Ini Bukan Jilbab Politis, Lho?!

Oleh
ARIYANTO

Imbauan agar sebaiknya Ibu Negara Ani Yudhoyono mengenakan jilbab rupanya dipertimbangkan juga. Seolah tak mau kalah dengan Mufidah Kalla dan Rugaiya Wiranto, Ani tampil berjilbab saat mendampingi SBY di acara Perkemahan Pramuka Santri di Jatinangor, Jawa Barat, (17/6).
Dia tampil berjilbab lengkap dengan seragam pramuka. Bukan kerudung yang biasanya memperlihatkan bagian rambut. Terlihat cantik. Jilbab yang dikenakan Ibu Ani berwarna cokelat gelap, dipadu dengan baju dan rok panjang warna cokelat pula. Sungguh serasi sekali.
SBY dan rombongan tiba di lapangan upacara tepat pukul 11.00 WIB. Molor satu jam. Sesuai jadwal, mestinya tiba pukul 10.00 WIB. Namun demikian, rasa bosan yang mendera setelah menunggu lama itu sirna begitu orang nomor satu di Indonesia yang juga maju sebagai calon presiden ini tiba di lokasi. Sekitar 6.000 santri se-Indonesia yang mengikuti perkemahan ini langsung bertepuk tangan melihat SBY dan rombongan yang mereka tunggu-tunggu telah hadir.
Tidak hanya itu. Sekitar seratusan masyarakat sekitar juga antusias menyambut SBY. Mereka tampak melambai-lambaikan tangannya saat mobil SBY melintas.
Belakangan, masalah jilbab memang menjadi perbincangan menarik. Capres-cawapres saingan SBY, JK-Wiranto istri mereka semua berjilbab. Jauh sebelum musim kampanye pilpres. Sedangkan istri SBY, selama ini memang tidak mengenakan jilbab. Sehingga, muncul usulan-usulan agar Ibu Ani Yudhoyono juga mengenakan jilbab dalam acara terbuka.
Penampilan Ibu Ani mengenakan jilbab sebenarnya bukan hal baru. Di acara-acara keagamaan, Ibu Ani juga sering mengenakan penutup aurat tersebut. Namun, di luar acara keagamaan, baru pertamakali ini Ibu Ani mengenakan jilbab secara sempurna.
Sebelumnya, Sekretaris PKS Zulkifliemansyah yang menjadi tim sukses pasangan SBY-Boediono mengakui sebelumnya dalam survei internal PKS, sebagian besar kader PKS lebih memilih pasangan JK-Wiranto. Salah satu alasannya kedua istri pasangan calon presiden dan wakil presiden itu memakai jilbab dalam kesehariannya.
Namun, lanjut Zulkifliemansyah, kader PKS telah mau menerima kondisi apa adanya dari istri pasangan SBY-Boediono yang sehari-hari memang tidak mengenakan jilbab. ’’Kami telah mengkomunikasikan dengan kader dan tidak ada masalah,’’ katanya.
Namun, apa yang dilakukan Ibu Ani tidak ada kaitannya dengan politisasi agama. SBY dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan bahwa dirinya akan meletakkan agama di atas politik.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengimbau para kandidat Pilpres 2009 untuk tidak menjadikan agama sebagai alat politik. Menurutnya, agama apapun konteksnya termasuk yang terkait dengan simbolnya, syariatnya harus ditempatkan pada posisi yang terhormat.
Setelah istri SBY, giliran istri Boediono, Herawati, yang pakai jilbab. Gara-gara dicurigai seolah non muslimah–sampai-sampai ada selebaran foto kopi yang beredar saat kampanye Jusuf Kalla di Medan bahwa Herawati beragama Katholik–dia kerap tampil berkerudung.
Hal ini terlihat di sebuah pengajian ibu-ibu Majelis Ta’lim At Taqwa UIKA, Majelis Ta’lim Darussalam, Majlis Ta’lim Alzhra, Pembina pendidikan yatim dhuafa, Alghifari,Majelis Ta’lim Alhikmah, Majelis Ta’lim Mitra Salimah, dan Kelompok Kajian Muslim Indonesia (KKIM) di Mesjid Darussalam, Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat (25/6), .
Sambil mengenakan kerudung, Herawati bertutur, bahwa dunia politik yang tergolong ”baru” bagi keluarganya cukup melelahkan. Dia pun mengklarifikasi tudingan-tudingan miring yang dianggap sebagai black campaigne itu. ’’Saya ini muslim dan selalu salat lima waktu. Kalau mengenai neolib lebih baik tanya saja sama bapak (Boediono, red),” kata Herawati.
Soal jilbab, lanjut Herawati, dirinya sangat menghormati perempuan yang memakai jilbab. Namun untuk pribadi kadang memakai dan kadang tidak. Sesuai waktu dan tempat saja. “Ketika menerima tudingan miring dari berbagai pihak, saya hanya membalasnya dengan doa, agar yang memfitnah itu diberi kesadaran oleh Allah SWT,” urainya.
Herawati juga membantah, apabila kunjungan ke Bogor kali ini adalah dalam rangka kampanye. Hal ini dilakukan untuk menjalin silaturahmi dan reuni dengan teman lamanya yang tinggal di Kota Bogor. “Bukan kampanye mas. Jangan salah tulis ya,” kata dia.
Herawati bersama tim suksesnya sebelum mendatangi mesjid Darusallam untuk salat Dzuhur berjamaah. Makan siang dulu di rumah makan Ampera di daerah Warung Jambu.
Rina salah seorang anggota pengajian dari Al-Ghifari mengatakan, sebelumnya sempat termakan isu apabila Boediono beserta keluarga beragama non muslim dan anti jilbab. Namun, setelah mendapat keterangan langsung dari Herawati Boediono maka hal itu memantapkan kembali dirinya untuk tetap mendukung capres SBY sebagai presiden periode 2009-2014.
“Terus terang, awalnya saya dan keluarga akan memilih pasangan lain karena banyak orang yang ngomong kalau Boediono itu non muslim dan neolib,” jelasnya. Meskipun, semua agama itu tidak buruk. Semua agama juga diakui oleh negara. Dan semua harus bertoleransi. Iya deh Bu, jangan sampai tekanan politik membuat ibadah jadi tidak ikhlas. (*)

~ by ariyanto on 8 July 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: