UU Antiporno dan Negara Hukuman

Oleh
Ariyanto

Sejak awal, Rancangan Undang-Undang (RUU) Antipornografi dan Pornoaksi diusulkan ke DPR RI didasari pertimbangan bahwa pornografi dan pornoaksi telah menjadi ancaman serius bagi kehidupan moral bangsa. Bahkan, kedua hal itu dituduh sebagai biang kerok merebaknya berbagai tindakan asusila di masyarakat. Karena itu, DPR kini getol-getolnya menggodok RUU itu dan akan mengesahkannya Juni ini. Sampai sejauh itukah peran negara hingga mengurusi relativitas moralitas warganya dengan ukuran moralitas tertentu?
Namun, meski belum disahkan, pro-kontra terus bergulir hingga kini. Hampir tiap hari ada aksi demonstrasi menentang segala bentuk pornografi dan pornoaksi dari sejumlah ormas yang mengatasnamakan agama tertentu. Mulai penerbitan majalah Playboy edisi Indonesia oleh PT Velvet Silver Media, goyang ngebor Inul Daratista, goyang patah-patah Annisa Bahar, sampai pada menabuh genderang perang terhadap media massa yang merangsang nafsu berahi. Ekspresi protes mereka juga beragam. Dari sekadar unjuk rasa, melakukan perusakan terhadap kantor media ’’porno’’, pengusiran, hingga mengatakan iblis dan bermoral bejat bagi para penentang RUU tersebut.
Petugas polisi juga gencar merazia media yang dianggap porno. Di Jakarta, Polda Metropolitan Jakarta Raya telah merampas sedikitnya 25 tabloid dan majalah porno dari lapak koran, sedangkan sejumlah pemimpin redaksi telah ditetapkan sebagai tersangka. Polisi juga telah menetapkan pemain sinetron Anjasmara dan model Isabel Yahya sebagai tersangka kasus pornografi terkait perannya sebagai model dalam pameran foto di CP Biennale 2005. Keduanya dikenakan pasal 282 ayat 1 dan 2 KUHP yakni tentang menyiarkan, mempertunjukkan dan menempelkan gambar atau benda di muka umum yang melanggar perasaan kesopanan.

Tubuh yang Membangkang

Sebenarnya, fenomena pencekalan, penghujatan terhadap orang yang dianggap melakukan pornografi dan pornoaksi ini sudah sering terjadi sebelumnya. Tidak hanya terjadi di kalangan penyanyi dangdut, penyanyi seperti Nafa Urbach juga mengalami nasib serupa. Penyanyi cantik kelahiran Magelang, Jawa Tengah, ini tidak hanya diprotes karena di dalam video klipnya dia melakukan ’’adegan mesra’’ di kolam renang, tapi juga dalam setiap kesempatan dia selalu tampil ala Jennifer Lopez. Ada pula kasus pornoaksi yang dilakukan oleh Sophia Latjuba dan Sarah Azhari.
Pencekalan juga dialami pemain film Buruan Cium Gue, Hengky Kurniawan dan Masayu Anastasia. Seorang ulama kharismatik KH Abdullah Gymnastiar bahkan memplesetkannya dengan judul Buruan Zinahi Gue. Akibat sejumlah protes tersebut, akhirnya pemerintah melalui Badan Sensor Film (BSF) melarang film tersebut ditayangkan. Contoh lainnya kasus Putri Indonesia Artika Sari Devi yang banyak menuai protes dan hujatan karena mengikuti kontes Miss Universe di Bangkok, Thailand yang pemenangnya diumumkan pada 31 Mei 2005 lalu. Hampir bisa dipastikan, rencana Putri Indonesia 2006 Nadine Candrawinata mengikuti Miss Universe juga bakal mendapat hujatan. Lagi-lagi, biasanya aksi itu akan dilakukan oleh sejumlah ormas yang mengatasnamakan agama dan moral.

Anehnya, meski mendapat sejumlah protes, tetap saja kejadian serupa terus saja terulang. Berdasarkan pengamatan saya, kejadian semacam itu kuantitas maupun kualitasnya cenderung meningkat. Goyang ngebor Inul dilarang, muncul goyang patah-patah Annisa Bahar. Annisa dilarang, tampil goyang ala Ira Swara, Dewi Persik, Liza Natalia, serta goyang-goyang yang jauh lebih dahsyat lainnya.
Tampaknya, hal itu sengaja dilakukan untuk mengolok-olok kesantunan masyarakat modern (modern prudishness) yang melambangkan seksualitas kita yang berciri menahan diri (restrained), diam (mute), dan munafik (hypocritical sexuality). Seksualitas dipingit rapi di dalam rumah, tidak boleh tampil di depan publik (It moved into the home). Selain itu, ini sekaligus kritik kepada mereka yang selalu mengatasnamakan Tuhan di dalam melakukan setiap aksinya, termasuk melakukan kekerasan dan berbuat kerusakan.
Dari setiap pembangkangan itu mereka seolah hendak mengatakan bahwa yang berhak dan berwenang untuk menjadikan seseorang itu beriman atau kafir itu hanya Tuhan. Manusia tidak berhak menjadikan mereka yang membangkang itu mendapatkan petunjuk, apalagi dengan cara pemaksaan kehendak dan teror. Laisa ’alaika hudâhum walâkinnallôha yahdi man yasyâ’. (QS Al-Baqarah [2]: 272).

Mendisiplinkan Tubuh

Berbagai protes menentang segala bentuk pornografi dan pornoaksi, baik berupa unjuk rasa yang umumnya dilakukan oleh organisasi sosial keagamaan maupun aparat kepolisian, menunjukkan betapa tubuh diatur sedemikian rupa dengan berbagai cara agar menghasilkan tubuh yang patuh (docile bodies), yaitu patuh pada norma-norma hukum, agama dan moral. Tubuh-tubuh pembangkang itu mengalami pemenjaraan secara sosial. Mereka dikungkung dalam suatu ’’desa hukuman’’ (punitive village), ’’kota hukuman’’ (punitive city), dan yang lebih besar lagi adalah ’’negara hukuman’’ (punitive country). Di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama ini, maka secara otomatis aturan-aturan tertulis maupun tidak tertulis yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari adalah refleksi dari teks-teks suci keagamaan.
Sebut saja di masyarakat yang agamis seperti di daerah Madura, Aceh, Bawean, Makassar, atau Banten, atau daerah-daerah yang sekarang sedang menerapkan perda bernuansakan syariat. Di sana terdapat banyak sekali kuasa menghukum yang tersebar dalam masyarakat melalui tanda yang melarang. Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim (orang yang haram dinikahi) berjalan bersama-sama atau duduk berdua-duaan saja, mereka akan mendapatkan sanksi sosial. Bisa dipanggil oleh sesepuh masyarakat setempat atau minimal jadi bahan gunjingan di antara mereka. Apalagi jika kedua sepasang kekasih itu berbuat zina, keduanya bisa diarak keliling desa dengan telanjang. Begitu pula dengan mereka yang tampil dengan dandanan yang menor dan seksi.
Kuasa agama (religion power), kuasa undang-undang (law power), kuasa budaya (cultural power) dan kuasa disiplin (disciplinary power) yakni kuasa yang melekat dalam institusi-institusi seperti organisasi-organisasi sosial keagamaan yang anarkis serta kelompok-kelompok fundamentalisme agama-agama lainnya ini sangat berperan dalam mendisiplinkan tubuh supaya patuh. Jika tidak mau, tidak jarang pendisiplinan itu dilakukan dengan cara represif. Inilah aparat-aparat seksualitas (apparatus of sexuality) yang sebenarnya lebih berbahaya dan represif dibanding kekuasaan negara.
Inilah model pemenjaraan yang tidak terlembagakan karena tanda-tanda larangan itu telah tersebar dalam tubuh sosial. Di sini kuasa menghukum tidak dilihat sebagai kuasa dari seorang individu atas yang lain, melainkan sebagai reaksi dari seluruh relasi individu (to get all citizens to participate in the punishment of the social enemy). Melalui mekanisme hukuman semacam ini, maka perilaku yang tidak sesuai norma dan hukum dapat dicegah (upaya preventif) dan sekaligus dikoreksi. Menurut saya, inilah teknologi-teknologi kuasa yang diterapkan di Indonesia. Ini jauh lebih efektif dan ekonomis dibandingkan dengan pemenjaraan secara fisik, apalagi siksaan. Kuasa memang tidak bekerja melalui represi, penindasan dan intimidasi. Melainkan melalui regulasi (menyesuaikan dengan dan mengadakan aturan-aturan) dan normalisasi (menyesuaikan dengan dan mengadakan norma-norma), yaitu apa yang dinamakannya dalam ’’menjaga dan menghukum’’ sebagai ’’disiplin’’.
Normalisasi dan regulasi ini bekerja pada suatu taraf kehidupan manusia serta masyarakat dan berfungsi bagaikan semacam alat penyaring atau mesin sortir. Salah satu bidang normalisasi adalah tubuh itu sendiri. Tubuh tidak dipandang sebagai sarana bagi produksi manusia, melainkan sebagai objek untuk dimanipulasi. Teknologi baru terhadap tubuh sebagai objek kuasa pelan-pelan terbentuk dalam tempat-tempat yang tersebar dan periferi. Foucault menamakan teknologi baru dengan ’’kuasa disiplin’’.
Pertanyaannya kemudian adalah apakah salah normalisasi dan regulasi semacam itu untuk mendisiplinkan seksualitas warga negaranya? Menurut saya, normalisasi dan regulasi agar tubuh menjadi produktif tentu masih bisa diterima. Tapi kalau sudah melakukan represi terhadap tubuh ini yang jadi masalah. Saya khawatir, polisi yang mengurusi seksualitas seperti yang terjadi pada abad ke-18 dapat membelenggu kreativitas seseorang. ’’Polisi’’ di sini bukan polisi dalam arti penuh dan kuat–yaitu sebagai represi kekacauan–melainkan sebagai peningkatan secara teratur dari kekuatan kolektif dan individual. Fungsi ’’polisi’’ adalah mengokohkan dan meningkatkan kekuatan internal negara dengan berbagai peraturan yang bijak. Jangan-jangan, dengan berbagai peraturan ini, kreasi para seniman menjadi terpasung. Tidak ada lagi sastrawan seperti Ayu Utami yang membuat novel dekonstruksionis semisal dalam Saman dan Larung, tidak ada lagi Djenar Maesa Ayu yang menghasilkan novel-novel yang mendobrak tabu-tabu seks sebagaimana dalam Nayla. Bahkan, bisa jadi kitab suci pun bisa dibredel karena dianggap porno lantaran di dalamnya juga mengisahkan tentang bagaimana cara melakukan hubungan seks dan menyusui.
Firman Tuhan di dalam Alquran Surat Yunus [10]: 99 ini barangkali bisa dijadikan pedoman bahwa seseorang tidak bisa memaksa orang lain, termasuk melalui kekuatan negara, agar beriman kepada Tuhan (dalam konteks hubungannya dengan Tuhan atau dosa individual). Walau syâ’a robbuka la’âmana man fi al-ardhi kulluhum jamî’an afa anta tukrihu al-nâsa hattâ yakûnû mu’minîn. ’’Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?’’
Bukankah Tuhan sendiri sangat demokratis, memberikan pilihan kepada hamba-Nya untuk beriman atau kafir? Fa man syâ’a falyu’min wa man syâ’a falyakfur. (QS Al-Kahfi [18]: 29).

~ by ariyanto on 19 December 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: