Bahasa Indonesia yang Represif

Oleh
Ariyanto

Bahasa punya peran besar dalam pembentukan karakter (character building) sebuah masyarakat, termasuk sisi buruknya. Kenyataan terakhir, manusia tak mampu mendapatkan dan mengaktualisasi diri lewat bahasa. Itu karena pengertian-pengertian utama kata dan kalimat yang diucapkan sudah dikuasai kekuatan-kekuatan dominan. Kekuatan yang ada di masyarakat telah terbentuk menjadi sebuah negara dengan pemerintahan di dalamnya. Tak hanya di televisi, halaman muka surat kabar, tapi juga di rumah tangga sebelah bahkan di tubuh kita sendiri.

Kata ’’homoseksual’’, misalnya. Meski ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dalam realitas masyarakat Indonesia kaum homoseksual masih belum dapat diterima sebagai bagian dari sebuah bangsa. Dari sini saja sebenarnya dapat dilihat bagaimana pandangan, budaya, dan ideologi bangsa kita yang hipokrit.
Dengan memasukkan kata homoseksual, berarti Pusat Bahasa sebenarnya sadar bahwa secara realitas mereka ada. Mereka juga sadar bahwa kelompok yang dimarginalkan ini memiliki budaya dan bahasa tersendiri. Namun sayangnya, beberapa kosakata kelompok homoseksual tak ada sama sekali dalam KBBI. Padahal, dalam pergaulan sehari-hari, kosakata bahasa homoseksual ini banyak dipergunakan.
Sebut saja kata nyokap (ibu), bokap (bapak), ember (iya), endang bambang (enak sekali), sutra (sudah), dan embrong (memang). Bahkan, dalam tayangan iklan bahasa-bahasa kaum homoseksual juga dipakai. Begitu pula bintang iklannya. Pada era 1990-an, penggunaan ragam bahasa yang dipakai mereka meluas. Ragam bahasa yang dalam komunitas asalnya dikenal sebagai bahasa binan menjadi apa yang dinamakan bahasa gaul.
Menurut hemat saya, tidak dimasukkannya kosakata bahasa homoseksual yang sekarang banyak menjadi bahasa gaul sebenarnya tidak sesuai fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia. Berdasarkan ketentuan-ketentuan yang termuat dalam dokumen-dokumen resmi seperti Sumpah Pemuda 1928 UUD 1945 dan Keputusan Kongres Bahasa Indonesia 1954, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional merupakan lambang kebulatan semangat kebangsaan Indonesia, alat penyatuan berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang kebahasaaan, kebudayaan, dan kesukuannya ke dalam satu masyarakat nasional Indonesia dan alat perhubungan antarsuku, antardaerah dan budaya.
Bahasa adalah masalah yang menyangkut kepentingan segenap lapisan masyarakat pemakai. Karena itu, pembakuan sera pengembangan bahasa itu perlu melibatkan bukan saja tokoh-tokoh kebahasaan, namun juga segenap lapisan masyarakat pemakaianya. Bahasa yang mengonsepsikan seluruh isi alam pikiran manusia ke dalam lambang-lambang yang berwujud nyata merupakan unsur saka guru dalam tiap kebudayaan.
Belum lagi kosakata seperti kata kawin dan nikah. Di KBBI disebutkan bahwa kata kawin punya makna membentuk keluarga dengan lawan jenis. Nikah didefinisikan sebagai ikatan perkawinan yang dilakukan sesuai ketentuan hukum dan ajaran agama. Melihat dari definisi yang dikemukakan Pusat Bahasa ini dapat diketahui bahwa ideologinya adalah heteronormativitas (ideologi yang menyatakan bahwa orientasi seksual paling sehat, alamiah, baik, dan normal adalah heteroseksual).
Tak bisa dikatakan kawin kalau itu tidak dilakukan dengan lawan jenis. Tak bisa disebut menikah kalau perkawinan tidak sesuai ketentuan hukum dan ajaran agama yang kedua-duanya jelas melarang hubungan sesama jenis. Arkeologi seksualitas yang dibangun melalui konsep pernikahan semacam ini hanya akan semakin mengukuhkan heteronormativitas. Konsep pernikahan harus dilakukan antara laki-laki dan perempuan selama ini hanya akan melahirkan perbudakan seksual (sexual slavery), bukannya pembebasan seksual (sexual freedom) karena seseorang dipaksa untuk menjadi heteroseksual.
Jika ideologi heteroseksual memaksa kaum homoseksual untuk menikah dengan lawan jenis, maka independensi seksualitas sudah tidak ada lagi. Itu sama saja menjadikan mereka pesakitan (ward). Karena itu, kita tidak mungkin menghancurkan pendiskriminasian antara heteroseksual dan homoseksual sebelum kita melenyapkan konsep lembaga perkawinan yang hanya mengakui pernikahan laki-laki dan perempuan. Perlu pembongkaran dan pendefinisian ulang konsep pernikahan yang lebih adil dan setara.
Kuasa yang berfungsi untuk mengontrol dan mengatur itu berjuang untuk menguasai bahasa. Melalui bahasa inilah kekuasaan mampu mengontrol, menyeleksi, mengatur dan menyingkirkan segala apa yang bertentangan dengan ideologi kekuasaan. Dalam hal bahasa jelas bahwa standardisasi bahasa yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional merupakan bagian dari bentuk hegemoni dan represi.
Dengan teknik semacam ini, bahasa dapat membentuk masyarakat menjadi semacam subjek sosial tertentu yang akan berakibat pada berbagai identitas sosial mereka, termasuk identitas jenis kelamin mereka yang tidak lain adalah diarahkan kepada laki-laki dan perempuan. (*)

~ by ariyanto on 27 January 2007.

5 Responses to “Bahasa Indonesia yang Represif”

  1. fungsi dan kedudukanya manaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  2. Bahasa Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara memiliki fungsi-fungsi tertentu. Kian berkembang sesuai perkembangan kehidupan sosial penuturnya. Terkait kosakata yang dipakai kelompok orientasi seksual berbeda yang kini penggunaannya semakin meluas, dan mungkin juga kosakata dari suku lain seperti Betawi, maka tiada salahnya bahasa Indonesia menyelaraskan dirinya dengan kondisi tersebut. Secara alamiah bahasa Indonesia dituntut mengembangkan ragam-ragamnya untuk memenuhi tuntutan fungsi sosial dengan menyerap kata itu ke dalam kamus besar bahasa Indonesia. Sebab, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional merupakan lambang kebulatan semangat kebangsaan Indonesia serta alat penyatuan berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang kebahasaaan, kebudayaan, dan kesukuannya ke dalam satu masyarakat nasional Indonesia.

  3. Gimana, sih…

    Bhs ibu= bhs daerah
    bhs pemersatu= b indonesia
    bhs sumber ilmu pngetahuan= b asing
    bhs /gauln= tserah qta

    KBBI sbg rujukn ilmiah bg rgm b indonesia yg resmi g blh mncantumkn b gaul yg aneh2 itu. Kstabiln bhs jg pnting. Byangin aja dosen disuruh bc skripsi yg b’bhs binan…
    Cape, d…
    Rgm resmi jg plg mdh bg org asing yg bljr b indo…

    Tp pusat bhs sbg
    lembaga bhs utama diid slyknya meneliti b gaul itu.

  4. boleh juga

  5. bahasa “gaul” menurut saya hanya bahasa yang dibuat-buat untuk mencari perhatian saja dan menurut saya tidak perlu di anggap sebagai bahasa melainkan hanya guyonan saja biar tampak lucu, saya setuju dengan ide kestabilan bahasa karena itulah yang membuat suatu identitas yang pasti dan kokoh tetap eksis, mengenai homoseksual dan heteroseksual coba kita kembali ke dasar kita sebagai manusia yang beradab dan beragama, saya rasa semua agama sudah jelas bahwa homoseksual itu terlarang, Tuhan menciptakan manusia itu sempurna sebagai laki laki dan perempuan, Tuhan tidak menciptakan bencong-homo-lesbi dll, tapi iblislah yang memperdaya manusia sehingga melakukan hal-hal yang terkutuk itu, memang kita akui orang yang terperdaya menjadi homo dan sejenisnya itu ada tapi bukan berarti kita benarkan, justru tugas kita semua untuk mengarahkan mereka kembali kepada harkat manusia sebenarnya laki laki dan perempuan. semoga Tuhan mengampuni dan meluruskan jalan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: