Pasca ’’Insiden Diplomasi’’ dengan Australia

Oleh
Ariyanto

Pasca insiden polisi New South Wales yang nyelonong ke kamar hotel tempat Gubernur DKI Sutiyoso menginap, wajah ketegangan melingkupi orang Kedubes Australia di Jakarta. Begitu ’’paranoidnya’’, workshop khusus jurnalis yang dihelat kemarin pagi (31 Mei 2007) mendadak dibubarkan setelah ada demo di luar kedutaan.
Pagi itu, puluhan polisi dilengkapi sejumlah mobil pengendali massa (dalmas) tampak bersiaga penuh di depan Kedubes Australia yang berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Pasalnya, ada kabar kalau pagi itu ada demo lanjutan menentang tindakan polisi New South Wales yang memasuki kamar Sutiyoso di Hotel Shangri–La, Australia, tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Bang Yos dianggap terlibat dalam tragedi penembakan lima wartawan Australia di Timor Timur pada 1975 silam.
Wartawan yang diundang untuk mengikuti workshop bertajuk The Art of Interviewing: Getting Back to Basics di Embassy Theatre, Kedubes Australia, kemarin, diperiksa layaknya di airport, bahkan lebih ketat lagi.
Ketika tiba di depan pintu kedutaan langsung diminta menunjukkan KTP. Peserta yang namanya tak sesuai kartu identitas atau tidak terdaftar tidak bisa masuk demi alasan keamanan. ’’Maaf nama Anda tidak tercantum di daftar kami. Jadi tidak diperkenankan masuk,’’ kata seorang petugas.
Tapi saya tidak menyerah. Bukan karena ’’ngebet’’ ingin mengikuti workshop gratis, tapi karena didesak rasa keingintahuan seperti apa suasana di dalam Kedubes pasca ’’insiden diplomatik’’ itu. Supaya bisa masuk, akhirnya saya berkilah kalau sebelumnya sudah berusaha mengefaks ke Kedubes tetapi tidak berhasil. Untungnya dengan alasan itu akhirnya bisa masuk juga.
Sebelumnya, peserta workshop memang diminta panitia mengisi formulir pendaftaran dengan diketik, lalu difaks atau diemail. Pinkan Umboh, manajer acara, mengimbau para peserta dari satu media berangkat bersama-sama sebagai satu grup dan menunjuk satu kloordinator. Selanjutnya, name tag akan diberikan kepada koordinator untuk dibagikan kepada peserta.
Setelah diizinkan ikut workshop, semua barang bawaan saya diperiksa menggunaakan x-ray seperti di airport dan melewati metal detector. Tidak diperkenankan membawa kamera maupun camcorder. Tidak diizinkan pula mengambil gambar di dalam area kedutaan. Handphone dengan fasilitas kamera juga tidak boleh dibawa dan harus dimatikan. ’’Tolong dimatikan semuanya kalau tidak kami sita,’’ kata petugas.
Tepat pukul 09.00, workshop dimulai. ’’Kemungkinan besar ada demo lagi hari ini. Saya harus memberitahukan bahwa jika nanti benar-benar terjadi (demo), kita terpaksa harus pulang. Saya perlu sampaikan ini sejak pertama biar tidak kaget. Tapi semoga acara pagi ini sukses,’’ ujar Dr Shannon Smith, panitia acara, membuka workshop.
Ya, wajah-wajah orang Kedubes Australia saat itu terlihat tegang, termasuk peserta workshop dari kalangan wartawan baik dari media elektronik maupun cetak. Meski saat itu baik dari panitia maupun pembicara sesekali berusaha melawak, tetap saja ketegangan itu tidak hilang.
Setelah opening, John Moseley, director of Journalism Department, Curtin University of Technology, mengisi acara workshop. Temanya Interview Skill-Getting Back to Basics. ’’Hhhh, suasananya sedikit tegang ya,’’ katanya sambil menghela nafas ketika memasuki teater kedutaan.
Moseley merupakan wartawan Australia senior, bekerja lebih dari 25 tahun di Singapura, Hong Kong, dan London. Dia pernah menjadi penasihat untuk pemerintahan Australia dalam kebijakan penyiaran berita (Broadcasting Policy). Sekarang dia aktif di jajaran direksi jurnalistik Curtin University.
Pemandangan teater memang tidak seperti biasanya. Di luar ada dua polisi asing berpakaian biru-biru untuk menjaga. Tetapi dari apa? Bukankah peserta adalah jurnalis? Bukan teroris yang ingin menghancurkan gedung. Jelas terlihat betapa paranoidnya warga kedutaan Australia. Negara yang sering disebut-sebut sebagai antek-antek AS itu belakangan sering membuat sensasi. Mulai polemik pelecehan gambar karikatur Presiden SBY hingga insiden Bang Yos.
Yang paling menarik adalah sikap dan tingkah laku Moseley ketika memaparkan seminar. Terlihat dia gelisah dan berulang-ulang melihat jam tangannya. Beberapa kali Shannon pun memberikan kode isyarat untuk mempercepat seminar. Karena itu, banyak wartawan yang tidak puas dengan acara tersebut. ’’Sekali lagi maaf kondisinya berbeda,’’ kata Shannon.
Pukul 10.30, setengah jam sebelum acara diakhiri, tiba-tiba seorang polisi kedutaan menghampiri Shannon yang duduk di ujung pintu masuk teater. Entah apa yang dibicarakan kemudian dia mengambil mikrofon dan berbicara kepada peserta. ’’Maaf, seminar harus segera dihentikan karena ada demo masa di luar. Peserta harus segera dipulangkan,’’ kata dia tegas.
Wartawan pun heran dan menganggap itu keterlaluan. ’’Wah, tidak puas, harusnya biarkan saja demo di luar tetapi di sini (seminar) jalan terus. Kan, tidak ada hubungannya,’’ kata salah seorang wartawan TV swasta. Alhasil, pelatihan jurnalistik pun gagal dan begitu paranoidnya Australia hingga tak ada acara ramah tamah dengan wartawan (morning tea) seperti biasanya. Beberapa wartawan yang curi-curi kesempatan untuk memotret suasana didalam kedutaan pun tidak berhasil karena penjagaan begitu ketat.
Sementara itu, masa yang berkumpul di luar gedung dari BOM (Badan Organisasi Masyarakat), Solidaritas Anak Bangsa (SAB), dan Forduta, melakukan orasi meminta pemerintah Australia minta maaf. Mereka menyerukan agar pihak kedutaan menerima mereka masuk untuk beridskusi. Lagi-lagi paranoid Australia keluar, tak ada satu pun pejabat di kedutaan yang berbicara dengan penanggung jawab BOM meski di luar gedung. ’’Mereka arogan, antek-antek Amerika (AS),’’ seru para demonstran. (*)

*Terbit di Indo Pos, 1 Juni 2007

~ by ariyanto on 9 June 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: