ini, masuknya pengaruh budaya asing tak bisa dibendung lagi. Namun, jika tidak diimbangi dengan budaya bangsa sendiri, maka bisa berdampak buruk, terutama bagi anak-anak. Kalau ini terjadi, karakter bangsa dapat terancam, karena anak-anak adalah calon pemimpin masa depan.
’’Benar, pembentukan karakter bangsa melalui karakter anak sangat dipengaruhi oleh arus budaya asing,’’ kata Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP dan PA) Linda Amalia Sari kepada INDOPOS usai bertemu unsur Muspida Situbondo, Jawa Timur, Kamis malam (15/7).
Terkadang, lanjut Linda, ada keluarga yang menganggap masuknya pengaruh asing sebagai hal modern. Arus budaya dari luar itu pun ditelan mentah-mentah.
Diakui Linda, budaya asing itu tidak bisa ditahan. Namun, keluarga harus mampu memfilter agar tidak membawa dampak buruk bagi perkembangan anak. ’’Ini tugas keluarga maupun guru di sekolah untuk menciptakan suasana-suasana yang mendukung penciptaan karakter bangsa,’’ tegas Linda yang juga Ketua Harian Gugus Tugas Antitrafficking ini.
Lebih lanjut Linda menjelaskan, sejak lahir, anak memiliki sesuatu yang bisa menjadi teladan bagi dia. Kalau contoh yang dipertotonkan keluarga buruk, anak akan menjadi buruk. Sebaliknya, jika yang diajarkan baik, anak akan menjadi baik. ’’Jadi, ini kembali kepada lingkungan keluarga dulu sebagai yang paling dekat,’’ terang mertua pebulu tangkis nasional Taufik Hidayat ini.
Istri mantan Menko Polkam Agum Gumelar ini kemudian memberikan contoh di bidang olahraga. Saat ada atlet Indonesia berkompetisi, orangtua bisa mengajak sang buah hati untuk melihat dan menyukai mereka. ’’Misalnya kepada cucu saya, kami selalu menanamkan dukungannya terhadap Indonesia, dengan mencontohkan yel-yel atau meneriakkan kata-kata Indonesia beberapa kali,’’ ucap Linda yang kini dianugerahi dua cucu, Nayottama Prawira Hidayat dan Natarina Alika Hidayat.
Bagaimana dengan budaya setiap daerah di Indonesia yang berbeda-beda? ’’Justru ini bisa lebih meningkatkan kecintaan anak-anak terhadap budaya mereka. Tentunya dengan memegang prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Jadi melalui jalan budaya seperti tarian dan lagu daerah bisa menanamkan nilai kebangsaan yang kuat,’’ ucapnya.
Menurut Linda, menanamkan karakter yang baik kepada anak-anak tidak hanya diterapkan di rumah, melainkan melalui kegiatan di sekitar rumah. Kegiatan perayaan 17 Agustus, misalnya, hal itu dapat mendukung tumbuh kembang anak.
Di sekolah juga banyak hal yang bisa dilakukan. Yaitu, dengan memberikan lebih banyak pendidikan yang berhubungan dengan karakteristik kebangsaan dan ditunjang dengan praktik seperti upacara bendera. ’’Di banyak negara, anak-anak itu sudah dibiasakan dari kecil ke museum, jadi dibawa oleh orang tua atau gurunya, untuk lebih menghargai perjuangan dari pahlawannya, dan ini bisa kita contoh,’’ tuturnya.

Bikin Kartu Ucapan
Sekolah Dasar Al-Jannah Islamic Fullday School punya cara menarik untuk pendidikan karakter. Sekolah yang beralamat di Jalan Jambore Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, ini mendorong anak-anak untuk membuat surat dan kartu ucapan dalam memperingati hari-hari penting.
Seperti beberapa waktu lalu dilaksanakan untuk memeringati Hari Kartini. Hanifa Senandung Khalifa, siswi Kelas II SD Al-Jannah Islamic Fullday School, mengirimkan sebuah surat yang ditujukan kepada Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Surat itu berisi tentang pentingnya kepedulian terhadap lingkungan.
Hanifa menyampaikan: ’’Saya mau lihat bagaimana para ayah dan para ibu melestarikan bumi kita. Ternyata mereka hanya mengurus urusan mereka sendiri, seperti mengobrolkan bagaimana perlengkapan ulang tahun dengan snack yang berbungkus. Mereka hanya bilang: ’Ah gak papa, kan ada tukang sampah yang membereskan sampah pesta ini’. Tolong ya bu Menteri bantu bimbinglah Indonesia kita untuk menghijaukan bumi kita ini. Caranya seperti menanam pohon, membuat tas dari bungkus snack, dan lain-lain.

Tanamkan Budi Pekerti
Disiplin menjadi salah satu bagian penting dari budi pekerti. Ini sangat mendukung dan menciptakan karakter bangsa melalui karakter anak. Hal ini akan memiliki efek cukup besar ketika anak-anak tersebut menjadi dewasa. Dan, itu dimulai dari bagaimana polesan awal dari anak tersebut.
’’Disiplin itu, jangan ditanamkan menunggu seorang anak SMP dan SMA, telat! Disiplin justru ditanamkan sejak umur dua tahun saat anak sudah bisa kita ajak berkomunikasi. Misalnya kita katakan kalau dia mau sesuatu, dia harus berbicara, jangan menangis. Jadi dia harus mengerti ada aturan-aturan yang ada. Contoh lain misalnya, kalau mau kencing, dia harus ngomong, bukannya mengompol,’’ kata Deputi Bidang Perlindungan Anak Dra Yudo Puspito S kepada INDOPOS kemarin.
Ditambahkan Puspito, ketika anak memasuki umur 5 atau 6 tahun (mulai sekolah dasar), mulai diajarkan bahwa bangun tidur harus membersihkan tempat tidurnya. ’’Hal-hal kecil itu penting dan berarti besar,’’ terang Puspito.
Kemudian, lanjut dia, harus ditanamkan rasa gotong royong. Dan, itu harus dipupuk sejak kecil. Misalnya, kalau sudah tahu pembantu lagi sibuk, kita ajak anak kita untuk membantu. Bukan hanya bergantung kepada pembantu atau malah manja. Ironisnya, ortu sekarang itu tidak mau anak rewel, lalu diberikanlah segala apa yang diinginkan.
’’Seharusnya, bisa dibedakan mana yang kebutuhan dan mana keinginan dengan skala prioritas. Dan, ini harus ditanamkan sejak kecil,’’ tutur Puspito.
Lebih jauh Puspito memaparkan, jika anak tersebut memiliki saudara, maka dia harus diajakan untuk berbagi. Kalau punya mainan, misalnya, jangan hanya sendiri-sendiri, tapi sama-sama. ’’Ini diharapkan pada saat dewasa nanti, dia bisa mengurangi tawuran misalnya,’’ ungkap dia.
Dalam pandangan Puspito, nilai budi pekerti saat ini sudah mulai lumpuh. Salah satu penyebabnya adalah pengaruh budaya asing. Selain itu, orangtua tidak menanamkan nilai-nilai tersebut karena berbagai kesibukan maupun faktor lainnya.
’’Sekarang itu cendrung budaya instan (serba cepat), tanpa melihat hal itu positif apa tidak. Padahal, anak itu harus diajarkan untuk berjuang di dalam meraih sesuatu. Jadi tanamkan budi pekerti sehingga anak itu punya rasa disiplin, gotong royong, dan rasa berbagi, untuk membangun karakter bangsa yang tepat,’’ tegasnya. (*)

INDOPOS, 20 Juli 2010

~ by ariyanto on 20 July 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: