Tersangkut ’’Ranjau’’ Sampah, Kapal pun Oleng

Oleh
Ariyanto

            Kondisi Kepulauan Seribu sangat memperihatinkan. Dari 110 pulau, 18 di antaranya tercemar limbah berat. Padahal, selain merusak ekosistem, ribuan warga juga mengais rezeki dari perairan ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    Pagi itu, suasana di Pantai Marina, Ancol, belum menampakkan aktivitas. Kapal-kapal yang biasanya mengantarkan ke Kepulauan Seribu masih berjejer rapi. Kesibukan hanya terlihat di KM Praja Bahari Jaya VI yang berada di dermaga 12.

Ya, kapal milik Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu itu memang akan mengantarkan rombongan wartawan dan pegawai Kepulauan Seribu menyusuri perairan. Departemen Kehutanan sengaja mengajak mereka untuk menunjukkan bagaimana kondisi perairan di Teluk Jakarta itu.

Tepat pukul 08.00, kapal berlabuh. Dengan kecepatan 20 knot, kapal berkapasitas sekitar 50 penumpang itu menyusuri gelombang. Sayang, fisibilitas udara saat itu tidak begitu bagus, sehingga jarak pandang hanya sekitar satu kilometer. Namun demikian, gugusan pulau di kiri kanan masih terlihat, walaupun sedikit samar-samar. Ada Pulau Bidadari, Pulau Kelor, Pulau Air, Pulau Rambut, Pulau Panggang, Pulau Pramuka, dan pulau-pulau eksotik lainnya. Pulau-pulau itu ada yang berpenghuni, tapi ada pula yang tidak. Pulau terkecil berukuran 1.200 m2, sedangkan terluas 53 hektare.

Tampak pula perahu nelayan tradisional yang mencari ikan demi mempertahankan agar asap dapur rumahnya tetap mengepul. Dilihat dari bentuk kapalnya, sepertinya milik orang Indramayu, Jawa Barat. Ada juga kapal ojek yang berangkat dari Muara Angke. Kapal ini biasanya mengantarkan penduduk ke Pulau Pramuka (ibukota Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu) dan Pulau Panggang (pulau berpenduduk terpadat di Kepulauan Seribu). Selain kapal tradisional, ada juga kapal asing.
Di kejauhan, terlihat bubu (alat penangkap ikan). Ikan yang masuk di tempat itu, tidak akan bisa keluar lagi. Sejauh mata memandang, keeksotikan pulau dan kehidupan nelayan tradisional itu seolah tak pernah berhenti menebar pesonanya.

Ketika asyik-asyiknya menelanjangi keindahan, Temu W., seorang pegawai Kepulauan Seribu menyeletuk. ’’Waduh, airnya pekat sekali nih,’’ ujar dia. ’’Iya nih, tinggal dikasih gula sudah jadi kopi ini,’’ kelakar seorang wartawan. ’’Dari sejak berangkat dari Dermaga 12 kita memang sudah bisa bikin kopi. Sayang nggak bawa gula,’’ tukas wartawan lainnya.

’’Det det det…..’’ ketika seru-serunya ’’menggunjing’’ keruhnya air, mendadak mesin kapal terhenti. Bukan karena kehabisan bensin. Tapi, baling-baling kapalnya tersangkut sampah. Kapal pun bergoyang-goyang mengikuti irama gelombang. ’’Huek, huek, huek, byoooor….’’ seorang wartawati muntah. ’’Ayo dong Paaak. Buruan. Kita juga pusing ne,’’ seru lainnya.

Setelah salah seorang dari ABK kapal, turun tangan, tak lama kemudian mesin menyala lagi.’’Brem brem brem,’’ KM Praja bisa beroperasi kembali. Baru beberapa menit melaju, rombongan dikagetkan dengan onggokan sampah yang membentang dari timur ke barat. Penumpang kapal pun melongok dari balik jendela. Mereka hanya hanya geleng-geleng kepala, seolah tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.

Dirjen Perlindungan Alam dan Konservasi Alam Taman Nasional Kepulauan Seribu Sumarto mengatakan, kondisi perairan Kepulauan Seribu memang tercemar berat. Yaitu terdiri atas pencemaran sampah rumah tangga, minyak, dan limbah cair beracun. ’’Ini kegiatan rutin sekali dan sangat merusak ekologis, ekonomis, kesehatan dan estetika. Terbesar sampah rumah tangga, minyak, limbah cair industri yang tidak diprediksi berapa jumlahnya,’’ kata dia.

Sumarto menjelaskan, pencemaran minyak ini terjadi sejak 1980, trennya terus meningkat. Biasanya terjadi pada musim barat dan musim timur. Sampah yang mencemari Kepulauan Seribu melalui 13 sungai di Jakarta per harinya antara 1.500 hingga 2000 ton. ’’Ini sangat dahsyat. Dari masalah tadi, mulai 1995, beberapa pakar menyimpulkan bahwa Pulau Seribu sudah sekarat,’’ kata dia.

Sedangkan pencemaran minyak sudah terjadi sejak 1980-an. Pencemaran terbesar terjadi pada 2003. Sebanyak 78 pulau telah tercemar. Sampai saat ini penyelidikan dari Kementerian Lingkungan Hidup masih belum selesai. ’’Kalau tersangkanya sudah ada. Yaitu sebuah perusahaan minyak dan gas CNOOC. Tapi sekarang masih diusahakan satu barang bukti lagi yaitu siapa yang menjadi saksi atas kebocoran minyak itu. Dan itu kan sangat sulit pembuktiannya,’’ jelas dia. (*)

*Terbit di Indo Pos, 12 Juni 2007

~ by ariyanto on 12 June 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: