Oh Claudia, Nasibmu…..

Oleh Ariyanto

Claudia Kristania, Balita Tiga Kali Operasi Berturut-turut yang Kini Koma (1)
Jaringan Otak Sembab, Ortu Berharap Mukjizat

Balita perempuan berusia dua tahun, Claudia Kristania Putranto, hingga tadi malam masih koma di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta Barat. Bocah malang ini sudah menjalani tiga kali operasi dalam tiga hari berturut-turut sejak Selasa (9/12). Bagaimana peluang sembuhnya?
Anak kedua pasangan Toto Rudiyanto, 35, dan Putraningsih, 35, hingga tadi malam masih koma di Ruang ICU lantai 8, Gedung 2, RS Jantung Harapan Kita. Claudia, begitu kedua orangtuanya memanggil, masih tergolek antara hidup dan mati. Sebagian tubuhnya ditutup selimut putih agak kusam. Kepalanya yang berbantal selimut itu dalam posisi sedikit miring ke kiri. Hidung, mulut, dan dadanya dipenuhi selang. Rambutnya yang pendek tidak tersisir itu dikuncir menggunakan gelang karet kuning. Pernapasannya tergantung pada alat bantu dan dipantau melalui monitor tak jauh dari tempat tidurnya.

Putraningsih, ibu Claudia, yang selama ini setia menunggu di rumah sakit, hanya termangu di sebelah tempat tidur anaknya. Tubuhnya yang agak kurus terlihat lemas. Keletihan tergurat jelas dari raut mukanya. Tatapan nanar tertuju pada wajah anak yang dilahirkan pada 5 Oktober 2006 silam. Dia hanya diam seribu bahasa di samping sang buah hati.
’’Kondisi kritis ini dialami Claudia setelah menjalani tiga kali operasi dalam tiga hari berturut-turut. Kalau tahu begini, kita gak bawa dia (Claudia) untuk dioperasi lagi,’’ kata Putraningsih dengan suara lirih kepada Indo Pos setelah keluar dari ruang ICU kemarin.
Wanita asal Cilacap, Jawa Tengah, itu menyesal anaknya dioperasi lanjutan. Sebab, sebelumnya, buah hatinya itu dalam kondisi sehat wal afiat setelah operasi pertama pada November 2007 di RS Harapan Kita, Jakarta Barat. ’’Claudia senang bermain-main dengan kakaknya, Claudios, 4 tahun. Bercanda-canda,’’ ujar dia sembari menunjukkan foto Claudia bermain dengan kakaknya yang ada di handphone kepada saya.
Sebelumnya, Claudia memang sempat dioperasi di RS Harapan Kita. ’’Kata Dr Pribadi, salah satu dokter yang menangani operasi kala itu, operasi dilakukan untuk menormalkan oksigen dalam darah,’’ tutur Putraningsih.
Claudia sempat dirawat di ICU satu malam setelah dioperasi empat jam. Setelah dirawat lima hari di sana, kondisinya bagus. ’’Saya sangat senang meski sudah mengeluarkan biaya operasi dan perawatan Rp 27 juta,’’ tutur Putraningsih.
Selanjutnya, Claudia disuruh rawat jalan di RS Sardjito. Awalnya dua minggu sekali lalu sebulan sekali, menjadi dua bulan sekali, dan terakhir tiga bulan sekali. Setelah benar-benar dalam kondisi sehat, Claudia disuruh pihak RS Sardjito operasi yang kedua kalinya di RS Harapan Kita. Claudia dapat jadwal operasi pada 19 November. Tapi karena ICU penuh, operasi diundur 9 Desember 2008.
Pada operasi pertama, kata Putraningsih, hasilnya masih belum stabil karena tekanan darahnya masih rendah. Dia harus menjalani operasi yang kedua kalinya pada 10 Desember karena masih ada penyempitan di pembuluh darah. Namun, setelah operasi kedua, justru terjadi pendarahan besar-besaran. Karena itu, cerita Putraningsih, perlu dilakukan operasi yang ketiga kalinya pada 11 Desember. Hasilnya, Claudia hingga kini masih koma. Hingga hari ini, berarti Claudia sudah delapan hari koma.
’’Hasil CT-scan kemarin, masih ada pembengkakan otak Mas. Hingga sekarang masih koma. Mudah-mudahan mukjizat,’’ kata Putraningsih kepada Indo Pos tadi malam melalui short message service (SMS). ’’Saya hanya ingin kesembuhan anak saya, tidak peduli saya sekarang sudah mengeluarkan biaya Rp 85 juta lebih,’’ tegas dia.
Kepala Bedah Cardiovascular RS Jantung Harapan Kita Dr Maizul Anwar membantah jika pihaknya melakukan malapraktik terhadap Claudia. Sebab, kata dia, seluruh tindakan operasi dilakukan sudah sesuai prosedur baku.
Menurut Maizul, Claudia mengalami kelainan jantung dengan istilah tetralogi valot. Ditemukan fungsi tak wajar pada kedua arteri pangkal jantung, yaitu penyempitan di pulmonelis dan perputaran aliran darah pada inominata.
Dengan begitu fungsi jantung tidak bekerja normal. Darah yang seharusnya keluar dari bilik jantung kanan menjadikannya sedikit berputar. ’’Tubuh pasien membiru,’’ ungkap Maizul kepada saya kemarin.
Berdasarkan kondisi tersebut, tim dokter bedah melakukan tiga kali operasi. Yang pertama dilakukan ketika Claudia datang pertamakali pada November 2007. Dokter melebarkan arteri pulmonalis. Setelah itu pasien mengalami kemajuan. ’’Biru-biru pada tubuhnya bisa berkurang,’’ ungkapnya.
Hingga akhirnya pasien diperbolehkan pulang. Tetapi Claudia harus kembali datang untuk menjalani kontrol kesehatan. Hingga Claudia bersama kedua orang tuanya datang lagi setahun kemudian. Dokter melakukan pemeriskaan katetarisasi.
Hasilnya, dokter perlu melakukan operasi koreksi sebagai lanjutan operasi yang pertama. Namun rupanya hasilnya tidak sesuai harapan. Maka dokter sekali lagi melakukan total operasi pada jantung Claudia.
Menurut Maizul, tindakan total operasi itu dilakukan untuk membuang penebalan otot pada bekas sayatan operasi yang pertama. Tepatnya pangkal arteri pulmonelis. Selain itu, jantung Claudia dikatakan penuh cairan lengket. Maka dokter juga membuang cairan lengket itu.
Dilakukan pula penambalan kebocoran pada sekat jantung kanan. Setelah operasi selesai, pasien dirawat di ruang ICU untuk disadarkan. Namun dalam perkembangannya pasien masih belum sadar juga. Maizul mengakui bahwa kondisi tersebut di luar dugaan. ’’Itu yang dikatakan koma, kami menilainya pasien belum sadar,’’ terang Maizul. Bagaimana peluang sembuh Claudia? (bersambung)

Claudia, Balita Tiga Kali Operasi Berturut-turut yang Kini Koma (2-Habis)
Masih Koma, tapi Mulai Bisa Kencing

Kondisi Claudia Kristania Putranto, 2, penderita Tetralogi of Fallot (TOF), masih koma di Ruang ICU RS Jantung Haparan Kita, Jakarta Barat. Balita malang ini sudah tergolek lemah antara hidup dan mati sejak Selasa (9/12) lalu. Namun demikian, kondisi bayi asal Cilacap, Jawa Tengah, itu menunjukkan perkembangan positif.
’’Claudia memang belum sadar, tetapi detak jantungnya mulai menuju ke normal. Pernapasannya juga bertambah lancar. Dia juga bisa kencing sendiri. Ini menunjukkan organ-organnya bekerja dengan baik,’’ ungkap salah seorang sumber di Humas RS Jantung Harapan Kita yang namanya tidak mau dikorankan.
Hingga kemarin, belum ada tindakan tertentu oleh tim medis selain memonitor kondisi kesehatan Claudia. Menurut dia, pihak RS Jantung Harapan Kita optimistis Claudia akan terus mengalami kemajuan. ’’Kasus seperti ini sudah sering ditangani dan sangat banyak pasien yang berhasil diselamatkan oleh kita,’’ ungkapnya.
Dikatakan, Claudia yang koma bukan karena kecerobohan dokter. Apalagi dikatakan malapraktik. Sebab, tim dokter yang menangani sudah berpengalaman puluhan tahun di bidangnya. ’’Saya yakin, tidak ada niat sama sekali untuk mencelakakan. Apapun yang dilakukan dokter merupakan upaya terbaik,’’ ungkapnya.
Kasus Claudia memang sempat menimbulkan spekulasi dugaan malapraktik oleh tim dokter RS setempat. Sebab, Claudia mengalami tiga kali operasi. Bahkan, menurut versi orangtua Claudia, buah hatinya itu sempat operasi empat kali di tempat yang sama. Operasi pertama pada November 2007. Operasi kedua pada 9 Desember. Operasi ketiga pada 10 Desember. Dan, operasi keempat pada 11 Desember. Pada operasi lanjutan setelah operasi yang pertama pada November 2007, pasien justru koma.
Orangtua Claudia, Toto Rudiyanto, 35, dan Putraningsih, 35, menduga perdarahan setelah operasi pertama pada 9 Desember karena ada dokter yang lupa menutup pembuluh darah Claudia. ’’Ada salah satu dokter yang memberi tahu kami,’’ kata Toto kepada Indo Pos yang menemuinya di lantai satu gedung 2 RS Jantung Harapan Kita, Minggu, (14/12). ’’Iya Mas. Masak masuk sehat, setelah dioperasi malah koma,’’ tukas Putraningsih.
Ketika saya mendatangi RS Jantung Harapan Kita untuk mengetahui langkah langkah dokter selanjutnya untuk menyelamatkan Claudia, kemarin, staf humas setempat, Bertha Kala Lembang, mengatakan seluruh dokter rapat kerja selama dua hari berturut-turut. Kepala Bedah Cardiovascular RS Jantung Harapan Kita Dr Maizul Anwar yang dihubungi via handphone-nya juga tidak mau mengangkat. Di SMS juga tidak membalas.
Di tempat terpisah, mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Sukman Tulus Putra Sp.A(k) menilai bahwa penyakit jantung bawaan yang dialami oleh seorang anak merupakan hal biasa. Pasalnya dalam tiap seratus kelahiran, maka kemungkinan akan ada satu anak yang mengalami penyakit jantung bawaan.
’’Saya memahami kondisi tersebut, namun saya tidak tahu secara pasti kondisi si anak tersebut. Tapi saya ikut prihatin,’’ tandas Sukman. Pasalnya, menurut Sukman, biaya pengobatan untuk penyakit jantung apalagi sampai tahap operasi, membutuhkan biaya cukup mahal.
Dirinya hanya berharap agar ada bantuan dari para dermawan untuk membantu meringankan biaya pengobatan yang dialami Claudia. ’’Diharapkan ada efektivitas bantuan bagi kondisi yang dialaminya,’’ tambah Sukman. Sukman berharap agar tim dokter yang bekerja menangani Claudia tetap fokus dan maksimal. Media juga harus memberikan pemberitaan yang berimbang. Apa sebenarnya penyakit jantung Tetralogi of Fallot (TOF) itu?
Pasien Claudia menderita salah satu jenis penyakit jantung bawaan (PJB) yang disebut TOF. PJB ini paling banyak kasusnya. Dikenali dengan gejala tubuh anak membiru.
Yang paling tampak yaitu warna kebiruan pada kuku dan bibir. Penyebabnya adalah darah yang mengalir di badan penderita didominasi oleh sel darah merah yang kandungan oksigennya rendah.
TOF merupakan kombinasi dari empat macam kelainan jantung, Pertama, yaitu Ventrricular Septal Defect (VSD) atau terdapat lubang pada sekat bilik jantung. Kedua, Stenosis Pulmunalis, yaitu katup pulmonal menebal dan sempit, sehingga tekanan pada bilik kanan meningkat berakibat otot-otot bilik kana menebal. Kondisi ini berpotensi gagal jantung kanan karena bilik kanan tidak mampu memompa cukup darah ke paru-paru.
Ketiga, aorta (Ao) mengangkang. Aorta merupakan pembuluh darah utama yang mengalirkan darah segar (darah bercampur oksigen) dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh. Keempat, penebalan otot dinding bilik kanan disertai penyempitan katup pulmonal.
Darah kotor, yaitu darah yang kadar oksigennya rendah, seharusnya dipompa oleh bilik kanan ke paru-paru untuk disegarkan kembali tetapi terganggu. Penyempitan katup pulmonal mengakibatkan darah kotor masuk ke aurta melalui lubang pada sekat bilik jantung (VSD).
Akibatnya, darah dari jantung yang diedarkan ke seluruh tubuh mengadung banyak darah kotor. Warnanya adalah merah gelap. Tetapi pasien akan nampak kebiruan terutama pada bibir dan kuku.
Operasi untuk kondisi TOF dilakukan setelah usia 1 tahun. Kadang-kadang perlu dilakukan operasi secara bertahap. Pada tahap pertama berupaa pemasangan pembuluh buatan antara aorta atau cabangnya ke arteri pulmonalis agar aliran darah menuju paru-paru bertambah. (*)

Indo Pos, 16 Desember 2008

~ by ariyanto on 28 December 2008.

2 Responses to “Oh Claudia, Nasibmu…..”

  1. Untuk Putraningsih & keluarga, yg tabah & sabar ya..mukjizat Tuhan selalu ada untuk kita semua yg beriman.
    Semoga nanda Claudia segera diberi kesembuhan & kesehatan, kita semua turut mendo’akan.

  2. Claudia Senasib dengan anak saya. Hanya, anak saya sampai sekarang belum dioperasi karena masalah biaya. Adakah yang bisa membantu Kkmi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: