Ingin Terus Dipeluk, Diajak Keliling Tak Mau Turun

Oleh
ARIYANTO

Suasana haru terjadi saat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP dan PA) Linda Amalia Sari berkunjung di Panti Sosial Bambu Apus, Jakarta Timur, (17/2) lalu. Wulan, 3,5 tahun, anak yang sempat ditelantarkan kedua orangtuanya, memeluk erat Linda dan tidak mau dilepaskan. Bahkan, dia juga tidak mau turun setelah diajak keliling menggunakan mobil RI-38.

Siang itu, Linda tiba di Panti Sosial Bambu Apus menggunakan mobil RI-38. Setelah memberikan raket badminton kepada anak-anak yang dibina di panti, seorang balita, didampingi ibunya, mendekat.
Linda yang mengenali wajah anak itu pun menghampiri. ”Eh Wulan ya…,” kata Linda lalu memeluk anak itu. Wulan membalas pelukan hangatnya. Pelukan itu makin erat, seolah Wulan tak ingin kehilangan. Pelukan erat itu membuat Linda yang sudah dikaruniai seorang cucu bernama Natarina Alika Hidayat ini terharu. Matanya berlinang.
Wulan kemudian meminta diajak keliling kompleks panti sosial menggunakan mobil dinasnya. Linda mengiyakan lalu menggendongnya. Wulan duduk di kanan Linda di kursi belakang. Sedangkan ajudan Linda, Donna, duduk di kiri sopir.
”Setelah sekian lama muter-muter kompleks panti, Wulan nggak mau turun. Mungkin anak ini haus kasih sayang,” tutur ibu dari Haris Khaseli Gumelar dan Armi Dianti Gumelar ini. Setelah dirayu, Wulan akhirnya mau turun. Wulan mencium tangan Linda dan mengucapkan terima kasih. Wulan saat itu memang ada acara reunifikasi dengan anak-anak lainnya yang ditinggalkan orangtuanya. Siapa Wulan hingga begitu lengket dengan Ibu Menteri?
Wulan adalah satu dari empat anak yang sempat ditinggalkan oleh kedua orangtuanya di sebuah rumah kontrakan di Cimanggis, Depok. Linda sempat mengunjunginya pada Minggu (27/12). ”Karena itu saat ketemu di panti saya masih ingat wajahnya,” kata perempuan kelahiran Bandung, 15 November 1951, ini.
Saat menengok Wulan di rumah kontrakannya, Linda sempat berbicara dengan Walikota Depok Nurmahmudi Ismail dan kepolisian setempat. ”Saya serahkan kembali ke orangtuanya. Mereka kemudian mendapat banyak bantuan dari masyarakat. Polisi juga sudah mengambil tindakan restorative justice,” ujar dia.
Restorative justice yaitu penyelesaian konflik pidana melalui cara-cara informal yang dilakukan oleh komunitas. Tujuannya memulihkan hubungan pelaku dengan korbannya dan yang direstui masyarakat dengan tetap menyatakan bahwa pelanggaran hukum adalah tindakan salah. Melalui mekanisme ini ada upacara untuk menyatakan bahwa pelanggaran hukum adalah salah tetapi melalui proses restorasi. Pelanggar hukum diterima kembali menjadi warga masyarakat.
Kini, Wulan dan ketiga saudara lainnya sudah dipertemukan kepada kedua orangtua, Badri dan Fitri. Linda berharap, kejadian penelantaran ini tidak terus berulang. Menurut dia, jika setiap Pemkot/Pemkab memilik komitmen kuat untuk mengembangkan Program Kota Layak Anak, permasalahan sosial anak dapat teratasi. (*)

INDOPOS, 23 Februari 2010

~ by ariyanto on 23 February 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: