Yusuf H., Binaan Lapas Anak Tangerang yang Dibebaskan setelah ’’Doanya’’ Didengar SBY

Oleh
ARIYANTO

Nangis saat Bertemu Ortu, Bercita-Cita Jadi Tentara

Bagaimana jika seorang anak sekian lama mendekam di lapas dipertemukan keluarganya? INDOPOS berhasil merekam momen mengharukan kembalinya Yusuf Hairullah, 13, warga binaan Lapas Anak Tangerang, ke pangkuan ibunya. Bagaimana suasananya?
——————–
Siang itu, pukul 11.00 WIB, suasana di RT 5 RW 3 Kampung Tanah Sewa, Kelurahan Ciparigi, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat, cukup sepi. Berbeda sekali dengan suasana di rumah nenek Yusuf Hairullah. Di sebuah ruang tamu berukuran sekitar 3,5×5 meter, itu diwarnai hujan tangis saat Yusuf datang.
Begitu tiba, Yusuf yang saat itu mengenakan topi dan membawa tas hitam langsung memeluk erat ibunya, Yuli, yang tengah hamil dengan menangis sekeras-kerasnya. Begitu pula Yuli. Keduanya berpelukan erat sambil menangis sejadi-jadinya. Kakek dan neneknya juga tak kuasa menahan tangis melihat cucunya bisa kembali di tengah-tengah mereka setelah setahun lebih mendekam di Lapas Anak Pria Tangerang.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari dan Kepala Lapas Anak Pria Tangerang Priyadi yang memfasilitasi kepulangan Yusuf juga berlinang air mata karena terharu. Linda kemudian mengelus-elus pundak Yusuf yang basah karena keringat. Priyadi mengusap kening dan rambut Yusuf. Tak ada sepatah kata pun keluar hingga beberapa saat. Tangis yang pecah cukup keras lama kelamaan pelan, lalu berubah menjadi terisak. Linda mengambilkan segelas air mineral untuk Yusuf sembari mengipas-ngipasi.
’’Kamu kudu bener, kudu ngaji, kudu salat. Nasihat ibu harus didenger nak ya? Mama ngadoaken,’’ kata Yuli terisak sembari menciumi kening anak pertamanya itu. Yusuf hanya mengangguk. Kedua adiknya menghampiri. Si bungsu duduk di pangkuan Yusuf. Seperti melepas kangen. Yusuf lalu meneguk segelas air di depannya.
’’Ayo bilang terima kasih sama Ibu Menteri yang turut membantu kita dan juga kepala lapas,’’ pinta Yuli kepada anaknya. Yusuf pun mencium tangan Linda dan Priyadi.
Linda membuka pembicaraan. ’’Kami selaku Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berkewajiban menyelesaikan masalah anak dengan baik. Sebelum kemari saya telepon Menkumham, Bapak Patrialis Akbar. Kata beliau, Yusuf langsung ditaruh di pesantren saja. Kita sekarang berusaha agar anak-anak terlindungi. Doa orangtua sangat penting. Alhamdulillah sekarang ada yang nyekolahin ya,’’ ujar dia.
Linda meminta giliran Yusuf ngomong. Tapi dia hanya diam seribu bahasa. ’’Yusuf senang ya ketemu orang tua dan adik,’’ terka Linda. Yusuf mengangguk.
Istri Agum Gumelar ini terus berusaha membuat Yusuf berbicara. ’’Hayo, dulu kan pernah bilang ke INDOPOS, katanya menyesal nggak sempat ngomong ke Pak SBY saat beliau sidak ke Lapas Anak Tangerang 17 Februari lalu. Hanya bisa mencium tangannya,’’ canda Linda.
Mendengar pernyataan itu, Yusuf yang terpaksa mencuri karena kedua orangtuanya tidak punya duit untuk membeli seragam dia dan kedua adiknya itu pun tersenyum. Entah apa yang ada di pikirannya.
Seperti diberitakan di INDOPOS (18/2) berjudul ’’Ingin Minta Izin SBY agar Bertemu Ortu’’, Yusuf yang tersandung kasus pencurian ini tidak bisa menyampaikan keinginan hatinya yang sudah lama dipendam. ’’Saat bertemu Presiden sebenarnya saya ingin minta izin satu kali saja agar bisa bertemu kedua orang tua. Tetapi keinginan itu tidak terwujud karena tidak ada dialog dengan Presiden,’’ kata Yusuf saat itu kepada INDOPOS.
Penghuni Blok SD Istimewa ini mengaku rindu orang tuanya bernama Inang Sertiadi dan ibunya Yuli. Sejak dipindahkan dari rumah tahanan (Rutan) Bogor pada 2009 ke Lapas Anak Pria, dia memang tidak pernah bertemu orang tua maupun kedua adiknya Reni Riyanti, 10, dan Dimas, 6.
’’Sebenarnya saya sudah menyiapkan pertanyaan dan ingin sekali izin ke Presiden agar bisa bertemu orangtua saya. Pertanyaan itu seperti ini, ’’Apakah ada kebijakan pemerintah khususnya Bapak Presiden terhadap kami yang melakukan tindak pidana yang berujung di penjara?’’ ujar putra tukang ojek dan seorang ibu rumah tangga ini kepada INDOPOS kala itu.
Ternyata, SBY membaca keinginan Yusuf yang dimuat di INDOPOS. Sepuluh hari kemudian, Yusuf dibebaskan. ’’Doa’’-nya di lapas didengarkan dan dikabulkan Bapak Presiden. Yusuf menyalami INDOPOS dan mengucapkan terima kasih.
Yusuf yang hobi bermain futsal ini sebenarnya anak cerdas. Semangat belajarnya sangat tinggi. Karena itu, dia akan ditempatkan di Pesantren Al Bina di Karawang, Jawa Barat, untuk menimba ilmu di sana. Tapi, ketika ditanya Linda apa cita-citanya, Yusuf mengaku ingin jadi tentara. ’’Ayo kalau mau jadi tentara bicaranya harus lantang dong,’’ tutur Linda tersenyum.
Selanjutnya, Priyadi berpesan kepada masyarakat, kalau ada kasus semacam ini, lebih baik diselesaikan dulu secara kekeluargaan. Jangan dilaporkan ke polisi dulu. Nanti susah semua. Apalagi sampai masuk penjara. Kecuali kalau sudah sangat keterlaluan. Sedangkan Linda mengajak kepada masyarakat agar bisa menerima dan membantu perkembangan Yusuf supaya kehidupannya lebih baik lagi. (*)

INDOPOS, 28 Februari 2010

~ by ariyanto on 28 February 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: