Poligami, So What Gitu Lo!

Oleh
Ariyanto

Pro kontra selalu mewarnai setiap seminar poligami (menikahi lebih dari satu wanita). Tak jarang masing-masing pihak mengemukakan pandangannya secara emosional dan saling menghujat. Perdebatan sengit bukan saja terjadi antara pembicara dan peserta, tapi juga antarpembicara. Bahkan, pernah dalam sebuah debat publik tentang poligami di Jakarta, antar peserta terlibat adu mulut di dalam mempertahankan argumentasi. Debat kusir, ricuh, dan suasana tegang tak terelakkan. Seminar ilmiah berubah menjadi seminar tukang preman. Saling tunjuk dan menyesatkan.

Pro poligami biasanya mendasarkan diri kepada teks-teks suci keagamaan (Alquran dan Sunnah). Begitu pula yang kontra, di samping meninjaunya dari akumulasi lumpuhnya sistem hukum di Indonesia, khususnya UU Perkawinan, dan kentalnya budaya patriarki. Menariknya, baik kubu pro dan kontra sama-sama berpedoman kepada ajaran agama. Lho kok?
Alquran sebagai teks memang punya banyak penafsiran (poly interpretable). Karena banyak multiinterpretasi, maka kebenarannya pun jamak. Inilah relativisme kebenaran. Bukan berarti tak ada kebenaran. Kebenaran tetap ada, tetapi menurut versinya masing-masing sesuai konstruksi yang diterima. Tak ada yang punya otoritas atas klaim kebenaran (claim of truth) kecuali Tuhan itu sendiri.
Barangkali, melihat fenomena poligami dari sudut pandang hak asasi manusia (HAM) terasa lebih netral. Dalam konteks ini, seseorang yang menganggap poligami sebagai refleksi dari ajaran agamanya tak bisa dilarang ataupun disuruh-suruh. Ini sama halnya dengan kasus jilbab. Saya tak setuju ada pemaksaan memakai jilbab melalui perda bernuansa syariat. Sebaliknya, saya juga tak setuju jika kaum muslimah dilarang mengenakannya seperti di Prancis.
Hak untuk menjalankan keyakinan ini harus mendapat jaminan dari negara, sesuai Pasal 29 UUD 1945. Bukan sebaliknya. Negara, dalam hal ini Departemen Agama atau Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, turut campur terhadap persoalan privasi warga negaranya. Begitu pula orang kontra poligami yang mendasarkan pada ajaran suci. Mereka juga tak bisa dipaksa harus pro poligami.
Bagi saya, memilih poligami, monogami (satu istri), atau tidak menikah sekalipun (selibat) seperti romo adalah pilihan. Bahkan, seseorang bebas saja memilih nikah dengan sesama jenis dan berzina (terlepas dari persoalan dosa, asalkan tidak pidana). Bukan berarti saya menyuruh orang berbuat dosa. Bukan, bukan itu! Saya pribadi berusaha sekuat tenaga tak melakukan perbuatan dosa. Maksud saya di sini, biarkan saja orang mempertanggungjawabkan perbuatannya itu kepada Tuhan. Bukankah Tuhan juga memberikan kebebasan kepada umat-Nya? Wa man sya’a fal yukmin, wa man sya’a falyakfur (barangsiapa ingin beriman silakan, barangsiapa ingin kafir juga silakan). Paling kita bisa menasihati, kalau tidak mau ya silakan saja. Tak ada paksaan (laa ikroha fi al-din).
Kebebasan individu merupakan prinsip dasar perlindungan HAM. Pelarangan adalah penghinaan terhadap kebebasan individu itu sendiri. Karena itu harus dilarang atas nama HAM. Jadi, HAM menjamin penyelenggaraan agama selama tak melanggar hak dan pilihan bebas individu tersebut. Begitu pula yang dipoligami. Mereka berhak dan bebas untuk menolak dipoligami. Ini harus dihargai juga, termasuk jika ingin melakukan poliandri (menikah dengan lebih dari satu suami).
Kalau istri pertama bersedia dipoligami, bahkan mencarikan sendiri istri-istri berikutnya dengan penuh semangat, dan si suami pun punya niat suci ingin memuliakan istri-istrinya dalam bingkai kesetaraan dan keadilan, tak melakukan kekerasan terhadap mereka, lalu persoalannya apa? Kejahatannya di mana? Poligami bukan kejahatan, bahkan juga tak dosa. Boleh! Sebagian bahkan menafsirkan sunnah.
Tapi kaum feminis mungkin mengatakan, ’’Perempuan mana yang mau dimadu? Ah, itu kan cuma lahiriahnya saja yang rela. Hatinya pasti sangat menderita, tercabik-cabik. Atau, itu karena didoktrin dengan ayat-ayat suci. Diiming-imingi surga dan segala macam.’’
Kata-kata inilah yang sering menyeruak di tengah-tengah masyarakat kita. Kadang saya berpikir, mereka kok tahu isi hati seseorang ya? Kayak paranormal saja. Padahal siapa tahu memang mereka secara sukarela suaminya menikah lagi, seperti terjadi di desa-desa atau di sebagian masyarakat pesantren. Kalau pun itu dikonstruksi oleh ayat-ayat suci, dipahamkan dengan kisah-kisah dan teks-teksi suci, so what gitu lo? Sebab bagi saya tak ada bedanya antara pro dan kontra. Kedua-duanya sama-sama dikonstruksi wacana tertentu. Yang pro dikonstruksi ayat-ayat suci, sedangkan kontra dikonstruksi wacana feminisme. Termasuk saya yang melihat dari perspektif HAM. Itu semua sah-sah saja sepanjang tidak masuk kategori kriminal. (*)

~ by ariyanto on 19 February 2007.

2 Responses to “Poligami, So What Gitu Lo!”

  1. kalo saya tidak menolak poligami, dan juga tidak mempromosikan poligami.

  2. kalau aku sah sah aja tuch .yang penting dari kita aja menerima apa ngga,menurutku tingkat poligami yang ada diindonesia belum sepenuhnya di terima dimasyarakat kita,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: