Selamat Jalan Claudia…..

Oleh Ariyanto

Bayi Claudia Kristania, 3, akhirnya menghembuskan napas terakhir di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta Barat, (9/1/2009). Penderita kelainan jantung bawaan itu meninggal karena pendarahan batang otak.
Pasangan Toto Rudiyanto, 35, dan Putraningsih, 35, hanya bisa pasrah. Mereka terpaksa menelan pil pahit saat mendengar kabar putri kedua mereka dinyatakan meninggal. ’’Saya diberitahu tim dokter, anak saya meninggal pukul 15.30,’’ ungkap Toto di Kamar Jenazah RS Jantung Harapan Kita.
Toto mempunyai firasat buruk ketika tim dokter mencopoti alat bantu pernafasan yang melekat pada tubuh Claudia di Ruang ICU anak. ’’Tapi tidak ada penjelasan kenapa peralatan itu dilepas,’’ ungkap pria yang berprofesi pelaut itu.
Ningsih, panggilan akrab istri Toto, itu juga sangat terpukul. Sejak Claudia dikabarkan meninggal, dia tak henti-hentinya menangis. Namun kesedihan pasangan asal Cilacap, Jawa Tengah, itu selalu diredam saudara-saudaranya.
Di saat detik-detik terakhir, banyak sanak saudara dari Jawa yang berdatangan sejak dikabari peralatan Claudia dicopoti dokter. ’’Kamu yang sabar ya. Terima kenyataan dengan ikhlas,’’ ungkap salah seorang saudaranya. Ningsih hanya mengangguk sembari berusaha tersenyum.
Tak lama kemudian, sebuah ambulans tiba-tiba bergerak mundur. Kedua pintu belakang dibuka. Disusul beberapa orang mengangkut peti jenazah berukuran mini dari dalam kamar jenazah.
Peti itu berisi jenazah Claudia. Almarhum rencananya dimakamkan di Cilacap. ’’Kami semayamkan dulu satu hari di rumah, keesokan hari baru kami kuburkan,’’ tegas Toto. Meski akhirnya menerima kenyataan dan ikhlas dengan kepergian putri keduanya, dia menilai kejadian itu akibat kelalaian tim dokter RS Jantung Harapan Kita.
Namun dia tidak akan menuntut. Dia hanya berharap, dokter setempat bisa evaluasi diri dan belajar lebih profesional lagi. ”Ya semoga peristiwa (kelalaian) ini tidak akan terulang pada pasien yang lain,” ujarnya berharap.
Lalu seluruh rombongan itu bertolak ke Cilacap. Penilaian Toto itu entah benar atau tidak. Mungkin dia hanya melihat dari kacamata awam. Sebab, menurut dia, Claudia menjalani tiga kali operasi berturut-turut di RS Jantung Harapan Kita.
Pada operasi pertama menunjukkan kemajuan dan bisa pulang. Saat itu Claudia bisa aktif bermain dengan teman-temannya. Tetapi justru operasi yang terakhir membuat balita itu koma hingga akhirnya meninggal. Operasi pertama pada November 2007 di RS Harapan Kita. Yaitu berdasarkan rujukan dari RS setempat. Claudia divonis mengidap penyakit jantung bawaan (PJB) bernama Tetralogi of Fallot (TOF). Dikenali dengan gejala tubuh anak membiru.
Yang paling tampak yaitu warna kebiruan pada kuku dan bibir. Penyebabnya adalah darah yang mengalir di badan penderita didominasi oleh sel darah merah dengan kandungan oksigennya rendah.
TOF merupakan kombinasi dari empat macam kelainan jantung. Pertama, Ventrricular Septal Defect (VSD) atau terdapat lubang pada sekat bilik jantung. Kedua, Stenosis Pulmunalis, yaitu katup pulmonal menebal dan sempit, sehingga tekanan pada bilik kanan meningkat berakibat otot-otot bilik kana menebal. Kondisi ini berpotensi gagal jantung kanan karena bilik kanan tidak mampu memompa cukup darah ke paru-paru.
Ketiga, aorta (Ao) mengangkang. Aorta merupakan pembuluh darah utama yang mengalirkan darah segar (darah bercampur oksigen) dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh. Keempat, penebalan otot dinding bilik kanan disertai penyempitan katup pulmonal.
Darah kotor, yaitu darah yang kadar oksigennya rendah, seharusnya dipompa oleh bilik kanan ke paru-paru untuk disegarkan kembali tetapi terganggu. Penyempitan katup pulmonal mengakibatkan darah kotor masuk ke aurta melalui lubang pada sekat bilik jantung (VSD).
Akibatnya, darah dari jantung yang diedarkan ke seluruh tubuh mengandung banyak darah kotor. Warnanya adalah merah gelap. Tetapi pasien akan tampak kebiruan terutama pada bibir dan kuku.
Operasi untuk kondisi TOF dilakukan setelah usia 1 tahun. Kadang-kadang perlu dilakukan operasi secara bertahap. Pada tahap pertama berupa pemasangan pembuluh buatan antara aorta atau cabangnya ke arteri pulmonalis agar aliran darah menuju paru-paru bertambah.
Operasi pertama Claudia dilakukan untuk menormalkan oksigen dalam darah. Lalu dirawat di ICU satu malam setelah dioperasi empat jam. Kondisinya terus membaik. Selanjutnya, Claudia disuruh rawat jalan di RS Sardjito, Jawa Tengah.
Awalnya dua minggu sekali lalu sebulan sekali, menjadi dua bulan sekali, dan terakhir tiga bulan sekali. Setelah benar-benar dalam kondisi sehat, Claudia disuruh pihak RS Sardjito operasi yang kedua kalinya di RS Harapan Kita.
Claudia dapat jadwal operasi pada 19 November. Tapi karena ICU penuh, operasi diundur 9 Desember 2008. Pada operasi pertama, kata Putraningsih, hasilnya masih belum stabil karena tekanan darahnya masih rendah. Dia harus menjalani operasi yang kedua kalinya pada 10 Desember karena masih ada penyempitan di pembuluh darah.
Namun, setelah operasi kedua, justru terjadi pendarahan besar-besaran. Karena itu, cerita Putraningsih, perlu dilakukan operasi yang ketiga kalinya pada 11 Desember. Hasilnya, Claudia koma.
Dalam perawatan di ICU, sempat terpantau kondisinya membaik. Sebab Claudia bisa mengeluarkan urine dari organnya bukan dari alat bantu. Itu diklaim menunjukkan kerja organ-organ meulai membaik.
Namun dalam perkembangannya justru memburuk. Direktur Pelayanan RS Jantung Harapan Kita, Anna Ulfah Rahayoe SP JP, mengatakan faktor utama penyebab kematian pada Claudia adalah pendarahan di batang otak. Itu tak lain karena efek komplikasi jantung Claudia yang membuat tekanan darah ke otak rendah.
Salah satu faktornya karena terjadi pelengketan, yaitu tumbuh otot berlebih pada bekas luka operasi pertama. Maka dalam salah satu operasi, dokter membuang pelengketan itu. Penyakit jantung bayi tersebut memang kompleks.
Bahkan ada varian-varian selain kelainan pada jantung. Varian itu antara lain pembuluh darah ke paru-paru kecil. Salah satu operasi yang dilakukan juga meningkatkan ukuran pada pembuluh darah tersebut.
Ditanya apa benar dokter lalai dalam menangani kasus Claudia, Anna membantah. ’’Kami sudah melakukan seluruhnya sesuai prosedur. Setiap langkah yang dilakukan, kami juga selalu memberikan informasi kepada orang tuanya,’’ tegasnya.
Menurut Anna, pihaknya menangani 140 kasus TOF dalam setahun belakangan ini. Dari sekian kasus tadi, lima kali pasien meninggal. Salah satunya adalah Claudia. (*)

~ by ariyanto on 18 January 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: