Ketika Miyabi Bertasbih

Oleh
Ariyanto

Siapa tak kenal Miyabi? Bagi penggemar film porno, nama ini sudah tidak asing lagi di indera dengar mereka. Jam terbangnya cukup tinggi dalam membintangi film dewasa. Beradegan layaknya pasangan suami istri dengan banyak laki-laki dan aneka gaya seks.
Rencananya, bintang porno asal Jepang yang memiliki nama asli Maria Ozawa ini akan datang ke Indonesia pertengahan Oktober 2009. Memenuhi undangan dari Maxima Picture. Perempuan cantik berkulit putih kuning langsat ini akan membintangi film komedi bertajuk Menculik Miyabi. Raditya Dika didapuk sebagai penulis skenario sekaligus membintangi film tersebut. Raditya yang mengaku penggemar film porno Miyabi ini memerankan tokoh Raffa.
Tak ayal, rencana kedatangan Miyabi mendapat tanggapan pro dan kontra. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak kedatangan ikon film porno Jepang itu dan memberikan fatwa haram. Sejumlah organisasi Islam juga mengancam demo. Perempuan berdarah Jepang, Perancis dan Kanada ini dinilai dapat memberikan citra buruk terhadap bangsa Indonesia dan merusak akhlak generasi muda.
Sedangkan yang pro menilai, kedatangan Miyabi ke Indonesia justru dapat mempromosikan Indonesia. Nama Indonesia semakin dikenal karena disinggahi bintang porno pengganti Asia Carera ini. Miyabi yang mau berakting di film Indonesia juga menunjukkan bahwa karya anak bangsa Indonesia dianggap bagus. Lagi pula gadis kelahiran Hokkaido, Jepang, pada 8 Januari 1986 ini untuk bermain film komedi. Bukan film ’’esek-esek’’ atau BF. Bagaimana menyikapi hal ini secara dewasa?
Penolakan MUI dan sejumlah ormas Islam terhadap kedatangan Miyabi sebenarnya tidak bermaksud menghina ’’tamu’’. Tapi lebih kepada kewajiban agama untuk melakukan dakwah amar makruf nahi mungkar (mengajak orang berbuat baik dan meninggalkan yang mungkar) dan menjaga nama baik Indonesia yang mayoritas penduduknya mayoritas bergama Islam.
Sasaran dakwah ini ada dua. Pertama ditujukan kepada Miyabi agar segera bertaubat dan meminta ampun kepada Tuhan. Tak lagi mencari uang dengan cara-cara yang dimurkai Tuhan. Kedua ditujukan kepada segenap masyarakat Indonesia agar tidak meniru langkah Miyabi yang telah mengumbar aurat dan melakukan adegan seks dengan yang bukan suaminya. Seruan juga agar tidak menonton film yang akan dibintanginya sebagai bentuk hukuman dari pasar, kecuali kalau dia sudah bukan bintang film porno.
Di negara demokrasi seperti Indonesia, pro kontra sudah biasa. Menjadi tidak biasa jika kita memaksakan kehendak dan keyakinan kita kepada orang lain. Apalagi jika diikuti dengan tindakan anarkis dan main hakim sendiri. Bukankah Tuhan juga sangat demokratis dengan memberikan pilihan kepada hamba-Nya untuk memilih beriman atau kafir? Walaupun sebetulnya Tuhan secara tidak langsung memaksa hamba-Nya dengan mengancam akan memberikan balasan neraka dan surga sesuai pilihan mereka.
Miyabi datang ke Indonesia atas undangan Maxima Picture untuk syuting film di Indonesia. Ini artinya perempuan imut berusia 23 tahun ini seorang tamu. Harus dihormati. Tanpa melihat status sosial, keturunan, atau keyakinannya. Inilah akhlak mulia. Selama bertamu dengan baik dan tidak membuat keonaran, wajib disambut baik. Sebaliknya, jika membuat rusuh, patut disambit. Apakah kedatangan Miyabi ke Indonesia hendak berbuat onar? Apakah kehadiran Miyabi ke Indonesia hendak syuting film porno? Apakah tindakan Miyabi ini melanggar undang-undang? Jika tidak, maka tidak ada alasan untuk menolak. Kalau pun dalam film komedi yang dibintanginya nanti menyelipkan adegan seks, Lembaga Sensor Film (LSF) pasti akan menyensornya. Kita percayakan saja kepada lembaga ini.
Menurut saya, kedatangan Miyabi ke Indonesia justru menjadi kesempatan emas untuk berdakwah kepada dia. Tentu saja dengan dakwah yang baik. Tidak menghujat dan memberi pemahaman yang menyentuh hati dan pikiran serta berdialog dengan penuh hikmah. Mengandalkan logika, bukan emosional.
Cara kita menyambut dan memperlakukan tamu dengan baik boleh jadi memberi kesan positif dan mampu mengubah kehidupan Miyabi. Siapa tahu sepulang dari negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini dia berubah mengenakan jilbab? Seperti foto-foto mirip dia yang berbusana muslimah di internet? Tidak lagi menjadi bintang porno? Beralih menjadi bintang film-film religi? Menjadi tokoh utama perempuan salehah dalam film Ketika Miyabi Bertasbih? Kalau kita kasar dari awal, bagaimana mau simpati? Yang ada justru antipati. Mari kita berpikir dan bertindak positif. Biarlah Tuhan yang membuat skenarionya nanti seperti apa. (*)

~ by ariyanto on 29 September 2009.

One Response to “Ketika Miyabi Bertasbih”

  1. Dari sisi praktis mungkin sah-sah saja kedatangan Miyabi selama tidak melakukan pornografi di Indonesia, namun dari sisi etika mungkin masih kurang bisa dibenarkan kedatangan Miyabi mengingat dampaknya bisa sangat besar bagi masyarakat luas.

    Ingat bahwa setiap permasalahan selalu bisa dilihat dari banyak sisi, tergantung bagaimana kita menempatkannya.

    Miyabi Datang Semua Tegang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: