Tiap Satu Jam, Perempuan Meninggal akibat Kanker Serviks

Oleh
ARIYANTO

Angka kanker serviks di Indonesia sangat tinggi. Setiap satu jam, seorang perempuan meninggal karena kanker leher rahim tersebut. Anehnya, pemahaman mengenai kanker serviks ternyata tidak mendorong mereka melakukan salah satu pencegahan dengan screening atau deteksi dini.
Sebanyak 93,92 persen masyarakat mengetahui penyakit kanker serviks. Namun hanya 7,78 persen yang periksa rutin. Ini menunjukkan bahwa kesadaran belum mendorong perempuan di Indonesia untuk deteksi dini secara teratur.
Ini diakui Eveline N Chandra, IPDG 307 A Lions Club Indonesia yang juga pengusaha di bidang otomotif. Dirinya mengakui bahwa masyarakat Indonesia masih kurang sadar terhadap pentingnya memeriksakan kesehatan mereka secara berkala.
’’Lions Club Indonesia sendiri memiliki kepedulian tinggi terhadap persoalan penyakit kanker. Beberapa klub bahkan beberapa kali menggelar seminar tentang kanker dan pencegahannya,’’ ungkap dia kepada INDOPOS.
Ironisnya, meski sudah memfasilitasi sedemikian rupa, ternyata minat masyarakat untuk mengikuti seminar sangat kurang. ’’Padahal melalui seminar, ada banyak pengetahuan yang bisa didapat, langsung dari ahlinya. Mereka adalah para dokter spesialis kanker,’’ urainya.
Lebih jauh dia menguraikan, masih lemahnya diagnosis oleh beberapa rumah sakit di Indonesia menjadi penyebab lambatnya penanganan. ’’Pasien seringkali mendapat salah diagnosis. Saya pernah mengalami itu. Pernah divonis kista, ternyata setelah check up di Singapura, ternyata tidak ada kista,’’ paparnya serius.
Koordinator Perempuan Peduli Kanker Serviks (PPKS) Dr Hendria Kessek mengemukakan, melalui program ini, kami mendorong perempuan untuk peduli dan segera deteksi dini. Setiap perempuan yang menikah atau pernah berhubungan seksual sebaiknya pap smear tiap tahun. ’’Tingginya kejadian kanker serviks di Indonesia disebabkan penyakit ini tidak menimbulkan gejala, sehingga mayoritas penderita datang berobat saat penyakitnya stadium lanjut,’’ ujarnya kepada INDOPOS.
Dalam program ini, lanjut Dr Hendria, selain penyediaan pap smear gratis, peserta yang datang juga diberikan penyuluhan singkat mengenai kanker serviks oleh para anggota PPKS yang terlatih. Para survivor (penderita penyakit kanker serviks yang sudah sembuh) memotivasi pasien. ’’Kami berharap mereka lebih memahami tujuan pap smear dan kaitannya dengan kanker serviks. Survivor ini ada yang dari PNS, guru dan ibu rumah tangga,’’ katanya.
Retno Mardiana, 45, survivor yang kini jadi penyuluh kanker serviks, mengatakan, dirinya tergerak menjadi anggota PPKS pada 2008. ’’Awalnya beranggotakan hanya empat orang. Kini survivornya menjadi 17 orang untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan pada perempuan mengenai penyakit yang dapat mengakibatkan kematian,’’ kata dia kepada INDOPOS.
Retno memulai menyosialisasikan kanker serviks dari lingkungan terdekat. Kepada anaknya, saudara, teman, dan lingkungan kantor. Jika ada perempuan penderita kanker serviks, dia berusaha mendampingi.
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Adiati Arifin M Siregar mengatakan, pencegahan sekunder melalui deteksi dini yang direkomendasi di Indonesia yaitu dengan pap smear IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). ’’Deteksi ini dilakukan bagi perempuan yang sudah berhubungan seksual dan saat tidak haid. Sedangkan pencegahan primer dapat dilakukan dengan vaksinasi bagi perempuan mulai usia 10 tahun,’’ terang dia kepada INDOPOS.
Setiap perempuan, lanjut dia, memiliki risiko kanker serviks. Tanpa melihat kondisi sosial, ekonomi, dan gaya hidup mewah. Kanker serviks disebabkan virus Human Papilloma Virus (HPV) penyebab kanker (onkogenik).
Business Unit Director GlaxoSmithKline Indrawati Taurus mengatakan, pihaknya mendukung program penyediaan pap smear gratis. Ini supaya memberi kesempatan pada banyak perempuan untuk mendapatkan akses lebih baik dalam melakukan deteksi dini terhadap kanker serviks. ’’Ini sesuai misi kami guna meningkatkan kualitas hidup orang banyak,’’ tutur dia.
Terkait hari kanker sedunia yang diperingati setiap 4 Februari lalu, Female Cancer Program Foundation mengadakan deteksi dini kanker serviks gratis dengan metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) bagi 600 perempuan di acara Women’s Health Expo di Hotel Sahid, Jakarta, 5-6 Februari lalu.
Menurut Ketua Female Cancer Program (FCP) Dr Laila Nuranna, kanker serviks dapat dicegah. Pada tahap sebelum menjadi kanker (tahap prakanker) sudah dapat dideteksi, dan tahap prakanker serviks itu umumnya berlangsung bertahun-tahun. Sayangnya, bila sudah menjadi kanker tahap awal, penyakit ini tidak menunjukkan gejala. ’’Pemahaman ini sangat perlu diketahui bagi masyarakat luas,’’ kata dia.
Dr Laila Nuranna menambahkan, dari 15 ribu kasus, 8 ribu orang meninggal. Untuk di Jakarta, setiap harinya penyakit kanker serviks ini bisa merenggut nyawa 1-2 perempuan. Namun dengan screening dan vaksinasi bivalen HPV dan vaksinasi Kuadrivalen, penyakit ini dapat dicegah. ’’Kita malu, karena kegiatan ini inisiatif teman kita di Belanda. Untuk mengampanyekan kepedulian penyembuhan kanker serviks ini perlu persiapan matang. Bahkan dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) sangatlah tidak mudah. ’’Dalam penyuluhan, pencegahan, vaksinasi, Female Kanker Program dilakukan sejak 2004. Bekerja sama dengan Universitas Leiden dan Lembaga Institusi Pendidikan di Indonesia,’’ ujar ahli kanker kandungan dari FKUI/RSCM.
Sementara itu, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP dan PA) Linda Amalia Sari mengajak semua elemen masyarakat memerangi kanker nomor satu yang sering dialami perempuan di Indonesia. Sebab, jika tidak ada kebersamaan mengatasi hal ini, kualitas hidup perempuan yang merupakan tiang negara bisa terancam.
’’Kami sangat mendukung berbagai upaya meningkatkan kualitas hidup perempuan. Khususnya kegiatan Perempuan Peduli Kanker Serviks di bawah Yayasan Kanker Indonesia (PPKS-YKI) untuk memerangi kanker serviks. Kami juga mengajak masyarakat untuk secara aktif mencari informasi dan mencegah kanker serviks,’’ ajak Linda pada acara Konferensi Pers Peringatan Satu Tahun PPKS di Kantor Kementerian Negara PP dan PA di Jakarta, (25/1).
Jika kualitas hidup perempuan meningkat, lanjut dia, maka kualitas bangsa ini juga akan meningkat. Kaum perempuan juga dapat turut berkontribusi kepada kemajuan bangsa dan negara. ’’Potensi perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata. Hidup perempuan,’’ kata dia sembari mengepalkan tangan.
Linda sendiri pernah menderita kanker payudara (breast cancer) tiga belas tahun lalu. Namun, istri Agum Gumelar ini berhasil melawan serangan kanker pada jaringan payudara yang baru masuk stadium dini tersebut. ’’Umur memang di tangan Allah. Tapi manusia wajib berusaha melakukan pencegahan dan pengobatan,’’ kata dia kepada INDOPOS usai acara. Apa kiatnya memerangi kanker?
Mantan Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) ini membeberkan rahasianya. Pertama, mengikuti semua anjuran dokter. Kedua, dukungan dari keluarga dan kerabat. Ketiga, berpikir positif. Dan, keempat, bertawakal (berserah diri) kepada Allah atas segala usaha yang telah dilakukan. ’’Alhamdulillah setelah berjuang melawan kanker selama lima tahun, saya dinyatakan sembuh total,’’ ungkap dia. (*)

INDOPOS, 7 Februari 2010

~ by ariyanto on 7 February 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: