Tragedi Rel Anjlok

Oleh
Ariyanto

Banjir bandang yang menggenangi kawasan Jakarta dan sekitarnya awal Februari 2007 membuat sarana perkeretaapian rusak parah. Mulai jalur, wesel, hingga persinyalan. Akibatnya, KA lokal dan kereta rel listrik (KRL) sempat tak beroperasi beberapa lama. Penumpang telantar, dan PT KA pun rugi miliaran rupiah.
Setelah banjir surut, KRL mencoba memberanikan diri melaju. Tapi, tragedi anjloknya rel KA kembali terjadi. Dua As satu truck di belakang loko BB 30413 di wesel 53a1 antara Sp 4 dan Sp 5 terlepas. Peristiwa nahas yang menimpa KA 906 Tanah Abang-Rangkasbitung ini anjlok di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Kahumas PTKA Daerah Operasi I Jabotabek Akhmad Sujadi mengatakan, anjloknya kereta karena kondisi pascabanjir yang menyebabkan banyaknya sarana infrastruktur yang rusak. Meski tak ada korban jiwa, bencana demi bencana itu membuat para penumpang memendam trauma mendalam. Hingga kini. Betapa tidak, sepanjang 2007 ini saja, sudah delapan kali tragedi rel patah dan KA anjlok terjadi di Jadebotabek. Ini belum secara nasional.
Pascabanjir bandang yang mengepung Jakarta, PT KA memang harus bekerja ekstrakeras. Sesegera mungkin memperbaiki kondisi rel yang aus, gerbong kereta yang tua, stasiun yang terendam, wesel yang rusak, hingga persinyalan yang terganggu. Karena itu, proses identifikasi rel maupun wesel yang rusak harus dilakukan secepat mungkin. Termasuk gogosnya 32 titik jalur. Mumpung belum jatuh korban. Membuat penumpang kecewa lagi.
Tingginya angka kecelakaan ini harus menjadikan jajaran perkeretaapian tak hanya mengandalkan faktor eksternal seperti menertibkan bangunan kumuh dan sterilisasi stasiun, tapi juga reformasi internal. Meningkatkan sumber daya manusia (SDM), kedisplinan, serta pengawasan dan pengecekan secara rutin terhadap kondisi rel dan kereta api sebelum beroperasi.
Kata ini memang tak semudah diucapkan. Mengingat tidak tertib dan tidak berbudayanya sebagian masyarakat Jakarta. Sebagian mereka seolah merasa tiada berdosa mencuri kabel atau baut rel, tanpa memikirkan keselamatan penumpang. Tapi, inilah realitas yang harus dihadapi dan diselesaikan.
Menurut saya, supaya pekerjaan PT KA lebih ringan, pengawasan dan pendisplinan masyarakat ini perlu dikoordinasikan dengan beberapa instansi terkait. Bisa meminta bantuan Dinas Perhubungan di masing-masing wilayah, Dinas Kententeraman dan Ketertiban, maupun Dinas Sosial.
Tapi jika melihat kondisi rel kereta api yang sudah sangat tua, saya pikir lebih efektif jika rel-rel usang itu diganti. Selain sudah tua, juga banyak terjadi korosi. Butuh biaya besar memang, tapi ini akan relatif lebih aman.
Dirjen Perkeretaapian Soemino Eko Saputra pernah mengajak kepada jajarannya, pada bulan tertib berkeretaapi ini, hendaknya dijadikan simbol untuk bisa bekerja melayani masyarakat lebih baik lagi. Semoga janji dan tekat itu benar-benar dilakukan. PT KA jangan pernah ingkar janji lagi, sudah banyak korban berjatuhan. (*)

*Terbit di Indo Pos, Sabtu, 24 Februari 2007

~ by ariyanto on 25 February 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: