ERP dan Tsunami Mobil

Oleh
Ariyanto

Gigih juga usaha Pemprov DKI Jakarta membatasi mobil pribadi. Setelah merasa gagal menerapkan peraturan three in one (3 in 1), kini berancang-ancang keluarkan jurus baru. Mulai tahun depan, program Electronic Road Pricing (ERP) akan diujicobakan di jalur busway koridor I (Blok M-Kota). Pengendara yang melintas di jalur itu akan dikenai tarif. Besarnya berapa hingga kini masih dikaji. Begitu pula mengenai Detail Engineering Design (DED) ERP-nya.
Menurut Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, three in one akan digantikan program ERP karena dinilai tak efektif. Aturan yang dijabarkan dalam Keputusan Gubernur No 2054/2004 tentang Penetapan Kawasan Pengendalian Lalu Lintas dan Kewajiban Mengangkut Paling Sedikit Tiga Orang Penumpang per Kendaraan pada Ruas-Ruas Jalan Tertentu di DKI itu rawan dibobol.
Itu terbukti dari kian suburnya praktik perjokian. Tak sedikit joki yang akhirnya bermasalah dengan petugas Tramtib. Setelah dilepaskan, mereka turun ke jalan lagi mencari sesuap nasi. Demikian seterusnya sampai sekarang. Bisakah ERP membatasi mobil dan mengatasi kemacetan? Tidakkah ini nanti malah bikin macet total dan kendaraan pribadi makin membeludak?
*****
Indonesia memang raja jiplak. Bukan hanya busway yang meniru Bogota. ERP juga mencontek Singapura. Setiap mobil disediakan alat (internal unit) dengan slot card. Ketika masuk wilayah ERP, voucher dimasukkan. Lalu, membayar pakai voucher dan bisa diisi ulang. Gerbang ERP dilengkapi kamera dan pusat data untuk memantau keluar masuk kendaraan. Peniruan itu diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nurachman. ’’Kita akan pakai sistem ERP Singapura. Kutipan ERP di Singapura lebih murah dibandingkan di London karena hanya berlaku sekali lewat,’’ kata dia.
Sejumlah pertanyaan menggelayuti pikiran saya jika program ’’tiruan’’ itu jadi diterapkan. Pertama, sudahkah disiplin berkendara kita layaknya di Singapura? Saya pikir persoalan disiplin di Jakarta ini masih rendah. Bayangkan saja, jembatan penyeberangan orang dan pedestrian saja dilewati pengendara bermotor. Lampu merah masih diterabas. Bahkan jalur busway pun dilewati mobil pribadi.
Kedua, jumlah penduduk negara Singapura jauh lebih sedikit dibanding Jakarta yang pada siang hari mencapai 12 juta jiwa. Penduduk Singapura paling hampir sama dengan kota Surabaya, sekitar lima juta jiwa. Ketiga, sistem ERP yang menggunakan loket justru menambah antrean. Jalur koridor I busway yang biasanya macet bisa semakin macet. Keempat, siapkah infrastruktur kita menerapkan sistem seperti di Singapura?
Namun, persoalan mendasarnya bukan terletak pada keempat hal itu, melainkan program ERP itu sendiri. Ada kesesatan berpikir dalam kaitannya ERP dan pembatasan mobil pribadi ini. Saya kok berpandangan sebaliknya. Jika ERP benar-benar diterapkan, Jakarta akan terjadi bencana ’’tsunami mobil’’ dan kemacetan lebih tidak terelakkan lagi. Mengapa?
Warga Jakarta itu pandai menyiasati keadaan. Three in one salah satu contohnya. Tak ingin ditilang polisi, mereka membawa pembantu dari rumah. Bisa pula membayar para joki yang stand by di mulut jalur ’’wajib berpenumpang tiga’’. Atau, dengan cara mencari jalur alternatif.
Begitu halnya ketika ERP jadi diterapkan. Mereka yang tak ingin dikenai tarif, sebisa mungkin menghindari jalur ERP di sepanjang koridor I busway tersebut. Bisa cari jalur alternatif, bisa pula memarkir mobilnya kemudian baru naik ojek atau transportasi umum. Kalau orang ramai-ramai mencari jalur alternatif, ini sama saja memindahkan kemacetan di tempat lain.
Tapi kemungkinan ini sangat kecil. Hanya kalangan ’’Espass’’ (maksudnya eksekutif pas-pasan) yang melakukan ini. Mana ada orang kaya atau pengusaha yang sibuk mau beribet-ribet ria seperti itu. Mana ada pemilik mobil Porsche, Cayenne, Jaguar, BMW, atau Ferrari tak bisa bayar tarif. Besarnya tarif ERP tak ada artinya apa-apa bagi mereka. Bahkan mengeluarkan kocek besar juga tak ada masalah asal perjalanan lancar, nyaman, dan aman.
ERP ini sebetulnya hampir sama dengan tol dalam kota di Jakarta. Mereka yang lewat di jalur itu membayar sejumlah uang tertentu. Permasalahannya, mereka sudah membayar tapi di dalam tol masih saja macet. Bahkan lebih macet daripada jalan di luar tol. Saya kira mereka yang biasa lewat tol dalam kota sangat paham mengenai hal itu. Karena hampir sama dengan tol dalam kota, tidak perlu berpenumpang tiga lagi, mobil-mobil yang biasa dikandangkan dipakai semua oleh sebanyak anggota keluarga. Permintaan terhadap mobil akan meningkat drastis, seiring tingginya daya beli di Jakarta. Jakarta akan dihantam ’’tsunami mobil’’.
Lalu, apa solusi efektif dan efisien untuk membatasi jumlah mobil? Perlukah membatasi produksi mobil dan membangun outer-outer ring road? Membatasi produksi tidaklah mungkin karena berlaku hukum ekonomi supply and demand. Membangun outer ring road juga tak selamanya efektif jika pertumbuhan mobil terus meningkat.

Menurut hemat saya, ada tiga pilihan. Pertama, menerapkan ERP di semua koridor busway di DKI. Ini akan sangat menekan pemilik kendaraan pribadi. Kalaupun toh masih ada yang kuat membayar, pasti prosentasenya jauh lebih kecil. Kedua, memindahkan fungsi ibu kota sebagai pusat ekonomi ke Bogor atau daerah lain yang secara geografis lebih aman dari banjir. Jakarta nantinya hanya menjadi pusat pemerintahan.
Ketiga, dilarang secara mutlak membawa mobil di seluruh koridor busway. Wooow! Ini tangan besi sekali. Ya, tangan besi memang. Tapi, siapa tahu gaya otoriter semacam ini cocok untuk warga DKI Jakarta. Saya setuju dengan gaya ini, tapi dengan syarat benahi dulu sistem transportasi makronya. Pelayanannya, kenyamanannya, dan keamanannya.
Daripada dana Rp 1 triliun dipergunakan untuk membangun fasilitas ERP di Jakarta, lebih baik dipakai mewujudkan dan memperbaiki transportasi publik. Segera menyelesaikan lima belas koridor busway, transportasi air, subway, monorel, KRL Jadebotabek, double track dan double-double track. (*)

*Terbit di Indo Pos, 18 Maret 2007

~ by ariyanto on 18 March 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: