Makassar Adalah… Adalah…

Oleh
ARIYANTO

Perang dingin antara Jusuf Kalla (JK) dan Boediono (1/7) begitu kontras. JK gerilya di basis massa NU di Jombang, Jawa Timur. Capres dari Partai Golkar dan Hanura itu berziarah ke makam pendiri organisasi Islam kultural terbesar itu, KH Hasyim Asyari. Sedangkan, Cawapres Boediono bertandang di kampung Kalla di Makassar.
Kontras pula gaya mencuri hati publik di dua kantong massa itu. Boediono terlihat kikuk, grogi, mungkin nervous saat berorasi. Gayanya yang cool itu sulit menyembunyikan rasa canggungnya. Sampai-sampai, saat mengawali pidatonya, di GOR Mattoangin, mantan Gubernur BI itu lupa akan kata-kata kunci yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
“Saudara-saudara sekalian, tempat kita di Makassar. Makassar adalah…..Makassar adalah…,” ucap Boediono, seolah kehilangan konsentrasi untuk mencari kata yang pas. Dia terdiam sekitar 10 detik untuk melanjutkan kata-kata yang terpenggal itu. Dia coba kelabuhi audience dengan senyumnya yang khas.
Pendukung pun, yang tidak ingin membuat Boediono malu, langsung bertepuk tangan. ’’Horee.. horeeee..’’ teriak mereka memberi support. Pria kelahiran Blitar inipun mencoba melanjutkan orasinya. Tapi, suara riuh pendukungnya menenggelamkan suara Boediono.
Lagi-lagi kontras dengan style JK di Ponpes Tebuireng, Jombang. Saat berziarah ke makam KH Hasyim Asyari, pengusaha asal Makassar ini memanjatkan doa sekitar 15 menit. Dia didampingi Ketua NU, Hasyim Muzadi, dan Kepala Ponpes Tebuireng, Salahudin Wahid, yang lima tahun silam mendampingi Wiranto menjadi Capres dari Partai Golkar.
JK pun menabur bunga di makam kakek Gus Dur itu. Lalu, dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah dan dialog di pesantren ini. Sebelumnya, di Jawa Timur yang menjadi kantung massa NU itu telah beredar selebaran yang ditandatangani 20 kiai khos (khusus).
Dalam selebaran, kiai-kiai berpengaruh itu mengimbau kepada warga Nahdliyin untuk mencontreng JK-Win. Alasannya? Hanya JK di antara tokoh capres-cawapres yang termasuk keluarga NU. Di sini, JK seolah sudah ’’diterima’’ publik Jawa Timur yang dominan NU, dengan begitu gampang. Malamnya, JK masih membesuk Gus Dur yang sedang sakit di Paviliun RSCM Jakarta.
JK lebih cepat dan mendalam, untuk merangkul dukungan dari warga NU. Sebaliknya, Boediono, dari rasa canggung itu mengesankan kurang smooth masuk ke kampung Kalla. Meskipun, setelah ’’kecelakaan’’ itu Boediono lancar menuntaskan orasinya.
Boediono yang juga tercatat sebagai dosen di UGM Jogjakarta itu pun bercerita tentang hubungannya dengan SBY. “Dulu ketika beliau presiden, saya Menko. Juga sama-sama pernah menjabat di kabinet yang sama. Jadi kami sudah saling mengenal gayanya. Jika ingin memiliki tim yang bisa bekerja sama, pilihlah kami. Karena kami tim yang efektif dan cepat,’’ ujarnya.
Semakin lancar dalam memproduksi kata-kata, Boediono pun mengakhiri orasinya dengan berpantun. “Layar sudah terkembang, tidak ada kata balik, maju terus daratan sudah terlihat, 8 Juli. Kita satukan langkah untuk memenangkan,’’ kata Boediono. (*)

~ by ariyanto on 8 July 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: