Asyiknya Belanja Tengah Malam

Oleh
Ariyanto

Jakarta adalah kota yang tak pernah berhenti berdenyut. Tak ada matinya. Mobilitas warga ibu kota sangat tinggi dan kesibukannya bisa dikatakan 24 jam. Ada yang bekerja dari pagi hingga sore, dan ada pula yang mengais rezeki dari malam hingga pagi. Barangkali, hal itulah yang melatarbelakangi mulai berdirinya supermarket yang buka 24 jam. Sayang jumlahnya masih sangat minim, tak sebanding dengan banyaknya penduduk Jakarta yang mencapai sembilan juta jiwa.
Dr Renald Kasali, pakar manajemen dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengatakan, Jakarta memang cocok sekali jika dibuat supermarket 24 jam karena kebutuhannya sangat tinggi. Terutama sekali terkait bahan makanan. ’’Di luar negeri supermarket yang buka 24 jam sudah banyak,’’ ungkap dia.

Saya pernah merasakan asyiknya berbelanja tengah malam di Singapura. Setelah makan malam di Bumbu Restaurant 44 Kandahar Street, ’’kampung Arab’’, saya sempat gelisah karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Tidak bisa jalan-jalan dan belanja lagi. Padahal keesokan harinya harus sudah harus balik ke Tanah Air. Namun, Jacqueline Hegan Tan, assistant manager Corporate Communications SingHealth, memberitahu bahwa di Singapura ada supermarket yang buka 24 jam. Namanya Mustafa Center. ’’Di sana Anda bisa belanja apa saja,’’ kata dia kepada saya.
Awalnya sempat ’’keder’’ berbelanja tengah malam. Bukan hanya soal tidak biasa. Tapi, lebih kepada kekhawatiran terhadap gangguan keamanan. Namun, Chio Shu Yu, kawan Jacqueline meyakinkan kepada saya bahwa keamanan di Singapura terjamin. ’’Jangan khawatir kalau soal itu,’’ tukas dia. Apa saja yang dijual di supermarket itu?
Isi Mustafa Center tak ubahnya Carrefour atau hypermarket lainnya. Barang-barang yang dijual hampir sama. Jual baju, kebutuhan rumah tangga, atau elektronika. Bedanya lebih banyak menjual barang-barang made in Malaysia dan aneka souvenir Singapura. Gantungan kunci Singapura, kaos Singapura, dan pulpen Singapura. Ada lagi bedanya, yaitu dari sisi pembeli. Kebanyakan mereka berwajah Arab dan India. Sebagian kecil lagi China. Berada di sana saya seperti terasing saja.
Umumnya mereka datang berdua. Mungkin suami istri. Kalau saya amati, barang yang dibeli rata-rata kebutuhan rumah tangga. Saya sengaja keliling di tempat itu hingga menjelang pagi. Ingin tahu saja siapa sih yang mau belanja pada dini hari dan apa yang dibeli. Ternyata, pembeli banyak juga.
Di Jakarta sebenarnya sudah ada supermarket yang buka 24 jam. Namun jumlahnya masih minim. Sebut saja Circle K. Mini market franchise itu bisa dijumpai di bilangan Pancoran yang mengarah ke Pasar Minggu. Para penggendara yang rata-rata tergabung dalam klub-klub itu umumnya singgah untuk membeli perlengkapan ataupun ransom bagi perjalanan mereka menuju Depok, Bogor ataupun Puncak.
Yah, memang tidak aneh lagi, bahkan Sabtu ataupun Minggu sejumlah minimarket itu makin ramai. Maklum rata-rata pengguna kendaraan bermotor memang menggunakan kesempatan itu untuk bermalam Panjang. Selain di Pasar Minggu, Benhill (bendungan hillir) dan Radio Dalam adalah beberapa lokasi minimarket itu berada.
Minimarket ini punya servis yang sedikit berbeda ketimbang lainnya. Contohnya saja layanan coffee shop dan dessert semisal burger dan roti lapis. Kita tinggal memilih saja ingin roti isi apa dari dalam freezer setelah itu tinggal dihangatkan di microwave satu menit. Hal itu tidak jauh berbeda dengan Circle-K yang ada di Malaysia.
Di pusat kota Kuala Lumpur yang tidak pernah tidur itu contohnya, para pengguna jalan di sana memanfaatkan Circle-K yang berdekatan dengan Starbucks untuk membeli makanan ataupun minuman. Di sana para pengunjung diberikan layanan serve service. Contohnya kita tinggal mengambil roti lapis kesukaan kita dari freezer kemudian tinggal dihangatkan sesuai keinginan lewat microwave yang tersedia di sampingnya.
Konsep yang terletak di pinggir jalan raya dan layanan cepat, makanan dan minuman hangat agaknya jadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin makanan kecil namun tidak ingin tinggal di dalam kafé.
Jika Circle K merupakan minimarket franchise yang ada di Jakarta, ada juga minimarket dengan sistem waralaba asli Indonesia. Adalah Alfamart yang bisa ditemukan tepat di bilangan Sudirman ataupun di bilangan Cawang Bawah menuju arah Kampung Melayu. Di dua tempat itu 24 Hours Alfamart bisa ditemukan. Contohnya saja Alfamart yang lokasinya ada di dekat stasiun kereta api Surdirman. Meskipun letaknya yang berada di bawah jembatan utama Sudirman, minimarket dengan dominasi warna merah dan kuning itu nyaris tidak sepi dari pengunjung.
Beberapa orang yang lalu-lalang di dekat tempat itu memang rata-rata para pengunjung bar disekitarnya. Berbeda dengan Circle-K, Alfamart hanya memberikan pelayanan makanan dan minuman instan semata. Meskipun begitu minimarket itu tetap jadi pilihan di saat warung-warung ataupun toko kelontong tutup pukul 21.00.
Selain pilihan minimarket Circle-K dan Alfamart, ternyata sejumlah pusat pengisian bahan bakar minyak (POM bensin) juga mulai melirik kebutuhan ini. Sebut saja Shell ataupun Pertamina yang kini mulai menyediakan mini market itu. Pom bensin yang ada di bilangan Sudirman (bersampingan dengan gedung Patra Jasa) contohnya memberikan service tambahan selain minimarket yakni sebuah café kecil yang ada dilantai dua. Tentunya pilihan kopi ataupun the hangat hingga ice coffe tersedia. Bahkan penganan kecil selain burger ataupun roti lapis disediakan.
Dr Gadis Arivia, ketua Departemen Ilmu Filsafat UI mengatakan, supermarket 24 jam merupakan kebutuhan masyarakat perkotaan, bukan life style. ’’Ini lebih kepada beragamnya permasalahan di perkotaan seperti kemacetan dan tingginya tingkat kebutuhan. Akibat permasalahan yang kian tak jelas pemecahannya, maka supermarket 24 jam akhirnya dibutuhkan,’’ ungkap dia. Jadi, kata dia, ini tidak terkait ideologi atau apa. Namun lebih kepada alasan untung rugi.
Terlepas dari untung rugi, kenyamanan dan keamanan para pembeli harus benar-benar dijamin. Mereka harus bebas dari rasa takut akan penodongan, perampokan, pelecehan seksual atau tindak kriminal lainnya. Transportasi umum juga harus memadai. (*)

*Terbit di Indo Pos, 22 April 2007

~ by ariyanto on 22 April 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: