Ada Mutiara di Rumah Kita

Resensi Buku
Judul Buku: Menggapai Keluarga Berkualitas dan Sakinah
Penulis: DR dr Sugiri Syarief MPA
Penerbit: Mitra Abadi Press (September 2007)
Tebal Buku: 164 Halaman

Oleh
ARIYANTO

Eskalasi kekerasan terhadap anak-anak di Indonesia semakin meningkat. Hampir tiap hari media memberitakan kasus ini. Berdasarkan pengaduan masyarakat kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak dan Lembaga Perlindungan Anak di seluruh Indonesia memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap anak semakin meningkat. Dari 1.520 kasus (2007) naik menjadi 1.736 kasus (2008) dan meningkat lagi menjadi 1.998 kasus (2009). Bahkan, laporan Komisi Nasional Perlindungan Anak menyebutkan, selama 2008, kekerasan fisik berjumlah 4.818 kasus, kekerasan psikis 778 kasus, dan kekerasan seksual 699 kasus.
Dari berbagai data ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak sudah berada pada tahap sangat mengkhawatirkan. Ini bisa berdampak buruk bagi masa depan bangsa dan Negara. Memperihatinkannya lagi, keluarga, sekolah, dan Negara yang seharusnya bertanggung jawab terhadap perlindungan anak justru menjadi pelaku kekerasan dalam bentuknya masing-masing.
Dari fakta kekerasan yang diberitakan di media massa, kekerasan justru terbanyak di keluarga. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, nyaman ditinggali, ruang yang menenteramkan hati, dan tempat untuk menyiapkan generasi masa depan justru menjadi tempat terjadinya berbagai tindak kekerasan. Bagaimana mau menyiapkan pemimpin masa depan berkualitas jika anak-anak mendapatkan perlakuan seperti itu? Padahal, anak sebagai pemimpin masa depan, punya hak untuk bebas dari berbagai tindak kekerasan yang meliputi kekerasan fisik, psikis, ekonomi, seksual, dan penelantaran.

Kualitas Keluarga
Ada hubungan linier yang tak terpisahkan antara kualitas keluarga dan kualitas pemimpin masa depan. Pemimpin yang unggul bermula dari keluarga yang unggul pula. Kumpulan keluarga-keluarga cerdas akan menghasilkan pemimpin-pemimpin cerdas juga. Pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyat, memajukan bangsanya, dan mensejajarkan negaranya dengan negara-negara maju lainnya.
Keluarga sebagai lembaga sosial terkecil menjadi basis awal sebelum beranjak ke lingkungan lebih besar, masyarakat dan bangsa. Keluarga adalah tempat menempa kualitas perseorangan: istri, suami dan anak. Keluarga juga merupakan basis perjuangan untuk membangun kualitas pribadi atau sumber daya manusia. Akumulasi keluarga-keluarga dengan warga berkualitas itulah yang nantinya menunjukkan kualitas kehidupan bangsa. Bagaimana menciptakan keluarga berkualitas?
Buku berjudul Menggapai Keluarga Berkualitas dan Sakinah karya DR dr Sugiri Syarief MPA ini memberikan jawaban sangat gamblang. Mulai sebelum nikah hingga setelah nikah. Pranikah, masing-masing harus menyiapkan bekal pengetahuan dan ekonomi cukup sebelum memutuskan berkeluarga. Pascanikah, mulai membangun keluarga mandiri dan kuat. Sugiri juga sangat piawai mengutip ayat-ayat suci Alquran dan hadis yang menjadi dasar atau dalil dalam setiap argumentasinya.
Keluarga mandiri, menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), ini adalah keluarga yang tidak tergantung kepada orang atau keluarga lain, baik secara ekonomi ataupun dalam membuat keputusan-keputusan dalam keluarga. Keluarga mandiri memiliki ciri peduli terhadap pembangunan masyarakat, memiliki kedewasaan dalam berkeluarga, kelahiran anak yang jarang, ketahanan keluarga, dan sejahtera (hal. 40).
Keluarga mandiri sudah menyadari pentingnya pengaturan kelahiran anak. Sebab, jika anak lahir tanpa aturan, dapat memengaruhi keluarga baik secara ekonomi, kebahagiaan dan kesehatan ibu dan anak. Keluarga mandiri juga keluarga yang memiliki ketahanan keluarga. Yaitu, kondisi dinamik suatu keluarga yang punya keuletan dan ketangguhan. Selain itu, mengandung kemampuan fisik dan materiil dan psikis-mental spiritual guna hidup mandiri serta mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.
Keluarga mandiri tentunya juga sebuah keluarga yang sejahtera. Yaitu keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak. Juga, memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang antaranggota serta keluarga dengan masyarakat dan lingkungan. Kehidupan keluarga yang sejahtera akan menjamin kebahagiaan dan keluarga yang kuat. (hal 42)

Akar Kekerasan
Salah satu langkah membangun keluarga mandiri dan kuat adalah menjaga kesehatan keluarga. Di antaranya menjaga kesehatan reproduksi dengan mengatur kehamilan. Jika kelahiran tidak diatur, dapat membahayakan kesehatan ibu, merepotkan ekonomi keluarga, anak-anak kurang terurus, dan bapak pun ikut sibuk mengurusi rumah tangga sehingga dapat menurunkan produktivitasnya, kecuali pada keluarga mampu yang bisa membayar baby sitter berapa pun jumlahnya.
Pada keluarga biasa, apalagi keluarga miskin, jika istri sering melahirkan, di samping membahayakan kesehatan ibu juga akan merepotkan banyak pihak dan menambah kesengsaraan hidup.
Di tengah kehidupan ekonomi makin sulit dan lapangan pekerjaan makin menyempit, tidak perlu membentuk keluarga besar dengan jumlah anak banyak. Bagaimana mungkin sebuah keluarga akan sejahtera lahir dan batin jika punya banyak anak, sementara pendapatan yang dihasilkan tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, kata Sugiri, mengikuti program Keluarga Berencana (KB) adalah langkah tepat jika tidak dapat memenuhi kebutuhan papan, sandang, pangan, kesehatan, dan masa depan anak-anak.
Kekerasan yang kerap dialami anak-anak di dalam keluarga biasanya disebabkan persoalan banyak anak dan kemiskinan. Suami yang penghasilannya tidak cukup mudah marah jika ada pemicu sedikit. Istri dan anak sebagai pihak paling lemah kerap jadi korban kekerasan fisik. Kalau bukan kekerasan fisik, setidaknya anak pasti akan mengalami kekerasan psikologis dan ekonomis. Kurang kasih sayang orangtua, disuruh membantu ekonomi keluarga, ditelantarkan, dan tidak mendapat pendidikan yang baik. Rentan menjadi anak bermasalah hukum, menjadi pekerja anak, eksploitasi anak, jadi anak jalanan, dan rawan perdagangan anak. Kalau seperti ini, bagaimana mau menyiapkan pemimpin masa depan?
Rencana Aksi Nasional (RAN) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak yang berlaku sejak 2010 hingga 2014 melalui Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No 2 Tahun 2010 merupakan langkah positif dari pemerintah yang harus didukung. Namun, keseluruhan RAN yang melibatkan Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Hukum dan HAM dan Polri, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini harus lebih fokus kepada bagaimana membangun kemandirian keluarga dan ketahanan keluarga sebagai bentuk pencegahan berbagai tindak kekerasan. Anak adalah mutiara yang harus terus dirawat sebagai calon pemimpin masa depan.(*)

INDOPOS, 21 Maret 2010

~ by ariyanto on 21 March 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: