Dikasih Panda, Sinar Kembali ’’Bersinar’’

Oleh
ARIYANTO

Murni dan Sinar dikunjungi tamu spesial, Selasa (12/1). Ibu dan anak fenomenal yang jadi buah bibir itu ditengok Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari. Keluarga Sinar kembali ’’bersinar’’ dan ’’menyinari’’.
——–
Rombongan menteri tiba di halaman RSUD Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pukul 16.00, waktu setempat. Ini setelah menempuh perjalanan darat lebih dari enam jam dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menuju Polewali, dengan kondisi jalan rusak parah.
Begitu turun dari mobil RI-38 yang warnanya berubah cokelat karena melewati jalan berlubang dan genangan, Linda yang mengenakan baju hijau muda itu langsung menuju ruang inap I kamar VIP. Istri Agum Gumelar ini melambaikan tangan dan melempar senyum kepada para pegawai rumah sakit dan masyarakat sekitar yang menyambutnya.
Di dalam ruangan, Murni, ibu lumpuh yang diduga korban Kekerasan Dalam rumah Tangga (KDRT), sudah menanti. Ibu enam anak yang baru dirawat tiga hari ini hanya bisa terbaring, dengan mengenakan sarung. Sinar kebahagiaan terpancar dari wajahnya begitu menteri menghampiri.
’’Bagaimana kondisinya, Ibu Murni? Sabar ya,’’ kata Linda dengan mata berkaca-kaca. Mendapat pesan seperti itu, Murni hanya mengangguk. Melihat Murni mengangguk, Linda kembali bisa tersenyum lalu mengusap kening dan rambutnya yang tidak tersisir. Murni yang tanpa make up itu pun ikut tersenyum.
Linda kemudian menoleh ke Sinar, bocah berusia enam tahun yang menjadi tulang punggung keluarga. Sinar mengenakan baju merah duduk di dekat kaki ibunya. Wajahnya terlihat kuyu, seperti kelelahan dan kurang tidur. Linda lalu mendekat, tapi ekspresi Sinar biasa saja. Tapi saat sang menteri memeluknya, Sinar terlihat canggung. Sinar juga terlihat bingung dan kegerahan.
Sore itu, ruang berukuran sekitar 5×7 meter itu memang penuh sesak. Sangat pengap. Selain Linda dan Bupati Polewali Mandar Ali Baal, ada juga pejabat, keluarga pasien, dokter, perawat, dan tentu saja wartawan. Masyarakat yang tidak berkepentingan bahkan turut masuk. Mereka berebut ingin memfoto Sinar dan sang menteri, kebanyakan dari kalangan ibu. Mereka juga ingin difoto dengan latar belakang menteri dan Sinar. Tak ayal, wartawan harus bersaing mendapatkan foto terbaik. Para pengawal dan ajudan menteri sebenarnya sudah membut ’’barikade’’, namun orang-orang tetap merangsek.
’’Tolong, sebagian di dalam keluar. Kasihan Bu Murni dan Sinar tidak bisa napas,’’ teriak pengawal. Tapi, lagi-lagi, orang-orang tetap asyik foto-fotoan. ’’Ayo gantian aku yang difoto ya,’’ ujar seorang ibu berjilbab setelah memotret kawannya itu.
Sementara itu, Linda ingin ngobrol agak lama dengan Sinar, meski dirinya bermandikan keringat. ’’Sinar tetap belajar yang rajin ya?’’ pesan dia. Sinar tidak merespons. Pandangan Sinar tertuju kepada orang-orang yang menghujaninya dengan blitz kamera.
’’Ini Ibu menteri, menteri anak Sinar,’’ ujar saudaranya, yang duduk di sebelahnya, memperkenalkan. Tapi reaksi Sinar biasa saja. Sinar kemudian menguap lebar sekali, hingga terlihat lubang tenggorokannya.
’’Saya punya kado berupa peralatan sekolah buat Sinar,’’ tukas Linda untuk menarik perhatian. Linda kemudian membuka kado dan mengeluarkan isinya berupa tas, sepatu, buku bacaan, dan peralatan sekolah lainnya. ’’Ini semua untuk Sinar. Tetap sekolah ya agar punya masa depan baik,’’ tutur Linda. Lagi-lagi, Sinar tidak memberikan reaksi. Dia tampak bingung dengan banyaknya orang yang mengerubutinya.
Linda membuka satu bingkisan lagi. Kali ini berisi boneka panda berwarna putih dan hitam. Di dada boneka itu ada hati warna merah bertuliskan with love dengan huruf putih. ’’Ini sebagai tanda cinta untuk Sinar,’’ tutur mertua pebulu tangkis Taufik Hidayat ini sembari menunjuk tulisan tersebut. Riuh tepuk tangan menggema di ruang yang makin lama makin pengap. Sebagian lagi yang tak kuasa menahan haru menitikkan air mata.
Dengan wajah menunduk, Sinar menerima boneka itu. Kali ini wajah Sinar sedikit ’’bersinar’’. Dipandanginya wajah boneka itu. Tak banyak terlontar kata-kata dari mulutnya. Hanya terucap satu kalimat, namun tak jelas apa yang diutarakan. Mirip orang berbisik. ’’Kok Sinar beda ya. Jadi pendiam. Padahal sebelumnya banyak ngomong, lari-lari, dan bercanda dengan saudara-saudaranya,’’ celetuk ibu berjilbab.
Linda bisa memahami. Dia langsung memeluk Sinar sambil memberi semangat. ’’Sekolah yang rajin nak ya,’’ pesan dia. ’’Hebat lho Sinar ini,’’ lanjut dia sembari menatap wajah orang-orang yang hadir.
Murni dan Sinar tinggal di Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar. Murni menderita lumpuh karena meloncat dari lantai dua. Dia nekat melakukan ini karena suaminya mengancam akan membunuhnya. ’’Saya takut. Dia mau membunuh saya. Suami saya suka judi dan mabuk-mabukan. Saya lompat saja,’’ ungkap Murni kepada INDOPOS. ’’Setelah kejadian itu suami saya pergi ke Malaysia. Tapi hingga sekarang tidak ada kabar beritanya,’’ lanjut dia.
Sudah dua tahun Murni lumpuh. Sejak saat itu, hidupnya tergantung pada Sinar. Sehari-hari, Sinarlah yang membantu memindahkan ibunya dengan penuh kasih sayang. Makan, minum, mandi, buang air, memasak nasi, dan aktivitas lainnya menjadi tugas Sinar.
Namun demikian, tugas-tugas Sinar tidak lantas membuatnya berhenti sekolah, meski bocah kelas 1 SD Tondo Pata, Polewali Mandar, kerap terlambat. Usai sekolah, dia sendirian mengurus ibunya yang lumpuh sejak dua tahun lalu. Sinar adalah bungsu dari enam bersaudara. Lima kakaknya yang juga belum dewasa tinggal terpisah sejak ibunya lumpuh. Mereka menjadi pembantu rumah tangga. Ini terpaksa dilakukan karena masalah ekonomi.
Setelah menteri meninggalkan ruang, Sinar masih diam seribu bahasa. Ketika ditanya kelas berapa, dia tak mengacuhkan. Begitu pula ketika ditanyakan apa cita-citanya nanti. Ketika hal itu ditanyakan ke orangtuanya, Murni menyerahkan sepenuhnya kepada sang buah hati.
Namun, usai kedatangan menteri, Murni mengaku ingin segera sembuh. Tak ingin lumpuhnya itu membuat belajar dan waktubermain Sinar terganggu. Sudah tiga hari ini Sinar membolos sekolah karena menunggui ibunya yang terbaring di rumah sakit. ’’Dia masih kecil, masih ingin belajar dan bermain. Saya tidak ingin dia sibuk mengurus saya,’’ kata dia kepada INDOPOS. Sementara itu, dari sekian bingkisan yang diberikan, Sinar lebih suka kepada boneka panda. Mungkin dia ingin bisa bermain seperti bocah seusianya.
Kejadian Sinar ini juga ’’menyinari’’ banyak orang. Selain menginspirasi vokalis band ST12, Charlie, dalam menciptakan lagu berjudul Sinar Pahlawanku, kisah Sinar ini juga ’’menyinari’’ hati sang bupati Polewali Mandar, Ali Baal. Pasca kejadian ini, jajarannya akan memperbaiki data kependudukan dan lebih peka terhadap kejadian di sekelilingnya, supaya kejadian semacam ini tidak terulang kembali. Dua tahun kejadian tapi baru dibawa ke RSUD tiga hari lalu. ’’Kita akan lebih proaktif lagi. Tidak perlu menunggu orang-orang kesusahan minta bantuan,’’ janji Ali Baal kepada INDOPOS. Tidak hanya itu. Dirinya juga telah dan akan membuat kebijakan yang pro terhadap rakyat miskin lebih banyak lagi. Semoga Sinar tetap bersinar dan menyinari! (*)

INDOPOS, 14 Januari 2010

~ by ariyanto on 7 February 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: