Garing, Nonton Wayang Tanpa Celometan

Oleh
ARIYANTO

Di mana lucunya? Di mana goro-goronya? Kapan punokawan (tokoh Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Red) mengocok perut? Sekuel itu tidak terlihat dalam debat Capres di Gedung TransTV, Jalan Tendean, Jaksel, tadi malam. Semua terperangkap pada kekakuan yang melelahkan. Tiga capres pun terlihat tegang, serius, sejak awal hingga sesi ketiga.
Saat moderator Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, menyampaikan aturan main larangan tepuk tangan sebelum waktu bicara habis, suasana menjadi kaku. Bahkan, pada sesi kedua Anies sempat mengulang warning itu, gara-gara ada yang latah tepuk tangan, sebelum count down time-nya berakhir. Cara memperkenalkan tiga kandidat juga formal. Celakanya, tiga capres ikut terjebak dalam suasana yang kaku itu.
Celetukan maut Jusuf Kalla (JK) tidak terlihat. Bahkan, omongannya pun tidak seperti biasa yang lancar, runtut, sindir sana-sini. Hanya kata penutup JK di akhir sesi yang bikin ger. ’’Pemerintahan Ibu Mega dilanjutkan Pak SBY. Maka saya akan melanjutkan pemerintahan Pak SBY dengan lebih cepat lebih baik,’’ cetusnya yang mengundang tepuk tangan.
Lumayan cair juga saat JK ditanya cara mengatasi pungli yang marak di negeri ini dengan prinsip ’’lebih cepat lebih baik’’. Ketika jawaban JK diiyakan Mega dilengkapi SBY, maka JK pun berkelakar 1 menit. ’’Semua sependapat dengan saya!’’ kata JK. Seolah, ketegangan yang sudah menggelembung itu pecah seketika dan mulai mencair.
Mega juga membalas dengan gayanya, saat dia berkesempatan pertama menjawab pertanyaan Anies soal slogan pro rakyat. Bagaimana langkah pertama yang dilakukan Mega–jika terpilih–, untuk membantu 4,5-5 juta tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang setiap tahunnya menyumbang Rp 90 triliun atau hampir 10 persen dari APBN itu? Satu menit itu hanya dipakai untuk berucap: ’’Semua ngikut saya!’’ Kata penutup yang juga membikin gerrr.
Mega juga memekikkan teriakan ’’Merdeka!’’ di akhir statemennya, yang membuat penonton sulit menahan tepuk tangan. Sedang SBY di akhir debat itu membacakan puisi karyanya. ’’Dari Lahat ke Martapura, meski berdebat kita tetap bersaudara!’’ yang juga diikuti dengan tepuk tangan.
SBY yang bahasanya runtut, dalam dan berisi itu juga mengambil poin saat ditanya soal slogan ’’lanjutkan’’ dalam menyelesaikan kasus-kasus HAM yang masih laten. Jawaban SBY pun diamini JK dan Mega. Maka di kesempatan satu menit, SBY berkata: ’’Terima kasih, Bu Mega, Pak JK, sama dengan saya,’’ ujarnya membalas dua capres sebelumnya.
Suasana seru sebenarnya terjadi saat off air. Saat jeda iklan sekitar empat sampai lima menit. Debat itu seperti pertarungan tinju profesional. Saat tanda waktu akhir ronde ditabuh, petinju langsung menuju sudut masing-masing, coach dan tim dokter pun menghampiri. Coach memberi minum, melepas pelindung gigi, mengusap keringat. Sementara dokter mengoles krim di pelipis dan muka yang lebam karena pukulan.
Empat menit rehat di antara sesi satu ke sesi berikutnya, dimanfaatkan dengan bermacam-macam gaya dan canda. Ada yang tetap serius, tetapi JK dan SBY malah bercanda.
Awalnya, Mega langsung mendapat bisikan ’’instruksi pelatih’’ oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Pramono Anung, dan Puan Maharani. Mega terlihat serius menerima bisikan-bisikan itu. Mega yang terlihat kepanasan dan berkeringat pun memanfaatkan waktu jeda itu untuk berkipas-kipas.
Podium SBY lain lagi. Ketua Tim Sukses, Hatta Radjasa, dan Choel Mallarangeng mendekat. Sesekali, SBY membaca SMS yang disodorkan Hatta. Mungkin poin-poinnya dibuat tertulis oleh Hatta, agar di ronde berikutnya bisa melepas hook, upper cut dan jab yang lebih telak.
Paling santai ada di podium Jusuf Kalla. Dua konsultan JK, Ipang Wahid dan tim sukses JK-Wiranto, Poempida Hidayatullah datang. Namun, JK mengajukan permintaan khusus, ’’Pijitin dong, pijitin!’’ Tentu, itu mengagetkan semua, termasuk audiens. Poempida mengambil posisi dan memijit bahu JK, suasana pun lebih cair lagi.
Panpel memang memberi kesempatan untuk ’’petinju’’ mendapatkan suntikan trik-trik menjawab semua pertanyaan dengan manis. Capres boleh mendapat masukan, saran dan pandangan baru selama empat menit itu.
Sesi ketiga, suasana di studio sudah semakin familier saja. Tidak sekaku sebelumnya. Juga tidak sekaku yang terlihat di televisi. Begitu host acara ini, Helmy Yahya menyebut rehat dimulai, JK langsung memanggil dua konsultannya, ’’Pelatih, coach!’’ teriak wapres itu. Spontanitas JK itu membuat audiens tepuk tangan dan tertawa. SBY pun tak kalah melucunya, dengan menawarkan kopi kepada JK, ’’Kopi Pak!’’ tanya SBY. JK pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Saat tanda ’’teng’’ berikutnya, JK berucap sambil tertawa: ’’Coach, tolong sediakan ember dan handuk!’’ Hadirin pun tidak bisa menahan tawanya. Dan, SBY menyahuti kelakaran JK: ’’Pasang gigi palsu!’’ Audiens kembali tertawa dengan cara humor dua capres cerdas itu. (*)

INDOPOS, 19Juni 2009

~ by ariyanto on 24 June 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: