Indonesia Siap Kalahkan Korsel

Tekad Menko Perekonomian
Sepuluh Tahun Mendatang

SEOUL- Indonesia bertekad melakukan sebuah lompatan besar. Sepuluh tahun mendatang, negara berpenduduk 230 juta jiwa ini akan menyamai kemajuan negara Korea Selatan dan bahkan melampauinya. Ini bukan sedang mengkhayal! Mengapa? Berikut wawancara khusus Wartawan INDOPOS Ariyanto dengan Menko Perekonomian M Hatta Rajasa di Kamar 3273, Lotte Hotel Seoul, Korea Selatan, Kamis tengah malam (25/3), saat kunjungan kerja di Korsel.

Saat acara pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Seoul, Widita, mahasiswi S-2 asal Indonesia yang studi di Korsel, menanyakan kepada Anda kapan Indonesia bisa semaju Korea Selatan. Pendapat Anda?
Saya kira pertanyaan ini mewakili sebagian besar masyarakat Indonesia. Kapan kita bisa makmur, kapan kita sejahtera, kapan kita semua bisa hidup tidak dengan disparitas atau kesenjangan yang tinggi? Sebagian rakyat Indonesia sudah menikmati (kemakmuran). Sebagian belum. Sebagian lagi masih berada di bawah garis kemiskinan. Apakah kita bisa menikmati kemakmuran yang merata? Bisa. Apakah ada indikator-indikator yang menunjukkan? Ada. Apakah kita bisa mencapai itu? Bisa.

Indikatornya apa?

Saya meyakini itu tidak hanya dalam arti feeling yang kuat, tapi perasaan ini didukung dengan data-data kuat.

Apa saja?

Indonesia sudah melewati masa yang sangat kritis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Atau dalam basic needs of human interest (kebutuhan dasar manusia) itu adalah recognition (penghargaan) terhadap apa yang disampaikan. Freedom of fear (bebas dari rasa takut) dan freedom of want (bebas berkehendak). Kalau dalam Alquran itu dikatakan Alladzi ath’amahum min juu’ wa amanahum min khouf. (Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan) (QS Quraisy ayat 4).

Jadi, freedom of fear itu sudah kita lewati dengan demokrasi?

Betul. Inilah modalitas terbesar dalam bangsa ini. Dalam kebhinnekaan kita itu ada kohesivitas yang kuat karena kita ada kesamaan dalam hukum. Basic itu ada. Saya tidak melihat ini di negeri sebesar China. Kita belum tahu elemen-elemen demokrasi semacam apa. Kita juga bisa melihat Thailand, Singapura, dan Malaysia. Walaupun saya bisa katakan bahwa demokrasi kita saat ini sedang mencari keseimbangan baru antara freedom dan rule of law (aturan hukum). Tapi itu tidak apa-apa karena ini akan menuju keseimbangan tadi.

Kapan keseimbangan itu terjadi?

Kesadaran untuk mematuhi pranata hukum itu sejalan dengan pendidikan dan penegakan hukum. Jadi, rule of law kemudian penegakan hukum juga.


Indikator lainnya?

Look at our people. Penduduk kita 230 juta jiwa. Ini merupakan pasar domestik yang besar. Krisis yang kemarin itu kita tertolong karena market domestik kita yang luas. Dan pasar domestik kita peluangnya masih sangat besar untuk kita kembangkan. Ini human capital.

Tentunya juga natural resources ya Pak?

Iya. Dan, Korea Selatan tidak punya ini. Jadi sebenarnya kita bisa mengungguli (Korsel).

Parameter lainnya?

Indonesia sudah teruji melewati masa-masa sangat kritis. Saya mengatakan bahwa ada satu kesadaran baru dari bangsa Indonesia bahwa in crucial thing we are unity (masalah kesatuan adalah sesuatu yang sangat penting). Dari pengalaman 1998 kita kan tidak bersatu, pengusaha sendiri-sendiri, cari hidup dan selamat sendiri-sendiri, government masih korup.

Kalau sekarang?

Pada 2004, anggaran pembangunan kita Rp 400 triliun Rp 500 triliun. Sekarang kita double. Dari yang terpuruk di bawah USD 1.000, sekarang sudah di atas USD 1.000. Belum dari sektor tax (pajak). Tax payer (pembayar pajak) kita sekarang baru 15 juta dari 230 juta rakyat Indonesia. Ini artinya begitu luas income-income (pendapatan) kita. Masih banyak pendapatan kita yang tercecer seperti pendapatan dari sektor ekstraktif. Ini artinya, dengan menjaga momentum pertumbuhan kita seperti ini, hampir bisa dikatakan setiap tahun atau lima tahun pendapatan kita double.

Cuma masalahnya disparitas masih tinggi.

Memang tinggal menjaga pemerataannya. Jangan sampai kita lengah sehingga pertumbuhan itu tidak merata. Jadi kuncinya adalah kalau kita bisa membangun infrastruktur secara cepat, maka akan luar biasa.

Kemampuan membangun infrastruktur kita sekarang bagaimana?
Kalau Rp 2.000 triliun yang kita perlukan untuk investasi per tahun di mana 55 persen harus kita andalkan dari Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA), itu achievement (prestasi). Apalagi sekarang pandangan negara-negara di dunia sangat positif terhadap Indonesia. Misalnya Jepang dan Amerika Serikat yang melihat Indonesia sebagai tujuan investasi. Ini nanti yang harus kita dorong. Jadi kalau Presiden SBY itu menjalin kerja sama dengan Presiden Korsel Roh Moo-hyun pada 2004, itu memang ada complementary (saling melengkapi) antara Indonesia dan Korea. Korea unggul dari segi teknologi dan manufaktur, Indonesia punya kelebihan dari sektor energi.

Jadi kapan Indonesia bisa semaju Korsel?
Pada 2020-2030 sudah bisa lihat hasilnya. Bahkan dengan berbagai kelebihan tadi, Indonesia bisa mengungguli Korsel. Ini riil. Ingat, pertumbuhan itu tidak linier, tapi bisa juga eksponensial. Saya baca bahwa pada 2050 Indonesia menjadi negara kelima size GDB atau pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia. Tentunya setelah Eropa ya, karena Eropa kita lihat sebagai komunitas tersendiri. Korsel hanya mengandalkan human resources (SDM). Kita punya human resources dan natural resources (sumber daya alam).

Tapi, human resources kita tidak sebagus Korsel?

Kita dengan 20 persen untuk anggaran pendidikan, nanti uang itu demikian besar. Pada 2014 menjadi Rp 400 triliun. Tidak mungkin untuk bantuan operasional sekolah (BOS) semua, untuk membangun pembangunan fisik dan menaikkan gaji guru semua. Menurut saya nanti sebagian untuk pemberian beasiswa pendidikan. Jadi ada human capital (modal manusia), human investment (investasi manusia) untuk sekolah ke mana-mana dengan dana-dana itu.

Berarti nanti tidak mengirimkan TKI unskilled labor?

No, no, skilled labor (tenaga kerja ahli).

Jadi Anda sangat optimistis bisa menyaingi Korsel?
Saya melihat sangat optimistis. Ini juga yang disampaikan dubes-dubes. Dubes Jepang dan Amerika, misalnya, mengatakan, mereka melihat Indonesia itu sangat optimistis.

Joint Task Force ke-2 antara Indonesia dan Korsel sudah dilaksanakan di Seoul. Berapa target investasi Korsel ke Indonesia?

Saya kira sejak 1960-an, total investasi Korsel sudah 20-an billion. Saya ingin yang sudah ada di depan mata saja. Tadi pagi (25/3) saya menerima POSCO, perusahaan raksasa baja di Korea Selatan. Dia komitmen untuk investasi 4 billion tahun ini. Juga di sektor energi itu banyak sekali. Pertemuan dalam working group itu, komitmen misalkan untuk masalah batubara, terutama di sektor oil and gas serta mineral. Sebenarnya di sini menjadi salah satu kekuatan kita. Ke depan, Indonesia harus mementingkan energinya untuk di dalam negeri. Yang penting energi dalam negeri dulu. Dengan demikian investasi akan masuk. Tapi kalau gas kita obral di luar, investasi susah. Saya kira salah satu kekuatan kita adalah bersumber pada ketersediaan energi kita. Jadi, kalau egrrement itu jalan, yang terbesar itu POSCO yaitu 4 miliar dolar tahun ini. Memang masih ada pembicaraan. Mereka ingin ada insentif. Pada JTF ke-3 di Jakarta pada 2011 akhir, harus sudah ada progress report. (*)

INDOPOS, 30 Maret 2010

~ by ariyanto on 30 March 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: