Mendobrak Mitos Pola Makan

Oleh
ARIYANTO

Di dalam buku The Miracle of Enzyme, Prof Hiromi Shinya mendekonstruksi mitos pola makan yang selama ini mengakar di masyarakat. Dari banyak catatan makanan yang tidak direkomendasi, Prof Shinya lebih menitikberatkan pada susu dan segala turunannya seperti yoghurt, keju, dan apa saja yang bahannya dominan susu. Hampir di semua bab, selalu ada bahasan bahwa susu itu tidak baik dikonsumsi.
Di halaman 41, Prof Shinya mencatat mitos-mitos yang salah kaprah. Pertama, konsumsilah yoghurt setiap hari untuk meningkatkan fungsi pencernaan. Yoghurt adalah susu yang dibuat melalui proses fermentasi bakteri. Bahan bakunya tetap susu. Susu apa saja, termasuk susu kedelai. Tetapi saat ini produksi modern didominasi susu sapi.
Yoghurt berasal dari fermentasi gula susu (laktosa) menghasilkan asam laktat, yang berperan dalam protein susu untuk menghasilkan tekstur seperti gel dan bau yang unik pada yoghurt. Minuman kental ini biasanya dicampur dengan vanilla atau coklet. Sebagai makanan berbahan susu, Prof Shinya jelas tidak merekomendasi.
Kedua, minumlah susu setiap hari untuk menghindari kekurangan kalsium. Ketiga, penuhilah kebutuhan vitamin harian dengan suplemen dan bukan dengan buah karena buah mengandung banyak karbohidrat dan kalori. Keempat, berpantanglah mengonsumsi karbohidrat seperti nasi dan roti untuk menghindari bertambahnya berat badan.
Kelima, berusahalah untuk mempertahankan asupan tinggi protein. Keenam, dapatkan cairan dengan meminum teh hijau Jepang, yang kaya antioksidan. Ketujuh, Rebuslah air ledeng sebelum meminumnya untuk menyingkirkan sisa-sisa klorin. Itulah mitos yang selama ini mengendap di pikiran dan hati masyarakat. Bahkan di seluruh dunia.
Karena itu, Prof Shinya tidak merekomendasikan minum susu dan turunannya dan membatasi mengonsumsi daging. Selain itu, dia juga menyarankan agar mengonsumsi sebagian besar biji-bijian dan sayuran. Makanan ideal, menurut versinya, 15% hewani, sisanya 85% nabati alias daging dari ladang. Selain komposisi makanan, dia juga meminta agar memperhatikan teknik makan seperti harus dikunyah 33 kali dan memakan sesuatu yang enak, sehingga membawa kegembiraan.
Prof Shinya kemudian membuat empat saran khusus. Pertama, minumlah air putih daripada teh. Kedua, gunakan daun teh yang ditanam secara organik. Ketiga, minumlah teh setelah makan dan bukan dengan perut kosong untuk menghindari tekanan berlebih pada lapisan lambung. Keempat, batasi konsumsi teh sekitar 2-3 cangkir saja per hari. Minum air putih dan teh tidak diragukan lagi manfaatnya. Banyak ahli kesehatan yang merekomendasikan agar kita banyak mengonsumsinya.
Resep pola makan sehat ala Prof DR Shinya ini punya banyak kesesuaian dengan cara hidup sehat Nabi Muhammad. Ada beberapa ajaran Nabi mengenai hidup sehat. Pertama, Nabi mengajarkan agar berpuasa untuk mengistirahatkan kerja alat pencernaan. Nabi bersabda, ’’shuumu tashihu’’ (berpuasalah maka kamu akan sehat).
Kedua, Nabi mengajarkan agar mengunyah makanan minimal 33 kali sebelum ditelan. Sebagaimana sabdanya, ’’Saya mengunyah setiap suap makanan 30-50 kali, sehingga menjadi lembek dan melalui kerongkongan tanpa kesulitan. Bahkan, pada makanan yang sulit dicerna dengan baik, saya kunyah sampai 70-75 kali.’’ Jika tidak dikunyah dengan baik, sebagian makanan itu akan terbuang tanpa terserap dan terjadilah pembusukan yang menghasilkan banyak racun di usus. Itulah yang menghabiskan sejumlah besar enzim. Air liur yang otomatis keluar saat mengunyah dapat bercampur baik dengan asam lambung maupun air empedu. Maka proses pencernakan pun bisa lebih lancar.
Ketiga, Nabi tidak mencela makanan. Sebagaimana terdapat dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah r.a beliau mengatakan, ’’Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.’’
Tidak mencela makanan berarti seseorang suka dan mensyukuri makanan itu. Suasana hatinya senang ketika mengonsumsinya. Dan, kalau hatinya sudah senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk bertambah. Seorang yang bahagia, kata Prof Shinya, kemungkinan besar akan memiliki banyak enzim pangkal. Menyembuhkan, berarti memberikan motivasi agar pasien merasa benar-benar bahagia.
’’Jika Anda memulai suatu siklus kebahagiaan, enzim dalam jumlah besar akan diproduksi. Enzim-enzim ini kemudian secara positif menstimulasi sel-sel di seluruh tubuh. Sesungguhnya, enzim yang diproduksi oleh siklus kebahagiaan inilah yang berada di balik layar, yang mengaktifkan kekuatan penyembuhan diri seseorang,’’ kata Prof Shinya di buku tersebut.
Jadi, masuk akal juga kalau diet itu tidak boleh menyiksa diri. Tidak boleh membuat seperti terpenjara. Tidak makan ini, tidak makan itu, yang justru membuat stres. Tetapi, harus berusaha mencintai makanan diet itu dengan sepenuh hati. Sebab, kebahagiaan dan cinta akan meningkatkan faktor enzim tubuh. Keajaiban datang dari sini. Tips Prof Shinya sederhana: ‘’Menyanyilah, tertawalah, dan luangkan waktu setiap hari untuk bersikap menghargai!’’
Keempat, saat makanan disajikan dalam keadaan panas, janganlah tergesa-gesa untuk menikmatinya. Biarkanlah makanan tersebut menjadi dingin terlebih dahulu. Dari sisi kesehatan, makanan yang panas tidak baik untuk kesehatan tubuh. Dan sebagai muslim, anjuran menyantap makanan yang sudah dingin diberikan oleh Rasulullah SAW, dan kita wajib untuk menaatinya. Hal ini tesirat dalam hadis berikut:
Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, jika beliau membuat roti Tsarid maka beliau tutupi roti tersebut dengan sesuatu sampai panasnya hilang. Kemudian beliau berkata, ’’Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’’Sesungguhnya hal tersebut lebih besar berkahnya.’’
Kelima, tidak berlebih-lebihan. Nabi Muhammad SAW bersabda,’’Hendaklah keturuan Adam tidak memenuhi perutnya. Cukuplah bagi keturunan Adam beberapa makanan yang dapat menegakkan tulang sulbinya. Jika tidak ada halangan, sepertiga (perut) untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk napasnya (HR Turmudzi).
Makan secara berlebihan mengundang bahaya, seperti gangguan pencernaan, diare, sembelit, perut kembung, obesitas, encok, penyakit lever, pengerasan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan penggumpalan dan pembekuan darah.
Makan berlebihan juga bisa menimbulkan peradangan akut pada pankreas dan empedu, diabetes melitus, bahkan batu ginjal. Benarlah apa yang dikatakan dokter Arab, al-Harits ibn Kaldah, ’’Lambung adalah sarang penyakit, dan diet (pola makan teratur) adalah obat utama.’’
Namun, kurang makan juga berbahaya. Di antaranya berdampak pada terhambatnya pertumbuhan badan, akal, kurang darah, lemahnya sistem kekebalan tubuh, dan anemia.
Dengan berpijak pada sunah Nabi, kita mendapatkan dasar-dasar yang benar bagi pola makan dan minum. Pertama, makan dan minum tidak berlebihan. Rasulullah SAW bersabda,’’Orang beriman makan seukuran satu usus sedangkan orang kafir makan seukuran tujuh usus.
Keenam, diharamkannya miras serta daging babi, semua daging najis, bangkai, darah, semua jenis binatang bertaring, dan semua jenis burung bercakar.
Ketujuh, larangan memakan daging sapi, kambing, dan sebagainya yang tergolong jallaalah (binatang yang kerap memakan benda najis). Ibn Umar menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang jallaalah dan susunya (HR Turmudzi).
Kedelapan, menganjurkan banyak mengonsumsi buah-buahan. Sebab, hal itu jauh bermanfaat daripada kue-kue buatan. Selain mudah dicerna, buah-buahan juga menyuplai nutrisi yang dapat melindungi tubuh dari kekurangan zat-zat tertentu. Nabi Muhammad bersbda,’’Rumah tanpa kurma bagai rumah tanpa makanan.’’ Diriwayatkan pula bahwa Nabi menyantap mentimun dengan kurma matang. (HR Abu Dawud).
Jadi, kuncinya memang pola makan, teknik makan, makanan yang halal dan baik (halalan thoyyiban). Sebab, makanan yang halal secara zatnya, belum tentu baik bagi kesehatan.
Namun, hal itu saja tentu tidak cukup. Baik Nabi Muhammad maupun Prof Shinya sangat menganjurkan agar beristirahat yang cukup dan berolahraga secara teratur. Dan, yang tidak kalah penting dari itu semua adalah hidup penuh optimisme dan berpikir positif. Inilah keteladanan dari Nabi dan substansi dari ajaran The Miracle of Enzyme ini. Silakan mencoba pola makan yang baru ini. (*)

INDOPOS, 5 Juli 2009

~ by ariyanto on 7 July 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: