Pejuang Hak Perempuan yang Alami KDRT

Oleh
ARIYANTO

Regina Belau gigih memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender. Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Intan Jaya, Papua, ini berani membela kaumnya yang didiskriminasikan. Namun, Regina sendiri tak berdaya ketika menghadapi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Mengapa?
Budaya di Papua secara umum sangat mendiskriminasikan perempuan. Kuatnya kultur patriarkhis membuat kaum hawa ’’tak bisa berbicara’’. Adanya sama dengan tidak ada. Meminjam istilahnya feminis Gayatri Spivak, perempuan menjadi subaltern. Warga negara kelas kedua. Hak-hak mereka dibungkam. Bahkan, sering kali mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Mengenaskannya lagi, mereka tidak berkutik ketika berhadapan dengan adat yang mengsubordinasikan tersebut.
Inilah yang membuat Regina Belau berusaha sekuat tenaga agar bisa mengikuti Konsolidasi Nasional Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Jakarta pada 7 Desember kemarin. Acara yang bertempat di Ruang Cendrawasih, Jakarta Convention Center, ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemeneg PP dan PA). Kementerian yang dipimpin Linda Amalia Sari, S.IP ini mengundang Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan di tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota seluruh Indonesia. Ada lima ratus orang yang diundang.
Meski baru menerima dan menandatangani Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) Minggu pukul 06.00 WIT, atau sehari sebelum acara, Regina tetap ngotot berangkat. ’’Saya harus oper pesawat lima kali. Dari tempat saya ke Kabupaten Intan Jaya. Lalu, ke Nabire, ke Biak, ke Makassar, baru terakhir ke Jakarta. Ke Biak pakai pesawat domestik. Sedangkan dari Biak ke Jakarta menggunakan Merpati,’’ terang perempuan asal Suku Mone ini dalam wawancara khusus dengan saya, (8/11).
Setelah perjalanan penuh liku, Regina akhirnya tiba di Jakarta Senin dinihari. Dia terpaksa menginap di Hotel Atlet Century, meski biayanya cukup mahal. ’’Ini semua pakai sistem keong. Biaya sendiri. Tidak ditanggung kementerian. Puji Tuhan akhirnya sampai juga,’’ tutur perempuan kelahiran 18 Oktober 1975 dengan mata berkaca-kaca.
Pengorbanan luar biasa ini dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dalam sesi tanya jawab, Regina langsung berdiri untuk ’’menyuarakan yang bisu’’ dengan berapi-api. ’’Pertemuan yang mengundang Badan Pemberdayaan Perempuan hingga kabupaten/kota sungguh luar biasa. Ini perdana, biasanya cuma tingkat provinsi. Kita beri applaus,’’ kata dia yang disambut tepuk tangan meriah dari seluruh undangan. Ruang Cendrawasih yang dingin pun bergemuruh. ’’Saya datang ke sini naik pesawat lima kali. Kedatangan saya ini tentu ada maksud. Ya saya mohon undangan seperti ini jangan mepet. Paling tidak tiga minggu sebelum acara sudah datang,’’ lanjut dia, diikuti tepuk tangan.
Regina yang saat itu mengenakan baju lengan panjang kuning tua dan kalung ’’rumah keong’’ sampai dada mengungkapkan isi hatinya. ’’Saya tidak setuju jika masalah perempuan dan anak dikaitkan dengan budaya, khususnya budaya saya yang sangat rumit. Perempuan dianggap tidak ada,’’ kata perempuan satu-satunya dari Suku Mone yang bergelar sarjana.
Sarjana filsafat ini juga mengemukakan kekesalannya terhadap hukum positif. Bukan isinya yang diprotes, melainkan pelaksanaannya. Secara teori bagus, tapi tidak berlaku. Kalah dengan hukum adat yang mendiskriminasikan perempuan. ’’Saya ingin bagaimana caranya hukum positif ini bisa berlaku,’’ harap Regina.
Karena itu, Regina meminta dialog mencerahkan seperti diadakan Kemeneg PP dan PA ini tidak hanya ada di Jakarta. Daerah juga sangat perlu. ’’Bu Menteri dan stafnya juga harus sering kunjungan kerja ke tempat kami supaya masyarakat dan penegak hukumnya tercerahkan. Jangan hanya disosialisasikan kepada saya,’’ pinta perempuan yang baru 102 hari menjabat Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Intan Jaya.
Setelah mengajukan lima pertanyaan, moderator memberi kesempatan kepada penanya lain. ’’Cukup Bu ya. Kita beri kesempatan kepada yang lain,’’ kata sang moderator.
Rupanya Regina masih belum puas. ’’Satu lagi Bu. Ini penting. Pendanaan kita sangat minim. Tolong Bu Menteri perjuangkan, khususnya yang sulit dijangkau seperti daerah kami. Saya sering tiga hari tiga malam berjalan kaki mendatangi daerah-daerah sulit itu,’’ ujar pejabat eselon IV ini.
Sebelum memberi tanggapan, Meneg PP dan PA Linda Amalia Sari menanyakan di mana letak Kabupaten Intan Jaya tersebut. ’’Kota besar paling dekat mana ya?’’ tanya istri Agum Gumelar ini. ’’Dekat kota Nabire,’’ tukas Regina yang masih berdiri di depan mikrofon. ’’Oooh. Baik akan kita perhatikan untuk mengirimkan undangan jauh-jauh hari. Kita juga akan sosialisasikan hukum positif itu ke masyarakat dan pihak-pihak terkait seperti polisi dan kejaksaan,’’ janji mertua pebulu tangkis Taufik Hidayat ini. Meski baru janji, Regina merasa lega. Setidak-tidaknya suaranya didengarkan.
Begitulah perjuangannya untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan di daerahnya. Namun di balik keberaniannya menyuarakan hak-hak perempuan, dia sendiri tidak berdaya ketika mendapatkan kekerasan dari suami. Baik kekerasan verbal, kekerasan psikologis, lebih-lebih kekerasan fisik.
’’Tiga tahun menikah, dari 2003 sampai 2006, saya sudah mendapat ratusan pukulan dan tamparan,’’ ungkap ibu satu anak yang kini berumur 12 tahun. ’’Kadang, kadang…..’’ Regina tak mampu lagi melanjutkan cerita. Sepasang garis putih laksana kristal membasahi pipi. ’’Maaf,’’ kata Regina sembari mengusap air matanya yang kembali mengucur deras dengan telapak tangan. Wawancara berhenti beberapa saat.
Setelah beberapa kali menarik nafas dalam-dalam, Regina melanjutkan cerita. ’’Iya, gara-gara masalah sepele dia menampar saya. Seperti kalah bermain remi. Dia bilang, tidak aku yang menang. Tadi aku sudah lihat,’’ kata dia menirukan perkataan suami. ’’Kadang juga disebabkan cemburu yang tidak jelas. Gara-gara melihat ada tulisan nama laki-laki di baju saya, dia langsung menendang saya pakai sepatu. Sakit sekali. Saya berteriak. Tapi saya tidak berani melawan. Laki-laki lebih kuat to,’’ lanjut dia sembari berlinang air mata.
Anehnya, setiap usai menampar dan menendang, suami Regina cepat sadar. Dia menangis dan berkali-kali meminta maaf. Namun, ketika ada masalah lagi yang membuatnya marah, dia kembali memukul dan menendang. Setelah melakukan aksinya, dia menangis lagi dan minta maaf lagi. Demikian seterusnya hingga ratusan kali dalam rentang tiga tahun.
’’Saya bilang, percuma minta maaf dan menangis, tapi selalu mengulangi. Kata-kata maaf jadi tidak ada artinya,’’ kata Regina kepada suaminya setiap mendapat bogem mentah. Kenapa tidak lapor polisi saja?
’’Saya mau lapor polisi. Tapi kalau lapor, bisa (suami) lebih jahat lagi. Saya bisa dihajar terus. Perempuan di daerah saya banyak yang nasibnya lebih parah. Pernah mereka akan melapor, tapi langsung dihajar suaminya hingga sekarat,’’ ungkap perempuan yang punya motto Aku Mau Membangun untuk Memanusiakan yang Lain.
Lagi pula aparat juga tidak mau menegakkan aturan yang sebenarnya. Mereka lebih menerima hukum adat daripada UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam rumah Tangga. ’’Pokoknya, namanya laki-laki di sana (Papua), sudah jago. Para suami itu akan bilang, nanti istri saya bunuh polisi yang tanggung jawab. Polisi mana berani,’’ ujar alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Manado, Sulawesi Utara, ini. Lalu, kenapa tidak minta cerai?
Sebenarnya, Regina sudah tiga kali mengajukan gugatan cerai. Namun, suami tidak pernah memenuhi. Bahkan, suaminya mengancam akan membunuhnya. Sebab, suaminya tidak pernah takut, termasuk dengan aparat keamanan. ’’Suami saya juga bilang akan bunuh diri kalau saya minta cerai lagi. Saya tidak mau gara-gara saya orang bunuh diri. Lebih baik terus memaafkan,’’ ungkap perempuan yang pernah maju tiga kali sebagai caleg. (*)

INDOPOS, 9 November 2009

~ by ariyanto on 10 December 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: