Debat Tim Sukses Lebih Seru

Oleh
Ariyanto

Debat cawapres bertema ’’Membangun Jati Diri Bangsa’’ yang diharapkan lebih seru dari debat capres minggu lalu, jauh dari harapan. Interaksi antarkandidat tetap saja minim, garing, canggung mengkritik, dan malu-malu. Panggung debat yang rencananya didesain setengah lingkaran, agar lebih komunikatif, juga batal.
Ketiga cawapres terlihat sungkan mengkritisi satu sama lain. Bahkan, saling sepakat dalam menyatakan gagasan. ’’Saya sependapat dengan Pak Boediono soal posisi agama dan politik. Agama itu sakral dan jangan dicampuradukkan dengan politik,’’ ujar Prabowo.
Hanya Wiranto yang sempat ’’menabrak’’ Boediono. Tapi, substansi kritiknya juga tidak ada perbedaan mendasar. Tidak ekstrem atau berseberangan. Lebih mirip-mirip saja. ’’Saya tidak sependapat dengan apa yang disampaikan Pak Boediono, apa yang disampaikan masih bersifat normatif dan nilai praksisnya membingungkan,’’ ujar Wiranto.
Dari intonasi dan ritme suaranya, Boediono kelihatan paling tenang. Prabowo agresif, bertempo tinggi, sehingga di akhir sesi terlalu banyak kata ’’ee…ee…’’. Wiranto berusaha beda, tetapi sulit membedakan esensinya, sehingga terkesan datar-datar. ’’Daya sengat’’-nya masih jauh dari Capresnya, Jusuf Kalla. Wiranto menang di closing dan soal rentetan kecelakaan.
Dari pantauan INDOPOS, ketika commercial break kedua, Prabowo tampak sibuk dengan buku catatannya. Dia juga terlihat membetulkan posisi kopiahnya yang sudah rapi ketika tim suksesnya mengobrolkan sesuatu. Begitu pula Wiranto. Ketua umum Partai Hanura itu terlihat berdiskusi dengan tim suksesnya. Sedangkan Boediono, wajahnya sedang dipoles timnya.
Ketika panitia menanyakan apakah ingin air putih atau teh untuk melepas dahaga, Wiranto dan Boediono yang sempat ’’adu kritik’’ singkat, ternyata punya kegemaran serupa. Mereka sama-sama memilih teh. Kalau Prabowo?
Yang dipilih Prabowo beda sendiri. Mungkin karena studio SCTV yang terlampau dingin, Prabowo lebih memilih minuman jahe. Mungkin untuk menghangatkan badannya.
Bagaimana dengan iklan berikutnya? Kali ini, ketiga cawapres sudah mulai rileks. Mereka tampak ngobrol akrab. Kemudian acara kembali dilanjutkan dengan penyampaian visi-misi cawapres Boediono, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono. Cara penyampaian mantan Menteri Koordinator Perekonomian itu berbeda dengan Prabowo yang terkesan berapi-api. Dia mengemukakan visi misi seperti dosen atau guru yang mengajar di depan murid-muridnya. Kalem, runtut, dan logis.
Namun lain halnya dengan Prabowo. Untuk menarik perhatian, cawapres terkaya ini memamerkan duit Rp 20 ribu. Selembar uang kertas itu ditunjukkan ketika dia memaparkan soal kemiskinan.
Prabowo prihatin bangsa yang telah merdeka secara politik selama 64 tahun ini masih ditinggali sekian banyak orang miskin. Berdasarkan standar Bank Dunia, kata Prabowo, hampir 50 persen penduduk Indonesia, yakni 115 juta orang, hidup dengan kurang dari Rp 20 ribu per hari.
’’Mereka hidup dengan kurang dari Rp 20 ribu,’’ tegas Prabowo seraya mengeluarkan selembar uang Rp 20 ribu dari saku kemeja batik merahnya dan menunjukkan ke arah hadirin. ’’Kalau di Senayan City, 1 cangkir saja tidak bisa kita beli,’’ lanjut Ketua Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya ini penuh semangat.
Mantan Pangkostrad ini mengatakan, kekayaan Indonesia selama ini terus mengalir keluar dan tidak dinikmati bangsa sendiri. Jika itu tidak dihentikan, Prabowo yakin pembangunan jati diri bangsa akan gagal. ’’Tidak bisa kita membangun jati diri tanpa menyelesaikan masalah kunci, yakni menyelamatkan kekayaan agar tidak bocor ke luar negeri,’’ tegasnya.
Meski masih garing, secara keseluruhan, acara yang dilangsungkan di Studio SCTV, Senayan City, Jakarta Selatan, tadi malam, sedikit lebih cair. Dari segi presentasi, cawapres terbilang sedikit kreatif. Jika Prabowo mengeluarkan duit Rp 20 ribu, Wiranto justru menyanyi. Wiranto membuka dan menutup pemaparannya dengan lagu. Wiranto yang saat itu mengenakan baju polos lengan panjang abu-abu–satu-satunya cawapres yang tidak mengenakan pakaian sesuai warna parpol yang mengusungnya–mendapat jatah terakhir untuk memaparkan visi misi. Saat menyapa hadirin, Wiranto hampir lupa menyebut nama Boediono.
Dalam pembukaannya, Wiranto menyapa satu per satu. Cawapres Prabowo, KPU, dan para hadirin. Namun dia ternyata lupa menyapa salah satu kompetitornya, Boediono, yang berdiri persis di kanannya. Setelah sempat tampak agak grogi, Wiranto akhirnya ingat untuk menyapa pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, itu.
Setelah menyapa hadirin, Wiranto mengawali pemaparannya dengan petikan lagu Indonesia Raya. ’’Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya,’’ nyanyi Wiranto dengan nada resmi lagu Indonesia Raya.
’’Tidak mudah mewujudkan jati diri bangsa. Dibutuhkan kebersamaan dari seluruh masyarakat. Dibutuhkan kepemimpinan yang lebih cepat berpikir, lebih cepat bertindak, dan lebih berani mengambil keputusan yang berisiko tinggi,’’ kata Wiranto seraya tak lupa menyinggung slogannya bersama Jusuf Kalla (JK), lebih cepat lebih baik.
Sebagai penutup, Wiranto kembali nembang. Kali ini lagu yang dia bawakan adalah Ibu Pertiwi. ’’Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati. Kini ibu sedang lara, meratap dan berduka,’’ demikian lantunan lagu cawapres JK tersebut.
Di antara cawapres, Wiranto sedikit membantu mencairkan suasana. Selain menyanyi, dia juga kerap membuat akronim-akronim. Ketika ditanya hubungan antara agama dan Negara, misalnya. Wiranto menyatakan bahwa substansi agama harus mewarnai politik. ’’Agama memang sakral. Tapi, substansi agama harus diserap ke dalam politik Jangan ada istilah BDN, bohong dan nipu,’’ kata dia lantas disambut tepuk tangan.
Begitu pula ketika ditanya mengenai spirit keindonesiaan dikaitkan dengan desentralisasi politik. Menurut dia, kesukuan atau primordialisme lama kelamaan akan sirna di Indonesia karena banyaknya perkawinan campur. ’’Saya ini pasangan jago, Jawa Gorontalo. Saya dari Jawa dan istri dari Gorontalo,’’ terang dia disambut tepuk tangan meriah.
Di akhir acara, ketiga kandidat menutup penampilannya dengan memaparkan pesan yang biasa dilontarkan saat kampanye. Prabowo berpesan agar masyarakat memilih perubahan, bukan melanjutkan sistem yang ada.
’’Kita harus mengoreksi sistem yang ada, yang tidak menyejahterakan. Terlalu banyak rakyat kita masih miskin dan apakah kita akan utang terus pada negara lain? Silakan memilih perubahan atas kondisi ini atau melanjutkan sistem yang ada,’’ kata cawapres Megawati Soekarnoputri bersemangat yang disambut tepuk tangan hadirin.
Setelah Prabowo, giliran cawapres SBY, Boediono memberikan closing. ’’Beberapa hari ini saya berkunjung ke daerah-daerah, melihat wajah polos rakyat yang mengharapkan pemimpin yang amanah dan bersih. Mereka ingin berbangga kembali,’’ kata Boediono tanpa tekanan.
Sedangkan cawapres Jusuf Kalla, Wiranto, tidak lupa menutup presentasi terakhirnya dengan tetap memakai tagline pasangan JK-Wiranto ’’Lebih Cepat Lebih Baik’’.
’’Sebagai anak seorang guru SD saya cukup kenyang dengan penderitaan. Kalau mengingat kembali mungkin kalau sekarang ini saya mendapatkan BLT atau raskin. Jika saya dan Pak JK terpilih, maka kita akan berpikir cepat, bertindak cepat, dan menuntaskan hal-hal dengan cepat untuk Indonesia, makanya lebih cepat lebih baik,’’ tegas dia lalu disambut riuh tepuk tangan.
Usai closing, Prof DR Komaruddin Hidayat sebagai moderator menyerahkan penilaian atas debat ini kepada masyarakat. ’’Silakan kepada hadirin yang ingin menilai acara ini sebagai debat atau presentasi atau perbincangan saja. Karena bagaimanapun aturanlah yang memang menghendaki seperti itu,’’ pungkas Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu sembari tersenyum.
Ungkapan ini bisa dipahami bahwa hadirin atau masyarakat paling berhak memberikan penilaian. Jadi, meski anggota KPU I Gusti Putu Artha usai acara menyatakan debat kali ini lebih bernyawa dan lebih hidup, kesan tetap ada di tangan masyarakat.
Acara perdebatan sesungguhnya justru terjadi di level tim sukses capres dan cawapres. Program ’’Analisis Debat Cawapres’’ di sebuah stasiun televisi swasta tadi malam menghadirkan para tim sukses di antaranya Andi Mallarangeng (tim sukses SBY-Boediono) dan Fadli Zon (tim sukses Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto).
Ada pula pakar komunikasi politik dari UI Effendy Ghozali, pengamat politik dari Paramadina Aria Bima, dan pengamat politik Rinakit. Mereka menganalisis debat cawapres yang baru saja berlangsung. Mereka juga meminta penjelasan dari tim sukses mengenai visi dan misi para cawapres yang baru saja disiarkan secara langsung oleh SCTV dan beberapa televisi.
Para tim sukses terlihat berargumentasi habis-habisan untuk membela pandangan yang disampaikan masing-masing cawapres di acara debat tersebut. Mengemukakan data dan fakta serta mengetengahkan logika. Inilah debat sesungguhnya. Moderator membuat acara makin seru. Sebab, di tengah pemaparan para tim sukses, seorang moderator bisa interupsi dan mengajukan pertanyaan. Tanpa harus menunggu pemaparan selesai.
Semoga di debat capres kedua, ketiga, keempat dan kelima maupun debat cawapres kedua dan ketiga benar-benar memang debat. Bukan presentasi maupun sekadar ngobrol. (*)

INDOPOS, 24 Juni 2009

~ by ariyanto on 24 June 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: