Heteronormativitas Sastera Indonesia

Oleh
Ariyanto

Sastera Indonesia diam-diam ternyata bias ideologis. Hanya membela heteronormativitas (ideologi bahwa heteroseksualitas paling alamiah, normal, dan sehat). Menekuk orientasi seksual di luar itu. Seksualitas yang dianggap menyimpang. Sadar atau tidak, secara perlahan pembacanya digiring untuk mengikuti atau mengutuknya. Ini bukan persoalan benar atau salah. Tapi, karya sastra kita ternyata belum melakukan dekonstruksi atau pendobrakan terhadap nilai-nilai atau tatanan yang tidak menghormati ’’Yang lain’’ (the others).

Istilah sastera Indonesia yang dimaksudkan bukan semata-mata ditulis dalam bahasa Indonesia, tapi juga sastera daerah baik lisan maupun tulisan di Indonesia. Ada sastera Jawa, Sunda, Bugis, Melayu, dan Aceh. Di dalamnya mencakup tradisi menulis yang berkembang di kota-kota di berbagai daerah di kalangan penduduk, terutama kaum peranakan China, Arab, dan Eropa.
Alasan memakai istilah lebih luas ini karena sastera di Indonesia itulah yang membentuk karakter sekaligus episteme tertentu. Dalam masalah seksualitas di Indonesia, maka sangat penting untuk mengetahui bagaimana sastera Indonesia itu melakukan konstruksi terhadap rakyat Indonesia agar memilih orientasi seksual tertentu.
Sastera Indonesia dilingkupi mitologi yang terkait latar multietnik. Ada mitologi Jawa, Sunda, Minang, dan Bali. Mitologi yang berakar dalam budaya kelompok etnik itu boleh disebut sebagai ’’dasar pijakan’’ bagi kehadiran mitologi Indonesia dan sekaligus penghubung antara Indonesia yang abstrak dan realitas keindonesiaan yang tengah menjadi. Dengan perkataan lain, sastera Indonesia yang dihidupi pengarang dari berbagai kelompok etnik di Indonesia itu tidak steril dari pengaruh mitologi dalam berbagai wujud dan pengaruhnya.
Sastera Indonesia juga merupakan buah dari refleksi atas masyarakat Indonesia. Begitu pula sebaliknya. Sastera yang di dalamnya terdapat muatan-muatan ajaran tertentu atau amanat yang hendak dikemukakan pengarangnya juga dapat memengaruhi pembacanya.
Ketika agama Islam datang dengan membawa serta mitologi yang berakar pada khazanah pemikir agama tersebut, wayang menjadi wahana yang canggih. Dalam konteks ini, para wali menyebarkan agama Islam di kalangan orang Jawa dengan memanfaatkan wayang itu dan memberinya ruh keislaman sehingga dikenal Wayang Menak yang menokohkan para pahlawan Islam seperti Amir Hamzah.
Di sini bermula terjadinya ’’dialog’’ antara Islam dan Jawa. Dialog Islam dan Jawa itu antara lain terwujud dalam bentuk ’’pengislaman’’ wayang. Tokoh-tokoh wayang yang Hindu itu digantikan dengan tokoh-tokoh yang diangkat dari pahlawan Islam yang kemudian menurunkan tradisi wayang menak. Bahkan, menurut Ajip Rosidi, ada kepercayaan di kalangan masyarakat Cirebon bahwa Puntadewa, Pandawa yang sulung, telah memeluk Islam karena memegang azimat layang Kalimusada yang sangat sakti. Konsep kalimusada itu sendiri berasal dari ajaran para wali penyebar agama Islam.
Ajip juga menunjuk Dalang Abyor sebagai pelanjut tradisi wayang yang dikembangkan para wali. Diceritakan pula, Dalang itu pernah menggubah cerita wayang dengan menampilkan para Kurawa masuk Islam. Dorna diangkat sebagai ulama tertinggi yang menyerukan agar semua rakyat Astina masuk Islam.
Dalam masyarakat Sunda, juru pantun melalui carita-carita pantunnya membawakan kesusasteraan kepada para pendengarnya. Demikian pula para dalang wayang golek menyampaikan penggalan-penggalan epos Mahabarata dan Ramayana buat para penggemarnya. Begitu mesranya orang Sunda dengan kesusasteraan sehingga tokoh-tokoh dan peristiwa fiktif dalam karya sastera dianggap sebagai bagian dari kebenaran sejarah dan hidup. Peninggalannya masih dapat disaksikan seperti Gunung Tangkubanperahu dalam cerita Sang Kuriang, dan Sungai Cilutung dalam cerita pantun Lutung Kasarung.
Kesusasteraan Indonesia dapat digolongkan kepada kelompok ’’zaman pra-Islam’’ dalam sastera Melayu dan karya-karya yang digolongkan kepada kelompok ’’zaman Islam’’. Naskah-naskah dari zaman pra-Islam yang ditulis dalam huruf-huruf daerah–misalnya dalam bahasa Kawi–umumnya ditulis para pujangga keraton atau berasal dari lingkungan keraton. Tetapi naskah-naskah yang ditulis dari bahasa jawi, baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa daerah, banyak yang menunjukkan bahwa penulisnya bukan dari keraton. Meskipun pemeliharaan atau pemroduksi utama naskah-naskah baik yang bersifat agama maupun bersifat sastera.
Kenyataan bahwa banyaknya naskah dalam huruf Jawi memperlihatkan pengaruh Islam sangat besar. Islam mendorong meluasnya peradaban tulis menulis dalam masyarakat. Awalnya, penguasaan baca tulis dengan huruf Jawi terbatas kepada hal-hal yang bertalian kepada pengetahuan agama. Namun karena Islam bukanlah semata-mata agama dalam arti sempit melainkan juga sebuah peradaban yang lengkap, maka dapatlah dipahami apabila kemudian huruf Jawi itu diperluas pemakaiannya. Selain bertalian dengan pengetahuan agama, juga untuk hal-hal lain, termasuk karya sastera.
Ada pun yang digolongkan kepada kelompok ’’zaman Islam’’ adalah karya-karya yang secara jelas memperlihatkan pengaruh atau alam pemikiran Islami. Secara garis besar karya-karya itu dapat dibagi dua golongan.
Pertama, karya-karya yang bersifat sufistik seperti karya-karya Hamzah Fansuri dari Aceh dalam bahasa Melayu (abad ke-17), karya-karya La Ode Muhammad Idrus Qaimuddin dalam bahasa Walio di Sulawesi Selatan, dan karya-karya Haji Hasan Mustapa dalam bahasa Sunda di Tanah Sunda (pertukaran abad ke-19 ke abad ke-20). Karya-karya demikian umumnya ditulis para ulama yang mendalam pengetahuannya tentang Islam dan mempunyai kecenderungan terhadap sufisme.
Golongan kedua, karya-karya yang memperlihatkan pengaruh sastera Islam baik dari bahasa Arab maupun bahasa Persia atau karya-karya ciptaan baru yang memperlihatkan pengaruh agama atau peradaban Islam terhadap penulisnya. Yang memperlihatkan secara langsung ialah karya-karya saduran dari karya-karya klasik Arab atau Persia. Sebaimana petikan-petikan dari Kisah Seribu Satu Malam (Alf Layla wa Layla), Kisah-kisah Para Nabi dan Hikayat Amir Hamzah.
Salah satu bukti bahwa hikayat ini sangat popular dan digemari adalah karena kepopulerannya telah disebut dan diakui dalam naskah. Sejarah Melayu konon telah popular sejak 1500-an. Di dalam bahasa Jawa hikayat tersebut sangat digemari walaupun nama tokoh utamanya Amir Hamzah bertukar menjadi Wong Agung Ambyah. Cerita-cerita yang bertalian dengan Wong Agung Amyah ini dalam sastera Jawa dikenal sebagai Serat Menak. Meskipun Prof DR R.M. Ng. Poerbatjaraka menyatakan bahwa cerita ini panjang lebar dan amat membosankan, namun diakuinya juga bahwa:
Dalam djaman Djawa-Islam Kitab Menak itu sangat digemari orang karena propagandanja agama Islam. Karena banjaknja orang jang gemar akan tjeritera Menak itu, maka timbullah tjeritera Menak pang jang tidaksedikit djumlahnja; lagi pula tjeritera-tjeritera tersebut tersebar hingga sampai di tanah Sasak, Pulau Lombok dan Palembang. Pengaruh Islam terhadap sastera Indonesia bisa dikatakan cukup besar. Kehidupan, kepercayaan, cita-cita yang terdapat dalam Islam dengan mudah akan kita jumpai dalam berbagai karya sastera Balai Pustaka. Bahkan, karya sastera para sasterawan Pujangga Baru dan Angkatan ’45. Meskipun untuk waktu lama keislaman ini tidak muncul secara sadar dan menonjol. Tapi, ia tetap jelas menjadi latar belakang hampir setiap karya sastera yang ditulis. Pada dua tiga dasawarsa terakhir ini tampak bahwa keislaman muncul secara lebih sadar dalam kehidupan sastera Indonesia. Itu antara lain tampak dalam karya-karya Bahrum Rangkuti, A.A Navis dan Kuntowijoyo.
Singkatnya, sastera Melayu yang banyak mendapatkan banyak pengaruh Islam itu sudah pasti mengutuk homoseksual, sedangkan keterbukaan sastera Indonesia bagi penulis-penulis karya non-Islam secara langsung maupun tidak mengarahkan dan mengajarkan pembacanya kepada heteroseksual. Saya akan menunjukkan contoh-contoh karya sastra Indonesia yang heteronormativitas.
Dalam karya-karya sastra kuno karya Ronggowarsito, mulai Serat Centhini, Darmo Gandul, dan sebagainya, banyak sekali diceritakan tentang seksualitas secara vulgar. Berikut kutipan teksnya:

Tingkahipun para nayub katingal resah, tombokipun arta kaseselaken salebeting keben kaliyan malintir payudara. Warna-warni solahipun tamu para nayub, sadaya ngumbar kakajengan amargi sampun sami kakathahen nginum arak. Kathah tamu ingkang ngantos brindhil telas-telasan. Nyi Randha lajeng lumebet, perlu ndumugekaken nafsu-sanggamanipun. Sasampunipun angsal tiyang tiga, lajeng wangsul datheng pandhapi.

(Tingkah laku para nayub terlihat resah, sejumlah uang dimasukkan ke BH sekaligus memelintir payudara. Bermacam-macam tingkah laku para nayub, semuanya mengumbar nafsu karena kebanyakan minum arak. Mereka habis-habisan memberikan uang. Nyi Randha kemudian masuk untuk meluapkan nafsu senggamanya. Hingga dapat orang tiga, kemudian masuk ke pandapa).

Bahkan, tidak terkecuali sastera yang selama ini sering disebut sebagai karya ’’dekonstruksionis’’ yang menyingkap seksualitas yang ditabukan dan mendobrak tatanan seksual yang sudah mapan, yaitu heteronormativitas dengan segala norma-norma kesantunan modern. Karya sastra dekonstruksionis itu seperti Novel Saman (1998) dan Larung (2001) karya Ayu Utami dan novel Nayla dan cerpen Menyusu Ayah karya Djenar Maesa Ayu. Benarkah demikian?
Sebutan sastera ’’pendobrak’’ ini barangkali tidak berlebihan. Di samping penggunaan bahasa yang vulgar, di dalam karya sastra tersebut juga banyak membicarakan persoalan seksualitas yang dianggap ’’menyimpang’’ seperti hubungan seks di luar nikah, masturbasi, sadomasokisme, seks bebas (free sex) dan homoseksualitas. Bahasa yang vulgar dan seksualitas yang dianggap menyimpang itu seperti terdapat dalam kutipan cerpen Menyusu Ayah karya Djenar:
Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari aki-laki. Karena, saya tidak menghisap puting payudara ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Sya menyedot air mani ayah…Saya senang cara mereka mengarahkan kepala saya perlahan ke bawah dan membiarkan saya berlama-lama menyusu di sana. Saya menyukai air susu mereka yang menderas ke dalam mulut saya. Karena saya sangat haus.

Ada pun perilaku homoseksualitas dalam novel Saman dan Larung ini diceritakan melalui keempat tokoh perempuan, yaitu Shakuntala, Yasmin, Laila, dan Cok, hampir seluruhnya bertentangan dengan norma masyarakat di Indonesia. Shakuntala memiliki kecenderungan biseksual, Yasmin mengkhianati suaminya dan sekaligus mewujudkan sadomasokisme dengan seorang pastor. Laila jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sudah menikah. Tapi, akhirnya berhubungan seks dengan Shakuntala, dan Cok gemar berganti-ganti pasangan. Dari sisi ini, barangkali tidak salah jika kedua novel tersebut dikatakan sebagai karya sastera pendobrak segala tabu. Namun, pendobrakan segala tabu itu masih dalam kerangka heteronormativitas.
Meski di dalam novel Saman dan Larung bercerita tentang homoseksualitas–kisah percintaannya Shakuntala dan Laila–bukan berarti novel karya Ayu Utami itu prohomoseksual. Sebaliknya, justru melakukan stigmatisasi negatif terhadap homoseksual dan mengukuhkan heteronormativitas. Di dalam novel tersebut diceritakan bahwa tokoh Laila digambarkan sebagai seorang perempuan yang sama sekali tidak memiliki kecenderungan menjadi lesbian alias heteroseksual murni. Namun ketika patah hati karena dikecewakan pacarnya, Laila tidak menolak didekati secara seksual oleh Shakuntala. Terjadilah hubungan seks sesama jenis itu.
Dari kisah ini jelas bahwa ada stigma negatif yang hendak dibangun, yaitu Laila menjadi lesbian karena dikecewakan laki-laki. Kepolosan Laila lalu membuat Shakuntala ingin memberikan kepadanya sex education (pelajaran seks). Usai ’’privat seks’’ itu disampaikan, sebelum Laila menemui pacarnya lagi, Sihar, Shakuntala mengatakan: ’’Setelah itu kamu (Laila, Pen) boleh pergi: Sebab vagina adalah sejenis bunga karnivora…’’. Dengan perkataan tersebut Shakuntala bermaksud mengajari Laila mengenai hakikat hubungan seks ’’normal’’, heteroseksual.
Berdasarkan penelusuran saya terhadap karya sastra Indonesia, andaikan ada novel yang bercerita tentang homoseksual, akan menggambarkan seorang yang homoseksual itu pasti mempunyai sejarah hidup tak membahagiakan, mengalami tekanan psikologis dan sebagainya. Pada novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu, misalnya. Tokoh Nayla yang mencintai Juli (lesbianisme) digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai problem psikologis. Ayahnya meninggal sejak dia masih kecil, kehilangan kasih sayang ayah, sementara ibunya suka menyiksanya dengan menusukkan peniti ke vagina.
Lantaran stres, Nayla kemudian terlibat narkoba dan pada akhirnya dimasukkan ke panti. Dia lalu melarikan diri dan senang ke diskotek. Di diskotek inilah dia bertemu dengan Juli. Dapat saya simpulkan bahwa kuasa karya sastera Indonesia cenderung kepada memproduksi wacana heteroseksualitas dan sekaligus melakukan stigmatisasi negatif terhadap homoseksual. Jika karya-karya sastra yang berupa puisi, cerpen, maupun novel itu dibacakan di depan publik dalam acara-acara kesenian atau festival budaya, maka secara tidak langsung karya tersebut telah menyebarkan ideologi heteroseksual.
Meskipun perempuan penulis belakangan ini bermunculan dengan gaya ’’filsafat posmo’’-nya yang mendobrak puritanisme modern, tetap tidak keluar dari koridor heteroseksualitas dan tidak mampu meruntuhkan hegemoni heteroseksualitas. Bahasa dan sastera yang merupakan wujud fisik dari ide, nilai, norma, aturan dan adat istiadat merupakan refleksi dari pengarang atau penulisnya yang mengagungkan heteroseksualitas. Begitu pula peninggalan benda-benda seni berupa patung lingga yoni. Itu semua merupakan refleksi dari ide-ide pembuatnya yang mengagungkan kesuburan. Ide semacam ini tentu saja merupakan hasil arahan dari kebudayaan ideal yang dibentuk oleh nilai, aturan, norma, aturan yang berlaku di masyarakat, termasuk agama. Itu semua sah-sah saja. Asalkan kekerasan wacana semacam itu tidak berbuah kepada kekerasan fisik. (*)

~ by ariyanto on 26 January 2007.

4 Responses to “Heteronormativitas Sastera Indonesia”

  1. setujuh mas!!
    tapi saya mw komentarin, novel “the others” yang beredar indonesia ada qo yg hepi ending hehe

  2. mas tolongin saya donk,mas adalah seorang penulis yg saya kagumi.tolong bantu sya dalam menulis artikel perkembangan adat melayu di indonesia,khususnya dalam bidang pernikahan dan adat istiadat.mas bisa email ke saya di aditbogel@yahoo.com..atau aditbogel@hotmail.com,tolong segera ya mas,terima kasih atas bantuannya

  3. Makanya, mari kita bikin novel The Others. Hahahaha

  4. waaaahhh…. site yang seperti ini sih bagus juga buat nambah ilmu dan pengetahuan. Tapi usahakan juga buat bab yang membicarakan suatu masalah tertentu. Misalnya mitologi yang ada di Indonesia secara lengkap (Impossible kali, ya?). Karena saya juga sangat menyukai hal-hal yang menyangkut mitos dan leenda kuno seperti dari Greek dan Romawi. Thanx…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: