Klinik Jurnalistik

Oleh:
ARIYANTO

JURNALISTIK SERI I

Menulis itu Mudah, yang Sulit adalah Memulainya

Salah satu hambatan terbesar dalam menulis adalah semangat dan keinginan dari seseorang untuk mulai membuat tulisan. Jadi, hambatan terbesar itu berasal dari diri sendiri. Mungkin, kita sudah punya keinginan untuk menulis sesuatu. Kita sudah memiliki ide untuk ditulis. Tapi, memulainya sulit. Semangat untuk mulai menulis rendah. Akibatnya, sampai kapanpun tulisan itu tidak pernah mulai ditulis.
Apa yang harus dilakukan? Lawan diri kita sendiri! Mulailah menulis, saat ini juga! Sifat-sifat yang harus dilawan adalah:
– Malas
– Tidak percaya diri, sehingga merasa takut tulisannya jelek.
– Merasa bisa menulis, tapi tidak pernah mulai menulis
– Minder, sehingga sejak awal sudah merasa tidak bisa menulis
– Dan berbagai perasaan lain yang muncul dari diri kita.

Karena itu, ayo kita mulai perangi hambatan-hambatan yang membuat kita kesulitan di masa mendatang. Karena dengan terbiasa menulis, segalanya akan bisa kita hadapi lebih mudah. Apa kuncinya?
• Jangan pernah menunda waktu untuk menulis. Begitu Anda punya ide atau tengah memikirkan sesuatu yang menarik, langsung ditulis.
• Apa yang harus ditulis? Apa saja yang sedang Anda pikirkan saat ini!
• Apa kunci sukses membuat tulisan yang baik? Menulis tak bisa lepas dari KEBIASAAN. Jadi, Anda harus benar-benar terbiasa melakukan hal yang satu ini.

Apa maksudnya? Karena menulis adalah kebiasaan, dengan demikian tidak terlalu banyak berpengaruh, apakah Anda punya bakat menulis atau tidak. Yang pasti, karena menulis adalah kebiasaan, dengan demikian:
– Makin sering Anda menulis, makin lancar pula kemampuan menulis Anda.
– Makin sering Anda berlatih menulis, makin baik pula tulisan yang Anda buat.
– Makin sering Anda menulis, makin banyak pula kosa kata yang Anda kuasai. Tulisan juga makin bervariasi.
– Makin sering Anda menulis, makin banyak pula yang ingin Anda ketahui dan makin banyak pula yang ingin Anda baca.

Karena itu, mulailah Anda mengembangkan kebiasaan menulis. Di mana saja, kita bisa menulis. Tidak hanya di komputer. Saat di kantin sekolah dengan coretan-coretan kecil, saat menunggu pesawat di bandara dengan menulis di handphone, ketika mengikuti seminar, saat di kafe, bahkan saaat di mana saja.

Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan menulis. Antara lain, ide atau gagasan Anda bisa lebih mudah disampaikan kepada orang lain. Orang yang membacanya juga lebih mudah memahami gagasan itu. Hasilnya juga akan berbeda jika disampaikan melalui lisan. Selain itu, dengan menulis ide-ide yang kita miliki juga akan terdokumentasi. Ini membantu ingatan juga. Yang terakhir, dengan menulis bisa juga menambah penghasilan. Misalnya, menjadi penulis cerpen di majalah, menulis buku bacaan, menulis artikel di koran dan sebagainya yang bisa menghasilkan pemasukan. (*)

JURNALISTIK SERI 2

Teknik Penulisan Jurnalistik

Ada perbedaan yang sangat mendasar dalam penulisan berita dibanding tulisan fiksi (fantasi) seperti cerpen, opini, puisi, tulisan sastra atau lainnya. Apa perbedaan itu?
– Ada fakta yang harus diungkap
– Menggunakan prinsip 5W 1 H
– Umumnya ditulis dengan metode piramida terbalik
– Bahasanya ringan dan simple

Fakta

Fakta adalah peristiwa yang benar-benar terjadi. Bukan opini atau karangan penulis. Dalam tulisan jurnalistik, fakta tidak boleh tercampur dengan opini maupun imajinasi seseorang. Ini tentu berbeda dengan karya fiksi seperti cerita pendek, artikel, karya sastra atau lainnya yang lebih banyak didasarkan atas pendapat atau imajinasi penulis.

Prinsip 5W + 1H

Prinsip ini merupakan dasar dari penulisan jurnalistik. Artinya, suatu berita harus menjawah pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam prinsip ini.
– What (apa)
– Who (siapa)
– Where (di mana)
– When (kapan)
– Why (mengapa)
– How (bagaimana)

Dengan demikian, dalam mengumpulkan fakta untuk menulis suatu berita seorang wartawan terlebih dahulu harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Apa yang terjadi, siapa yang menjadi sumber atau tokoh utama dari peristiwa itu, di mana peristiwa atau fakta itu terjadi, kapan terjadinya, mengapa peristiwa atau fakta itu terjadi, dan bagaimana peristiwanya.

Piramida Terbalik

Metode penulisan piramida terbalik banyak digunakan dalam tulisan jurnalistik karena menyangkut kaidah-kaidah yang dianut oleh jenis tulisan ini. Metode ini adalah dengan memasukkan fakta-fakta yang paling menarik di bagian awal dari tulisan. Setelah itu, tulisan mulai mengalir ke bagian yang makin tidak penting.
Metode ini digunakan karena beberapa hal. Antara lain untuk menyiasati keterbatasan halaman surat kabar. Dengan metode ini, orang yang membaca berita itu akan menerima fakta-fakta yang paling penting saat awal mereka membaca berita. Ketika berita itu harus dipotong, maka redaktur tinggal memangkas bagian bawah berita yang tidak terlalu penting.
Jenis tulisan ini biasanya hanya berlaku untuk hard news maupun straight news. Sementara untuk tulisan features, biasanya tidak menggunakan metode ini. Karena bagian terpenting dari suatu berita features tidak harus berada pada awal berita. Bisa jadi di bagian tengah, atah bahkan akhir tulisan.

Bahasa Jurnalistik

Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik. Beberapa patokan dalam penulisan jurnalistik
menurut Rosihan Anwar, wartawan senior di tanah air, adalah sebagai berikut:
1. Gunakan kalimat-kalimat pendek
2. Gunakan bahasa biasa yang mudah dipahami orang
3. Gunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya
4. Gunakan bahasa tanpa kalimat majemuk.
5. Gunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif
6. Gunakan bahasa padat dan kuat
7. Gunakan bahasa positif, bukan bahasa negatif (*)

JURNALISTIK SERI 3

Unsur-Unsur Berita

Paling tidak, ada 10 unsur yang membuat suatu peristiwa layak menjadi berita dan menarik minat orang untuk membacanya.
1. Baru
2. Aktual
3. Unik
4. Kedekatan (Proximity)
5. Ketokohan
6. Daya tarik (magnitude)
7. Konflik
8. Ketegangan/dramatik
9. Penting/menyangkut orang banyak
10. Human interest

Baru

Sesuatu yang baru selalu menarik minat orang untuk mengetahuinya. Misalnya, produk handphone terbaru, tren pakaian terbaru, tren rambut terkini, produk otomotif keluaran terbaru, dan sebagainya. Tak hanya itu, gejala sosial maupun peristiwa yang baru pertama kali terjadi juga masuk dalam kategori ini. Seperti bencana tsunami yang terjadi di Aceh dan Sumatera beberapa tahun lalu, merupakan peristiwa luar biasa yang terjadi di abad ini. Juga modus kejahatan terbaru yang terjadi di tengah masyarakat, layak untuk diberitakan.
Unsur baru juga bermakna baru saja terjadi. Dalam era teknologi informasi sekarang ini, makin cepat media bisa menyampaikan suatu peristiwa tentu makin baik. Bencana tsunami yang terjadi di Aceh pada pukul 08.00 langsung bisa diketahui di Jakarta beberapa menit kemudian melalui televisi, radio maupun internet. Media juga berlomba-lomba untuk menyajikan fakta terbaru tentang peristiwa tersebut.
Bagaimana dsengan media cetak? Unsur baru bagi media ini memang berbeda dengan media elektronik. Pasalnya, media cetak dibatasi dengan waktu cetak. Sehingga berita terbaru hari ini baru bisa kita sampaikan kepada pembaca pada keesokan harinya. Namun, hal ini tetap tidak mengurangi makna baru bagi suatu peristiwa yang disampaikan melalui media cetak. Pasalnya, fakta-fakta yang disampaikan melalui media cetak bisa lebih lengkap dengan data-data lain yang tidak terungkapkan melalui media elektronik lain.
Yang berbeda adalah jika peristiwa yang terjadi hari ini, baru kita beritakan dua hari kemudian. Tentu ini sudah menjadi berita yang basi dan tak menarik lagi untuk dibaca oleh masyarakat.

Aktual

Unsur aktual adalah sesuatu peristiwa yang tengah menjadi bahan pembicaraan dan perhatian dari masyarakat banyak. Misalnya, pemilihan kepala daerah di DKI, pemilihan presiden RI, kerusuhan di bulan Mei 1998 dan sebagainya. Berita-berita jenis ini selalu menjadi berita aktual dalam masa tertentu. Ini bisa terjadi selama beberapa hari, beberapa minggu bahkan beberapa bulan sepanjang peristiwa tersebut masih menjadi perbincangan masyarakat luas.

Unik

Hal-hal unik selalu mendapat perhatian dari masyarakat dan menjadi bahan berita yang menarik pula. Tak heran jika berita-berita unik ini kemudian dikumpulkan dalam suatu lembaga seperti Museum Rekor Indonesia (MURI), Guinness Book Record atau lainnya. Berita-berita semacam ini disukai oleh masyarakat karena sifatnya yang berbeda dengan sesuatu pada umumnya. Misalnya, orang tertinggi di Indonesia, rekor orang yang memiliki istri terbanyak, kambing berkaki tiga, dan sebagainya.

Kedekatan (proximity)

Disadari atau tidak, seseorang akan tertarik membaca berita jika dia merasa memiliki kedekatan dengan hal yang diberitakan. Kedekatan itu bisa dalam bentuk kedekatan geografis, atau bisa juga dalam bentuk kedekatan emosi. Contohnya saja, berita tentang perampokan di kompleks rumah kita tentu akan dibaca lebih dahulu ketimbang berita perampokan di kota lain.
Kedekatan dalam bentuk emosi juga memberi dampak yang sama. Misalnya, kasus tewasnya mahasiswa Indonesia dalam insiden penembakan massal di Universitas Teknologi Virginia, beberapa waktu lalu, menimbulkan emosi yang lebih besar dari pada kasus serupa yang tidak menewaskan warga asal negeri kita.
Koran-koran komunitas sangat mengandalkan unsur kedekatan ini dalam mengelola rubrikasi beritanya. Lihat saja, kisah sukses majalan komunitas di Kelapa Gading, Serpong, dan sebagainya. Koran-koran ini sangat mengandalkan unsur kedekatan dalam menyajikan berita-beritanya, agar dibaca oleh masyarakat di daerah itu.

Ketokohan

Ketokohan seseorang sangat menentukan layak tidaknya suatu peristiwa bisa menjadi berita. Panen padi yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih menarik dari pada panen padi yang dilakukan oleh seorang kepala desa, misalnya. Pernyataan yang dilontarkan oleh Gubernur Sutiyoso soal busway, tentu akan lebih menarik ketimbang pernyataan yang sama dilontarkan oleh lurah. Dengan demikian, ketokohan seseorang bisa dilihat dari kadar ketenarannya, pengaruhnya di masyarakat, atau kekhususan lain yang dia miliki.
Namun, nilai ketokohan seseorang juga bisa ditentukan oleh suatu peristiwa. Dalam hal ini, orang biasa pun bisa berubah menjadi tokoh penting akibat peristiwanya yang luar biasa. Misalnya, pilot pesawat Garuda Abdul Rozak yang berhasil mendaratkan pesawatnya di sungai Bengawan Solo, setelah mesin pesawatnya mati. Dalam kasus ini, nama sang pilot langsung menjadi perhatian masyarakat di tanah air maupun dunia, karena kepahlawanannya menyelamatkan ratusan jiwa penumpang pesawat Garuda.
Contoh lain, pembunuh presiden AS John F Kennedy otomatis ngetop namanya begitu peristiwa itu terjadi. Dari seseorang yang bukan siapa-siapa, namanya langsung terkenal di seluruh dunia sebagai tokoh pembunuh presiden.

Daya tarik (magnitude)

Unsur yang satu ini merupakan hal yang utama dalam suatu berita. Jika berita tidak memiliki daya tarik, sudah tentu tidak akan dibaca oleh masyarakat. Daya tarik berita bisa muncul karena sesuatu yang luar biasa, dahsyat, maupun di luar kewajaran. Misalnya, bencana besar seperti tsunami di Aceh dan Medan adalah berita yang sangat luar biasa di abad ini. Hal tersebut tentu menumbuhkan perhatian yang luar biasa pula, tidak hanya dari masyarakat Indonesia tapi juga seluruh dunia.
Selain itu, daya tarik bisa juga muncul dari ketokohan seseorang. Ini banyak terjadi di kalangan artis. Sebab, ke manapun dan apapun yang dilakukan artis, akan menjadi daya tarik tersendiri untuk diberitakan.

Konflik

Pada dasarnya, berita yang baik adalah berita yang mampu mempengaruhi emosi pembacanya. Unsur berita yang paling banyak pengaruh itu biasanya menyangkut peristiwa berbau konflik. Berita-berita semacam ini akan selalu menjadi perhatian dari masyarakat, karena menumbuhkan emosi dalam diri mereka.
Berita-berita konflik misalnya perang antara Iraq-Amerika Serikat, perang Afhganistan dan lainnya. Namun, berita konflik bisa juga muncul dalam berita oleh raga seperti pertandingan sepak bola, bulutangkis, bola basket dan sebagainya. Kaena pada dasarnya, berita olah raga juga masuk dalam kategori berita konflik. Ada pertikaian di sana, ada yang menang dan yang kalah, ada emosi kemenangan dan kekalahan dan sebagainya.

Ketegangan/dramatik

Selain berita-berita konflik, emosi pembaca biasanya juga muncul dalam berita-berita yang mengandung ketegangan. Misalnya, berita pengejaran teroris, penangkapan pentolan teroris Dr Azhari, perburuan gembong teroris Noordin Mohd Top, dan sebagainya. Dalam berita-berita jenis ini, ada dramatik yang dirasakan oleh pembaca. Ada ketegangan yang ikut mereka rasakan.
Jenis-jenis berita lain juga bisa terkait dengan unsur berita ini. Misalnya, berita kecelakaan tenggelamnya kapal Levina 2. Di sini, ada ketegangan dan dramatik yang dirasakan pembaca seperti kisah penyelamatan koran, cerita tentang korban-korban selamat, kisah tragis korban tewas dan sebagainya.

Penting/menyangkut orang banyak

Penting tidaknya suatu berita akan menentukan dibaca atau tidaknya berita itu. Makin banyak orang merasa membutuhkan informasi itu, makin penting pula nilai berita tersebut. Misalnya, berita soal kenaikan bahan bakar minyak tentu akan mendapat perhatian dari masyarakat luas. Berita yang menyangkut kepentingan kelompok tertentu, juga akan mendapat perhatian lebih dari kelompok itu. Sebaliknya, makin sedikit orang yang membutuhkan berita itu, makin tidak penting berita itu.
Dengan makin banyaknya orang yang merasa membutuhkan berita itu, makin besar pula pengaruh berita tersebut. Karena itulah, berita-berita yang menyangkut kepentingan orang banyak biasanya mendapat perhatian khusus dari redaksi.

Human interest

Sisi kemanusiaan seseorang selalu menarik untuk diungkap. Sebab, dari sinilah muncul solidaritas maupun kepekaan sosial dari masyarakat. Berita human interest biasanya mengungkap satu sisi kemanusiaan yang menimbulkan perasan khusus bagi pembacanya. Baik perasaan sedih, gembira, bangga, terenyuh atau lainnya.
Bisa juga, berita human interest menimbulkan kepedulian terhadap sesama. Misalnya, kisah tentang bayi kembar siam yang harus dioperasi, namun orang tuanya tidak mampu. Berita ini bisa jadi menggugah emosi pembacanya untuk ikut membantu meringankan beban orang tua si bayi dengan memberikan sumbangan atau suatu dorongan semangat. (*)

JURNALISTIK SERI 4

Jenis dan Struktur Berita

1. Berbagai Jenis Berita

Secara umum, berita yang disajikan di media massa bisa dikategorikan dalam beberapa jenis.
1. Berita politik/pemerintahan
2. Berita ekonomi
3. Hukum dan kriminal
4. Olah raga
5. Hiburan dan keluarga
6. Pendidikan

Jenis-jenis berita semacam ini lazim ditemui pada media umum. Selain itu, ada pula sejumlah media yang mengkhususkan diri untuk jenis berita tertentu saja. Misalnya, tabloid wanita, koran olah raga, media politik. Bahkan, tren yang berkembang saat ini muncul media yang jauh lebih fokus lagi pada hal-hal tertentu. Misalnya, tabloid khusus penggemar burung, selular, griya, properti dan sebagainya.

2. Struktur Berita

Lazimnya, berita terdiri dari judul, lead (teras berita) dan isi berita. Struktur berita semacam ini harus dikemas dengan baik dan menarik, agar menarik minat orang untuk membaca berita itu. Bagi seorang redaktur, membuat judul maupun lead adalah tahapan yang paling penting.
Apa sebabnya? Karena judul dan lead yang menarik inilah yang bakal menentukan dibaca atau tidaknya suatu berita. Dengan judul yang baik, seseorang akan tertarik membaca berita itu sampaiu tuntas. Sebaliknya, judul yang jelek akan mengurangi minat pembaca untuk mengetahui isi berita tersebut.
Bagaimana membuat judul yang baik?
1. Simpel (kalimatnya sederhana tapi mengena)
2. Smart (cerdas, tidak menggurui)
3. Fokus (mampu menjelaskan isi berita)
4. Bisa menggunakan kata/kalimat yang lagi tren
5. Berirama
6. Kadang nakal
7. Sesekali bombastis

Selain judul, lead yang sangat penting dalam suatu berita. Pasalnya, lead inilah yang menentukan menarik tidaknya suatu berita. Pada dasarnya, lead mempunyai dua fungsi. Pertama, untuk menarik perhatian pembaca. Kedua, sebagai penyambung antara judul, lead dan isi berita. Dengan demikian, lead harus mencerminkan bagian terpenting dari isi berita. Lead juga harus mampu menjawab berbagai pertanyaan yang terkandung dalam prinsip 5W + 1H
Bagaimana membuat lead yang baik? Bisa dilihat dari sisi mana bagian berita itu yang paling penting. Apakah dari sisi who (siapa), what (apa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa terjadi) atau how (bagaimana).
Lead dengan awalan who harus dilihat seberapa kuat ketokohan sumber berita. Misalnya:
Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan gedung tertinggi di Asia Tenggara, kemarin.
Dalam lead di atas, wakil presiden memiliki ketokohan yang sangat kuat untuk ditampilkan dalam lead berita. Berbeda halnya jika yang kita tulis adalah orang biasa. Kita tidak mungkin menonjolkan sisi who jika yang menjadi sumber berita adalah pengemudi bajaj, misalnya.
Lead berita dengan awalan what biasanya digunakan jika peristiwanya begitu menonjol. Misalnya:
Kecelakaan hebat terjadi di ruas tol Kebon Jeruk-Meruya, Minggu dini hari. Bus Lorena bernopol B 8686 OK menghantam truk yang tengah berhenti di badan jalan. Akibatnya, 4 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Pada lead di atas, yang ditonjolkan adalah peristiwanya. Unsur what-nya. Karena unsur inilah yang paling menonjol dalam insiden itu.
Sedangkan berita dengan awalan where bisa kita gunakan jika peristiwanya terjadi di suatu tempat yang memang sudah banyak dikenal. Misalnya:
Jakarta diguncang gempa 7 skala Richter (SR), Kamis dini hari. Peristiwa ini spontan membuat ratusan ribu warga panik, terutama mereka yang tengah berada di gedung-gedung tinggi.
Untuk lead yang diawali dengan unsur when biasanya digunakan untuk menegaskan kapan peristiwa itu terjadi. Contohnya adalah:
Kemarin, ribuan warga Jakarta turun ke jalan untuk merayakan hari lahir kota ini yang ke 459.
Selanjutnya, lead yang diawali dengan why biasanya digunakan untuk membeberkan penyebab dari suatu peristiwa. Misalnya:
Kelalaian pilot diduga menjadi penyebab jatuhnya pesawat Garuda Indonesia GA 405 yang jatuh di bandara Adisucipto Jogjakarta, minggu lalu.
Terakhir, lead yang diawali dengan unsur how biasanya digunakan untuk memperkuat suasana yang terjadi dalam suatu peristiwa. Ini bisa dilihat dari lead seperti di bawah ini:
Tangis histeris mewarnai kedatangan jenasah artis sinetron dan pelawak terkenal Taufik Savalas di kediamannya, kemarin pagi.
Setelah membuat lead, proses penulisan isi berita biasanya jauh lebih mudah. Karena dalam isi berita kita tinggal memaparkan peristiwa yang terjadi secara kronologis. (*)

~ by ariyanto on 16 May 2009.

One Response to “Klinik Jurnalistik”

  1. Tulisan Jurnalistik semakin berevolusi. Ia tidak selalu mengikuti piramida terbalik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: