Ramdan Aldil Saputra, Pemilik Hati Baru yang Tak Lagi Tersengal

Oleh
ARIYANTO


Meneg PP-PA: Bilqis Telah Jadi Martir

Kondisi Ramdan Aldil Saputra, 3,5, bocah penderita kelainan liver atresia bilier yang Sabtu lalu (24/4) menjalani cangkok hati di RSUD dr Soetomo Surabaya, Jawa Timur, mengalami kemajuan sangat mencengangkan.
Pada pukul 10.20 WIB, Minggu (25/4), bayi asal Trenggalek, Jawa Timur, ini sudah bisa bernapas sendiri. Tak lagi tersengal-sengal, seperti sebelum operasi. Padahal, saat itu tidak ada bantuan ventilator (alat bantu napas). Alat bantu napasnya dicopot setelah selama satu jam saturasi (kepadatan oksigen dalam darah)-nya tetap 100 persen walau hanya dengan pemberian sedikit oksigen. Itu berarti, paru-paru bayi dari Sulistyowati, 43, dan Bambang Sutondo, 52, sudah berfungsi normal.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP dan PA) Linda Amalia Sari Gumelar yang mengikuti perkembangan operasi Ramdan mengaku sangat gembira. Karena itu, begitu operasi yang berlangsung 12 jam 45 menit itu berhasil, Linda langsung mengontak tim dokter yang menangani operasi tersebut.
’’Saya sudah kontak via telepon tim dokter yang menangani kemarin (25/4). Saya ucapkan selamat kepada mereka (dokter yang menangani Ramdan). Alhamdulillah kondisi keduanya, Ramdan dan ibunya, cukup baik,’’ kata perempuan kelahiran Bandung, 15 November 1951, ini.
Namun, Linda mengajak kepada masyarakat agar berdoa dan berupaya agar Ramdan tidak terkena infeksi dan tidak ada daya tolak dari tubuh Ramdan. Sebab, masa kritis Ramdan di ruang ICU belum lewat. Pemulihan terhadap pembedahan perlu waktu hingga dua hari setelah operasi. Jika masa itu lewat, tim dokter akan memantau kondisi Ramdan hingga sebulan setelah operasi. Ramdan diperkirakan baru keluar ICU seminggu lagi. Kalau setelah sebulan itu aman, baru bisa kita katakan Ramdan selamat.
Linda yang sudah dikaruniai seorang cucu ini juga mengucapkan selamat kepada para orangtua, khususnya ibu yang mendonorkan hati kepada sang buah hati. Di tengah-tengah ibu yang menyeterika anaknya, mengikat anaknya, menelantarkan anaknya, dan bahkan membunuh anaknya sendiri, ternyata banyak ibu di Indonesia yang ikhlas dan sayang. ’’Mulianya seorang ibu yang menolong anaknya dan memberikan sebagian tubuhnya, hatinya, untuk anak tercinta. Kita memberikan apresiasi yang sangat besar,’’ kata puteri mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Letjen (Purn) Achmad Tahir ini.
Kepada rumah sakit, Linda berharap agar memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat. Sebab, dia mendengar, banyak keluarga tak mampu tidak bisa masuk rumah sakit sebelum persyaratan ini dan itu dulu. ’’Saya harap nyawa ditolong dulu.
Ramdan yang asal Trenggalek ini saya dengar dari keluarga tidak mampu. Tapi, Alhamdulilah, Pemerintah Jawa Timur telah membantu. Saya pikir Gubernurnya sangat peduli,’’ ungkap mertua pebulu tangkis nasional Taufik Hidayat ini.
Ketua harian Gugus Tugas Antitrafficking ini juga memberi apresiasi kepada komponen masyarakat yang telah membantu. ’’Saya kira, kalau informasi itu ada, masyarakat kita otomatis akan membantu. Tipikal masyarakat kita memang seperti itu,’’ kata dia.
Ketika ditanyakan apa reaksi pertama Linda setelah mendapat kabar keberhasilan operasi Ramdan? ’’Saya kebayang Bilqis Anindya Passa (bayi berusia 17 bulan yang juga penderita atresia bilier). Saya terharu. Karena saya pernah menggendong dia. Dia sudah saya anggap sebagai cucu saya sendiri. Saya manggilnya Niang, Ninik Sayang,’’ ujar Linda dengan mata berkaca-kaca. Ya, Bilqis akhirnya meninggal setelah dirawat di RS Kariadi Semarang, 3 Februari lalu. Putra pasangan Dewi Farida, 37, dan Doni Ardianta Passa, 33, ini dipanggil Tuhan sebelum menjalani operasi.
Setelah membuka Rakor Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah, (23/2), lalu, Linda memang menyempatkan diri menengok Bilqis di RSUP dr Kariadi Semarang. Dia langsung menuju tempat Bilqis dirawat di Ruang Merak, kelas II.09.I di lantai tiga. Saat melihat Bilqis berbaring dengan selang menempel di hidung dan tangannya, Linda langsung merasa iba. Linda mengecup ubun-ubun Bilqis lalu menggendongnya. ’’Bismillahirrahmanirrahim. Ninik sayang. Ninik Sayang,’’ kata Linda kepada Bilqis. Pada kesempatan ini, ibu Bilqis menyematkan pin Koin Cinta Bilqis di dada kiri Linda agar sang menteri tidak melupakan Bilqis, anaknya, dan Bilqis-Bilqis lainnya.
’’Bilqis telah menjadi martir kepada kita semua agar memberi perhatian kepada mereka (penderita atresia bilier) lainnya. Semoga tidak lagi Bilqis-Bilqis lainnya,’’ harap Linda.
Sejak Bilqis meninggal, lanjut Linda, Ibu Bilqis, Dewi Farida, banyak bergerak untuk anak-anak tidak mampu. Farida juga punya sekolah untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). ’’Saya masih berhubungan, baik melalui Twitter atau apa,’’ ungkap Linda.
Sementara itu, orangtua Bilqis juga memberikan dukungan dengan menggelar doa bersama untuk Ramdan. ’’Selama ini kita selalu melakukan komunikasi dengan Pak Bambang Sutondo (ayah Ramdan). Kami juga saling mendoakan. Kemarin (25/4), di Semarang, kami pamit ke tim dokter. Kita mengundang anak yatim piatu untuk mendoakan kesembuhan Ramdan dan ibu Bambang (Sulistyowati),’’ kata Donny, ayah Bilqis, kepada INDOPOS, kemarin (26/4).
Sebelumnya, kata Donny, dirinya sudah sering berkomunikasi dengan Sulistyowati. Komunikasi biasanya dilakukan melalui telepon atau pesan singkat. ’’Kami sangat senang dengan keberhasilan operasi yang dilakukan Ramdan. Selama ini komunikasi hanya dilakukan via telepon. Tapi, kalau ada waktu kami akan mampir ke Surabaya untuk menjenguk,’’ kata Donny.
Dikatakan Donny, selain Ramdan kini sudah ada dua anak lagi yang mengalami penyakit serupa. Yaitu Melati asal Medan, Sumatera Utara dan Putri asal Manado, Sulawesi Utara. Untuk Melati dokter menganalisis mengidap allegro syndrom, sejenis penyakit yang mengarah ke gangguan hati. ’’Putri masih dirawat. Dia baru masuk dua hari. Tim dokter masih menganalisis penyakitnya,’’ ujarnya.
’’Sekarang ini kami sering mendapatkan banyak telepon. Kami jadi susah. Seolah-olah kami yang menentukan nasib anak orang, kami ingin melalui media pemerintah saja,’’ ujarnya.
Seperti diberitakan, Ramdan menjalani operasi selama 12 jam 45 menit. Operasi baru berakhir sekitar pukul 20.45 Sabtu malam lalu (24/4). Tim dokter sukses memotong sebagian liver milik Sulistyowati dan mencangkokkannya kepada Ramdan, anaknya. Pengangkatan kelenjar getah bening yang membesar dan mengakibatkan perlengketan pada liver Ramdan juga berjalan lancar.
Operasi tersebut merupakan kolaborasi antara RSUD dr Soetomo dan OOTC Tianjin, Tiongkok. Dari pihak tuan rumah, tim dokter terdiri atas ahli penyakit liver anak dr Sjamsul Arief SpA(K) MARS, ahli bedah anak dr Poerwadi SpB SpBA, dan dr IGB Adria Hari Astawa SpB SpBA, serta ahli bedah digestif dewasa dr Iwan Kristian SpB KBD dan dr Vicky Sumarki Budipramana SpB KBD.
Di samping itu, ada ahli bedah vaskuler dr Heroe Soebroto SpB SpB TKV (K), ahli anestesi dr Philia Setiawan SpAn-KIC, dr Arie Utariani SpAn-KIC, serta dr Elizeus Hanindito SpAn-KIC. Dua perawat juga terlibat, yakni Choirul Anam dan Eko Yeppianto.
Dari OOTC Tianjin, yang ikut membantu sebagai advisor dan konsultan dalam operasi itu adalah Presiden OOTC Prof Dr dr Shen Zhongyang dan asistennya, Ellen Wei; Prof Dr dr Du Hongyin; dr Pan Cheng; dr Jiang Wentao; dr Wang Yu; dan perawat spesialis kamar operasi, Li Wei. (*)

INDOPOS, 27 April 2010

~ by ariyanto on 28 April 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: