Sertijab Menteri

Oleh
ARIYANTO

Usai dilantik di Istana Negara, menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II hampir serempak mengikuti serah terima jabatan (sertijab) di masing-masing kementerian yang mereka pimpin. Ada yang haru, penuh canda tawa, saling berbalas pantun, ada pula yang kulonuwun terlebih dulu. Bagaimana suasananya?

————-

Suasana penuh canda dan tawa dalam sertijab itu di antaranya menyeruak di ruang utama lantai III Kantor Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemneg PP dan PA), Jalan Medan Merdeka Barat 15, Jakarta Pusat, kemarin sore. Prof DR Meutia Hatta dan penggantinya, Linda Amalia Sari SIP, sama-sama melontarkan joke-joke segar untuk menghangatkan suasana.
’’Wah sekarang kan namanya ganti. Dulu kalau saya Menneg PP. Kalau sekarang jadi Menneg PP dan PA. Harus dibiasakan nih,’’ kata Meutia saat berpidato di akhir jabatan. Seperti biasa, Meutia tampil anggun dengan mengenakan batik cokelat tua dan selendang warna senada.
Celetukan-celetukan yang mengundang tawa dan senyum juga dilontarkan Linda. ’’Saya sudah 19 tahun di Kowani, sekarang Sekjen Kowani jadi anggota DPR, terus ketuanya jadi menteri,’’ kata istri mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar itu disambut tepuk tangan pejabat di Menneg PP dan PA dan undangan.
’’Saya kulonuwun (permisi) masuk sini (Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak/Meneg PP dan PA, Red). Biasanya, saya duduk di samping Ibu Meutia Hatta (Meneg PP) di Hari Ibu, saya sebagai ketua panitia acara. Tapi sekarang saya berada di samping Ibu Meutia memberikan arahan kepada Beliau,’’ kata Linda Amalia Sari, menteri baru Meneg PP dan PA, menggantikan Meutia Hatta, saat sambutan sertijab di Gedung KPP, Medan Merdeka Barat, Jakpus, kemarin, yang disambut riuh tepuk tangan para pejabat dan undangan.
Jujur saja, kata Linda, dirinya sangat mengagumi sosok putri sang proklamator itu. Prof DR Meutia Hatta, lanjut dia, termasuk salah satu perempuan yang maju. ’’Buktinya dia menjadi menteri, dosen, dan juga ketua umum partai politik,’’ ujar Linda yang lagi-lagi diikuti tepuk tangan meriah dari hadirin.
’’Sudah ya. Saya nggak usah banyak bicara dulu. Saya harus banyak kerja. Seratus hari pertama, satu tahun pertama dan seterusnya,’’ tegas Linda. ’’Program 100 hari pertama ini di antaranya melakukan pemetaan dan membangun jejaring internal dan eksternal terlebih dulu,’’ lanjut dia.
Begitulah gaya Linda berpidato. Apa adanya, cair, dan penuh makna. Puteri mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Achmad Tahir ini tampak sangat luwes berbicara di depan calon anak buahnya. Seolah sudah kenal cukup lama.
Di hari pertamanya sebagai Menneg PP dan PA, perempuan kelahiran Bandung, 15 November 1951 ini datang ke kantor didampingi suami, anak, menantu dan cucu. Mengenakan kebaya warna salem, perempuan paruh paya itu tampak ceria.
Canda tawa juga mewarnai Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera). Dalam sambutan terakhirnya, Menpera 2004-2009 Muhammad Yusuf Asy’ari mengatakan, saat pelantikan di Istana, dirinya berbicara kepada Purnomo Yusgiantoro dan menanyakan apakah POPSI masih menerima anggota. Saat itu, Purnomo menjawab kalau POPSI masih terbuka pendaftaran dan banyak calon yang mau masuk. Mendengar kalimat Asy’ari itu, salah seorang pejabat Kemenpera berceletuk dan menanyakan apa itu POPSI?
’’POPSI itu Persatuan Orang Pendek Seluruh Indonesia. Jadi sebelumnya saya berharap menteri selanjutnya, lebih tinggi dari saya, tapi kok nyatanya lebih pendek sedikit,’’ canda Asy’ari yang disambut tawa dari seluruh ruangan.
Tapi tidak apa-apa, kata Asy’ari, semoga ke depan Kemenpera ini dapat menjadi lebih baik lagi dalam upaya peningkatan pemenuhan rumah layak bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat berpendapatan rendah (MBR). Dia juga menitipkan tugas bagi Suharsa untuk menangani Konferensi Kementerian Perumahan Asia Pasifik yang akan dilaksanakan di Solo, Jawa Tengah, pada Juni 2010.
Sebelum menutup sambutannya, Asy’ari membacakan dua pantun yang baru saja dirangkainya. Pantun pertama ditujukan kepada Suharso Monoarfa yang terpilih menggantikan dirinya. ’’Isi pantunnya begini, Terdengar ketipung, seruling dan gendang bertalu-talu. Membuat para pendengar terharu. Kabinet Indonesia bersatu jilid satu baru berlalu. Mari kita dukung kabinet yang baru,’’ tutur dia yang disambut tepuk tangan dan senyum.
Pantun kedua ditujukan kepada mantan anak buahnya di Kemenpera. Yusuf membacakan; Ada bawal, ada pula mujair. Tapi keduanya berbeda dengan patin. Ada awal ada akhir dan ada perpisahan. Kata kuncinya saya mohon maaf lahir batin.
Usai memberikan sambutan, Suharsa tak kalah juga bermain kata-kata. Dia mengutip kalimat sejarawan asal Inggris Arnold Joseph Toynbee, yaitu setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. ’’Ini adalah awal masa saya, dan masa sebelumnya adalah milik Pak Asy’ari. Setiap pemimpin Kemenpera sejak awal, pasti mempunyai masa-masa sendiri,’’ ucapnya.
Canda tentang tinggi badan, juga tergambar dalam suasana sertijab Menteri Pertahanan antara Juwono Sudarsono kepada Purnomo Yusgiantoro di kantor Departemen Pertahanan di Jalan Merdeka Barat. Saat berdiri berdampingan memang terlihat perbedaan yang sangat jomplang, dan ini pun mengundang Purnomo berkomentar. ’’Inilah bedanya antara menteri yang tingginya 170 cm sama menteri yang cuma 150 cm. Tolong nanti agar semua instrumen menteri dipendekkan,’’ gurau Purnomo yang disambut tawa.
Dia melanjutkan, jadi menteri yang pendek punya keuntungan karena bisa lebih bijaksana dalam bertindak maupun mengambil keputusan. Sebab, jarak hati dan otak relatif pendek.
Mendengar hal itu, Juwono kembali tertawa. Saat sertijab itu, Juwono memberikan sambutan tentang tugas-tugasnya selama memimpin Dephan, dan berharap agar dapat dilanjutkan dengan baik bahkan ditingkatkan di tangan Purnomo. Dia juga menjelaskan secara singkat sejarah gedung Dephan yang dibangun sejak 1927 itu.
Canda tawa juga terjadi di Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Sosial (Menko Kesra) dari Aburizal Bakrie ke Agung Laksono. Meskipun acara sertijab dilakukan secara formal, Ical, sapaan akrab Aburizal Bakrie, sering melontarkan guyonan-guyonan ke penerusnya.
’’Kalau ada kekurangan dana silakan datang ke saya. Tinggal bisik saja. Dia (Agung Laksno) kan wakil Ketua Umum Partai Golkar. Saya ini Ketua Umumnya,’’ ujar Ical yang disambut tawa para tamu undangan.
Dalam sambutannya, Ical mengaku siap menjadi konsultan bagi Menko Kesra yang baru jika mengalami kendala dalam melaksanakan tugas. Bahkan, Ical siap tidak dibayar jika ditunjuk menjadi konsultan. ’’Menko Kesra itu seperti pohon yang sangat tinggi. Namun, buahnya jarang,’’ kata Ical.
Agung Laksno dalam sambutannnya juga melontarkan canda kepada Ical. Dikatakan mantan ketua DPR tersebut, tempatnya bekerja dulu lebih susah ketimbang sekarang ini. ’’Kalau di sini masih ada pohon, di sana (DPR) tidak ada sama sekali,’’ tutur Agung.
Agung mengaku, siap melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Fungsi koordinasi dan pengendalian akan dipertajam. Kemiskinan sebesar 13,2 persen dari total penduduk Indonesia sekitar 230 juta lebih akan dikurangi hingga 8 persen pada 2020.
Suasana canda juga terjadi saat Sertijab Mendiknas dari Bambang Sudibyo ke Muhammad Nuh. Sertijab yang dilaksanakan di Alua Gedung A Depdiknas tersebut dihadiri sejumlah mantan Mendiknas dan rektor perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Bambang mengaku sangat beruntung tidak di-reshuffle dalam melaksanakan tugas. Sebab, dirinya pernah diganti ketika menjadi Menteri Keuangan. ’’Alhamdulillah saya tidak di-reshuffle di tengah jalan. Dulu, saya tahu pahitnya diganti. Dulu ketika baru 10 bulan menjadi menteri keuangan saya langsung diganti,’’ paparnya.
Pengganti Bambang, M Nuh, mengatakan, jabatan yang didapatnya ini bukan karena kepintaran atau ketampanan. Melainkan karena nasibnya yang ditakdirkan menjadi menteri untuk keduakalinya. ’’Dalam tes kesehatan lalu, ada namanya tes syaraf. Kita diberikan 10 kertas yang ada tulisan benda berbeda. Kita harus menghafalnya dengan cepat. Tes pertama saya bisa jawab lima. Kedua sembilan, ketiga baru semuanya,’’ kata Nuh.
Sementara itu, suasana haru terasa di Kantor Kementerian Polhukam di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Menteri Polhukam 2004-2009 Laksamana Purn Widodo AS menyampaikan selamat tinggal kepada para pegawai yang selama 5 tahun membantunya. Usai acara serah terima, mantan KSAL ini dilepas dengan bersalaman terlebih dahulu oleh seluruh pegawai Polhukam. Kemudian para pegawai mengantarnya ke luar gedung Kantor Polhukam ini bersama Menteri Polhukam 2009-2014 Djoko Suyano. ’’Saya pamit ya,’’ kata Widodo AS kepada Djoko Suyanto.
Mantan KSAU ini pun membalas dengan kalimat pendek namun sopan. ’’Inggih, (iya, dalam bahasa Jawa),’’ katanya lalu memeluk Widodo AS. Widodo lalu masuk mobilnya dan meninggalkan kantor kementerian Polhukam. Sementara Djoko lalu masuk ke kantornya lalu menyampaikan sambutan kepada para pegawai kantor Polhukam. (*)

INDOPOS, 23 Oktober 2009

~ by ariyanto on 12 November 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: