Kambing yang Nggak Bikin Kenyang

 

 

Oleh

Ariyanto

 

Saat lewat di depan restoran Al-Jazeerah, lokasinya di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, mendadak saya menghentikan kendaraan. Penasaran nama restoran ini. Al-Jazeerah, nama yang sudah tidak asing lagi di telinga. Al-Jazeerah yang secara leksikologi berarti kepulauan ini biasanya diletakkan di depan kata Al-Arabiyah. Hanya saja bacaannya tidak menggunakan e, tapi i, yaitu Al-Jaziirah Al-Arabiyah. Al-Jazeerah juga nama media terkemuka yang ada di Saudi Arabia.

Tapi dalam hati saya bertanya-tanya. Mengapa restoran ini menggunakan nama Al-Jazeerah? Apakah masih ada keturunan dengan Al-Jaziirah Al-Arabiyah? Atau mungkin masih ada hubungan darah dengan stasiun televisi Al-Jazeerah? Ah, jangan-jangan itu hanya nama. Nggak ada hubungan persaudaraan sama sekali dengan yang saya sebut sebelumnya. Lalu, kalau nggak ada hubungannya, mengapa dari luar tampak seperti bernuansa Timur Tengah? Ada tulisan Arabnya pula. Mungkin ini restoran Arab yang sengaja menggunakan nama yang sudah beken. Ah, daripada menebak-nebak, mending saya masuk. Penasaran juga dengan banyaknya mobil mewah yang diparkir di depan.

Memang benar, nuansa Timur Tengah langsung terasa begitu menapakkan kaki pertamakali. Di front office terbentang bendera nasional Saudi Arabia yang bergambar pedang bersilang.

’’Assalamu’alaikum.’’ Begitulah kalimat yang terlontar ketika pertamakali masuk ke restoran Al Jazeerah. Pramusaji yang berseragam merah muda dan berjilbab itu membawa para tamu ke meja yang ada di ruang tengah. Ramah dan juga cantik. Ngomong-ngomong, kok pramusaji nggak bernuansa Timur Tengah juga ya? Masih produk lokal. Hehehehe.

Pada bulan Ramadan ini, saya diberikan dua pilihan apakah menyantap makanan sesuai pesanannya sendiri ataukah menyantap makanan yang sudah disediakan di meja tengah. Selain makanan berat, pada masa bulan puasa ini juga menyediakan kolak, es campur, dan jus jeruk hingga air zamzam asli Saudi Arabia untuk pembuka puasa.

Menurut Supervisor Restoran Al Jazeerah Mahyudin, menu favorit yang kerap digandrungi pelanggan adalah nasi Mandi. Nasi ini sangat spesial karena dioven bersama daging kambing. ’’Karena dioven secara bersamaan, kaldu dari daging tersebut menetes dan membumbui nasi di bawahnya,’’ ujar dia. Untuk nasi Mandi ini, banyak digemari pelanggan karena nasinya menjadi gurih dan nikmat.

Ya ya. Dari penjelasannya jadi pengin juga mencoba bagaimana sih rasanya nasi Mandi itu. Bagaimana sih wujudnya setelah ’’mandi’’? Wangi kali ya? Wah-wah makin ngaco saja.

’’Saya pesan nasi Mandi saja Pak!’’ Setelah menunggu beberapa menit, nasi yang ditunggu-tunggu tiba juga. ’’Silakan Pak,’’ kata pramusasji sambil membukakan tudung penutup. Hmmmm….begitu dibuka, aroma itu langsung menggugah selera makan saya.

Waooow, ini toh namanya nasi Mandi itu. Tidak ada yang berbeda dengan nasi lainnya kok. Warnanya putih. Eh, sebentar-sebentar, bentuknya kok lebih panjang ya? Oh, iya. Bentuknya lebih panjang… Saya cobalah nasi itu. Saya makan begitu saja, tanpa campuran apa-apa. Khawatir rasanya terganggu dengan lainnya. Hmmm, mak nyus….ueeenaaak tenaaan. Guriiiih. Setelah itu saya mencoba daging kambingnya. Wuiih, kirain alot, ternyata dagingnya empuk. Pokoknya nggak keluar energi banyaklah ketika menyantapnya. Gurih juga. Tidak bau kambing lagi. Ya memang, wong habis mandi. Ha…ha..ha…

Lap…lep….lap…lep. Tiada terasa nasi Mandi di hadapan saya sudah habis. Nambah nggak ya? Habis satu piring masak masih nambah. Kata Nabi Muhammad, nggak boleh lo makan terlalu kenyang. Iya, tapi kan saya belum kenyang. Ya sudah saya akhirnya pesan satu porsi lagi. Lap…lep….lap….lep. Habis juga nasi dan kambing ronde kedua ini. Tapi ni perut kok nggak kenyang-kenyang ya? Masak harus nambah satu porsi lagi? Sudah dua piring nehh…

Selain nasi Mandi, Mahyudin juga mengatakan, bahwa menu favorit kedua adalah Magodim Soup atau Sup Magodim. Sup ini terdiri atas potongan kaki kambing muda yang dicampur resep khusus dari Saudi Arabia. ’’Rempah dari resep khusus ini bila dimakan menimbulkan efek hangat di tubuh,’’ tukas Mahyudin.

Selain dua menu favorit di atas, Al Jazeerah juga menyuguhkan menu ketiga yaitu Mix Grilled Al Jazeerah. Menu ini merupakan campuran dari Kebab dan daging iga serta udang yang dibakar secara bersamaan. ’’Kami sajikan dengan ditambah kentang goreng dan salad,’’ tutur Mahyudin.

Ke semua menu ini menjadi lengkap karena nasi yang menjadi pelengkap ketiga menu tersebut dari Saudi Arabia. ’’Berasnya dari Arab langsung, namanya beras Basmati,’’ ujar Mahyudin. Ketiga menu tersebut diolah dari koki yang juga dari Arab. ’’Koki Nasheem Ahmad itu sudah lama berkecimpung dalam dunia masak-memasak di Arab, jadi mengetahui secara pasti dalam mengolah makanan Arab,’’ ujar Mahyudin.

Selama bulan puasa ini lebih banyak tamu lokal ketimbang dari Arab. ’’Mereka (orang-orang Arab itu) sudah banyak yang pulang ke negerinya karena masa liburan sudah habis,’’ ujar Mahyudin. Penasaran? Jangan biarkan Anda mati karena penasaran. (*)           

~ by ariyanto on 3 November 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: