Gebyar Kemerdekaan

Oleh

Ariyanto

Berbagai cara orang mengekspresikan dan memeringati HUT ke-62 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2007. Kalau aparatur negara merayakannya dengan upacara bendera, maka masyarakat memeriahkannya dengan aneka lomba tradisional, tak terkecuali para bule yang tinggal di Jakarta. Sejumlah tempat rekreasi juga mengadakan lomba dan sekaligus mempersembahkan pertunjukan seru. Ada pula warga yang menggelar upacara bendera. Tapi itu tak ada kaitannya dengan upacara kemerdekaan karena mereka merasa belum merdeka.

Melalui aneka lomba itu, warga ibu kota yang mungkin karena kesibukannya jarang bertegur sapa, pada momen itu bisa berbaur mesra. Menariknya tak sedikit tokoh politik bersama warga merayakan Agustusan bareng. Megawati Soekarnoputri, misalnya. Mantan Presiden Republik Indonesia itu memilih mengikuti Agustusan bersama warga Kebagusan, Jakarta Selatan. Mega merasa peringatan HUT ke-62 RI tidak harus dirayakan di Istana Merdeka, meski dirinya mendapat undangan khusus untuk menghadiri upacara kemerdekaan di tempat terhormat itu.

Bukan hanya politisi. Bule-bule juga turut memeriahkannya dengan mengikuti berbagai lomba. Di antaranya terlihat di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Dengan mengecat pipi dengan bendera merah putih, mereka tampak antusias ikut lomba balap karung, tarik tambang, dan makan kerupuk.

            Di Ancol juga tak kalah seru. Panitia menyediakan 262 pohon pinang untuk para pengunjung. Puluhan hadiah dari berbagai jenis seperti peralatan elektronik, sepeda dan makanan ringan menjadi rebutan para pengunjung yang berhasil memanjat pohon pinang. Beberapa pemenang malah ada yang langsung menggunakan hadiah ini sebagai transportasi untuk pulang. Seperti dilakukan Handi, 23. Warga Pademangan ini langsung membawa pulang sepeda hasil hadiahnya untuk pulang. ’’Langsung dinaikin lah sepedanya buat pulang. Tadi saya kan jalan kaki ke sininya,’’ kata Handi.

         Di Atlantis Water Adventure, Ancol, lebih heboh lagi. Pengunjung berlomba menangkap ikan secara massal di dalam kolam, lomba tarik tambang dalam air serta lomba aerobik air yang dilaksanakan selama tiga hari hingga 19 Agustus mendatang.

Di tempat terpisah, sekitar 50 veteran perang 45 dan sejumlah artis mengikuti upacara 17 Agustus yang digagas keluarga pencipta lagu Indonesia Raya, WR Soepratman. ’’Kami ingin menyatukan teman-teman dan keluarga veteran,’’ kata cucu WR Soepratman, Ucok Soepratman Batubara, usai upacara yang digelar di depan monumen Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jl Raya Kalibata, Jakarta Selatan.

            Seolah tak mau kalah dengan para pejabat negara dan para veteran, sekitar 80 buruh dari Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) juga berupacara di tengah-tengah pabrik di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung, Jakarta Pusat. Upacara ini mereka selenggarakan untuk mengingat kembali perjuangan buruh selama 62 tahun Indonesia merdeka dengan berkumpul di depan PT Yeon Heung Megasari di KBN Cakung. ’’Kami ini memang tidak memperingati hari kemerdekaan, kami belum merdeka kok,’’ kata koordinator FNPBI Jumisih di Cakung, Jakarta Utara.

            Sayang, ada sebagian warga yang menodai peringatan kemerdekaan ini dengan aksi kekerasan. Usai upacara di sekolah, sejumlah siswa Budi Utomo terlibat tawuran. Meski tidak memakan korban jiwa dan kerusakan di sekolah, aksi itu sangat memprihatinkan karena dilakukan generasi penerus bangsa yang sebenarnya harus mengisi kemerdekaan ini dengan sesuatu yang positif.

            Melalui peringatan hari kemerdekaan ini, hendaknya menjadi momentum untuk membawa bangsa ini kepada kehidupan lebih baik. Tidak ada lagi kasus penyerbuan terhadap Jemaat Ahmadiyah, komunitas Lia Eden, ataupun jamaah Al-Qiyadah Islamiyah. Tidak ada lagi aksi anarkisme, baik kekerasan atas nama agama, atas nama negara, atas nama keindahan kota, atas nama pembangunan, atas nama cinta maupun politik atas nama lainnya. Tidak ada lagi orang yang kesulitan memenuhi hak-hak dasarnya, tidak bisa makan dan juga tidak bisa menyekolahkan anaknya. Sebab, sejatinya kemerdekaan adalah bebas mengutarakan pendapat, bebas menjalankan keyakinan, bebas dari rasa takut, bebas dari kemiskinan, dan bebas dari segala bentuk penindasan lainnya. (*)

*Terbit di Indo Pos, 18 Agustus 2007

~ by ariyanto on 2 November 2007.

One Response to “Gebyar Kemerdekaan”

  1. Duh jiwa nasionalisme bangkit rasane hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: