Negara yang Melampaui Dirinya

Oleh
ARIYANTO

Dalam minggu terakhir ini, iklan mengenai studi ke luar negeri bertebaran di media massa, termasuk pengumuman di sejumlah situs. Pameran pendidikan luar negeri juga digelar di berbagai tempat di Jakarta. Tentu saja mereka menawarkan aneka kelebihan maupun keuntungan selama menimba ilmu di sana, baik dari sisi kualitas pendidikan atau biaya yang dikeluarkan. Siapa tertarik?
Tidak, tidak. Bukan itu yang menjadi fokus saya ketika membaca dan melihat pameran pendidikan. Perhatian saya lebih tertuju kepada beasiswa yang ditawarkan. Di masing-masing stan yang saya datangi, pemerintah setempat memberikan beasiswa kepada pelajar asing, dengan persyaratan-persyaratan tertentu.
Ada lembaga khusus milik pemerintah yang menangani beasiswa ini. Di antaranya, Pemerintah Australia punya Australian Development Scholarship (ADS), Jerman memiliki Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD), dan Pemerintah Belanda melalui Netherlands Education Centre (NEC) Indonesia menawarkan belajar di Negeri Kincir Angin tersebut dalam program beasiswa StuNed (Studeren in Nederlands – Belajar di Belanda) dan NFP (Netherlands Fellowship Programme).
Pemerintah Prancis juga punya menawarkan beasiswa melalui Bourses du Gouvernement Francais (BGF), Pemerintah Inggris punya beasiswa Chevening, yang ditujukan kepada warga negara Indonesia, Pemerintah Spanyol punya BECAS MAEC-AECI, Italia punya Italian Government Scholarships, dan Pemerintah Amerika Serikat punya Fullbright.
Bahkan, di beberapa negara di ASEAN juga punya lembaga pemerintah yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa luar negeri. Sebut saja Pemerintah Singapura yang menawarkan beasiswa bagi pelajar dari negara-negara ASEAN, Brunei Darussalam punya Brunei Darussalam Government Scholarships, dan The Asian Institute of Technology (AIT), Thailand, memberikan kesempatan beasiswa kepada kandidat dari negara-negara di Asia melalui program beasiswa King and Queen of Thailand Master Scholarships. Dan, masih banyak negara lain di dunia yang memiliki lembaga beasiswa bagi pelajar asing.
Saat mendapat penjelasan dan persyaratan soal beasiswa-beasiswa itu, konsentrasi saya buyar. Bukan karena diganggu oleh seseorang atau tidak bisa menangkap pemaparannya. Tapi karena ada sesuatu yang menggelayuti pikiran. Sebuah pertanyaan sederhana dari seorang rakyat biasa, dari seorang warga negara Indonesia: mengapa pemerintah kita tercinta ini tidak punya lembaga khusus yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing?
Saya mencoba menjawab sendiri pertanyaan itu. Jawaban kira-kira saja. Pemerintah mungkin sedang memprioritaskan warganya. Logikanya mungkin begini: jangankan memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing, diri sendiri saja masih belum sepenuhnya dilakukan. Beasiswa dari pemerintah biasanya diberikan kepada pegawai pemerintah atau pegawai negeri sipil (PNS). Itu pun kebanyakan dari kementerian yang diberikan kepada pegawainya sendiri, sebagai bentuk reward atau peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
Jika alasannya ini, saya agak bisa memahami. Sebab, bagaimanapun, kualitas sumber daya manusia dalam negeri harus ditingkatkan terlebih dulu. Setelah itu, baru memikirkan warga negara asing. Tapi, yang menjadi kekhawatiran saya adalah kalau pemerintah belum berpikir atau tidak terpikirkan untuk membentuk lembaga khusus yang menangani beasiswa bagi pelajar asing, seperti lembaga yang dimiliki negara-negara tadi, yang sudah menjadi ’’ikon’’ negaranya.
Mudah-mudahan kekhawatiran saya ini tidak beralasan. Sebab, saat ini, pemerintah sedang gencar-gencarnya meningkatkan kualitas pendidikan serta memperbaiki sarana dan prasarananya. Salah satu buktinya, pemerintah mengalokasikan 20 persen untuk anggaran pendidikan. Ini untuk memenuhi amanat konstitusi, meskipun dalam kondisi anggaran yang sangat terbatas.
Anggaran pendidikan meningkat hampir dua kali lipat, dari sebelumnya Rp 78,5 triliun. Pada 2008, menjadi Rp 154,2 triliun. Dan, anggaran pendidikan yang dialokasikan pada 2009 Rp 46,1 triliun, sehingga berjumlah sebesar Rp 224 triliun. Anggaran pendidikan yang sudah mencapai 20 persen dari APBN ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini, guna membangun keunggulan dan daya saing bangsa di abad 21 ini.
Kebijakan ini tentu harus diapresiasi positif. Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah sampai kapan kita baru punya lembaga pemberi beasiswa semacam DAAD, ADS, dan NEC? Kita sudah 65 tahun merdeka. Negara-negara di ASEAN saja sebagian sudah memiliki itu.

Memikirkan yang Lain
Sebetulnya pemerintah sudah membuat sebuah terobosan besar dalam pendidikan. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) memiliki program Beasiswa Unggulan. Beasiswa ini ditawarkan oleh Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Kemendiknas. Meliputi program Diploma, Sarjana, Magister, dan Doktor baik di dalam maupun di luar negeri. Pola pembiayaan beasiswa ini menggunakan pola sharing antara Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, masyarakat dan industri sesuai amanat UU Sistem Pendidikan Nasional No 20/2003 (Pasal 46 ayat 1).
Dikatakan terobosan besar karena beasiswa ini tidak dikhususkan bagi PNS. Peneliti, penulis, seniman, tokoh, atau olahragawan pun bisa mengajukan. Padahal, sebelumnya, yang biasa memberikan beasiswa kepada masyarakat umum ini pihak swasta seperti Habibie Center, Sampoerna Foundation, Djarum, dan Sukanto Tanoto Foundation.
Selain untuk masyarakat Indonesia secara umum, Beasiswa Unggulan juga diberikan kepada mahasiswa asing. Sayangnya, baru untuk warga Palestina yang dibuka. Mudah-mudahan, tidak lama lagi diperuntukkan pula bagi mahasiswa asing secara luas. Sebab, sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No 20/2009 tentang Beasiswa Unggulan, pemberian bantuan biaya pendidikan oleh pemerintah Indonesia ini juga ditujukan kepada mahasiswa asing terpilih dengan persyaratan tertentu. (Pasal 1 dan Pasal 6).
Saya kira Beasiswa Unggulan ini titik awal sangat bagus. Tapi lebih efektif jika Beasiswa Unggulan ini secara struktural langsung bertanggung jawab kepada Menteri Pendidikan Nasional. Tidak lagi di bawah Biro Perencanaan dan Kerja sama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Kemendiknas.

Negaraku Ada
Saya berharap Beasiswa Unggulan bisa menjadi embrio dari lembaga pemberi beasiswa bagi mahasiswa asing semacam DAAD (Jerman), ADS (Australia), NEC (Belanda), dan Chevening (Inggris). Mau dikasih nama apa terserah saja. Beasiswa Pancasila boleh, supaya mudah diingat dan mengingatkan calon penerima beasiswa tentang dasar negara Republik Indonesia. Diberi nama Beasiswa SBY juga oke. Kalau pada masa pemerintahan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini mampu merealisasikan ini, tidak ada salahnya dikasih nama Beliau sebagai bentuk penghargaan atas sebuah prestasi besar yang ditorehkan? Jadi, Beasiswa Pancasila atau Beasiswa SBY ini nanti benar-benar untuk warga negara asing. Warga negara Indonesia tidak boleh mengajukan beasiswa melalui ini. WNI hanya melalui Beasiswa Unggulan atau jalur lain yang dimiliki pemerintah Indonesia.
Semoga ini menjadi perhatian serius pemerintah. Sebab, lembaga beasiswa bagi mahasiswa asing ini secara tidak langsung dapat mempromosikan Indonesia. Promosi pariwisatanya, budayanya, dan tentu saja lembaga pendidikan. Pemerintah Indonesia punya kampus-kampus yang tak kalah dengan luar negeri dan bahkan mungkin lebih bagus. Sebut saja Universitas Indonesia (Jakarta), Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), Universitas Pajajaran (Bandung), Universitas Airlangga (Surabaya), Universitas Diponegoro (Semarang), Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi 10 November (Surabaya), dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (Jakarta).
Selain promosi, tentu saja ini untuk menunjukkan bahwa Indonesia negara yang mampu melampaui dirinya sendiri. Tidak berpikir untuk memajukan dirinya saja, tapi juga nasib warga negara dunia lainnya, khususnya bagi negara-negara berkembang dan terbelakang, seperti kita telah mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional dan kemudian melakukan ekspor. Minimal di tingkat negara-negara ASEAN terlebih dulu, yaitu Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, dan Kamboja. Langkah pemerintah Indonesia bekerja sama soal Beasiswa Unggulan dengan Thailand merupakan langkah bagus dan harus terus dikembangkan. Negaraku memikirkan yang lain, maka negaraku ada. (*)

INDOPOS, 4 April 2010

~ by ariyanto on 4 April 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: