Mencari ’’Rumah Masa Depan’’ di San Diego Hills Bersama Ibu-Ibu Pengajian (1)

Oleh
ARIYANTO

Makam, identik dengan tempat angker, horor, tak terurus, rawan premanisme, rentan digusur, jenazah ditumpuk, dan pohon kamboja. Inilah yang membuat ibu-ibu yang jamaah pengajian An Nisa’, Jakarta Timur, tidak ingin dimakamkan di TPU konvensional. Mereka ingin mencari ’’rumah masa depan’’ di San Diego Hills. Seperti apa?
——–

Mendengar nama San Diego, bayangan kita terbang ke sebuah kota pantai di California Selatan. Persis di sudut barat daya daratan Amerika Serikat. Kota terbaik di Amerika ini menjadi daya tarik wisawatan dari berbagai belahan dunia. Pantai yang eksotis dan gurun yang menawan.
Suasana eksotisme itu pula yang bisa dirasakan begitu memasuki kompleks pemakaman di San Diego Hills, Karawang Barat. Penat selama perjalanan sekitar 60 menit dari Jakarta melalui tol mendadak hilang. Lima tahun lagi, saat pohon-pohon perindangnya membesar, tentu lebih sejuk di mata. Sekarang saja, pemandangan di sekitar pemakaman seluas 500 hektare itu sudah membuat mata enggan berkedip.
Mirip padang golf yang hijau, dengan terasering dan bukit-bukit landai. Dari jauh terlihat bangunan chapel megah perpaduan warna merah bata dan putih. Di sebelahnya berdiri bangunan kokoh menyerupai masjid yang dinamai Heavenly Doom. Seni arsitekturnya mirip Blue Mosque di Turki. Di kiri kanannya terdapat beberapa bangunan yang memiliki warna sama dengan bangunan di sekelilingnya. Terlihat sangat harmoni.
Di balik gedung bergaya Eropa dengan ornamen pilar-pilar tebal itu, ada danau seluas 8 hektare bernama Angeles Lake. Nama Beberapa orang terlihat bermain perahu dayung, diiringi angsa-angsa putih yang kelihatan bayangannya di permukaan air.
Rumput-rumputnya sangat tertata rapi dan terawat. Tidak ada sampah berserakan. Bersih sekali. Pemandangan di San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes ini persis dengan kompleks Forest Lawn Memorial Park di Amerika Serikat yang beroperasi sejak 1917. Memorial Park (taman pemakaman) didesain sangat indah. Jauh dari kesan angker, horor, seram, dan tidak terawat layaknya memorial park selama ini.
Sebelum mengelilingi makam lebih jauh, INDOPOS mampir di kantor pemasaran San Diego Hills. Selanjutnya, ditemani Samuel Junaedy, Sales Manager, INDOPOS bersama ibu-ibu pengajian An-Nisa, Jakarta Timur, mencari ’’rumah masa depan’’ idaman menggunakan mobil Pregio yang muat banyak orang.
Jamaah pengajian An-Nur yang ikut rombongan ini berjumlah tujuh orang. Tapi, dari pengajian itu, sudah ada dua puluh orang yang tertarik ingin dimakamkan di San Diego. Mereka ingin dimakamkan dalam satu kompleks. ’’Kita selama ini bersahabat. Kita ingin persahabatan ini juga tetap abadi di tempat ini,’’ kata Siti Sundari, istri dari pensiunan Pertamina yang tinggal di Rawasari, Jakarta Pusat. ’’Saya juga rencananya mau pesan untuk anak dan cucu saya,’’ lanjut ibu empat anak dan lima cucu ini.
Titik Arini, yang duduk di kursi paling belakang, menambahkan, di antara pengajian ibu-ibu itu memang sudah bersahabat sejak lama. Ada yang teman kuliah, ada pula yang masih ada hubungan saudara. ’’Jadi sekalian lah kita bertemu juga di sini (San Diego, Red),’’ kata wanita kelahiran Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, ini.
Ketika ditanyakan apa tipe makam yang diinginkan, Titik yang dulu pernah kerja di Pertamina dan Chell itu menjawab, ’’Wisdom Mansion’’. ’’Pokoknya Wisdom Mansion. Gimana caranya,’’ sahut Sri Rahayu, wanita kelahiran Jogja, 6-6-1945, yang tinggal di BSD, Serpong, Tangerang.
Ibu-ibu lainnya ketika ditanya juga menjawab sama: ’’Wisdom Mansion’’. Apa istimewanya tipe ini? ’’Desainnya perbukitan. Memiliki jalan berbentuk lingkaran spiral,’’ jelas Sri Rahayu. ’’Itu simbol satu kesatuan alam semesta dalam kekuasaan Tuhan Mas,’’ tukas Titik.
Mobil berjalan melambat karena sedikit menanjak. Mesin menderu-deru lebih seru. Setelah itu berbelok ke kanan. Mobil berhenti di dekat sebuah pohon randu. ’’Kita turun lokasinya di sini ibu-ibu,’’ ajak Samuel yang duduk di kiri sopir sembari membuka pintu. Rombongan pengajian ikut keluar mobil. Di antara mereka sudah tidak sabar ingin melihat-lihat lokasi.
’’Saya ingin yang di dekat pohon ini (randu, Red),’’ kata Sri Widayati, pegawai di Penataan Lingkungan di Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum. ’’Iya lebih adem kalo di sini,’’ lanjut wanita kelahiran 4 Desember 1951 yang tinggal di Warung Buncit Raya 34, Jakarta Selatan, ini.
Samuel hanya tersenyum mendengar permintaan itu. Dia kemudian menjelaskan bahwa di situlah lokasi Wisdom Mansion itu. Wisdom Mansion merupakan salah satu Mansion di area Unity Garden. ’’Unity Garden ini salah satu pilihan dari Five Pillars Garden,’’ terang Samuel.
Five Pillars Garden Five Pillars Garden merupakan Memorial Park yang khusus bagi kaum muslim dengan desain khusus yang menerapkan nilai-nilai Islam dan menciptakan Memorial Park yang teduh, asri, dan sangat jauh dari kesan menyeramkan
ataupun menakutkan. Memorial Park ini dibangun di atas lahan seluas 25 hektare.
Desainnya digarap oleh konsultan yang juga profesor dari Glasgow University jurusan Islamic Studies and Public Understanding, Dr Mona Siddiqui, dan Janet Benton sebagai konsultan lansekap dari Inggris yang sudah berpengalaman. Wisdom Mansion yang sudah diluncurkan sejak 1 Desember 2008 itu sekarang sudah terjual hampir 50 persennya.
Di tengah penjelasannya itu, tiba-tiba Sri Widayati memotong pembicaraan. ’’Pak, bisa nggak makamnya ditambahi bangunan seperti itu,’’ tanya dia sembari menunjuk ke arah Jade Mansion, kluster untuk orang-orang Tionghoa yang dilengkapi bangunan dan juga tempat duduk.
’’Kalau yang ini (Unity Garden, Red) tidak boleh ditambahkan apa-apa,’’ tutur Samuel. Mendengar jawaban itu, wajah Sri terlihat sedikit kecewa. Tak tega melihat wajahnya yang cemberut, teman-teman lainnya mencandai dia. ’’Enak ya. Abis ziarah bisa duduk-duduk dulu,’’ seru Titik yang saat itu mengenakan baju merah. Temannya yang lain menyeletuk. ’’Gak usah pakai kursi gak papa. Yang penting dipasang AC aja biar lebih sejuk,’’ tukas yang lain lalu tertawa terbahak-bahak. ’’Sudah-sudah. Bukan itunya yang penting. Yang penting, usai berziarah, peziarah itu membaca Surat Yasin,’’ kata Satrio Sudiro, suami Titik, pensiunan Kepala Kamar Mesin di Bogasari Maritim, yang juga ingin sekali di makamkan di San Diego.
Setelah meninjau lokasi ’’rumah idaman’’, mereka kemudian melihat lokasi makam yang ada di depannya. Posisinya paling tinggi dibanding lainnya. Keberadaannya sangat mencolok dibandingkan tipe lainnya. Ada tangga berundak yang di kiri kanannya terdapat payung warna cokelat keemasan. Di sayap kanan dan kiri ada lima makam dengan warna senada. Tampak pula tiang berdiameter 60 cm warna cokelat keemasan berdiri kokoh menopang atap transparan. Di sudut areal pemakaman itu, terdapat semacam tugu warna hitam yang di atasnya terdapat mirip bola bumi warna putih berkilau. Di lokasi itu tertulis ERHA. Rumah Peristirahatan Terakhir Keluarga dan Familia.
’’Ini peak of the peak (puncak dari puncak, Red). Luasnya 204 m2. Sangat spesial. Harganya juga spesial. Rp 4,4 miliar. Itu belum termasuk biaya bangunannya. Ini menggunakan tenaga surya,’’ kata Samuel sembari menuju ke tempat tersebut. Siapa yang menghuni makam tersebut? (bersambung)

INDOPOS, Kamis, 28 Mei 2009

~ by ariyanto on 31 May 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: