Mencari ’’Rumah Masa Depan’’ di San Diego Hills Bersama Ibu-Ibu Pengajian (2-Habis)

Oleh ARIYANTO

Lahan makam termahal di San Diego Hills Rp 4,4 miliar, belum termasuk harga bangunan. Letaknya yang berada di peak of the peak (puncak dari puncak) ini dinamai Guidinglight Mansion. Siapa penghuninya?

Keringat mengucur dari kening Sri Rahayu. Ibu kelahiran Jogja, 6 Juni 1945, ini terlihat ngos-ngosan setelah melewati 20 anak tangga menuju peak of the peak. Rasa lelah juga menyergap Sri Widayati, Bu Mia, Titik Arini, Siti Sundari, dan jamaah lain pengajian An-Nisa, Jakarta Timur. Mereka yang rata-rata berusia di atas 50 tahun itu beristirahat sejenak. Duduk di kanan makam sembari menyandarkan punggung di teralis besi yang mengelilingi areal ini.

’’Huuuh, capek banget ya,’’ ujar Sri Rahayu sembari melepas kacamata dan mengusap keringat dengan sapu tangan. ’’Tapi di sini anginnya semilir,’’ lanjut ibu yang tinggal di di BSD, Serpong, Tangerang, ini.
’’Enak kali ya dimakamin di sini. Keluarga besar ngumpul jadi satu,’’ cetus Siti Sundari, istri pensiunan Pertamina yang tinggal di Rawasari, Jakarta Pusat. ’’Kita sih mau saja. Tapi punya duit lebih gak?’’ celetuk Bu Mia sambil menatap wajah Sundari.

’’Wah gila Raja Minyak satu ini. Sama bangunannya saja sudah berapa duit,’’ tukas Titik Arini yang pernah kerja di Pertamina dan Chell ini geleng-geleng kepala. ’’Oh dia raja minyak ya?’’ tanya Bu Mia memastikan. ’’Iya, rumahnya di Bogor, Jawa Barat,’’ jawab Titik yakin.

Total, di lahan seluas 204 m2 ini terdapat dua puluh makam. Di bawah atap empat buah, di depannya enam buah, dan di kiri kanan sebelum memasuki gerbang makam yang diapit payung warna cokelat keemasan sepuluh buah.

Namun, dari sekian makam itu, hanya terisi dua. Sisanya kosong. Tapi, yang kosong sudah dipesan. Kedua makam itu terbuat dari batu hitam berukir. Di atasnya terdapat papan bertuliskan QS Al-Bayyinah ayat 7–8 berikut terjemahannya. Bunyinya: ’’Innalladzina amanu wa ’amilusholihati ulaaika hum khoirul bariyyah. Jazaauhum ’inda robbihim jannaatu adnin tajrii min tahtihal anhaaru khoolidiina fiiha abadaa’’. (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh adalah sebaik-baik makhluk. Balasan bagi mereka surga yang di bawahnya ada sungai-sungai mengalir. Mereka kekal di dalamnya).

Makam pertama ditempati Soewignjo bin Djomiharjo (28 Agustus 1898–28 Juni 1975). Di sebelahnya satu makam dihuni dua orang. Raharti binti binti Soewignjo (12 Juni 1944–23 Juli 2005) dan Ning Adriati binti Martosudomo (22 April 1903–12 Juli 1980). ’’Ini pindahan dari Jawa. Makam ini milik seorang pengusaha yang tinggal di Bogor, Jawa Barat,’’ terang Suzilia, Sales San Diego yang juga setia menemani saya.

Sedangkan dua makam di sebelahnya dari marmer, masih belum terisi. Tapi, dua makam itu kabarnya sudah dipesan oleh raja minyak dari Bogor itu. Di depan makam itu ada sebuah hadis dan terjemahannya. Bunyinya: ’’Assalamu’alaikum ahladdiyaari minal mu’miniina wal muslimiina, wa inna Insyaa Allaahu bikum laahiquuna wa arhamulloohul mustaqdimiina minnaa wal musta’khiriina as alullooha lanaa walakumul ‘aafiyata.’’ (Semoga kesejahteraan untukmu, wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami Insya Allah akan menyusul. Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada orang-orang yang meninggal terlebih dahulu di antara kami dan orang-orang yang akan datang.

’’Guidinglight Mansion ini bagian dari Area Garden of Prayer. Pilar kedua dari lima pilar (Five Pillars Garden),’’ kata Suzilia kepada saya. Di area Garden of Prayer, jelas Suzilia, terdapat teras berukuran luas per 10 meternya dikalikan dengan jumlah rakaat dalam salat. Pada ujung teras terdapat tempat salat. Mengikuti tradisi bangunan masjid. Tembok menghadap kiblat dengan mihrab yang dapat dilalui sinar matahari. Apa saja pilar lainnya?

Pilar pertama adalah Unity Garden. Digambarkan dengan desain perbukitan yang memiliki jalan berbentuk lingkaran spiral. Ini menunjukkan suatu kesatuan alam semesta dalam kekuasaan Tuhan. Pilar ketiga Charity Garden. Di sini terdapat air terjun yang memberikan aliran air. Aliran terbagi ke seluruh area, perlambang sederhana arti ’berbagi’. Sumber air di pintu masuk plaza Charity Garden ini mengingatkan kita pada fungsi air yang adalah berkat dari Allah SWT sekaligus simbol untuk membersihkan dan memurnikan manusia.

Pilar keempat Fasting Garden. Di sini digunakan lansekap dengan tipikal tanaman gersang ditata berdampingan dengan tanaman subur. Selain itu Pavilion Islands yaitu suatu tempat berteduh dengan desain struktur Islami. Semua ini menggambarkan hidup dalam kesederhanaan.
Dan, pilar kelima, Pilgrimage Garden. Areal ini menggunakan lansekap tanaman gersang. Menggambarkan perjalanan di gurun pasir. Di dalamnya juga terdapat Pilgrimage Pavilion sebagai simbol oasis dalam perjalanan haji.

’’Jadi kelima pilar ini juga menyimbolkan lima rukun Islam, yaitu syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji,’’ kata Samuel Junaedy, Sales Manager San Diego Hills menambahkan.

Ketika Samuel asyik menjelaskan kepada saya, Titik dan suaminya, Satrio Sudiro, mendekat. ’’Coba tidak serem seperti ini, ziarah malam-malam juga tidak takut. Iya Ma,’’ kata pensiunan Kepala Kamar Mesin Bogasari Maritim sembari menoleh ke istri. ’’Itu sebabnya, saya ingin jauh-jauh hari memesan di sini. Kita kan nggak tahu kapan Tuhan menjemput kita. Lagian saya sudah kepala lima,’’ kata pria kelahiran Semarang, 15 Mei 1951 ini. ’’Lagian di sini juga nggak bakal ditumpuk, digusur kalau nggak bayar pajak, nggak dikerubutin, gerah,’’ kata Titik menambahkan.

Puas melihat peak of the peak, ibu-ibu berkeliling ke kluster lainnya. Di San Diego ini, selain untuk agama Islam yang menghadap Kiblat, memang juga untuk penganut Kristen-Katholik serta Konghucu-Buddha (atau nuansa Chinese Garden). Masing-masing gaya tersebut diadopsi demi ketenangan dan kenyamanan para keluarga yang anggota keluarganya meninggal.

Sejumlah orang penting juga dimakamkan di San Diego ini. Di antaranya Ir Muhammad Supari, 66. Suami Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadillah Supari ini dimakamkan pada Minggu (29 Maret 2009), sekitar pukul 14.00 WIB. Almarhum M Supari yang menikahi Siti Fadillah 36 tahun lalu itu meninggal pada Sabtu (28/3) pukul 17.20 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, saat dalam proses perawatan penyakit yang dideritanya. Ir M Supari dimakamkan di area pemakaman wisdome, yang merupakan makam khusus bagi orang Islam. Lokasinya persis di depan musala.

Ronald Hermanus Pattinasarany atau lebih dikenal dengan nama Ronny Pattinasarany juga dimakamkan di San Diego. Pelatih sepak bola Indonesia dan salah satu pemain sepak bola legendaris ini dimakamkan di Heroes Plaza. ’’Dinamakan hero karena hanya ’’pahlawan’’ yang boleh dimakamkan di sini. Tentunya ada referensi dari negara. Sekarang baru terisi lima,’’ kata Suzilia, sales San Diego. Ronny meninggal pada 19 September 2008, pukul 13.30 WIB, dalam usia 59 tahun, akibat kanker hati yang dideritanya sejak Desember 2007.

Orangtua Muchtar Riadi, bos Lippo, juga dimakamkan di sini. Di area pemakamannya terdapat batu bertuliskan: Ancestry of Riady Family. Migrated from Fujian to Malang in 1918. Mr Liapi (1808-1959) dan Mme Sibelau (1989-1939). Di bawahnya tertulis Mr Sudomo Riady (son) dan Mrs Giokiun Tho (daughter in law) dan Mr Mochtar Riady (son) dan Mrs Suryawati Lidya (daughter-in law). ’’Pada 1995, ortu Muchtar Riadi dimakamkan di sini, tapi waktu itu masih belum ada San Diego. Jadi, bisa dikata penghuni San Diego pertama,’’ kata Suzilia yang juga sudah memesan makam di San Diego bersama suami dan kerabatnya.

Saya juga meninjau peak of the peak bernama Sovereignty yang ada di kawasan Kristen-Katholik. Namun, puncak dari puncak ini masih kalah tinggi dengan guidinglight. Tapi, soal harga, jauh lebih mahal, yaitu Rp 6,6 miliar. ’’Ini paling mahal. Tapi masih belum ada yang memesan,’’ terang dia. Ketika ditanyakan kenapa mahal, Suzilia menjawab, ’’Karena lokasinya ’di ibukota’ San Diego,’’ kata dia sembari mengatakan sudah 18 ribu unit makam yang sudah dipesan dan 570 orang yang sudah dimakamkan di San Diego.

Lelah keliling, saya dan jamaah pengajian mampir di Restoran Italia bernama La Collina yang dikelola Aston Hotel. Lokasinya masih di areal pemakaman. Saat menikmati sajian bercita rasa tinggi nan menggugah selera, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kabar bahwa ’’rumah masa depan’’ idaman mereka yang berlokasi di Wisdom, dekat pohon Randu, sudah dipesan seorang pengusaha terkemuka negeri ini. ’’Wah gimana nih. Kita akan berusaha merayu dia supaya mau melepaskan,’’ kata Sri Sundari yang diiyakan teman-temannya. (*)

INDOPOS, Jumat, 29 Mei 2009

~ by ariyanto on 31 May 2009.

2 Responses to “Mencari ’’Rumah Masa Depan’’ di San Diego Hills Bersama Ibu-Ibu Pengajian (2-Habis)”

  1. […] a b c Ariyanto, Mencari ’’Rumah Masa Depan’’ di San Diego Hills Bersama Ibu-Ibu Pengajian (2-Habis), INDOPOS, Jumat, 29 Mei 2009. Diakses 16 Februari […]

  2. […] a b c Ariyanto, Mencari ’’Rumah Masa Depan’’ di San Diego Hills Bersama Ibu-Ibu Pengajian (2-Habis), INDOPOS, Jumat, 29 Mei 2009. Diakses 16 Februari […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: