Tolak Dipayungi karena Sudah Terbiasa Panas

Oleh
ARIYANTO

Banyak sisi lain yang unik dan menarik ketika istri Dirut PT PLN (Persero) Nafsiah Dahlan Iskan meninjau korban bencana banjir di Karawang, Jawa Barat, kemarin. Nafsiah yang tidak suka formal itu membuat kalang kabut pihak protokoler. Bagaimana kisahnya?
———
Ibu-ibu yang tergabung dalam Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) dan Ikatan Istri Pimpinan Badan Usaha Milik Negara (IIP BUMN) melakukan gerakan peduli banjir di Kabupaten Karawang, Jawa Barat (7/4). Meskipun acara aksi peduli ini dijadwalkan siang, kesibukan sudah terlihat di Kantor Pusat PT PLN (Persero) di Jalan Trunojoyo Blok M I/135, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sejak pagi buta.
’’Ayo kita langsung berangkat saja. Kita harus datang lebih dulu. Jangan keduluan ibu-ibu menteri,’’ kata Nafsiah yang mengenakan kaos panjang putih, celana jeans biru, topi, dan sepatu kets.
Pukul 06.00, Nafsiah dan delapan istri direksi PLN meluncur ke lokasi. Nafsiah dan saya naik Mobil Mercy hitam berpelat L 1 JP. Rombongan tiba di Karawang sekitar pukul 08.00. Sebelum memberikan bantuan kepada korban bencana, Nafsiah dan rombongan mampir ke kantor PLN di Karawang. Begitu tiba di halaman perusahaan berpelat merah itu, sejumlah pegawai tampak menyambut. ”Aduuh, kenapa pakai disambut segala. Saya ini pejabat teras, pejabat yang jual koran di teras,” kata dia kepada saya berkelakar, sebelum keluar dari mobil.
Di sini, Nafsiah diminta memberikan kata sambutan. ’’Perkenalkan nama saya Nafsiah. Terserah mau manggil saya apa. Bu Dahlan, Bu Nafsiah, atau Bu Dirut. Saya itu orang Dayak yang sudah jinak. Cucu sudah lima, maklum kalau nanti banyak lupa,’’ ujar istri mantan wartawan yang tidak suka protokoler ini disambut tawa.
’’Bakti sosial ini acara IIP. Kita (PLN) hanya berpartisisapi (bukan berpartisipasi). Oh iya, lain kali gak usah repot-repotlah bikin makanan ini itu untuk penyambutan. Pasti ibu-ibunya tidak tidur, iya kan. Saya tidak biasa disambut dan dilayani. Kalau saya malah ingin melayani,’’ ujar Nafsiah disambut tepuk tangan. ’’Sudah saya, saya tidak biasa pidato. Saya ini kan ibunya bonek, tidak suka protokoler. Kita langsung ke lokasi saja,’’ lanjut dia.
Andreas Heru Sumaryanto, Manajer Area Pelayanan Jaringan PLN Kabupaten Karawang, menambahkan, halaman PLN Karawang sempat tergenang. Tapi airnya tidak sampai masuk. ’’Saat banjir, 94 gardu kita padamkan supaya terhindar dari ha-hal tidak diinginkan. Masyarakat sudah kita kondisikan dan mereka memahami,’’ terang Heru.
Pukul 08.30, Nafsiah dan rombongan menuju Balai Desa Purwadana, Kecamatan Teluk Jambe Timur, tempat penyambutan. Begitu tiba di samping balai desa, Nafsiah langsung menuju halaman balai desa sedikit terburu-buru. Seorang pegawai PLN berusaha memayungi karena hari itu sangat terik. ’’Tidak usah, tidak usah. Mama tidak biasa dipayungi. Mama sudah biasa kok kepanasan,’’ ujar dia serius. Pegawai tadi kikuk. Payung kemudian diarahkan ke istri direksi PLN lainnya.
Halaman balai desa masih sepi. Hanya ada warga yang akan menerima bantuan dan pegawai desa. Rombongan SIKIB baru tiba sekitar pukul 10.15.
Menurut Wakil Bupati Karawang Hj Elly Amalia, ini merupakan banjir terhebat di Karawang. ’’Tapi alhamdulillah, meski terendam 12 hari, kita masih bertahan,’’ kata Elly dalam sambutannya.
Lebih lanjut Elly menjelaskan, pada hari pertama banjir, 24 Maret 2010, banjirnya masih kecil. Tapi hari berikutnya, mencapai 1,5 meter. Padahal tidak ada hujan sama sekali. ’’Cuacanya panas seperti ini. Sekitar tujuh kecamatan terendam dari 32 kecamatan,’’ terang dia.
Sementara itu, Lisa Mustafa, Ketua Ikatan Istri Pimpinan BUMN, mengatakan, pihaknya telah membawa sembako, buku, obat-obatan, dan lain-lain. Semoga bantuan ini bermanfaat. Kami ingin berbuat sesuatu. Kita tidak ingin saling menyalahkan. Introspeksi saja. Saya melihat di sini penghijauan dan bioporinya kurang,’’ kata Lisa. ’’Iya, bapak-bapak bisa mengajukan ke kami untuk penghijauan tersebut,’’ tambah Ratna Djoko Suyanto, Ketua III SIKIB.
Usai sambutan, Nafsiah dan rombongan SIKIB lainnya melihat posko pengobatan. Panas makin terik siang itu. Tapi, Nafsiah cuek saja dengan panas yang menyengat. Tak perlu juga pakai payung. Cukup topi, kacamata, dan sepatu kets. Melihat ibu-ibu PLN pakai batik, Nafsiah nyeletuk. ’’Memang mau kondangan ya. Makanya pakai pakaian saya seperti ini, praktis. Kalau sabuk yang saya pakai ini biar kausnya tidak kelihatan kegedean saja. Soalnya belinya dadakan,’’ tutur dia bercanda.
Selanjutnya, Nafsiah dan rombongan menuju Kelurahan Tanjung Mekar, Kecamatan Karawang Barel, daerah yang 90 persen terendam banjir akibat luapan air Sungai Citarum karena hujan di Bandung dan Cianjur yang tidak dapat ditampung di Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Di tempat ini seratus ribu jiwa mengungsi. Korban di kelurahan ini 5.800 jiwa. Di sini, Nafsiah memberikan bantuan secara simbolis kepada masyarakat korban banjir secara langsung.
Usai pemberian bantuan, Sekda Kabupaten Karawang Drs Arifin mengatakan, pasca banjir ini pihaknya terus memberikan bantuan. Sebab, pasca banjir ini banyak masyarakat menderita gatal-gatal, sakit mata, dan sebagainya. ’’Kita ingin bahu membahu untuk melayani kesehatan dan percepatan perbaikan lingkungan seperti membersihkan sampah-sampah yang menumpuk, sehingga tidak menimbulkan berbagai penyakit,’’ terang dia.
Dari sini, Nafsiah dan rombongan menuju Kampung Benteng, daerah terparah terkena terjangan banjir. ’’Ya, maklum saja, dekat bantaran kali sih. Ini sudah gak bener,’’ tutur dia. Nafsiah menyisir satu per satu korban. Begitu ada, salah seorang warga yang rumahya terendam Lumpur tebal, dia mengajak kepada ibu-ibu menteri lainnya untuk masuk. Turut masuk di tempat itu Santi Helmy Faishal Zaini, Adelina Mangindaan, Hanna Fadel Muhammad, Ratna Djoko Santoso, dan lain-lain. ’’Ayo-ayo urunan, nyumbang,’’ kata Nafsiah yang menyebut dirinya ibunya bonek ini. Setelah ngomong seperti itu, Nafsiah ngeloyor pergi. Lalu, menyisir korban lainnya.
Kemudian ada seorang ibu-ibu. Dia sedikit memaksa agar Nafsiah melihat rumahnya yang tidak jauh dari bantaran kali. Dengan menangis, ibu bercerita kalau barang dagangannya ludes diterjang banjir. Tidak punya apa-apa lagi. ’’Tolong Bu, kami sudah tidak punya apa-apa lagi,’’ kata ibu itu mengiba. Nafsiah pun tersentuh dan langsung memberikan sesuatu kepada ibu itu. Tetapi Nafsiah enggan membeberkan berapa sumbangan yang diberikan. ’’Pokoknya saya senang bisa membantu sesama. Saya puas bisa memberikan langsung kepada orang yang berhak,’’ ungkap dia. (*)

INDOPOS, 8 April 2010

~ by ariyanto on 9 April 2010.

One Response to “Tolak Dipayungi karena Sudah Terbiasa Panas”

  1. memang seorang Wanita Tahan Sumuk…..hm…tangguh.SALUT saya….salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: