Puasa Mencetak Birokrat Unggul

Oleh Ariyanto

Belum lama ini penulis mewawancarai Dirjen Bea dan Cukai, Departemen Keuangan, Anwar Supriyadi, di kantornya, sekaligus mengambil barang-barang selundupan yang disita direktorat jenderal tersebut untuk film pendek berjudul ’’Wajah Birokrasi Indonesia.’’
Pada kesempatan itu, Anwar menceritakan kondisi di kantor Bea dan Cukai yang tak kunjung membaik. Pada awal menjabat pada 2006, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (2001) ini pernah mengganti 600 pegawai di kantor Bea dan Cukai yang diduga tidak bersih dengan anak-anak muda pintar dan bermoral.
Namun, upaya reformasi birokrasi itu ternyata hanya berjalan sesaat. Setelah sempat bersih, tak lama kemudian praktik kotor kembali marak. Karena itulah, Anwar minta bantuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan operasi sapu bersih di instansinya. Hasilnya, KPK menemukan sejumlah amplop berisi uang suap ratusan juta saat operasi mendadak di kantor Bea Cukai, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Anwar tidak habis pikir mengapa besarnya gaji dan remunerasi yang diberikan kepada mereka tak menjamin hilangnya praktik-praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) dan peningkatan kinerja?
Tentu saja ini bukan satu-satunya kasus. Reformasi birokrasi yang katanya dimulai di Departemen Keuangan (Depkeu), Mahkamah Agung (MA), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Kepolisian, dan Kejaksaan Agung ternyata juga tak lepas dari permasalahan KKN walaupun kesejahteraan sudah ditingkatkan.

Puasa dan Integritas Birokrat

Hampir setiap mencuat kasus KKN yang dilakukan para birokrat ataupun pejabat, biasanya kita mengaitkan dengan krisis integritas. Tidak salah memang. Sebab, jika integritasnya buruk, sebesar apa pun gaji yang diberikan dan seketat apa pun pengawasan yang dilakukan, mereka akan berusaha mencari celah dan kesempatan. Sebaliknya, jika integritasnya bagus, mereka akan tetap lurus meskipun gajinya kecil dan pengawasannya lemah. Apa itu integritas?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002: 437), integritas berarti sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan, kejujuran. Ada pun menurut Oxford Dictionary, 1999, integritas atau integrity berarti kualitas dalam menganut prinsip-prinsip moral.
Lalu, apa relevansi integritas birokrat dengan puasa? Puasa (shoum) yang juga diwajibkan kepada umat sebelum nabi Muhammad SAW bertujuan mencetak orang bertakwa. Ini termaktub di dalam QS Al-Baqarah: 183 yang berbunyi: ’’Yaa ayyuhalladziina amanu kutiba ’alaikum shiyaamu ka maa kutiba ’alalladziina min qoblikum la’allakum tattaquun’’. Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang bertakwa’’.
Kata takwa berasal dari bahasa Arab waqoo, yaqii, wiqooyatan, yang bermakna menjaga. Dengan demikian, orang yang bertakwa berarti mampu memelihara jasmani dan rohaninya dari niat, pikiran, dan perbuatan yang tidak sesuai kehendak Tuhan. KKN jelas bertentangan dengan keinginan Tuhan karena Tuhan melarang hamba-Nya berkonspirasi dalam perbuatan dosa dan permusuhan. ’’Wa ta’aawanu ’alal birri wattaqwa walaa ta’awanu ’alal itsmi wal ’udwan.’’ (QS Al-Maidah: 2)
Puasa bisa mencetak birokrat yang berintegritas karena esensi dari puasa adalah pengendalian diri. Tidak saja menahan diri dari perbuatan yang dilarang Tuhan, tetapi juga terhadap sesuatu yang dihalalkan. Contohnya adalah makan, minum, dan berhubungan suami-istri. Meski termasuk perbuatan halal, tapi saat puasa kita dilarang melakukannya hingga tiba waktu berbuka puasa. (QS Al-Baqarah: 187). Mafhum muwafaqoh-nya, jika yang halal saja disuruh mengendalikan diri, apalagi perbuatan yang jelas-jelas diharamkan seperti suap, korupsi, dan mesum.
Puasa bisa mencetak birokrat yang berintegritas karena puasa melatih kejujuran. Buktinya, mereka yang berpuasa tidak mau makan atau minum meskipun berada di dalam kamar seorang diri. Sebab, Tuhan selalu menyertainya di manapun kita berada. (wallohu ma’akum ainamaa kuntum). Inilah prinsip ma’iyyatullah atau kebersamaan dengan Allah.
Dengan ma’iyyatullah, maka segala pikiran dan perbuatan manusia akan selalu diawasi Tuhan/muroqobatullah (QS 50:18) dan membangkitkan sifat ihsan yaitu beribadah kepada Tuhan setiap saat. Jika dia seorang birokrat, maka dia senantiasa bekerja dengan sungguh-sungguh dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, ada atau tanpa pengawasan karena sesungguhnya ia senantiasa diawasi Tuhan. Dengan mai’yyatullah, maka seorang birokrat harus disiplin, bekerja sesuai koridor hukum dan menyelesaikan tugas tepat waktu.
Puasa juga bisa melahirkan birokrat yang responsif. Sebab, dengan puasa, akan mengasah kepekaan sosial kita terhadap mereka yang kurang mampu (mustadh’afin) karena kita telah merasakan betapa tidak enaknya jika perut dalam keadaan lapar.
Inilah ciri-ciri yang harus dimiliki seorang birokrat unggul. Punya integritas, berdisiplin, dan responsif. Ini semua bisa tercipta jika kita melakukan puasa dengan sepenuh iman dan dilandasi dengan ilmu. (*)

Indo Pos, 28 September 2008

~ by ariyanto on 18 January 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: