Kemesraan DPD RI dan Senat Australia

Oleh
Ariyanto

Hubungan DPD RI dan Senat Australia boleh dibilang ’’mesra’’. Kehangatan ini tak terlepas dari peran DR Anthony Marinac, direktur penelitian dan sekjen Senat Australia. Dia datang ke Jakarta karena ’’terusik’’ dengan konsep kesekretariatan parlemen di Indonesia. Mengapa?
Anthony tiba di Jakarta Rabu (2/5) kemarin. Didampingi Pieter Edward (Ausaid), Doktor Filsafat dari Universitas Queensland, Brisbane, itu menyaksikan Sidang Paripurna ke 11 DPD RI di Gedung Nusantara V Komplek Parlemen Senayan. Dia berada di Jakarta karena ada kerja sama berkesinambungan antara Senat dan DPD RI. ’’Saya akan fokus soal kesekretariatan di dewan,’’ kata dia kepada Indo Pos. Mengapa permasalahan itu yang disorot?
Menurut Anthony, konsep kesekretariatan parlemen di Indonesia masih menjadi satu kesatuan dengan birokrasi lainnya. Di Australia, pegawai yang melayani eksekutif dan legislatif terpisah sama sekali. Ini sangat berbeda dengan di Indonesia. Di Australia ada perbedaan dengan adanya UU terpisah. ’’Tapi kan ada perbedaan kultur organisasi. Terserah di Indonesia mengikuti mana yang baik,’’ ujar pria yang pernah menjadi staf pendamping kunjungan Sekjen DPD Siti Nurbaya ke Australia, Desember 2006, lalu.
Pemisahan ini, kata Anthony, diharapkan dapat melayani mereka secara adil dan tanpa rasa takut dipengaruhi oleh pandangan politik. Selain itu, memberikan pelayanan dan hasil-hasil penelitian secara ’’bebas’’. ’’Mereka baru bisa percaya karena kami memberikan pelayanan terbaik tanpa melihat partai mana,’’ ungkap pria yang pernah jadi penasihat ahli untuk kegiatan workshop DPD tentang Rencana Strategi ini.
Pelayan dewan yang baik adalah juga bisa menjaga rahasia. Karena kalau sampai berkoar-koar, bisa memengaruhi kondisi. Dalam menghadapi godaan-godaan tersebut, harus bisa menjadi ’’Mr or Miss No Comment’’. Pasalnya, jabatan yang demikian penting sebagai pegawai di dewan itu sangat memengaruhi kebijakan-kebijakan yang ada. Biar politisi saja yang menyampaikan. ’’Bekerja di dewan memang sangat susah ketika di luar banyak goncangan politik, sementara kita disuruh tetap diam,’’ tutur dia.
Tetapi di Australia dilindungi oleh Code of Conduct. Antara lain berisi pelayan Dewan ditetapkan harus menjaga kerahasiaan dalam hubungan dengan Senator dan Dewan, harus menghindari konflik kepentingan, serta tak boleh memperoleh keuntungan dari informasi-informasi tersebut dan jabatan di dewan. ’’Kalau melanggar Code of Conduct bisa dipindahkan, diberhentikan, dan gajinya dikurangi,’’ terang dia.
Di Australia dianggap perlu memisahkan senat dan parlemen karena peran seorang senator adalah bersinar di tengah kegelapan dan meminta pertanggungjawaban dari eksekutif. ’’Dengan dipisahkan, kami bisa independen. Juga sebuah kebanggaan dengan mengatakan saya bukan pegawai negeri, tetapi pegawai dewan. Saya tidak melayani menteri tetapi melayani dewan yang dipilih rakyat,’’ tegas dia.
Apakah Indonesia harus mengadopsi sistem seperti di Australia? Menurut Anthony, tidak bisa sebuah negara mengimpor sistem luar. Pasalnya, selama bekerja sama dengan parlemen, kata dia, ada hal-hal yang berhasil di Australia tak bisa diterapkan di Indonesia, begitu pula sebaliknya.
Lalu, hal-hal positif apa yang bisa diambil dari Australia? Ditanya begitu, pria beranting ini menjawab diplomatis. ’’Sulit bagi kami untuk menjawab. Tujuan kami hanya untuk undangan persahabatan dengan rekan-rekan kami di Indonesia, saling sharing. Tapi keunggulan kami punya sistem bikameral. ’’Di Jakarta saya akan berbicara mengenai kesekretariatan di dewan sebagaimana yang telah berlaku di Australia. Tetapi saya tidak bermaksud bahwa sistem inilah yang terbaik. Namun tentu kita harus mengimprove untuk mengembangkan DPD,’’ harap dia.
Di Senat Australia, Anthony sendiri bertugas memberikan advis tentang prosedur kepada senator, penelitian kepada sekjen dan senator, draf UU, menyelenggarakan seminar untuk pegawai negeri tentang parlemen, dan membantu penyelenggaraan sidang paripurna. (*)

*Terbit di Indo Pos dan Jawa Pos, 4 Mei 2007

~ by ariyanto on 4 May 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: