Komunitas Baca

Oleh
Ariyanto

Membaca agaknya sudah mulai menjadi salah satu identitas bagi warga kota metropolitan yang haus akan hal-hal baru. Bahkan, begitu inginnya memberikan identitas, mereka mendirikan komunitas baca.
Komunitas yang kini mulai berkembang itu anggotanya makin banyak. Mereka bertemu di dunia maya (internet atau web cam) dan duduk bareng di kafe-kafe ataupun di tempat tongkrongan khusus.
Di WTC Kuningan, misalnya. Lewat sebuah toko komik yang berfungsi ganda sebagai percetakan komik, para penggila komik langka (komik mania) itu berkumpul. Sang pendiri Andy Wijaya memang seorang yang komik langka minded. Tidak putus asa mencari kawan dan berburu komik-komik langka yang sudah tidak lagi diproduksi.
Saat ini, masyarakat yang bergabung dalam komunitas membaca kian banyak. Biasanya, kelompok itu dibentuk berdasarkan kesamaan minat atas jenis buku atau pengarang tertentu. Sebut saja Komunitas Komik Langka, Komunitas Tintin Indonesia, Paguyuban Karl May Indonesia, The Indonesian Tolkien Society, komunitas pembaca karya Pramoedya Ananta Toer dan masih banyak lagi.
Kelompok itu seolah menjadi gaya hidup (lifestyle) tersendiri. Selain bertukar dan berburu literatur, mendiskusikan, juga ada yang berencana mendirikan institut terkait tokoh yang dikagumi. Bahkan, tidak sedikit anggota komunitas itu yang bersikap dan bertindak sesuai karakter atau pemikiran sang tokoh.
Komunitas membaca sebagai lifestyle ini terbilang relatif baru. Berkembang sekitar 3–4 tahun lalu. Namun, ini baru berkembang di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, atau Surabaya.
Di antara komunitas yang mengkhususkan membaca dan mengumpulkan buku karya pengarang tertentu adalah komunitas baca yang tergabung dalam Paguyuban Karl May Indonesia. Awalnya komunitas baca itu adalah komunitas on-line yang memang para penggemar karya-karya Karl May.
Dulu buku-buku Karl May sempat jadi tren sekitar 1980. Meskipun begitu, kalau diamati, kebanyakan penggemarnya orang dewasa. Sebab sepintas lalu buku itu mirip buku sastra.
Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) didirikan Pandu Ganesa yang sempat bekerja di sebuah tabloid yakni Pantau. Dia menghimpun para pencinta karya Karl May. Awalnya hanya iseng, berdiskusi di dunia maya. Namun, para penggemar itu berhasil menerbitkan ulang karya Karl May dalam bahasa Indonesia. Komunitas ini bertemu di dunia maya pada Oktober 2000.
Setelah itu, penggemar novel petualangan asal Jerman, Karl May, membentuk milis penggemar Karl May pertama di Indonesia. Bagi pecinta karya Karl May, komik Winnetou karya Juan Arranz adalah komik paling mendekati dengan karakter-karakter dan gambaran yang diciptakan Karl May. Ini hanyalah salah satu contoh komunitas baca. Masih banyak lagi yang lain.
Trini Haryanti, pendiri Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia, mengatakan, komunitas baca ini membantu meningkatkan perkembangan aktivitas membaca di masyarakat. Namun sayangnya, kegiatan itu hanya dilakukan secara terbatas. Yakni kalangan masyarakat menengah ke atas. Untuk ukuran masyarakat Indonesia, bisa dikatakan bahwa kegiatan membentuk komunitas pembaca seperti pencinta buku Harry Potter dan lain-lain merupakan kegiatan kalangan minoritas.
Trini menyarankan, yang perlu diperhatikan bagaimana bisa menularkan semangat dan aktivitas membaca kepada orang lain. Yakni menularkannya kepada semua kalangan masyarakat. Itu yang lebih besar tujuannya. Bisa dari mengembangkan kegiatan yang memang sudah biasa dijalani masyarakat. Dalam perkembangannya, masyarakat diajak ke dalam aktivitas lainnya yang sebenarnya tujuan utamanya, yaitu membaca.
Namun, DR Henny Warsidah dari Urban Centre Sosiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengingatkan dampak buruk dari komunitas baca ini. Henny merasa khawatir akan subjek bacaannya yang hanya berpusat pada produk-produk dari luar negeri. Mengapa hanya mitos atau kisah-kisah dari luar negeri yang selalu menjadi pilihan masyarakat seperti Harry Potter, Tin-Tin, dan Komunitas Pembaca Smurf. Efeknya bisa terjadi penyerapan kultur dari luar ke dalam negeri ini.
Timbulnya komunitas ini akibat kemajuan perkotaan itu sendiri. Kemajuannya bersamaan dengan hasil perkembangan akses media massa yang ada. Dengan demikian, lifestyle seperti komunitas baca ini merupakan gaya hidup urban yang penting. Ini menjadi salah satu barometer kemajuan masyarakat perkotaan.
Sekali lagi, ini fenomena menggembirakan. Ini bisa menjadi salah satu indikator budaya membaca sebagian masyarakat kita semakin baik. Manfaat komunitas baca ini juga banyak. Di antaranya, dengan bergabungnya individu dalam komunitas ini, bisa menambah kemampuannya dalam membuka jendela lebih luas. Dapat pula mengembangkan jaringan sosial yang ada dibandingkan sebelumnya. Dengan semakin meluasnya jaringan sosial tersebut, maka dapat meluaskan pandangan yang dimiliki. Individu dan masyarakat juga akan semakin menambah ruang interaksi sosialnya.
Namun, kita semua harus mewaspadai dampak buruk komunitas baca. Lho kok? Ya harus waspada dong. Kalau komunitas bacanya menokohkan para teroris gimana? Iya kalau sekadar menokohkan, kalau sampai meneladani dan mengamalkan pemikiran atau ajarannya? Atau, menokohkan sosok yang mengorbarkan semangat kebencian atas suatu keompok agama atau kepercayaan tertentu. Kalau sekadar sebatas wacana mungkin masih tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi kalau sudah anarkis? Ini bukan tidak mungkin. Sebab, anggota komunitas baca secara khusus atau pembaca secara umum, bisa menjadi diri atau individu dengan berbagai identitas. Yakni identitas dari para aktor ataupun tokoh-tokoh di dalam cerita yang mereka kagumi atau pengarangnya.
Saya terhenyak ketika jalan-jalan di toko buku belum lama ini. Banyak sekali karya yang menyulut kebencian terhadap ’’The Others’’ (kelompok yang lain). Ternyata, banyak sekali buku yang ’’mengajarkan kekerasan’’, terutama berbasis pada agama tertentu. Seolah-olah atas nama agama atau teks suci, diperbolehkan melakukan tindakan anarkis.
Saya khawatir, kekerasan epistemis atau wacana yang terdapat di buku, bisa berujung kepada kekerasan psikologis dan bahkan fisik. Melanggengkan anarkisme. Buku ini tidak bisa diberedel karena kebebasan berpendapat, mengeluarkan pikiran baik melalui tulisan dan lisan dijamin UUD 1945. namun, kita bisa ’’memberedelnya’’ dengan membuat wacana atau buku tandingan yang mengajarkan kedamaian dan nilai-nilai kemanusiaan. Tapi ini saja tidak cukup. Para penegak hokum harus bisa tegas menindak mereka yang berbuat kerusakan di muka bumi. Semoga tak ada komunitas baca tipikal yang terakhir ini. (*)

~ by ariyanto on 1 April 2007.

11 Responses to “Komunitas Baca”

  1. salam kenal.saya mau tanya, gimana kalo saya mau minta pendapat mengenai judul buku yang rencananya akan segera diterbitkan, tapi masih ragu dengan judul yang sudah ada.trims

  2. Salam kenal juga. Soal judul yang sama itu, saya ingin menganalogikan hal itu dengan goyang ngebor Inul Daratista. Goyangannya yang dahsyat, begitu kata orang-orang, telah melambungkan namanya. Goyang ngebor itu pun ditiru oleh sebagian penari dangdut, siapa tahu juga bisa setenar penyanyi asal Pasuruan itu. Tapi hasilnya gimana? Pengekor tidak akan bisa melebihi ketenaran pelopor.

  3. mau nanya nih, WTC Kuninngan apa masih ada toko buku komik itu? maaf, tepatnya dimana ya WTC Kuningan itu? saya tinggal di matraman
    thx

  4. saya hendak menawarkan seluruh buku di rental komik saya
    karna saya pindah kerja ke surabaya
    rental komik sudah komputerisasi

    kalo berminat segera email saya, daftar komik juga akan dikirimkan via email
    minimal penawaran 15jt

    semua buku dalam kondisi bagus terawat dan lengkap

    thanks atas perhatiannya

  5. boleh ikut bergabung dalam komunitas membaca??
    gimana cara daftarnya??

  6. di lombok tengah, NTB. saat ini saya sedang menggagas komunitas baca yang saya namakan Komunitas Baca Tatas tuhu trasna (Kaca Tastura). bagi teman2 yang mau gabung, pendaftaran dibuka untuk umum.

  7. klo didaerah tebet adakah komunitas pembaca?

  8. yang mau gabung dengan komunitas anak indonesia membaca bisa kirim email di humas.pajm@gmail.com atau telepon 622198519137

  9. ada yg tau komunitas baca khususnya daerah Tangerang gk?

  10. sebelumnya salam kenal dari saya, memang kebiasaan membaca harus terus ditumbuhkan dengan berbagai cara, saya kira membaca komikpun bisa menjadi sesuatu hal yang positif asalkan komik yang dibaca benar-benar berkualitas, jika ingin bacaan tambahan teman-teman bisa cari di http://www.bukugratisku.com, terims kssih dan salam kenal semuanya

  11. assalamualaikum, mas saya mahasiswa ilmu informasi dan perpustakaan unair. rencananya saya mau buat skripsi dengan obyek penelitian komunitas penggenmar novel cersil api di bukit menoreh, ada saran, tanggggapan atau referensi? terimakasih tolong ditanggapi ya…. Rizqi hasan rice_qey@yahoo.com. kalao ada fb tolong add saya juga di email itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: