Fenomena ’’Demam’’ J-Pop

Oleh
Ariyanto

J-Pop atau Japanese Pop bukan barang baru bagi kalangan muda-mudi. Tiap pertengahan tahun, April hingga Agustus, Jepang selalu mengadakan Festival Musim Panas. Para ABG dan bahkan orang dewasa pun ramai-ramai bergaya J-Pop atau Harajuku. Seperti acara J-Topia Megumi Minori dan The Most Ikasu Japanese Festival yang digelar di lapangan parkir Taman Ria Senayan, Sabtu (24 Maret 2007) lalu. Ajang ini dijadikan tempat kaum muda metropolitan memamerkan kreativitas J-Pop-nya. Mengapa mereka meniru-niru budaya negara lain? Apakah ini pertanda hilangnya kebanggaan kaum muda terhadap budaya sendiri? Atau, ini sekadar tren yang tidak punya dampak apa-apa?
Acara ini diadakan sebagai wadah muda-mudi yang kreatif memodifikasi busana, memadupadankan pernak-pernik unik ala Jepang. Tapi mengapa harus Jepang? Barangkali Negeri Sakura memiliki kebudayaan unik. Selalu ada-ada saja ciptaannya yang menarik. Dalam hal fashion, Jepang merupakan negara Asia paling berani mengeksplorasi, misalnya di kawasan perempatan Harajuku atau Okinawa. Tak hanya fashion. Keterampilan melipat kertas atau origami, boneka kayu juga mendatangkan keuntungan.
Selain fashion dan ketrampilan, Jepang juga terkenal dengan kreativitas dan inovasi luar biasa di bidang lain. Manga, misalnya. Komik Jepang yang sebetulnya berasal dari Korea. Dengan ide kreatif dan original, komikus Jepang mengadopsinya menghasilkan karya baru yang berkualitas, innovative dan luar biasa populer.
Inovasi dalam teknologi dan otomotif merupakan salah satu contoh kreativitas dan keuletan bangsa Jepang yang telah membawa mereka menjadi salah satu yang terdepan. Ikasu artinya paling keren, trendi, atau cool.
Sebagian orang bilang, mungkin J-Pop bersifat temporer. Tren ini terjadi jika ada even-even khusus seperti party-party yang mengharuskan mereka menggunakan kostum atau dress code ala Jepang. Jika di even-even tertentu, mengapa di antara mereka ada yang mengenakannya ketika jalan-jalan di mal atau tempat-tempat public lainnya?
Ah, barangkali itu hanya proses pencarian identitas kawula muda. Bukan berdasarkan atas ideologis. Ketika dewasa nanti, mereka lambat laun akan meninggalkan gaya tersebut. Dalam J-Pop, ada satu masa kawula muda bergaya seperti itu. Lambat laun, ketika mereka mulai memasuki dunia kerja, J-Pop akan mereka tinggalkan. Ya, bisa dikatakan dinamika anak muda dalam proses pencarian identitas diri. Sah-sah saja. Di Jepang pun demikian.
Namun, persoalannya bukan terletak pada tren, temporalitas, pencarian identitas, atau apa. Saya menyoroti fenomena itu lebih kepada cultural marketing (pemasaran budaya). Bangsa Indonesia masih kurang gigih dalam memasarkan budaya sendiri ke luar negeri. Kesan mendalam dunia internasional terhadap Indonesia baru seputar ’’budaya kekerasan’’ yang biasa dilakukan para teroris itu.
Di tengah era globalisasi sekarang, ’’invasi budaya’’ (dan juga invasi ekonomi, politik dan lainnya) tak bisa terelakkan lagi. Tapi pertanyaannya adalah kapan kita memenangkan ’’pertarungan budaya’’ ini di pentas dunia? Kapan keragaman dan kekayaan budaya Indonesia ini juga menjadi demam Indonesia Pop di negara-negara lainnya layaknya J-Pop? (*)

~ by ariyanto on 28 March 2007.

2 Responses to “Fenomena ’’Demam’’ J-Pop”

  1. gimana dengan korea? sekarang korea bisa menjadi salah satu negara yang tidak kalah moderen dengan jepang dalam segala hal seperti fashion.

  2. gimana dengan korea? menurut anda apa korea bisa sefenomenal jepang? kalo dilihat dari keadaan sekarang, korean menjadi salah sati paduan trand fashion, musik (banyak musisi yang memasukkan lirik2 korea dalam nyanyiannya), sampe film2nya yang sekarang booming.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: