Wartawan tanpa Pelampung

Oleh
Ariyanto

Dunia jurnalistik berduka. Kamerawan dari Lativi Suherman dan SCTV M. Guntur, menjadi korban bangkai kapal Levina I yang tenggelam ketika meliput, Minggu lalu. Masyarakat pers menangis karena kehilangan dua wartawan terbaiknya. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi-Nya dan keluarga korban diberikan ketabahan dalam menjalani ujian dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya ucapkan Innalillahi wainna ilaihi raji’un. (Sesungguhnya kita berasal dari Tuhan, dan kita semua akan kembali menghadap-Nya).
Orang-orang bilang ini bagian dari risiko pekerjaan. Tak bisa disangkal, masing-masing profesi memang punya. Tak hanya wartawan, tapi juga polisi, tentara, pilot, nakhoda, masinis, olahragawan, maupun dokter. Soal risiko, wartawan sangat menyadarinya, terutama mereka yang meliput di daerah konflik maupun di tempat berbahaya lainnya. Siap tidak siap, mereka harus melaksanakan tugas jurnalistik itu.
Seperti dijalani wartawan MetroTV Meutya Hafidz dan Budyanto, yang ditugaskan meliput di Iraq. Sebagai wartawan profesional tentu tak bisa pilih-pilih liputan, sekalipun itu mengancam keselamatan jiwa. Dan, ternyata benar, saat meliput di Negeri Seribu Satu Malam itu, keduanya disandera selama seminggu oleh Faksi Tentara Mujahidin Irak. Untung nyawanya selamat. Pada 21 Februari 2005 mereka dibebaskan.
Tapi tidak halnya dengan wartawan RCTI Ersa Siregar. Ersa terbunuh ketika terjadi baku tembak antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI. Sedangkan kamerawan RCTI Ferry Santoro yang diculik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 29 Juni 2003 lalu dibebaskan. Ini sekadar menyebutkan beberapa contoh betapa profesi wartawan ini penuh risiko.
Namun, risiko ini sebenarnya bisa diminimalisasi. Caranya, wartawan dibekali pengetahuan dan pelatihan yang cukup ketika meliput di daerah konflik atau tempat berbahaya. Misalnya, membuat perencanaan peliputan lapangan yang baik, memahami situasi di lapangan dan bersiaga terhadap kemungkinan terburuk, latihan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), CPR, menangani patah/retak tulang, pendarahan dan luka bakar.
Bagaimana pula menurunkan risiko dalam peliputan dengan meningkatkan keamanan pribadi dan lokasi, ladang ranjau dan perangkap, kekacauan, stres pascatrauma dan penanganannya, dan bertahan dalam kerusuhan massa. Perlu diketahui pula bagaimana bertahan dalam penyanderaan, metodologi penculikan dan bagaimana menghindarinya, bertahan dari gigitan hewan berbisa dan cara menghadapinya, serta kemampuan dasar navigasi.
Pembekalan mental dan pengetahuan bertahan hidup ini juga sangat minim. Sehingga, wartawan bisa menghitung semua risiko dan memastikan bahwa dirinya bisa pulang dengan berita eksklusif dan tetap hidup.
Termasuk bagaimana ketika meliput KM Levina I yang sudah terbakar itu. Apa saja yang harus dibawa, apa yang dilakukan ketika kapal tenggelam dan sebagainya. Intinya si wartawan harus dibekali pengetahuan cukup.
Di lapangan menunjukkan bahwa sebagian mereka tampaknya belum mendapat bekal dari kantor. Ketika meliput pemusnahan unggas atau depopulasi, misalnya, banyak wartawan yang tak menggunakan sarung tangan atau masker. Padahal, ini sangat berbahaya jika wartawan secara tak sengaja kontak dengan unggas yang positif terjangkit virus H5N1.
Hal serupa ketika meliput bangkai kapal Levina I. Tak satu pun di antara wartawan yang mengenakan pelampung. Entah karena ribet atau belum dibriefing saya tak tahu persis. Tapi dari penuturan beberapa wartawan yang meliput di kapal nahas itu, mereka sebenarnya sudah diperingatkan agar memakai pelampung, namun tak diacuhkan. Terlepas dari kebenaran itu, mestinya mereka memperhatikan keselamatan dirinya. Petugas terkait juga mestinya tak mengizinkan wartawan yang belum memenuhi standar keselamatan untuk meliput.
Mengenai pembekalan pengetahuan dan pelatihan, perusahaan media yang bersangkutan bisa melakukan sendiri. Bisa pula mengundang para pakar di bidangnya. Untuk meliput di medan perang, misalnya, perusahaan bisa mengundang tentara. Meliput penyakit berbahaya, bisa menghadirkan pakar kesehatan. Meliput di laut, bisa menghadirkan TNI AL, penyelam, dan sebagainya. Inilah yang tampaknya belum dilakukan secara serius oleh perusahaan media. Andaikan ada, hanya dengan memberi pengarahan singkat dan pembekalan seadanya.
Setahu saya, yang punya konsen terhadap keselamatan wartawan baru organisasi kewartawanan seperti dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Mereka aktif mengadakan pelatihan soal keselamatan para jurnalis. Belum lama ini, AJI bekerja sama dengan International Federation of Journalists (IFJ) serta mendapat dukungan dari Komisi Eropa dan LO-TCO Swedia, mengadakan pelatihan keselamatan wartawan. Sayangnya, wartawan kurang begitu antusias diajak menghadiri forum semacam ini. Kurang tertarik, atau memang sudah ’’alergi’’ dulu dengan AJI yang identik dengan gerakan wartawan ’’anti amplop’’.

*****
Saya sangat salut dengan kamerawan Lativi dan SCTV. Begitu gigihnya mereka mempertahankan kameranya, meski nyawa menjadi taruhan. Ketika temannya memerintahkan agar membuang kameranya, mereka pun masih kukuh memegangi, hingga akhirnya tenggelam bersama kameranya itu. Saya yakin, yang ada dalam pikirannya saat itu adalah bagaimana gambar eksklusif bidikannya itu terselamatkan. Punya nilai jual tinggi. Kantornya bangga, anak dan istrinya pun bangga. Namun, mereka juga harus memperhatikan bahwa banyak orang-orang yang mencintai dan menyayanginya. Orang-orang terkasih pasti sangat merasa kehilangan. Anak dan istri, kerabat, orangtua, sahabat, dan teman-teman seprofesi tentunya. Seandainya standar keselamatan diindahkan, mereka tentu bisa menghasilkan karya terbaik hingga kini.
Melihat betapa berisikonya profesi wartawan, khususnya yang meliput di daerah konflik, di daerah bencana, atau di daerah berbahaya lainnya, maka sudah sepantasnya jika keselamatan dan kesejahteraan wartawan diperhatikan. Mendapatkan penghasilan yang layak, asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi pendidikan maupun tunjangan lainnya. Namun, ini harus menyesuaikan kondisi perusahaan. Jika kondisi perusahaannya ’’Senin Kamis’’ dipaksa memenuhi itu semua ya tak lama lagi akan benar-benar kolaps. Kalau mampu, ya kenapa tidak, demi menghargai profesionalisme itu sendiri. (*)

*Terbit di Indo Pos, 28 Februari 2007

~ by ariyanto on 28 February 2007.

3 Responses to “Wartawan tanpa Pelampung”

  1. assalamualaikum..salam kenal bung ary.saya baca tulisan anda mengenai kasus tenggelamnya KMP LEvina 1.saya menangkap kesan Anda menekankan bahwa para jurnalis kita perlu tahu bagaimana cara bertahan saat meliput di lapangan.saya setuju dengan Anda.saya mahasiswa komunikasi PTN di Bandung.

    saya tergoda untuk mengetahui apa opini Anda mengenai hal ini. Senin lalu ada dosen tamu yg masuk ke kelas saya. ia reporter sebuah stasiun TV swasta juga alumni kami. Ia mengatakan bahwa tindakan Mas Guntur-kameramen SCTV- adalah tindakan heroik, suatu loyalitas yang amat tinggi terhadap stasiun ia bernaung. namun dosen ‘asli’ saya mengatakan bahwa tindakan Mas Guntur adalah tindakan konyol.Demi profesionalisme ia mengorbankan nyawa.menurut dosen tamu saya itu pilihan mas Guntur, dan ia sangat menghormatinya. sedangkan menurut dosen lama saya,ehm..sambil tertawa ia mengatakan itu tindakan konyol.

    susah ya bung ary memberi batasan untuk kasus seperti ini. berlaku seperti hal lainnya, pasti ada yang setuju dan tidak setuju.kalau saya pribadi, saya setuju dengan pendapat dosen lama saya, bahwa tindakan kameramen RCTI dan Mas Guntur tindakan konyol.Nyawa yang jadi taruhannya..

  2. salam sejahtera,
    setuju dengan bung ari, bahwa perlu adanya pembekalan tentang safety wartawan. cuma kesulitannya adalah, bahwa sering kali banyak orang yang menyepelekan hal-hal tentang pengamana diri. masalah konyol atau tidak konyol tindakan kedua wartawan dalam peristiwa levina 1 itu sangat relatif. Namun jika kita dibenturkan pada suatu kondisi seperti yang dialami bung guntur dan suherman, tidak semua dari kita akan bisa bertindak cekatan dan tahu persis apa yang harus dilakukan, jika kita tidak pernah tahu tentang cara-cara menyelamatkan diri. dari peristiwa merekalah kita perlu belajar, bukan untuk mengomentari kematian mereka, apalagi dengan komentar yang tidak layak. Tindakan cepat dan tepat dalam kondisi yang mendesak dapat kita lakukan, jika kita tahu, memahami dan menyimpannya dalam pikiran bawah sadar kita. Lihat saja orang-orang yang terlatih macam tentara, pencinta alam (tentunya yang melalui diklat), mereka bisa bertahan dalam kondisi buruk dan cepat tanggap terhadap situasi kritis. akhirnya, janganlah mudah menilai sikap/tindakan orang lain….tapi instropeksi diri jauh lebih penting…

  3. Wah kalo emang udah tau nyawa terancam tapi tetap memaksakan menyelamatkan kamera memang benar-benar konyol. tapi mati adalah kehendak tuhan apapun kondisinya saat kita mati semoga menjado akhir hidup yang khusnul khotimah semoga apa yang dirasakan dua wartawan tersebut puas bagi dirinya dan keluarganya serta menjadi amal baik bagi keduanya semoga Alloh SWT. Mengampuni keduanya dan menempatkannya kedalam Surganya. Aminn. Bagi dunia Pers Indonesia lindungi lah para wartawannya dengan kesehjateraan yang baik mengingat resiko pekerjaannya amat sangat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: