Jembatan Eskalator

Oleh
Ariyanto

Jembatan penyeberangan orang (JPO) menjadi sarana sangat vital di kota besar seperti Jakarta. Sayangnya, fasilitas itu masih belum dimanfaatkan maksimal. Apakah ketidakdisiplinan para pengguna jembatan akibat tak memadainya fasilitas, atau memang mereka sendiri yang memiliki disiplin rendah.
Sebenarnya yang disebut sistem angkutan transportasi itu satu kesatuan sistem. Mulai berangkat hingga tujuan akhir (door to door). Termasuk sarana infrastruktur selama menempuh tujuan tersebut. Baik itu pedestrian, jembatan penyeberangan hingga ketersediaan armada. Kalau fasilitas ada, armada tak ada, juga menjadi persoalan. Tapi di Jakarta ini masalahnya sangat kompleks. Armada minim, fasilitas tak memadai, rawan kriminalitas, ada PKL, plus rendahnya tingkat kedisiplinan masyarakat.

JPO di bilangan Bendungan Hilir (Benhill), Jakarta Pusat, misalnya. Jembatan ini merupakan persinggahan busway dan para pengguna jalan yang ingin menyeberangi kawasan Sudirman menuju Gatot Soebroto atau ke arah Blok M. Setiap harinya para PKL merenggut hak pejalan kaki. Mereka menggelar barang dagangannya setiap pagi hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00. Tentu saja ini membuat pengguna jembatan kurang nyaman dan enggan menggunakan akses tersebut jika tidak terpaksa.
Begitu pula jembatan penyeberangan yang ada tepat di depan perkantoran DPR/MPR. Di tempat itu, fasilitas itu jarang sekali dipergunakan para pejalan kaki jika menjelang sore hari. Kalaupun ada, penggunanya pengendara kendaraan roda dua yang malas untuk putar balik di tempat seharusnya. Di jembatan itu amat minim lampu penerangan.
’’Saya pikir-pikir ulang kalau mau menyeberang. Selain merasa tak aman, jalanan yang gelap, ada pengemis ataupun gelandangan yang tidur di jembatan. Bukannya saya mau menuduh, tapi bukan tak mungkin mereka itu penodong ataupun pihak yang ingin berbuat jahat,’’ tutur Richelle Maramis, corporate communication & public relation Loreal Indonesia.
Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Haji Achmad HA mengatakan, JPO yang lumayan representatif biasanya hanya berada di jalan-jalan protokol. Itu pun keamanannya masih belum terjamin. Padahal, JPO harus dibuat nyaman dan aman agar tidak khawatir saat melintas. Aman dalam arti tak ada lagi kasus penodongan, penjambretan atau perampokan. Bila perlu di JPO itu dijaga petugas keamanan yang siap melindungi warga.
Sedangkan nyaman berarti warga dijamin tidak mengalami kehujanan dan kepanasan. ’’Jangan ada atap JPO yang bolong. Apalagi, dasar JPO yang bolong, jangan sampai terjadi,’’ ujar Haji Achmad. Selain bisa membuat pelintas jatuh juga membahayakan pengendara jalan di bawahnya.
Menurut Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Indah Sukmaningsih, sebagai ibu kota yang mempunyai kepadatan lalu lintas luar biasa, Jakarta belum sepenuhnya menyediakan fasilitas bagi penyandang cacat, orang hamil, dan manula. Di jalan protokol seperti Jalan Thamrin-Sudirman, Bundaran Hotel Indonesia, Gatot Subroto, masih sangat minim fasilitas jembatan penyeberangan itu. Bahkan untuk zebra cross saja tidak tersedia. Itu menandakan, pemerintah tidak terlalu peduli terhadap ketiga kelompok yang termarginalkan tersebut.
Padahal, sebagai pengguna jalan, keberadaan orang cacat, ibu hamil dan orang tua tidak bisa dihindarkan. Maka, satu-satunya jalan ketika akan menyeberang jalan di jalur sibuk, memotong jalan yang ada. Bukan melewati jembatan penyeberangan yang disediakan. ’’Coba saja bayangkan. Apa mungkin ibu hamil atau orangtua suruh naik di atas jembatan yang begitu tinggi. Belum lagi soal keamanan yang tidak terjamin. Kenyaman juga sudah semakin hilang dengan banyaknya pedagang kaki lima,’’ ungkap Indah prihatin.
Selain ketiga kelompok itu, banyak juga ’’orang sehat’’ yang ikut melakukan aksi jalan pintas dengan memotong jalan saat kendaraan sibuk. Hal ini diakui Indah sangat wajar mengingat letak antara halte tempat turun naiknya penumpang sangat jauh dengan JPO. Sehingga, tidak sedikit di antaranya, lokasi bawah jembatan penyeberangan menjadi terminal atau halte mini bagi para penumpang. ’’Kalau dekat mungkin akan lain hasilnya. Tapi sekarang kan jauh-jauh. Ini juga problem. Belum lagi yang saya katakan tadi tidak representatif bagi semua golongan,’’ tandasnya.
Ini memang sangat berbeda dengan di negara-negara maju. Di Singapura, kelompok marginal itu dapat merasakan layanan yang memuaskan. Mulai pedestrian, naik bus, dalam bus hingga turun lagi, serta jembatan penyeberangan orang. Infrastruktur jembatannya sangat bagus. Bahkan ketika saya menggunakan JPO di depan Esplanade dilengkapi dengan eskalator.
Lewat juga terasa nyaman sekali karena tak ada PKL, tidak ’’bersaing’’ dengan pengendara motor layaknya di Jakarta, dan yang paling penting tidak rawan kriminalitas, meski jarang sekali petugas keamanan. Masyarakat sendiri juga sangat disiplin dengan. Mereka tidak menyeberang kecuali lewat JPO atau zebra cross. Saya mengamati cukup lama perilaku orang-orang yang ada di sepanjang Jalan Orchard Road. Meski di sepanjang jalan itu merupakan pusat perbelanjaan dan ramai dipadati orang, saya tidak menemukan orang yang menyeberang tanpa menggunakan JPO atau zebracross. Luar biasa. Kapan ya di Indonesia bisa seperti itu?
Intinya memang harus membenahi seluruh sistem transportasi sebagai satu kesatuan. Tidak parsial. Semua harus ada perbaikan secara serentak. Baik fasilitas infrastruktur seperti pedestrian, jembatan penyeberangan orang, dan jumlah armada. Dan, yang lebih penting lagi, membangun budaya disiplin masyarakat dan menghukum siapa saja yang melanggar. (*)

*Terbit di Indo Pos, 19 April 2007

~ by ariyanto on 21 April 2007.

One Response to “Jembatan Eskalator”

  1. tahiiiiiii lanchug

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: