Menanti Wisata China Town

Oleh
Ariyanto

Peranan etnis Tionghoa dalam pembangunan kebudayaan Indonesia sangat besar. Selain dari segi makanan seperti taoge, tauco, bakmi, pangsit, dan siomay, kiprahnya juga meliputi bidang sosial, ekonomi, dan budaya. Di Jakarta sendiri, terutama di wilayah utara hingga sebagian baratnya, layak sekali dijadikan China Town (Kota China). Sayang, impian itu selalu kandas karena diskriminasi terhadap etnis yang termarginalkan itu belum sepenuhnya hilang hingga kini.

Tapi seiring upaya penghapusan segala bentuk diskriminasi, Glodok segera ditata kembali. Ada beberapa poin penting dalam penataannya yakni mengubah imej, memperbaiki tata ruang, dan optimalisasi kebudayaan yang sudah ada. Ketiganya akan bersinergis guna menghadirkan Glodok sebagai China Town yang dinanti.
Tentu saja semua pihak dan elemen dalam tubuh Pemprov DKI atau Pemerintah Pusat harus bekerja sama. Dinas Pariwisata harus mengubah imej Glodok sebagai pusat hiburan malam yang tak sehat dan mengoptimalkannya sebagai kawasan wisata belanja, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman bertugas memperhatikan kebudayaan pecinan yang dari dulu sudah ada, sedangkan pemerintah pusat dalam hal ini Ditjen Penataan Ruang mengawasi pemprov melalui perdanya perihal tata ruang kawasan Glodok.
Menurut Yusuf Efendi Pohan, kepala dinas Pariwisata DKI Jakarta, ide revitalisasi kota tua termasuk Glodok berasal dari Dinas Kebudayaan dan Permuseuman. ’’Tetapi semua ya harus terlibat,’’ katanya. Salah satu contoh kontribusi Dinas Pariwisata adalah memberikan konsep wisata belanja dan wisata malam Glodok. ’’Termasuk pembinaan terhadap pemandu wisata dan sekuritinya lebih kepada pembenahan
attitude mereka,’’ jelas dia.
Alasan membenahi Glodok antara lain karena kawasan itu merupakan sentra bisnis kedua setelah Tanah Abang. Bedanya, Tanah Abang melayani tekstil dan Glodok melayani grosir elektronika. Sejak dulu kawasan tersebut memang digunakan masyarakat untuk aktivitas grosir bahkan menjadi wisata andalan. ’’Jika ada yang datang ke Jakarta dan bertanya mana sih tempat elektronik atau grosir? Pasti dijawab Glodok dan Mangga Dua,’’ tuturnya.
Imej lain Glodok adalah sebagai kawasan wisata malam. Menurut Eko Guruh, humas Dinas Pariwisata DKI, kehidupan malam Jakarta identik dengan Kota. Ada beberapa diskotek dan tempat hiburan malam di Glodok yakni Sun City (baru dibangun), Golden Crown (terbesar), Diamond Karaoke, Rajamas, Sydney 2000, Banana Cafe, dan Beverly Hills Spa. Semuanya terletak di kawasan pecinan, termasuk Petak Lima.
Dulu, kawasan malam tersebut identik dengan transaksi narkoba, pesta seks, dan lainnya. Perlahan-lahan imej itu pun bergeser seiring penertiban dan pembersihan yang dilakukan Dinas Pariwisata dan Tramtib. ’’Bahkan dulunya pusat judi ilegal,’’ kata Eko serius.
Dirjen Tata Ruang Hermanto Dardak mengatakan, kondisi yang membuat semrawut Glodok yaitu mix traffic (campur baurnya akses lokal dan regional). Penerapan tingkat hierarki yang tak ditaati, dan tidak tertibnya pelaku bisnis di sana.
Porsi pemerintah pusat, dalam hal ini Departemen Pekerjaan Umum (PU) adalah pembinaan, pengawasan, dan pengaturan terhadap apa saja yang dilakukan Pemprov DKI. ’’Bagus kalo memang ada rencana revitalisasi Glodok menjadi China Town,’’ katanya.
Ada norma panduan yang dapat dipakai DKI dalam pembangunan Glodok agar sesuai hierarki tata ruang. Khusus untuk pasar, grosir, dan kawasan perumahan (pecinan Glodok) mulai tingkatan RT, RW, dan kecamatan. Keputusan Presiden juga tengah disusun kerangkanya dan melibatkan ditjen Penataan Ruang DPU. ’’Dalam waktu dekat akan dikeluarkan,’’ kata Hermanto.
Inti dari pengaturan kawasan Glodok yakni penataan struktur ruang dan pola. Struktur ruang berarti infrastruktur dan polanya yakni distribusi diperuntukkan untuk apa kawasan tersebut bisa industri, pendidikan, atau komersial.
Melihat Jakarta sebagai pusat kegiatan nasional harus dilewati jalan nasional. Peran ibukota itu melayani untuk kendaraan yng lewat saja bukan kontribusi untuk
pelayanan grosir seperti Glodok. Artinya, ada jalan akses ke dalam yang memudahkan orang melakukan transaksi. ’’Mesttinya ada jalan akses yang menghubungkan dengan jalan tol yang sudah ada,’’ terangnya.
Glodok memang identik dengan dua kehidupan fenomenalnya. Di siang hari sebagai wisata belanja pusat grosir elektronik. Di malam hari sebagai wisata malam. Di luar negeri pun sama. Konsep China Town tak ubahnya mirip dengan Glodok. Bedanya hanya lebih tertata rapi, nyaman dan aman. Berbagai makanan khas China dan souvenir juga dijual.

Di Singapura, adalah salah satu negara yang bisa dijadikan contoh dalam mengelola kawasan pecinan. Di Negeri Singa itu, China Town menjadi tempat paling diminati para wisatawan. Tempatnya bersih, nyaman, dan aman. Akses menuju ke tempat itu juga mudah. Masing-masing hotel memberikan layanan bus gratis bagi para wisatawan.
Dari Copthorne King’s Hotel, saya naik bus ber-AC. Waktu perjalanan sekitar dua puluh menit. Sebenarnya dari hotel tempat saya menginap sebenarnya hanya lima kilo. Tapi karena harus memutar ke Orchard Road, waktu tempuh menjadi sedikit lebih lama. Tapi saya tetap senang karena bisa menikmati keindahan Singapura selama perjalanan. Bagi yang tidak mau naik bus, para wisatawan dapat naik transportasi cepat masal (MRT), turun di China Town. Jadi intinya memang mudah sekali akses menuju ke tempat tersebut.
Yang menjadi daya tarik lagi adalah kawasan China Town berakulturasi secara harmonis dengan etnis lainnya seperti Arab dan India. Di daerah itu, terdapat peninggalan Masjid jamae (Chulia), temple, dan klenteng yang berdiri saling berdekatan.
Indayati Oetomo, pemilik John Robert Powers, juga mengaku kagum ketika mengunjungi Chinna Town di Los Angeles AS dan Melbourne Australia. Chinna Town di LA berkonsep sama dengan Glodok yakni terdapat pusat makanan khas China, toko-toko souvenir, perhiasan seperti batu giok dan ornamen China. ’’Bau-bau masakannya pun khas China dan orang-orang serta kebudayaannya kental sekali,’’ kenang Inda.
Perbedaan terletak pada penataan ruangnya. Glodok semrawut, tidak jelas di mana letak lokasi elektronik, tekstil, dan makanan. Apalagi letak klenteng atau pusat kebudayaan China. ’’Harusnya yang namanya town (kota) kelihatan hirarki (tingkatannya),’’ lanjutnya.
Sementara di Melbourne lain lagi. China Town di sana berkonsep unik yaitu menyediakan supermarket khusus bahan-bahan masakan China. Bahkan, ketika Inda
mengunjunginya dia menemukan bumbu-bumbu asli Indonesia. ’’Jadi, nggak perlu capek bawa-bawa bumbu dari Indonesia, tinggal pergi ke China Town pasti ketemu,’’ tuturnya.
Glodok akan lebih cantik jika menata kembali kawasan perumahannya, pertokoan, dan pusat kebudayaan. Pemprov DKI Jakarta harus bekerja ekstrakeras agar kawasan Glodok bisa menjadi China Town yang menjadi jujukan para wisatawan. Selain melakukan revitalisasi, promosi wisata juga perlu dilakukan besar-besaran. Di bandara Soekarno-Hatta dan di hotel-hotel disediakan panduan dan alamat lokasi wisata andalan di Jakarta. Dan, yang paling penting lagi adalah akses menuju ke tempat wisata itu mudah, nyaman, dan aman. (*)

*Terbit di Indo Pos, 20 April 2007

~ by ariyanto on 22 April 2007.

One Response to “Menanti Wisata China Town”

  1. bisakah anda menuliskan mengenai makanan indonesia yang teralkuturasi dengan luar negrisecara terperinci? trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: