Anak Nangis, Lihat Modul

Oleh
Ariyanto

Saat ini, pengasuh (pembantu dan baby sitter) relatif menjadi orang paling dekat dengan anak. Hampir 75 persen waktu anak dihabiskan bersamanya, terutama bagi pasangan yang sama-sama bekerja. Jika tak pandai-pandai memilih pengasuh, bisa-bisa menjadi salah asuhan. Kerja keras yang semula ditujukan demi kebaikan anak justru berakibat buruk bagi perkembangan dan masa depannya. Lalu, bagaimana keluarga muda high class menyiasati hal itu? Apa saja yang dilakukan agar hal-hal negatif tidak menimpa kepada sang buah hati?
Kimi Indriani, pemilik retail dan grosir Charm & Cute, mengakui betapa sulitnya mencari pengasuh. Bukan saja sulit menemui yang baik, tapi mereka juga kerap keluar masuk. ’’Saya sudah ganti pengasuh empat kali,’’ ujar dia. Gonta-ganti pengasuh ini sedikit membuatnya stres. Mau tidak mau, si anak harus menyesuaikan dengan hal baru lagi.
Bagaimana kiat Kimi mencari pengasuh yang baik? Bagi dia, tak ada pengasuh yang benar-benar sesuai selera. Tapi, bukan berarti tidak memakai jasanya. Namun, setidaknya dia bisa berusaha mencari yang relatif baik. ’’Saya ambil pengasuh dari yayasan yang menyediakan jasa pengasuh. Tentunya yayasan yang kredibel ya,’’ tegasnya kepada Indo Pos.
Ibu cantik ini pasrah sepenuhnya terhadap yayasan itu. Pasalnya, yayasan pasti akan mencarikan yang terbaik bagi konsumennya. Tidak mungkin mengecewakan. Daftar riwayat hidup si pengasuh juga pasti diverifikasi secara ketat.
Namun demikian, dia tetap berhati-hati jangan sampai salah pilih. Kimi pernah dibuat kesal dengan ulah pengasuh karena anaknya sering dibuat terjatuh. Karena itu, biar tidak terulang, dia mengandalkan feeling dan penampilan fisiknya. ’’Dari situ kan bisa terlihat. Kita juga memberikan wawasan kepada mereka supaya bisa menyesuaikan dengan mind-set kita,’’ jelas dia yakin.
Begitulah susahnya mencari pengasuh. Kalau kurang baik atau ideal barangkali masih bisa diterima. Namun bagaimana jika kriminalis? Tak sedikit kasus seorang pengasuh menganiaya anak majikan dan bahkan membuangnya ke sungai atau membekapnya hingga tewas. ’’Ya kalau kita khawatir semacam itu tidak ada habis-habisnya. Kita positive thinking (berpikir positif) aja,’’ tutur Ir Toto Hariyono K., general affair manager PT Grisenda, developer & real estate.
Meski tetap berpikir positif, Toto tetap harus selektif. ’’Saya perlu pengasuh yang benar-benar menjaga anak saya,’’ terang pria yang dikaruniai seorang anak ini. Seperti halnya Kimi, Toto juga mencari pengasuh dari yayasan dan nasibnya sama. Pengasuhnya sering keluar masuk. Sebentar masuk sebentar lagi keluar. Sudah tiga kali dia gonta-ganti. Ini memang menjadi permasalahan tersendiri. Anak baru beradaptasi dengan pengasuh, datang lagi yang baru. Demikian seterusnya.
Tapi Toto tak merisaukan hal itu. Walaupun sudah ganti tiga kali dan anaknya baru berumur dua tahun, mereka tak pernah merasakan kehilangan. Bagi dia, sebaik dan sedekat apa pun si anak terhadap pengasuh, sang buah hati harus tetap curhat kepada orangtua. Toto berpesan kepada istrinya yang seorang dokter gigi bahwa kesibukan jangan sampai melupakan tugasnya sebagai pembimbing anak. ’’Saya bilang ke istri saya, boleh mencabut gigi orang, tapi jangan mencabut masa depan anak,’’ kata dia sembari tertawa.
Toto mengaku, dirinya lebih senang mencari pengasuh yang benar-benar baru. Alasannya, mereka lebih mudah dibentuk sesuai mind-set atau pola pikir orang tua si anak. Sebelum bekerja, Toto membekali mereka dengan wawasan yang cukup, supaya ada kesamaan dalam pola pikir.
Academy Manager dan Principal Hope for Kids Jenti Martono sangat sepakat mengenai pentingnya pemberian pengetahuan kepada pengasuh. ’’Pengasuh saya tidak hanya bisa memberikan makan atau mengganti popok, tapi bisa merangsang kecerdasan otak si anak dengan teknik bermain,’’ ungkap dia.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengasuh memiliki peranan cukup besar dalam perkembangan kecerdasan anak. Sayang, pengasuh umumnya tak punya bekal cukup untuk mendampingi anak. akibatnya, anak tidak mendapatkan rangsangan optimal bagi kecerdasannya dri orang terdekat mereka.
Apa yang bisa diharapkan dari tumbuh kembang seorang anak bila dalam kehidupan di luar dunia sekolah, karakter yang kurang baik dan cara berpikir yang sempit? Tentu akan ada berbeda hasilnya jika sebuah keluarga memiliki seorang asisten dalam bentuk pengasuh anak yang terampil, mempraktikkan ilmu dan ketrampilan yang dimiliki, sopan, dan memiliki hati untuk memberikan yang terbaik dalam mengasuh anak yang dipercayakan.
Menurut Drs Bambang Sujiono MPd, kepala Litbang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Departemen Pendidikan Nasional, pendamping anak yaitu orangtua, sekolah dan lingkungan anak, terutama pengasuh, harus memberikan berbagai stimulasi pada anak. Ini perlu dilakukan supaya potensi dasar anak berupa kecerdasan emosi, intelektual, dan spiritual dapat mencapai pertumbuhan optimal dan sejalan sesuai perkembangan usia anak.
Bambang dan istri memang super sibuk. Hal itulah yang membuatnya mengambil dua pembantu. Satu untuk rumah tangga, satu lagi mengasuh anak. Meski pengasuh punya peranan besar, Bambang tidak serta merta mempercayakan semuanya kepada mereka. ’’Saya ada panduan buat mereka. Saya sering nanya, kalau adik sudah mengeluarkan bunyi, kamu kasih apa. Terkadang pengasuh menelepon. Pak adik sudah sudah bisa ini itu atau nangis terus. Oh iya, tolong buka panduannya ya,’’ kata dia menuntun pengasuhnya dari balik telepon.
Intinya memang pendidikan. Pendidikan dapat meningkatkan sumber daya manusia, membuka pikiran dan pembentukan karakter. Ini harus dilakukan agar manusia hidup dengan pandangan dan mengusahakan bahwa selalu ada yang lebih baik di hari esok. (*)

Pengasuh Kini Ada Sekolahnya

Mengingat pentingnya pendidikan bagi pengasuh anak, Academy Manager dan Principal Hope for Kids Jenti Martono, merasa perlu menyediakan kelas atau sesi reguler khusus bagi pengasuh ketika anak-anak didik mereka sedang belajar. ’’Sehingga, ketika mereka menggali berbagai ilmu pengetahuan di sekolah, pengasuh juga mendapatkan berbagai informasi, pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi dirinya dan anak yang diasuhnya,’’ kata Jenti.
Kelas untuk pengasuh ini akan memiliki kurikulum tersendiri. Materinya beragam. Mulai budi pekerti, ilmu pengetahuan umum, dasar-dasar psikologi dan ketrampilan. Tenaga pengajar bagi kelas khusus pengasuh ini sebelumnya telah dibekali pengetahuan mengenai karakteristik pengasuh secara umum. Hal ini mengingat hampir sebagian besar pengasuh hanya lulusan SD atau SMU bahkan kurang dari itu.
Berbeda dengan kelas untuk anak didik, kelas pengasuh hanya berlangsung selama satu hingga satu setengah jam. Kelas ini diadakan satu hingga tiga kali seminggu. Durasi yang lebih pendek dengan suasana yang lebih informal dibanding proses belajar mengajar bagi anak.
Namun demikian, Janti berharap program ini memberi manfaat bagi anak, orangtua, sekolah dan pengasuh itu sendiri yang kelak akan memiliki keluarga. Dengan ilmu dan ketrampilan yang diberikan selama mendampingi anak di HOPE, diharapkan para pengasuh ini mampu membesarkan anak-anak mereka sendiri kelak dengan lebih baik. Mampu melahirkan generasi yang tangguh.
HOPE for Kids adalah institusi PAUD yang terbuka untuk anak-anak usia 2-6 tahun dan penyelenggara kegiatan sore program penunjang sekolah formal. Lembaga ini didirikan 5 Januari 2004 dengan berbagai program sore seperti FasTracKids dan Global Art. ’’Kita menggunakan kurikulum Depdiknas dan dilengkapi kurikulum PAUD (early childhood) dari Singapura dan negara-negara lain,’’ jelas Jenti. ’’Biayanya Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Rp 1 juta untuk TK dan Rp 500 ribu sampai 700 ribu untuk playgroup,’’ terang dia. Bagaimana teknis pengajarannya?
Setelah anak masuk ke kelas masing-masing, para pengasuh itu mendapatkan pelajaran. Tidak harus di kelas. Bisa di taman atau di tepi kolam. Nantinya ada koordinator yang mengurusi mereka. Bulan ini, para pemandu akan membimbing agar para pengasuh itu mau sharing terhadap masalah mereka. ’’Program kelas pengasuh ini tidak ada di luar negeri. Sebab, di luar negeri, ternyata pengasuh tidak menginap di rumah. Pengasuh di sana juga sudah berpendidikan cukup,’’ jelas dia. (*)

Yang Terpenting Komunikasi

Pengasuh seringkali gonta-ganti. Belum selesai adaptasi, ganti lagi pengasuh yang baru. Apakah ini dapat mengganggu kejiwaan anak? Bagaimana memilih pengasuh yang baik supaya dapat membantu kecerdasan sang buah hati? Berikut wawancara Indo Pos dengan Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Felicia Irene MPsi.

Sejauh mana pengaruh pengasuh terhadap perkembangan anak?

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang tidak mendukung atau kurang mendapatkan stimulasi, maka aspek kecerdasannya tidak akan berkembang. Bahkan sangat mungkin terjadi gangguan perilaku jika mereka mendapatkan rangsangan yang negatif dari sekitarnya. Misalnya, pendamping anak menunjukkan perilaku yang tidak patut, maka sangat mungkin anak meniru perilaku negatif tersebut. Karena itu, pendidikan bagi pendamping anak sangat penting.

Mengapa penting?

Pendidikan penting supaya pertimbangan orang tua dengan pengasuh bisa sinkron. Pengasuh harus dibuka pikirannya. Misalnya, si anak tidur terlalu lama, sehingga lupa makan. Nah, mereka harus dibekali pengetahuan supaya punya keberanian membangunkan. Kalau tidak kan bisa telat makan.
Pengasuh biasanya juga sangat takut jika anak majikannya itu celaka. Kekhawatiran berlebih inilah yang membuat mereka pilih aman. Membiarkan anak bermain di kamar atau dikurung. Akibatnya, si anak kehilangan stimulasi.

Hanya pendidikan?

Orang tua harusnya menyediakan mainan edukatif, memasukkan mereka ke sekolah terbaik dan memberikan makanan bergizi. Orang tua juga perlu memastikan untuk memberikan waktu, pikiran dan tenaga bagi anak-anaknya dan mengusahakan di luar mereka. Dalam kesehariannya anak-anaknya mereka didampingi orang-orang yang terdidik.

Bagaimana dengan pengasuh yang gonta-ganti?

Pengasuh keluar masuk itu tidak bisa dihindari karena mereka juga ingin mempunyai kehidupan yang lebih baik. Yang terpenting sebenarnya adalah membina komunikasi sebaik mungkin antara orang tua dan anak. kalau sudah ada kelekatan dengan ortu, meski pengasuh berganti-ganti, si anak tidak terpengaruh.

Kalau si anak justru lebih dekat kepada pengasuhnya?

Kalau anak berpikir bahwa pengasuh lebih dekat kepada dirinya, berarti ada ’’sesuatu’’ dari orang tua. Jika orang tua bisa melakukan pembinaan secara bagus, anak tidak akan berpikir begitu. (*)

*Terbit di Indo Pos, 6 April 2007

~ by ariyanto on 7 April 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: