Robot Ahli Bedah

Oleh
Ariyanto

Singapore General Hospital (SGH) mengembangkan penggunaan teknologi robot untuk mendukung aktivitas medis, terutama operasi. Selain dijamin cepat, pihak rumah sakit mengaku belum pernah ada catatan kegagalan selama menggunakan peranti canggih tersebut.
Singapura semakin menjadi jujukan untuk ”wisata” medis. Selain dokter-dokter andal, sejumlah rumah sakit di Negeri Singa itu berlomba mendatangkan teknologi medis tercanggih. Seperti Singapore General Hospital (grup SingHealth) yang terus meng-up grade kemampuan teknis tim dokter untuk menguasai teknologi operasi dengan bantuan robot (robot assisted).
Saya mendapat undangan dari SGH untuk melihat langsung kecanggihan ”dokter robot” tersebut. Setiba di RS yang suasana lobinya seperti di mal itu, Dr Tan Yeh Hong, konsultan Departemen Urologi SGH, langsung mengajak ke ruang operasi tiga di Urology Centre.
Sebelum masuk, penulis diminta mengenakan masker dan baju operasi serta penutup kepala dan sepatu dari plastik khusus. Tujuannya supaya ruangan tetap steril dari virus.
’’Selamat siang. Kenalkan ini para wartawan dari Indonesia,’’ ujar Dr Tan Yeh Hong kepada salah seorang dokter di sana. ’’Oh, wartawan Indonesia. Selamat datang. Apa yang bisa saya bantu?’’ ujar dokter tersebut dalam bahasa Inggris dialek Mandarin. Obrolan ringan pun mengalir, yang belakangan diketahui bahwa mereka ternyata sedang mengoperasi penderita kanker prostat.
Ruang operasi SGH tak terkesan sebagai ruang operasi. Malah seperti ruang relaksasi. Tak ada raut ketegangan dari tim dokter. Empat dokter terlihat santai menonton dua layar televisi di pojok kiri dan kanan ruangan. Televisi itu menayangkan isi perut pasien yang dioperasi.
Seorang dokter seperti sedang main game. Kaki kanan dan kirinya terlihat menginjak-injak semacam pedal. Tanpa alas kaki. Hanya mengenakan kaus kaki. Ada empat pedal bertuliskan clutch, camera, tanda +, dan COAG. Sedangkan tangan kanan kirinya seperti menggerak-gerakkan setir mobil. Ya, dialah yang menggerakkan robot yang dipakai untuk mengoperasi pasien. Robot ’’cerdas’’ itu bernama Da Vinci. Gerakannya begitu halus dan tepat. Instrumen-instrumen berukuran kecil yang terpasang pada lengan robot masuk melalui insisi atau irisan kecil.
’’Dengan menggunakan robot Da Vinci, tim urolog kami yang terlatih secara khusus mampu mengendalikan alat-alat ini untuk mengambil kelenjar prostat dengan hati-hati,’’ kata Dr Tan.
Kecilnya insisi itu, lanjut dia, membuat pasien cepat sembuh, mengurangi rasa sakit, serta mengembalikan pasien ke aktivitas normal secara lebih cepat. Selain itu, bekas luka kecil, risiko komplikasi rendah, dan masa opname lebih singkat. Berbagai keuntungan tersebut tidak didapatkan jika dilakukan operasi terbuka. Operasi laparoskopi dengan bantuan robot merupakan salah satu pilihan operasi yang tersedia di rumah sakit rujukan di Singapura tersebut.
Robot assisted Laparoscopic Radical Prostatectomy (LRP) itu dapat digunakan bagi pasien dengan diagnosis kanker prostat stadium awal, pasien tanpa kondisi kesehatan serius pada organ tubuh yang lain (kondisi jantung dan lain-lain), serta pasien yang lebih memilih operasi bedah kecil. Bantuan robot dilakukan melalui 5 sampai 6 insisi sepanjang 1 cm di perut bagian bawah menggunakan Da Vinci Robotic Surgical System.
Dr Tan mengatakan, layaknya komputer, robot Da Vinci juga harus dirawat agar tidak terkena semacam virus. Robot itu dibeli dari Amerika Serikat pada 2004. Sudah tiga tahun beroperasi. Harga satu mesin USD 2 juta. Robot tersebut baru dipublikasikan karena para dokter sudah betul-betul menguasai. Mereka sebelumnya di-training di Amerika.
’’Awalnya kita praktik ke anjing dulu,’’ ungkap Dr Tan.
Mungkinkah dipakai untuk operasi jarak jauh? Tan mengatakan bisa saja asal semuanya disiapkan, baik akomodasi maupun infrastruktur. Jika sarana itu sudah tersedia, bisa dilakukan operasi jarak jauh. Syaratnya memang harus real time. ’’Kita bisa mengoperasi sambil minum kopi di kantin,’’ kelakarnya.
Tan lantas mengatakan banyak keuntungan yang bisa didapat dengan menggunakan robot. ”Dari 220 kasus yang ditangani, tidak ada yang mengalami kegagalan. Cukup operasi pakai robot ini, hampir bisa dipastikan sembuh total. Ya, ada satu persen yang unpredictable,’’ tegasnya.
Dr Lim Chong Hee dari National Heart Centre menambahkan, mesin yang didatangkan pada 2004 itu juga bisa dipergunakan untuk operasi jantung. ’’Ini teknologi terbaru. Operasi selalu sukses,’’ ujar pria yang juga dosen di National University of Singapore tersebut.
Da Vinci adalah sistem robot tercanggih pertama di Asia. Secara alami dia dapat meniru pandangan dan gerakan ahli bedah. Ini membuat ahli bedah dapat melakukan operasi dengan tingkat ketelitian dan ketepatan tinggi dalam prosedur yang kompleks. (*)

Terbit di Indo Pos dan Jawa Pos, 16 April 2007

~ by ariyanto on 16 April 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: